Fitenah palebah manana kang, punten jentrekeun?.
soni+++

On Sun, 15 May 2005 00:30:58 -0700 (PDT)
  nana sutrisna <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamu'alaikum
> 
> Ieu aya artikel di milis tatangga, kumaha dulur 
>tanggapanana, da ari kuring mah ngarasa di fitenah.
> 
> Wassalam
> Nana Sutrisna
> 
> 
> 
> Kompas Cyber Media Minggu, 15 Mei 2005 
> 
> ASAL USUL 
> 
> Setengah Tiang
> 
> 
> Ariel Heryanto
> 
> Dua ratus juta bendera Merah Putih berkibar setengah 
>tiang. Ada 
> bendera yang besar di tiang sangat tinggi. Banyak 
>bendera yang 
> kecil. Ada yang bersih dan rapi. Ada yang kusut dan 
>robek. Bila Anda 
> tidak menyaksikan pemandangan luar biasa itu dari 
>jendela terdekat, 
> cobalah masuk dalam batin sendiri.
> 
> Ratusan juta bendera itu turun setengah tiang, bukan 
>karena 
> peristiwa di Jakarta Mei 1998. Tapi terlebih karena apa 
>yang terjadi-
> atau lebih tepatnya apa yang tidak terjadi-selama tujuh 
>tahun 
> kemudian.
> 
> Menurut laporan media waktu itu, dari 13 Mei hingga 13 
>Juli 1998 tak 
> kurang dari 168 perempuan berusia 10 tahun hingga 50 
>tahun diperkosa 
> secara keroyokan. Kebanyakan dari korban ini juga 
>dianiaya berat 
> (sebagian anggota tubuhnya dipotong), atau dibunuh. 
>Sebagian 
> terbesar dari mereka perempuan dari kelompok etnis 
>Tionghoa.
> 
> Hebatnya, seluruh kejadian itu dilaksanakan sebagai 
>sebuah tontonan. 
> Ada anggota keluarga korban yang dipaksa menonton. 
>Beberapa orang 
> menyaksikan secara tidak sengaja karena kebetulan lewat 
>di tempat 
> kejadian. Tapi ada juga yang menikmati tontonan itu 
>dengan sorak-
> sorai.
> 
> Sekitar 138 dari perkosaan itu terjadi di Jakarta, dan 
>sebagian 
> besar (132 kasus) terjadi pada tanggal 13 dan 14 Mei 
>1998. Pada dua 
> hari yang sama, sekitar 1.200 orang tewas karena 
>terkurung gedung 
> yang terbakar, 27 korban lain mati tertembak. Jumlah 
>korban secara 
> menyeluruh diperkirakan 2.244 orang, sebagian besar 
>bukan dari 
> kelompok etnis Tionghoa.
> 
>Fantastis? Ceritanya belum selesai di situ. Pada dua 
>tanggal yang 
> sama 40 pusat pertokoan dan 4.000 toko lain dijarah dan 
>dibakar. 
> Ribuan kendaraan dan rumah hancur karena diserbu dan 
>dibakar. Yang 
> lebih hebat: semua ini berlangsung di Ibu Kota selama 50 
>jam tanpa 
> ada halangan dari para penegak hukum dan aparat 
>keamanan.
> 
> Dan ini yang paling dahsyat: sampai hari ini tidak satu 
>pun makhluk 
> yang disangka terlibat kejahatan tersebut. Belum satu 
>pun tersangka 
> yang dikejar, diinterogasi, apalagi diadili penegak 
>hukum. Berbeda 
> dari kasus bom Bali atau Hotel Marriott. Pada yang 
>belakangan ada 
> negara asing yang tersinggung. Dalam waktu singkat 
>polisi kita 
> bergerak meringkus para pelaku bom. Pengadilan menimbang 
>perkara dan 
> menjatuhkan vonis.
> 
> Kasus Mei 1998 bahkan tidak dianggap cukup penting oleh 
>pejabat 
> negara untuk ditutupi dengan pengadilan sandiwara yang 
>menjadi 
> tradisi Orde Baru. Misalnya tampilnya "oknum" kroco dari 
>sebuah 
> instansi pemerintah yang dikorbankan atasannya di 
>pengadilan dalam 
> kasus pelanggaran hak asasi. Atau pengadilan yang 
>menampilkan 
> terdakwa palsu. Misalnya Pak De dalam kasus pembunuhan 
>Dietje 
> Budiasih (1986). Atau Iwik dalam kasus pembunuhan Udin 
>(1996). 
> Sebelumnya dalam kasus pembunuhan Marsinah (1993), 
>sejumlah 
> majikannya disiksa habis-habisan dan dipaksa mengaku 
>menjadi 
> pembunuhnya.
> 
> Dalam kasus Mei 1998 seluruh aparat hukum Indonesia 
>bersepakat untuk 
> bungkam. Malahan sejumlah lembaga swasta yang 
>mengumpulkan data 
> tentang kejadian Mei 1998 diteror bertubi-tubi dengan 
>ancaman bom, 
> dilecehkan, dan dituduh macam-macam. Bahkan ada yang 
>terbunuh ketika 
> akan menyampaikan sebuah kesaksian.
> 
> Maka jutaan bendera Merah Putih merosot setengah tiang, 
>bukan semata-
> mata karena apa yang sudah telanjur terjadi Mei 1998. 
>Tapi sebuah 
> skandal besar yang selama ini sedang dan terus masih 
>berlangsung 
> sesudah tanggal itu.
> 
> Kebanyakan di antara mereka yang masih menengok kasus 
>Mei 1998 
> mencurahkan perhatian pada peristiwa itu sendiri dan 
>para korbannya. 
> Berbahaya jika kasus itu dipahami semata-mata sebagai 
>sebuah tragedi 
> di masa lampau yang sudah lewat.
> 
> Pada saat Anda membaca tulisan ini, bukan saja para 
>pelaku kejahatan 
> Mei 1998 bebas berkeliaran. Beberapa pejabat yang pantas 
>diduga ikut 
> bertanggung jawab atas kejadian itu malahan baru-baru 
>ini 
> dipromosikan jabatannya.
> 
> Dengan membiarkan mereka, dan mengingkari serta 
>melupakan Mei 1998, 
> kita sedang memelihara kondisi yang memungkinkan 
>terulangnya 
> peristiwa serupa. Dapat dipastikan peristiwa itu mudah 
>meledak lagi, 
> ketika dianggap perlu oleh mereka yang punya wewenang 
>dan sarana 
> untuk mensponsorinya.
> 
> Nyaris semua orang menduga peristiwa Mei 1998 itu 
>peristiwa rasialis 
> yang terburuk dalam sejarah Indonesia. Betapa keliru! 
>Mereka tidak 
> tahu peristiwa serupa Juli 1947 di sejumlah kota di 
>Jawa. Maklum, 
> kejadian itu berhasil dihapuskan dari ingatan nasional, 
>dari buku 
> pelajaran sejarah di sekolah, dari produksi film dan 
>sinetron. Lupa 
> nasional itu memudahkan berulangnya kekerasan rasialis 
>51 tahun 
> kemudian.
> 
> Lupa secara nasional pada peristiwa Mei 1998 
>memungkinkan kita mabuk 
> pada kebanggaan luhurnya moralitas dan adat istiadat 
>kita sebagai 
> bangsa. Kita bangga karena para penegak hukum berhasil 
>menangkap 
> sebagian besar peledak bom yang dituduh "teroris". Dan 
>pendekar 
> hukum mulai meringkus kaum koruptor besar.
> 
> Bermodal kepercayaan pada tingginya moralitas bangsa, 
>ada yang marah 
> ketika Inul berdangdut karena dianggap tidak sesuai 
>dengan sopan 
> santun bangsa. Perkosaan sebagai tontonan massal di 
>pusat Ibu Kota 
> boleh diabaikan atau dilupakan, tapi tidak ada maaf 
>untuk sebuah 
> film nasional yang menampilkan remaja berciuman!
> 
> Sedahsyat apa pun kekejaman Mei 1998, peristiwa itu 
>mungkin tidak 
> punya tempat di pikiran para tokoh penegak hukum yang 
>sibuk 
> mengesahkan pasal pidana bagi kekasih yang berciuman di 
>muka publik. 
> Menurut salah seorang perumus pembaruan KUHP: perilaku 
>itu merupakan 
> sebuah kejahatan. Mengapa? Karena itu tidak sesuai 
>dengan adat dan 
> kesopanan kita sebagai bangsa Timur.
> 
> Setengah tiang.
> 
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> Yahoo! Mail Mobile
> Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile 
>phone.

========================================================================================
Akses Internet TELKOMNet-Instan beri Diskon s.d. 50 % khusus untuk wilayah Jawa 
Timur.
Informasi selengkapnya di www.telkomnetinstan.com atau hub 0800-1-INSTAN 
(467826)
========================================================================================
 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Dying to be thin?
Anorexia. Narrated by Julianne Moore .
http://us.click.yahoo.com/FLQ_sC/gsnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke