http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0604/05/0802.htm

 

 

Jawa Barat 2010, Terdepan atau Terpinggirkan?
Oleh YAYAT HENDAYANA

MENGAWALI abad ini, pemerintah provinsi menetapkan bahwa pada tahun 2010 Jawa Barat harus menjadi provinsi termaju dan mitra terdepan ibu kota. Visi 2010 itu telah "diperdagangkan" dalam berbagai kesempatan diskusi. Diskusi paling akhir tentang hal tersebut diselenggarakan oleh Bandung Spirit Sabtu (22/5) lalu di Hotel Panghegar, Bandung. Forum diskusi terbatas yang diikuti oleh 100 tokoh masyarakat Jabar itu bertema "Titik Balik atau Terpinggirkan".

Mestinya, tema itu menggebrak. Atau setidaknya menyadarkan semua pihak yang merasa bertanggung jawab, bahwa tahun 2010 hanya tinggal lima tahun lagi. Artinya hanya tinggal lima tahun waktu yang tersisa untuk mewujudkan visi Jabar 2010 yang ambisius itu.

Apakah mungkin?

Diskusi Sabtu lalu menyiratkan gambaran yang tidak menggembirakan tentang pencapaian visi Jabar 2010 itu. Bahkan ada pendapat ekstrem, pada tahun 2010 nanti Jabar bukan hanya tidak akan mampu menjadi provinsi termaju, melainkan justru akan menjadi provinsi yang (semakin) tidak diperhitungkan dalam percaturan nasional. Jika melihat gejalanya, bisa jadi pendapat ekstrem itulah yang benar. Kita tidak merasakan adanya kemajuan yang berarti. Tetapi tentu akan ada pihak yang menyangkal pendapat itu, dengan menunjukkan "bukti-bukti" yang menggambarkan "kemajuan" disertai "data" yang tak didahului riset. Hal itu senantiasa dapat menjadi bahan perdebatan, justru karena tak ada tolok ukur yang bisa dijadikan acuan tentang kemajuan atau kemunduran pelaksanaan pembangunan.

Entah sengaja atau tidak, indikasi tentang "provinsi termaju dan mitra terdepan ibu kota" itu tak pernah dideskripsikan secara jelas, tiap bidang atau sektor. Sebuah provinsi akan dikatakan maju tentulah apabila sektor-sektor yang mendukungnya masing-masing menunjukkan peningkatan. Di bidang pendidikan misalnya, tentu harus ditentukan indikasinya untuk bisa disebut termaju. Demikian pula di bidang ekonomi, sosial-budaya, pemerintahan, keamanan dsb. Karena tidak ada rumusan tentang indikasi kemajuan itulah diskusi tentang visi Jabar 2010 selalu berakhir tanpa kejelasan. Visi Jabar 2010 itu seolah dibiarkan bersifat kenyal agar mempunyai fleksibilitas tinggi apabila diwacanakan. Jika benar visi Jabar 2010 tidak diniatkan cuma sekadar jadi wacana, tentulah akan ada rumusan yang jelas tentang bagaimana wujud Jawa Barat sebagai provinsi termaju dan mitra terdepan ibu kota itu.

Siap-siap terpinggirkan

Ekonom Prof. Dr. H.M. Sidik Priadana mengemukakan, tingkat kemajuan Jawa Barat secara keseluruhan berada pada peringkat tujuh. Posisi itu secara berturut-turut berada di bawah DKI Jaya, Kaltim, Jatim, Jateng, Bali dan DI Yogyakarta. Jika sekarang ini Jabar berada pada peringkat tujuh, untuk mencapai peringkat satu, sehingga dapat dikatakan sebagai provinsi termaju, ada enam tahap yang harus ditempuh. Dengan waktu efektif yang hanya tinggal lima tahun lagi untuk mencapai 2010, tentu sulit bagi Jawa Barat untuk meraih ambisinya menjadi provinsi termaju dan mitra terdepan ibu kota.

Katakanlah pelaksanaan pembangunan di Jabar diakselerasikan mulai tahun 2005, sehingga pada setiap akhir tahun kita berhasil menaikkan peringkat tahap demi tahap. Itu berarti pada tahun 2010 nanti kita "hanya" akan berhasil mencapai peringkat dua. Itu berarti kita gagal mewujudkan visi Jawa Barat yang kita dengung-dengungkan. Menjadi semakin jauh lagi perwujudan visi Jabar 2010 yang ambisius itu melihat kenyataan lambannya gerak maju pembangunan dari tahun ke tahun.

