Ieu aya data ngeunaan karusakan di leuweung Gn. Tampomas. Mugia tiasa janten perhatosan sadayana. Dicutat ti: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0505/03/0801.htm
Wassalaam,
-Dian-
Melimpahnya Pasir Gunung Tampomas
Oleh Dr. Ir. SUTARMAN, M.Sc.
GUNUNG Tampomas merupakan gunung terbesar di Kabupaten Sumedang. Letaknya kurang lebih 10 km sebelah timur Kota Sumedang dan dikelilingi 5 kecamatan, yaitu Kecamatan Tanjungkerta, Buahdua, Conggeang, Paseh, dan Cimalaka. Semua lahan di kecamatan tersebut memiliki tingkat kesuburan yang tinggi, terbukti masyarakat di sekitar ini memiliki tingkat kesejahteraan yang memadai.
Gunung Tampomas merupakan ujung dari gugusan pegunungan di Priangan, karena sebelah timur dari Gunung Tampomas merupakan dataran rendah yang terhampar luas, meliputi sebagian Kabupaten Sumedang (4 buah kecamatan), Kabupaten Majalengka, Kabupaten Indramayu, dan Kabupatan Cirebon. Jika Tampomas dipandang dari arah daerah-daerah tersebut sungguh merupakan pemandangan alam yang menakjubkan. Karena bentuknya khas dan tingginya yang tak terhalang sehingga tampak sangat kontras dari daerah Indramayu, sampai para nelayan di daerah ini memfungsikan Gunung Tampomas sebagai kompas di malam hari saat akan pulang dari menangkap ikan di Laut Jawa.
Seperti kebanyakan gunung berapi di dunia, gunung ini pun mampu memerankan fungsi sosial ekonomi yang besar bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya, yang mayoritas berpenghidupan dari pertanian, meliputi pertanian tanaman keras, sawah, hortikultura, peternakan, dan perikanan dengan dukungan irigasi yang dipasok oleh sumber air yang andal. Iklim di sekitar gunung ini sangat sejuk dan nyaman untuk tempat peristirahatan. Jumlah penduduk yang berdomisili sekitar gunung terdiri dari 5 kecamatan, identik dengan 60 desa adalah sebanyak 18,05% dari total penduduk Kabupaten Sumedang, sedangkan luas wilayahnya adalah 23,18% dari luas wilayah Kabupaten Sumedang.
Sehubungan dengan iklim yang sejuk, tanah yang subur dengan ditunjang banyaknya sumber air, maka penduduk di sekitar gunung ini mayoritas bermata pencaharian pada sektor pertanian, khususnya pada subsektor pertanian tanaman pangan dan perikanan. Hal ini terbukti walaupun luas wilayah ini hanya 23,18% dari total wilayah Kabupaten Sumedang, tetapi daerah ini menghasilkan produksi padi sebanyak 29,6% dan ikan 45,03% dari total produksi Kabupaten Sumedang.
Buah-buahan tropis yang dihasilkan merupakan sumber pendapatan tambahan masyarakat, banyak komoditas yang dihasilkan dari daerah ini, namun komoditas yang memiliki proporsi dominan adalah meliputi buah-buah belimbing, jambu biji, nanas, pisang, rambutan, salak, sirsak, melinjo, dan petai.
Sumber daya air
Gunung Tampomas memiliki potensi sumber daya air yang sangat melimpah. Air yang langsung dapat dimanfaatkan masyarakat adalah danau alam, air panas, mata air, dan sungai. Danau alam dengan tingkat kejernihan yang tinggi berasal dari mata air yang terletak di Kecamatan Cimalaka (5 km dari kota Sumedang), dikenal dengan Danau Cipanteneun, berfungsi sebagai pemasok air PDAM Kota Sumedang dan sekitarnya, serta sebagai pemasok kebutuhan pertanian sawah, hortikultura, dan perikanan di daerah ini.
Kecamatan Paseh (13 km dari Kota Sumedang) memiliki danau alam yang dikenal dengan nama Danau Cipaingeun. Danau ini pun berfungsi sebagai sumber air untuk pertanian sawah, hortikultura, dan PDAM yang memasok penduduk di Kecamatan Paseh sendiri, Tomo dan Ujungjaya yang dikenal sebagai daerah kering di ujung Timur Kabupaten Sumedang.
Sumber air panas terletak di Kecamatan Buahdua, yaitu Ciputat dan Cileungsing. Sumber daya air panas ini merupakan potensi alam yang belum mampu diaktualkan secara optimal untuk kepentingan daerah, sehingga diperlukan uluran tangan investor untuk mengelola sumber alam yang tak ternilai ini. Mata air tersebar di seluruh kaki gunung ini yang digunakan masyarakat untuk kepentingan jamban keluarga, pertanian dan perikanan, mata air ini yang berdebit besar dan kecil. Mata air yang berkategori debit besar meliputi mata air Cioray, Ciburial, Cikurubuk/Cilumping, Narimbang.
Sedangkan keberadaan sungai, tergantung dari banyaknya mata air, sumber air panas, dan danau alam. Maka sumber daya tersebut menjadi terakumulasi dan menyatu dalam suatu saluran, dan saluran tersebut secara konsisten mengalirkan air dari hulu ke hilir sambil membawa berjuta manfaat dan disebut sungai. Sungai yang dialirkan dari Gunung Tampomas nyaris tak terhitung yang meliputi sungai kecil dan besar, mengalir dengan konsisten ke seluruh penjuru arah angin, dan merupakan drainase alam serta sumber penghidupan masyarakat.
Aliran sungai-sungai kecil yang mengalir dari sebelah barat, selatan, dan tenggara kaki gunung ini terakumulasi di Sungai Cipeles. Sedangkan aliran sungai di sebelah timur diakumulasikan pada Sungai Cipelang. Akhirnya, baik Sungai Cipeles, maupun Cipelang bermuara di Sungai Cimanuk di Kecamatan Tomo dan Ujungjaya. Sedangkan sungai-sungai kecil di sebelah utara gunung ini terakumulasi pada Sungai Cipunagara.
Hutan adalah kumpulan tegakan pohon yang didukung dengan semak-semak dan membentuk ekosistem. Hutan telah memerankan fungsi hidro-orologis di sekitar Gunung Tampomas secara sempurna. Namun tegakan pohon bukan hanya dibangun dalam sebuah hutan negara, melainkan tegakan pohon tanaman keras sebagai penghasil buah-buahan milik masyarakat pun mampu memerankan fungsi hidro-orologis yang baik. Bedanya adalah hutan produksi komoditasnya kayu, sedangkan komoditas tanaman keras rakyat adalah buahnya, sehingga gunung ini merupakan reservoir dan pemasok air yang besar untuk kepentingan kehidupan 30% penduduk masyarakat Kabupaten Sumedang.
Namun keadaan saat ini telah mengalami penurunan baik kuantitas maupun kualitasnya. Hal ini terbukti bahwa luas hutan negara di sekitar Gunung Tampomas adalah 3.478,50 hektare dan 2.474,70 hektare untuk tahun 2002 dan 2003, dengan kata lain terdapat degradasi sebesar 28,85% dalam satu tahun.
Lokasi hutan negara terletak pada ketinggian gunung yang merupakan daerah tangkapan air yang paling efektif. Jika luas hutan negara telah mengalami penurunan, hal itu akan berakibat berkurangnya daerah tangkapan dan resapan air di gunung tersebut. Hubungan antara tegakan pohon hutan negara dengan tegakan pohon tanaman keras milik rakyat sangatlah erat, yaitu hutan negara sebagai daerah tangkapan dan resapan air yang efektif, untuk dimanfaatkan airnya oleh tegakan pohon-pohon tanaman keras milik rakyat yang terletak di kaki gunung sebagai penghasil buah-buahan. Sungguh, ini merupakan harmoni alami yang sangat mengesankan.
Namun, hutan negara jika setiap tahun mengalami penurunan sebesar 28,85% niscaya dalam waktu 5 tahun mendatang hutan Gunung Tampomas hanya tinggal kenangan. Dia niscaya tak akan mampu lagi mengeluarkan air yang cukup dan air akan menjadi komoditas langka dan mahal, sehingga nilai kehidupan masyarakat akan terancam.
Galian C
Gunung Tampomas telah memberi manfaat bagi masyarakat. Selain manfaat yang berasal dari atas permukaan tanah (top soil) juga terdapat kekayaan di dalam tanah berupa deposit tambang pasir dan batu (split) yang sangat melimpah ruah. Semua telah dieksploitasi secara intensif dengan melibatkan para investor besar, sehingga telah berkontribusi dalam pembangunan fisik, baik projek pemerintah, swasta maupun perseorangan yang tersebar di wilayah Kabupaten Sumedang, Kota dan Kabupaten Bandung, Majalengka, Cimahi, Subang, Indramayu, bahkan digunakan untuk reklamasi projek-projek prestise di Jakarta.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas PLH Kabupaten Sumedang, terdapat 2 kecamatan dengan 8 lokasi penambangan pasir dan split, yaitu Cimalaka terdiri dari (1) Licin, (2) Cibeureum Kulon, (3) Cibeureum Wetan, (4) Citimun, (5) Naluk, (6) Mandalaherang. Sedangkan Kecamatan Paseh meliputi lokasi, (1) Paseh Kaler, dan (2) Legok Kaler, dengan total areal kurang lebih 306,43 hektare. Bisnis yang menggiurkan tersebut dikelola oleh beberapa badan usaha, dan usaha perseorangan yang telah memiliki izin konsesi.
Kegiatan eksploitasi besar-besaran pada lokasi tersebut bekerja tanpa henti siang dan malam, dan diangkut dengan ribuan trip perhari, baik yang menggunakan truk tipe tronton maupun truk tipe ringan (light truck). Dengan kata lain, volume pasir yang mampu diangkat dan diangkut bisa mencapai puluhan bahkan ratusan ribu meter kubik dalam sehari semalam.
Namun, seimbangkah hasil yang diperoleh Pemkab Sumedang dan masyarakat bila dibandingkan dengan dampak negatif yang ditimbulkannya? Jika kita coba untuk membandingkan dampak yang ditimbulkan antara perusakan hutan dengan penggalian pasir, perusakan hutan merupakan tindakan yang merugikan, tetapi kegiatan penggalian pasir pun dampaknya jauh lebih berbahaya.
"No water, no future"
Jika Tampomas tidak segera diselamatkan, perlahan tapi pasti niscaya akan menjadi sebuah gunung yang tak memiliki fungsi hidro-orologis yang sempurna. Sistem flora dan fauna yang bermanfaat bagi kehidupan penduduk akan berubah fungsi dan tak kurang Tampomas menjadi sebuah gunung yang tak lagi memberi manfaat, bahkan bisa menimbulkan bencana yang tak terperikan. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa penurunan fungsi dari ekosistem di antaranya, (a) tanah longsor, (b) banjir bandang (bah), (c) bencana kekeringan, (d) hilangnya sistem flora dan fauna, (e) tingginya suhu udara, dan akhirnya akan menurunkan tingkat mutu kehidupan dan penghidupan masyarakat. Tentu saja, masa depan masyarakat tak akan bergairah menatap harapan, sebab akan selalu diselimuti dengan ketidakpastian hidup.
Pemkab Sumedang, lembaga swadaya masyarakat dan segenap masyarakat Sumedang adalah pihak yang paling bertanggung jawab dalam menyelamatkan Tampomas. Karena gunung ini selain menjadi simbol alam Sumedang, juga telah mampu berperan secara konsisten dalam memberi nafkah bagi masyarakat sekitarnya. Namun, manfaat ini jangan hanya dapat dinikmati sampai dengan generasi sekarang, melainkan sampai akhir zaman.
Agar semua itu bisa kita capai, diperlukan upaya konsisten antara lain:
(1) Untuk
mencegah perusakan lingkungan maka diperlukan manajemen lingkungan hidup yang konsisten di
antaranya diperlukan pengawasan oleh aparat Pemkab Sumedang, namun Pemkab pun memerlukan
bantuan dari mitranya DPRD dan sudah sampai mana tugas ini mampu diperankan DPRD Kabupaten
Sumedang khususnya Komisi D.
(2) Tidak layakkah perusakan lingkungan ini dinyatakan sebagai sebuah kejadian yang luar biasa, sehingga diperlukan pembentukan pansus di DPRD? Ataukah Pemkab Sumedang sudah tak berdaya untuk menyelematkan lingkungan hidup? (3) Jika demikian, mengapa Tampomas tidak diangkat ke tingkat pusat untuk dijadikan taman nasional, agar Sumedang terhindar dari kewajiban finansial.
(4) Pendahulu (karuhun) Sumedang sangat peduli terhadap lingkungan dan tak terhitung bukti-bukti aksi peninggalannya, masalah sekarang adalah, "Mana aksi peduli lingkungan yang nyata dari generasi penerus, padahal saat ini Sumedang telah berumur 427 tahun?"
(5) Kita sependapat bahwa Gunung Tampomas kini memiliki kandungan sumber daya air yang melimpah yang dicirikan dengan banyaknya mata air yang keluar dari sekitar kaki gunung tersebut, tugas kita adalah bagaimana agar Tampomas sebagai sumber "mata air", tidak berubah menjadi sumber "air mata" di masa yang akan datang.
Mari kita perhatikan warning Dewan Pemerhati Kahutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), yaitu, "Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak". Akankah kita mampu untuk menghindarinya? Kita harus yakin bahwa Allah selalu bersama orang yang selalu mau berusaha.***
Penulis dosen Teknik Industri dan Dekan Fakultas Teknik Unpas Bandung, anggota LP3E Kadin Jabar dan pemerhati lingkungan hidup.
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

