Citra Negatif Perempuan Sunda Oleh CHYE RETTY ISNENDES ME melontarkan tuduhan yang bisa ditafsirkan lain. Pertama, tuduhan itu ditujukan pada semua perempuan Sunda karena tidak ada klasifikasi perempuan Sunda dari golongan mana atau dalam wacana seperti apa. Kedua, bahwa di balik kecantikan perempuan Sunda itu, katanya, tersembunyi berbagai sifat negatif, yaitu pemalas, suka bersolek, dan bergaya seperti orang-orang kaya, serta selalu mengandalkan pendapatan dari suaminya. Ketiga, selain menuduh, ME juga memperbandingkan dan mempertentangkan perempuan suku Sunda dengan perempuan suku lain (Jawa). Disebutkan bahwa perempuan suku Jawa adalah pekerja, yang baginya bekerja adalah sebuah kehormatan (apakah dengan tidak bekerja perempuan Sunda tidak punya kehormatan?). Keempat, ada sinyalemen bahwa perempuan Sunda lebih suka menjual dirinya untuk mendapatkan sesuatu yang tak halal daripada harus bekerja!
Parahnya, pernyataan dalam tulisan ME tidak disertai dengan hasil penelitian yang relevan atau setidaknya pengumpulan angket dari responden dan penyeimbang wacana, sehingga tulisan itu merusak citra perempuan Sunda secara keseluruhan. Parahnya lagi, tulisan di ME itu dimuat pada internet, diketengahkan di dunia maya, yang aksesnya mendunia. Jadi jelaslah bahwa tuduhan itu dibaca oleh mereka dari berbagai suku bangsa, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga orang asing yang mengerti bahasa Indonesia dan akrab dengan dunia maya. Walaupun, katanya lagi, berita itu sudah dihapus di internet dan pengelola portal CBN sudah meminta maaf, tetapi berita yang tercetak di majalah tetap tersebar dan dibaca oleh pembaca yang mewakili dunianya masing-masing. Tulisan dalam ME sebenarnya adalah sebuah stereotipe (pelabelan) yang sengaja dilekatkan pada satu jenis kelamin dan satu suku bangsa tertentu. Dalam tataran feminisme, ini adalah bentuk lain dari ketidakadilan gender yang bisa diibaratkan sebagai pisau bermata dua; stereotipe terhadap perempuan (Sunda) dan stereotipe terhadap suku bangsa Sunda. Wawancara yang dilakukan oleh ME untuk mendukung wacananya juga hanya sepintas dan "kejam". Wawancara-wawancaranya dilakukan hanya pada laki-laki yang tidak jelas kapabilitasnya, sedangkan perempuan Sunda sendiri tidak diberi kesempatan untuk membela diri atau setidaknya menjelaskan fenomena yang ada. Sungguh suatu bentuk lain dari ketidakadilan. Ketidakadilan gender, ketidakadilan jurnalistik, juga ketidakadilan budaya! Sungguh, ke manakah sekarang perempuan Sunda membawa persoalan ini? Ke LBH, ke Menteri Pemberdayaan Perempuan, atau ditelan saja kepahitan dan ketidakadilan ini karena kalau dilaporkan kawas lauk buruk milu mijah dan ngagegedekeun SARA? Memang, wacana perempuan Sunda yang distereotipekan seperti kasus di atas, sebenarnya berkembang di masyarakat yang bukan suku Sunda. Saya sendiri pernah ditanyai soal itu, yang, bila dikutip, pertanyaannya berbunyi seperti ini, "Benar tidak sih perempuan Sunda itu boros dan suka sekali bersolek?" Pertanyaan itu, tentu saja, disebabkan oleh perbedaan budaya yang sangat mendasar. Pertanyaan itu juga tidak salah apabila tidak dilekati kebencian etnis. Kewajiban kitalah orang (perempuan) Sunda untuk menjawabnya dengan arif, yaitu memberikan pengertian tentang kebenaran budaya yang berbeda dari kebenaran budaya daerah yang satu dengan kebenaran budaya daerah lainnya. Celakanya bila stereotipe itu dilekatkan oleh kaum cendekia dan didagangkan di forum ilmiah. Berbicara tentang karakteristik dan jati diri, seharusnya kita sadar bahwa perempuan Sunda kini adalah refleksi dari perempuan Sunda masa silam. Kata Gilles Deleuze, masa kini adalah citra aktual dan masa lalu adalah citra virtual, citra dalam cermin. Karena itu, aktualisasi diri perempuan Sunda masa kini bisa dilihat dari cermin masa lalunya. Tepatnya, perempuan Sunda masa kini teraktualisasikan oleh masa silam dan tertuliskan di dalamnya. Kita tahu, budaya Sunda dalam tataran sejarahnya banyak mengalami persentuhan dengan dunia luar. Belum lagi alam yang memanjakan manusia Sunda, hutan yang hijau, tanah yang subur, air yang tak pernah berhenti mengalir. Tetapi memang, apabila ingin memahami bagaimana sesungguhnya perempuan Sunda itu, kita harus mencarinya dari masa lalu, secara khusus di antaranya dari nilai-nilai yang tersimpan dari kebenaran yang lisan dan tertulis atau, menurut Derrida, dari the active trace yang menghias konteks kekinian dan dari ketertidurannya pada masa lalu atau kenyataan inskripsi- inskripsi yang ada. Ajip Rosidi pernah menulis bagaimana karakter perempuan Sunda itu dalam Manusia Sunda (1984). Dengan menggali nilai-nilai manusia Sunda dari tokoh-tokoh sastra yang tipikal, Ajip Rosidi menghadirkan sosok Purbasari Ayu Wangi dari tataran Sunda Kuno, duo wanoja luar biasa dari tataran Kamari: Dewi Pramanik-Ratna Suminar dan, dari tataran Kiwari: Raden Dewi Sartika. Ajatrohaedi menulis "Citra Wanita dalam Sastra Sunda" (1992) dalam sebuah jurnal sastra UI yang mengulas tokoh perempuan dalam karya sastra dan pengarang perempuan Sunda. Nina Herlina Lubis menulis "Wanita dalam Sejarah" dalam "Tradisi dan Transformasi Sejarah Sunda" (2000) yang menghadirkan citra perempuan Sunda dalam ruang kesejarahannya. Kemudian, Jakob Sumardjo menafsirulang 10 pantun Sunda dalam Simbol- simbol Artefak Budaya Sunda (2003) dan menyoroti bagaimana pentingnya kedudukan perempuan Sunda kuno, hingga mereka menempati dunia atas, sedangkan laki-laki menempati dunia bawah, dan perempuan dan laki- laki itu bertemu di dunia tengah. Tentulah mereka semua menulis berdasarkan fakta yang ada, baik fakta pada tataran imajinatif yang memancarkan karakter perempuan Sunda pada tokoh yang melegenda, maupun fakta yang terekam oleh sejarah. Berdasarkan penelusuran ilmiah yang ditulis oleh para ahli di atas, tergambar perempuan Sunda itu penuh dengan kekuatan dari dunia atas (kosmologi Sunda kuno), memiliki kecantikan yang seimbang (balance), pekerja keras (adaptasi dan kreativitas), dan ulet (etos kerja), sehingga mampu memimpin negara, memengaruhi arus politik, dan menciptakan sesuatu yang baru. Bila saya kemudian menyimpulkan bahwa perempuan Sunda masa kini adalah aktualisasi dari perempuan Sunda masa silam yang berkedudukan tinggi, dipuja, dan dianggap sebagai pusat kehidupan, pusat penciptaan, dan menjadi energi penceritaan, maka tidaklah heran bila perempuan Sunda masa kini masih menyiratkan hal-hal seperti itu: cantik, penuh kekuatan, tetapi juga pekerja keras yang ulet. Dengan demikian, tuduhan yang dilontarkan oleh ME dan anggapan-anggapan yang stereotipe itu tidaklah benar adanya. Tetapi, apabila kita melihat para perempuan pekerja pabrik di Bandung dan Jawa Barat yang notabene urban yang didatangkan dari suku bangsa lain, itu kembali terkait dengan politik kapitalisme dan stereotipe suku bangsa. Para perempuan Sunda distereotipekan sebagai perempuan yang tidak mau bekerja keras dan meminta upah yang tinggi, sedangkan para kapitalis itu tentu tidak mau rugi, mereka lebih memilih yang lain yang dianggap ulet, menerima, dan mau diupah murah! Maka terjadilah kesenjangan sosial dan stereotipe yang kian melekat. Padahal, kalau kita menafsir ulang keberadaan pabrik tekstil di Bandung dan Jawa Barat dengan tenunan, tentulah benang merahnya sangat kentara. Dayang Sumbi dulu menenun (bekerja), Purbasari -- pemegang tampuk keratuan-- dan kakak-kakaknya, juga kakaknya yang pemberang Purbararang menenun (bekerja), Dyah Pitaloka, putri Pajajaran yang tegapati di Bubat, menenun (bekerja), juga Dewi Pramanik. Lebih lagi Raden Dewi Sartika yang sangat mahir menyulam dan menjahit. Demikian juga dengan perempuan-perempuan di Baduy. Maka sekarang, tidaklah mungkin perempuan Sunda tidak bisa bekerja dengan keras dan ulet sebagai pegawai pabrik tekstil, misalnya. Jadi, sangat mendesaklah kiranya pemerintah Jawa Barat merevitalisasi segala bentuk konsep dan aturan-aturan dalam berkehidupan daerahnya hingga seharusnya peribahasa jadi pribumi di imahna sorangan ulah jati kasilih ku junti; berkeadilan politik; mengembangkan keadilan gender, khususnya untuk perempuan Sunda yang selama ini banyak dijadikan objek dan dieksploitasi karena kebutuhan ekonomi yang tidak adil; diterapkan dan menjadi kenyataan demi eksistensi etnis Sunda sendiri. Perempuan Sunda memang harus kritis dan sadar diri akan keber-Ada- annya pada masa kini, untuk membentuk masa depan yang berkeadilan, serta tidak melupakan masa lalunya. Terakhir, saya mengajak semua orang untuk merenungkan kekurangan kita yang, entah kenapa, membuat kita tidak merasa malu karenanya: gagap budaya.*** Penulis, staf pengajar di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Sunda FPBS UPI, menyelesaikan studi Pascasarjana di UGM. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/HO7EnA/3MnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