Pesimisme itu bertambah lagi oleh bukti bahwa provinsi lain "pesaing" Jabar kemajuannya begitu mencengangkan. Kalimantan Timur misalnya. Sebuah indikasi kecil yang mengisyaratkan pesatnya pembangunan di provinsi itu tampak pada kemampuannya menyiapkan sarana olah raga untuk menyelenggarakan PON XVII tahun 2008 yang akan datang. Setelah menyelesaikan pembangunan stadion Sempaya yang megah di Samarinda, Kaltim mempersiapkan pula pembangunan sebuah stadion yang lebih megah lagi di Simpang Pasir, Panalaran. Kita ragu apakah Jabar akan mampu melakukan persiapan nyata dalam hal pengadaan sarana seperti yang dilakukan Kaltim. Padahal Jabar berambisi untuk menjadi tuan rumah sebuah pesta olah raga yang lebih akbar.

Membandingkan tingkat kemajuan Jabar dengan provinsi lain yang menjadi "pesaing"-nya, kita harus mengakui bahwa mewujudkan visi Jabar 2010 adalah sebuah kemustahilan. Jika dalam tahun-tahun terakhir menjelang 2010 tingkat kemajuan Jabar dalam berbagai aspek pembangunan masih saja berjalan seperti siput, maka kita bukan saja harus mengubur ambisi menjadi provinsi termaju, melainkan juga harus bersiap-siap menghadapi kenyataan sebagai provinsi yang semakin terpinggirkan. Menyedihkan memang, tapi begitulah kemungkinannya.

Daya juang rapuh

Kelambanan gerak-maju pembangunan di Jabar tentu saja disebabkan oleh kelemahan-kelemahan internal. Bukan oleh faktor eksternal yang sering dijadikan kambing hitam. Pasti ada pengaruh luar, misalnya dampak globalisasi, tetapi tidak berarti dapat dituding sebagai biang-keladi. Pengaruh global tidak saja melanda Jawa Barat melainkan juga daerah-daerah lain. Jika daerah-daerah lain yang memperoleh pengaruh yang sama ternyata dapat melaksanakan pembangunan dengan pesat sedangkan kita tidak, kesalahan sepenuhnya terletak pada kita sendiri. Jika selama ini Jabar senantiasa terpinggirkan dalam percaturan politik nasional, kesalahannya tentu terletak pada orang Jabar sendiri, yang populasinya didominasi orang Sunda. Jika Jabar identik dengan Sunda, terpinggirkannya Jawa Barat berarti terpinggirkannya (etnis) Sunda.

Merujuk dalil Toynbee, budayawan Saini K.M. mengemukakan, kalau suku Sunda terpinggirkan dan (mungkin) ambruk, hingga hanya jadi anak bawang di antara suku-suku lain di Indonesia, hal itu merupakan dampak dari keadaan orang Sunda sendiri. Toynbee menyatakan, kalau suatu bangsa diserang bangsa lain, hal itu tidak niscaya karena bangsa lain itu agresif, melainkan karena bangsa yang diserang itu memiliki kelemahan. Bangsa yang diserang itu membuka ruang kosong yang menarik untuk diisi oleh bangsa lain.

Banyak ruang kosong yang terbuka di Jawa Barat (orang Sunda) sehingga begitu mudah diserang pihak lain. Ruang kosong itu antara lain daya juang dan etos kerja. Susah untuk dimungkiri bahwa daya juang orang Sunda sebagai "pemilik" dan "penentu" masa depan Jawa Barat, daya juangnya rapuh, etos kerjanya lemah. Oleh karena itu semangat kompetitifnya pun rendah. Banyak orang Jawa Barat (Sunda) yang memilih menyingkir dari kompetisi, apalagi jika harus berdarah-darah.

Rapuhnya daya juang itu ternyata sudah memengaruhi generasi muda Jabar (Sunda) sejak usia dini. Hal itu dibuktikan antara lain dengan maraknya berita-berita (percobaan) bunuh diri yang dilakukan remaja Jawa Barat berusia belasan tahun. (Percobaan) bunuh diri itu dilakukan karena sebab-sebab yang sangat sepele, seperti tidak diberi uang jajan, tidak diajak ibu jalan-jalan, ditinggal pacar, serta persoalan-persoalan kecil lainnya, yang sama sekali tak patut untuk ditebus dengan nyawa. Seolah-olah bunuh diri merupakan sebuah solusi untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi, apapun bentuk persoalan itu. Sayang sekali gejala itu tak cukup menarik minat para ahli untuk menyelidikinya. Padahal bisa saja merupakan gambaran tentang kondisi potensi SDM Jawa Barat yang bukan saja rapuh daya juangnya, melainkan juga mudah hilang semangat hidupnya. Maka bersiap-siaplah untuk (semakin) terpinggirkan pada tahun 2010 nanti.*** 

Penulis, wartawan senior.

 


Yahoo! Mail
Stay connected, organized, and protected. Take the tour

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke