Kamis, 12 Mei 2005 SAAT mengunjungi perkebunan kina Argasari, Pacet, Kabupaten Bandung untuk melihat parit pertahanan kuno, sayang saya belum membaca naskah-naskah Sunda kuno yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, keraguan muncul selama mengamati parit-parit pertahanan yang berlapis-lapis mengikuti garis ketinggian itu. Apakah benar masyarakat Sunda kuno sudah memiliki strategi-strategi dalam berperang?
Tak henti-hentinya saya memperhatikan foto udara kawasan tersebut, peta lokasi dan melihat kenyataan di lapangan. Setelah menelusuri parit-paritnya, melingkari punggungan dan lereng-lereng landainya, dengan tetap berpedoman pada foto udara dan peta yang ada, yang diduga parit pertahanan itu keadaannya masih utuh tak banyak perubahan, kecuali di bekas pabrik pengolahan dan di tempat bekas pembibitan kopi. Perkebunan kina itu secara tidak langsung telah menyelamatkan situs parit pertahanan kuno tersebut. Dua-tiga rumah yang berdiri di pinggir jalan raya yang membelakangi situs parit pertahanan kuno perlu dipertimbangkan untuk direlokasi, agar situs ini dapat dengan mudah dikembangkan nantinya, sebelum perumahan itu berkembang tak terkendali di sana. Memang, parit-parit pertahanan kuno di Argasari agak sulit untuk dikenali bila tidak cermat dalam mengamati dan menelusurinya. Namun, dalam foto udara terlihat jelas adanya bentukan yang rapi melingkari bukit-bukit di tengahnya. Pada dasarnya pemilihan lokasi parit sebagai benteng pertahanan itu dipilih di daerah yang secara alami mempunyai bentukan yang sangat baik sebagai tempat berlindung dan menjebak musuh-musuh yang menyerang. Para ahli perang saat itu merapikan, memapas lereng, atau menggali bagian-bagian tertentu yang paritnya tidak menerus. Lokasi parit pertahanan itu selalu mengindikasikan, di sana ada kota kuno. Kerajaan apa dan siapa penguasanya perlu penelusuran lebih lanjut. Bila melihat citra satelit, sangat mungkin manusia yang kemudian bermukim di sana bergerak dari arah utara, dari arah Banjaran, Ciparay, atau Majalaya. Mungkin mereka adalah kelanjutan manusia-manusia yang bermukim di tepian selatan Danau Bandung, yang perkakas batu obsidiannya ditemukan dan dikumpulkan G.H.R. von Koeningswald, seperti ditulis dalam bukunya Das Neolithicum der Umgebung von Bandung: Tijschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde terbitan tahun 1935. Demikian juga musuh-musuh yang datang atau menyerang ke permukiman kuno tersebut datang dari utara. Dari sisi timur dibatasi secara alami Gunung Rakutak yang berbatasan dengan lembah Citarum yang sangat dalam dan terjal. Di sisi barat laut ada dinding Gunung Malabar, Wayang-Windu yang menjulang. Bisa saja musuh datang dari arah Pangalengan dengan cara melingkari ketiga gunung tersebut. Sedangkan dari sisi selatan, dibentengi puncak-puncak gunung dengan lereng yang terjal ke arah Garut. Penelusuran naskah Sunda kuno Rasa penasaran tentang parit pertahanan di Tatar Sunda itu untuk sementara terobati setelah membaca naskah Sunda kuno yang diterjemahkan Saleh Danasasmita, dkk. (1987) ke bahasa Indonesia, seperti naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, dan Amanat Galunggung, serta terjemahan dua prasasti, Prasasti Kawali 1A dan Prasasti Batutulis. Dalam naskah Sunda kuno dan prasasti tersebut, jelas dituliskan untuk mempertahankan ibu kota kerajaan-kerajaan kuno di Jawa Barat, rajanya membuat parit pertahanan sekeliling ibu kota. Parit pertahanan sekeliling ibu kota itu tertulis dalam Prasasti Kawali dengan sebutan marigi, dan dalam Prasasti Batutulis dengan sebutan nyusuk. Setiap raja yang berkuasa selalu membuat parit-parit pertahanan di sekeliling ibu kota, maka nama raja sering diganti dengan pekerjaan membuat parit pertahanan, seperti tertulis dalam naskah Sunda kuno dari Kabuyutan Ciburuy, Bayongbong, Kabupaten Garut: "…Tetaplah mengikuti orangtua melaksanakan ajaran yang membuat parit (nyusuk) di Galunggung agar unggul perang, serba tumbuh tanam-tanaman, lama berjaya sungguh-sungguhlah mengikuti patikrama warisan dari para suwargi…" (Amanat Galunggung, dalam Saleh Danasasmita, dkk., 1987). Membuat parit pertahanan (marigi/nyusuk) merupakan standar prosedur dalam pertahanan kota yang berlaku saat itu, maka raja yang berkuasa pasti akan menitahkan rakyatnya untuk membuat parit-parit pertahanan sekeliling ibu kota. Parit-parit pertahanan itu tidak selamanya membuat parit baru, tapi bisa saja hanya merapikan sungai-sungai yang ada atau menegaskan parit-parit yang telah terbentuk secara alamiah. Karena membuat parit adalah kehendak raja, rakyatnya harus mengerjakan pekerjaan itu dengan sukacita, seperti tercermin dalam naskah kuno dari Kabuyutan Ciburuy: "Resapkanlah puja dan berlindung kepada hyang dan dewata. Bila kita diperintah bekerja ke ladang, ke sawah, ke serang besar, mengukuhkan tepian sungai, menggali saluran (marigi), mengandangkan ternak, memasang ranjau tajam, membendung sebagian alur sungai untuk menangkap ikan, menjala, menarik jaring, memasang jaring, menangguk ikan, merentang jaring; segala pekerjaan untuk kepentingan raja, jangan marah-marah, jangan munafik, jangan resah dan uring-uringan, kerjakanlah dengan senang hati semuanya." (Sanghyang Siksakandang Karesian, dalam Saleh Danasasmita, dkk., 1987). Dalam Prasasti Batutulis terdapat kata nyusuk, yang mempunyai arti membuat parit pertahanan di sekeliling ibu kota Pakuan. Berikut kutipan Prasasti Batutulis, "…Semoga Selamat. Ini merupakan tanda peringatan (untuk) Prebu Ratu Suwargi. Dinobatkan dia dengan nama Prebu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) ia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (nyusuk) Pakuan. Dia Putera Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga, cucu Rahyang Dewa Niskala Wastu Kancana yang mendiang di Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan (berupa) gunung-gunungan, menjadikan sebuah bukit punden untuk (hutan) samida, membuat telaga Rena Mahawijaya. Ya, dialah itu. (dibuat) Dalam tahun Saka 1455. (Prasasti Batutulis, dalam Saleh Danasasmita, 1975) Saleh Danasasmita (1975) menulis, sisa parit di ibu kota Pakuan selalu menjadi daya tarik bagi orang-orang Barat yang datang ke kota ini. Karenanya tak heran berita tentang parit pertahanan di Pakuan ini selalu menghiasi laporan ekspedisi VOC pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Saleh Danasasmita menuturkan, sisa parit Pakuan itu masih bisa disaksikan di tiga tempat, yaitu: 1. Sisi luar sisa kuta (benteng) Pakuan di Lawanggintung; 2. Batutulis, mulai dari belakang stasiun Keretaapi menyusur Ci Haliwung dan mata air Cikahuripan, terus ke Balekambang, dan 3. Kompleks pemakaman Dreded (Jero kota). Demikian juga dalam Prasasti Kawali (1A) terdapat kata marigi (membuat parit pertahanan) di sekeliling ibu kota Kawali. Namun saya belum mendapatkan keterangan tertulis tentang lokasi parit pertahanan tersebut di lapangan. Kutipan Prasasti Kawali (IA), "…Inilah tanda bekas beliau yang mulia Prabu Raja Wastu, yang berkuasa di kota Kawali, yang memperindah kedaton Surawisesa, yang membuat parit (marigi) di sekeliling ibu kota, yang memakmurkan seluruh desa. Semoga ada penerus yang melaksanakan berbuat kebajikan, agar lama jaya di dunia…" (Prasasti Kawali IA, dalam Titi Surti Nastiti, 1996) Di timur laut Bandung pun terdapat parit pertahanan kuno, seperti dilaporkan W. Rothpletz tahun 1951 dalam bukunya Alte Seidlungsplatze Beim Bandung (Java) und die Entdeckung Bronzezeitlicher Gussformer, yang terbit di Basel. Dengan teliti W. Rothpletz membuat sketsa-sketa parit-parit pertahanan di perbukitan timur laut Bandung tersebut. Manusia Sunda saat ini akan mengapresiasi parit-parit pertahanan itu dengan baik bila mengetahui strategi atau praktek berperang yang berlaku saat itu. Penelusuran dalam naskah-naskah Sunda kuno atau dari sumber lain, akan dapat menjelaskan sistem pertahanan parit atau praktek berperangnya. "Bila ingin tahu tentang perilaku perang, seperti: makarabihwa, katrabihwa, lisangbihwa, singhabihwa, garudabihwa, cakrabihwa, suci muka, braja panjara, asu maliput, merak simpir, gagak sangkur, luwak maturut, kidang sumeka, babah buhaya, ngalingga manik, lemah mrewasa, adipati, prebu sakti, pake prajurit, tapak sawetrik, tanyalah panglima perang." (Sanghyang Siksakandang Karesian, dalam Saleh Danasasmita, dkk., 1987). Masalahnya sekarang, adakah hulu jurit atau panglima perang atau ahli sejarah yang mengetahui deskripsi dari nama-nama praktik berperang seperti disebutkan dalam naskah itu? Upaya mengalihaksarakan serta menerjemahkan naskah-naskah Sunda kuno yang jumlahnya masih banyak, bukan saja akan bermanfaat bagi para ahli sejarah dan budayawan, tapi akan sangat bermanfaat bagi masyarakat umum yang akan mengamati kebudayaan masyarakat Sunda kuno dari berbagai sisi yang diminatinya. Melalui cara-cara semacam itulah kekayaan alam pikiran dan budaya Sunda akan terbuka, sehingga dapat memberikan dorongan, rangsangan untuk berprestasi lebih baik lagi agar sejahtera di dunia dan akhirat.*** T. Bachtiar, Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Has someone you know been affected by illness or disease? Network for Good is THE place to support health awareness efforts! http://us.click.yahoo.com/OCfFmA/UOnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

