Bogor Tunas Pajajaran
Mengapa
bekas Pakuan itu kosong tanpa penghuni ketika ditemukan oleh Scipio dalam tahun
1687? Itulah pertanyaan yang seringkali terlontar dari banyak pihak. Dan paparan
di bawah ini, mudah-mudahan, bisa menjelaskan..
1.Masa Tilem
Waktu antara "Pajajaran sirna" sampai "ditemukannya kembali" oleh
ekspedisi Scipio (1867) berlangsung kira-kira satu abad. Kota yang pernah
berpenghuni sekitar 48.271 jiwa ini ditemukan sebagai "puing" yang diselimuti
oleh hutan tua (geheel met out bosch begroeijt zijnde; 1703).
Untuk
jamannya, Bogor merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Demak yang
berpenduduk 49.197 jiwa, dan masih dua kali lipat lebih banyak dari penduduk
Pasai (23.121 jiwa) yang merupakan kota terbesar ketiga.
Pakuan tersisih
dari percanturan hidup. Kemewahan yang ditampilkan oleh penghuni keraton dalam
masa Nilakendra hanyalah ibarat kobaran api lilin menjelang padam. Setelah raja
tak lagi berdiam di ibukota, kehidupan Pakuan sebagai pusat pemerintahan
sebenarnya sudah berakhir. Panembahan Yusuf dari Banten memadamkannya "secara
resmi" walaupun sebenarnya ia sudah berhasil mengakhiri kekuasaan Raga Mulya
(Suryakancana) di Pulasari sebelum itu. Dan masa silam yang lebih sering
memantulkan gema yang kabur itu, proyeksinya dapat kita lihat dalam lakon pantun
dan babad.
Penduduk Kedunghalang dan Parung Angsana sendiri yang
mengantarkan Scipio pada 1 September 1987, menjadi peziarah pertama setelah
terpisah satu abad dengan kehidupan Pakuan. Tak heran, mereka menduga puing
kabuyutan Pajajaran yang mereka temukan sebagai singggasana raja.
Dalam
tahun 1703, Abraham van Riebeeck sudah melihat adanya sajen yang diletakkan di
atas piring di kabuyutan tersebut. Jadi sejak ditemukan rom an Scipio, orang
merasa "bertemu kembali" kembali dengan Pajajaran yang telah hilang.
Tahun 1709, Van Riebeeck melihat ladang baru pada lereng Cipakancilan.
Tanda kehidupan baru di bekas Pakuan mulai muncul. Mudah diperkirakan bahwa
peladang itu akan membuat dangau tempat tinggalnya pada tepi alur Cipakancilan
yang tidak kelihatan oleh Van Riebeeck karena ia berkuda pada jalur Jalan
Pahlawan yang sekarang.
Lain lahan lain pikiran. Pakuan bukan hanya
lahan melainkan juga kenangan. Lahannya "dihidupkan kembali" tetapi kerajaanya
takkan kembali. Inilah yang dirindukkan dan disenandungkan oleh para pujangga
dalam karyanya setiap kali gema Pajajaran menyentuh hati mereka:
"Geus
deukeut ka Pajajaran ceuk galindeng Cianjuran, Jauh keneh ka Pakuan ceuk
galindeng panineungan".
(Sudah dekat ke Pajajaran menurut lantun
Cianjuran, Masih jauh ke Pakuan menurut lantun Kenangan)
Pakuan terasa
dekat, tetapi tak kunjung sampai. Kedekatan batin terhadap Pajajaran ini
akhirnya menjelmakan gagasan Pajajaran Ngahiang atau Pajajaran Tilem seperti
orang Ciamis yang kehilangan Galuhnya mencetuskan dunia onom.
"Pajajaran
henteu sirna, tapi tilem ngawun-ngawun" (Pajajaran tidak hilang, Pakuan hanya
ngahiang). Ini adalah kata-kata orang tua yang tidak mau kehilangan
Pajajarannya, bahkan mereka berani menghibur diri dengan berkata: "Ngan engke
bakal ngadeg deui" [Suatu saat akan berdiri kembali).
2. Tanuwijaya
peletak dasar "Negeri Bogor"
Riesz dalam De Geschiedenis van Buitenzorg
(1887) menjelaskan bahwa Tanuwijaya adalah orang Sunda dari Sumedang yang
berhasil membentuk "pasukan pekerja" dan mendapat perintah dari Camphuijs untuk
membuka hutan Pajajaran sampai akhirnya ia mendirikan Kampung Baru yang menjadi
tempat "kelahiran" (de bakermat) Kabupaten Bogor yang didirikan kemudian.
Adapun Tanuwijaya, dalam catatan VOC disebut Luitenant der Javanen
(Letnan orang-orang Jawa) dan merupakan Letnan Senior di antara teman-temannya.
Kampung Baru yang didirikannya ada di Cipinang (Jatinegara) dan di Bogor. Yang
di Bogor mula-mula bernama Parung Angsana. Tetapi ketika Tanuwijaya pindah dari
Kampung Baru Cipinang ke sana, ia kemudian memberi nama Kampung Baru. Sekarang
bernama Tanah Baru.
Terpengaruh oleh kunjungannya ke bekas Ibukota
Pakuan bersama Scipio, ia kemudian ingin mendekatkan diri dengan peninggalan
Siliwangi. Kampung-kampung seperti Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan,
Bantar Jati, Sempur, Baranangsiang, Parung Banteng dan Cimahpar adalah
kampung-kampung yang didirikan Tanuwijawa bersama pasukannya. Kampung Baru
(Parung Angsana) saat itu sudah menjadi semacam "pusat pemerintahan" bagi
kampung-kampung yang didirikan secara terpencar oleh anak buahnya.
Tanuwijaya pula yang mengambil inisiatif membuat garis batas antara
daerah pemukiman orang-orang Banten dengan orang-orang Kumpeni ketika rakyat
Pangeran Purbaya mulai membangun pemukiman pada daerah aliran Cikeas.Sementara,
daerah aliran Ciliwung antara Kedung Badak sampai Muara Beres telah ditempati
orang-orang Mataram yang tidak mau kembali ke daerah asalnya setelah tercapainya
persetujuan antara Mataram dan VOC tahun 1677. Sebagian dari mereka adalah
pelarian pasukan Bahurekso, sebagian lagi kelompok resmi yang dikirimkan Sunan
Amangkurat I tahun 1661 ke Muara Beres, bekas basis pasukan Rakit Mataram ketika
mengepung Benteng Batavia.
Rasa hormat Tanuwijaya terhadap bekas Ibukota
Pakuan demikian besar sampai gerakan okupasinya dihentikkan pada sisi utara
Ciliwung. Ia tidak berani melintasinya. Juga kepada rekan-rekannya yang berniat
melintasi sungai tersebut dianjurkan agar melakukannya jauh di sebelah hulu
(Ciawi dan Cisarua).
Almarhum M.A. Salmun pernah menulis dalam Majalah
Intisari (salah satu nomor tahun pertama), bahwa yang dimaksud Menak ki Mas Tanu
dalam lirik lagu Ayang-Ayang Gung ya Tanuwijaya ini. Benar tidaknya,
wallaohualam. Tapi, hampir tiap baris lirik lagu itu dapat diterapkan kepada
keadaan Tanuwijaya dalam riwayat hidupnya. Ia memang anak emas Kumpeni dan
dibenci rekan-rekannya. Ia ditunjuk Camphuijs menggantikan Letnan Pangirang
(orang Bali. Atau Makassar?) untuk membuka daerah selatan.
Di luar itu,
rupa-rupanya, kedekatan batin Tanuwijaya dengan Pajajaran telah melonggarkan
ketaatannya terhadap Kumpeni. Ia tentu merasakan bagaimana tidak masuk akalnya
seorang letnan seperti dirinya harus tunduk kepada seorang sersan seperti Scipio
yang kulit putih, padahal ia sendiri menjadi atasan sersan pribumi. Akhirnya
"anak emas" Kumpeni ini menjadi sekutu dan pelindung Haji Perwatasari yang
bangkit mengangkat senjata terhadap perluasan daerah kekuasaan VOC. Meskipun, ia
ditakdirkan jadi pihak yang kalah. Sebagaimana Haji Perwatasari, Tanuwijaya
dibuang ke Tanjung Harapan di Afrika.
Orang dulu menyindir Tanuwijaya
dengan "lempa lempi lempong, ngadu pipi jeung nu ompong" (mengejar harapan
kosong, bermesraan dengan orang tak bergigi). Yang dimaksudkan dengan "orang tak
bergigi" di sini adalah Perwatasari yang kalah dalam perjuangan.
Dalam
masa penjajahan Belanda, penyusun Babad Bogor (1925), tidak berani mencantumkan
nama Tanuwijaya sebagai "bupati pertama". Dalam daftar silsilah biasanya selalu
dicantumkan Mentengkara atau Mertakara, kepala Kampung Baru yang ketiga (1706 -
1718), yang menurut De Haan, adalah putera Tanuwijaya. Sebaliknya, para penulis
Belanda, lebih leluasa menyebutkan Tanuwijaya sebagai Bupati Kampung Baru
pertama dan peletak dasar Kabupaten Bogor.
Pengalaman Tanuwijaya dengan
Kumpeni adalah mirip dengan pengalaman Untung Surapari. Akan tetapi, jika benar
lirik Ayang-ayang Gung diciptakan untuk menyindir Tanuwijaya, maka kita patut
merenungkannya kembali.
Tahun 1745, sembilan distrik -- yaitu Cisarua,
Pondok Gede, Ciawi, Ciomas, Cijeruk, Sindangbarang, Balubur, Darmaga dan Kampung
Baru -- digabungkan menjadi satu "pemerintahan" di bawah kepala Kampung Baru dan
diberi gelar Demang. Gabungan sembilan distrik inilah yang dahulu disebut
"Regentschap Kampung Baru" atau "Regentschap Buitenzorg". Atas dasar itulah
kedua sungai (Cisadane dan Ciliwung) dalam lambang Kabupaten Bogor masing-masing
digambarkan dengan sembilan baris gelombang. Ada benarnya apa yang dikemukakan
Riesz, bahwa Kampung Baru (Tanah Baru) adalah "de bakermat" (tempat kelahiran)
Kabupaten Bogor.
3. Letusan Gunung Salak
Pada malam hari tanggal
4 dan 5 Januari 1699, Gunung Salak meletus dengan iringan gempa bumi yang sangat
kuat. Sebuah catatan dari tahun 1702 menceritakan keadaan yang diakibatkannya:
"Dataran tinggi antara Batavia dengan Cisadane di belakang bekas keraton
raja-raja Jakarta yang disebut Pakuan yang asalnya berupa hutan besar, setelah
terjadi gempa bumi berubah menjadi lapangan yang luas dan terbuka tanpa
pohon-pohonan sama sekali.
Permukaan tanah tertutup dengan tanah liat
merah yang halus, seperti yang biasa digunakan tukang tembok. Di beberapa tempat
telah mengeras sehingga dapat menahan beban langkah yang berjalan di atasnya,
tetapi pada tempat-tempat lain orang dapat terbenam sedalam satu kaki.
Di tempat bekas keraton yang disebut Pakuan yang terletak di antara
Batavia dengan Cisadane belum pernah terjadi bencana lain yang menyebabkan tanah
tersobek dan pecah terbelah-belah menjadi retakan-retakan besar yang lebih dari
satu kaki lebarnya".
Berita lain mencatat bahwa aliran Ciliwung dekat
muaranya tersumbat sepanjang beberapa ratus meter akibat lumpur yang dibawanya.
Van Riebeeck yang membersihkan sumbatan itu mengajukan tuntutan agar tanah
Bojong Manggis dan Bojong Gede diberikan kepadanya sebagai upah.
Untuk
meneliti akibat gempa ini, Kumpeni mengirimkan ekspedisi Ramp & Coops dalam
tahun 1701 ke kaki Gunung Pangrango. Dari survei ini diberitakan bahwa aliran
Cikeumeuh masuk terbenam ke dalam tanah dan sobekan puncak Gunung Salak
menghadap ke arah barat laut. Diperkirakan, tanah yang terbelah hebat itu
terjadi antara Ciliwung dan Cisadane. Dan panen batu dan pasir di daerah Ciapus
saat ini, bisa disebut, merupakan hadiah yang ditinggalkan letusan Gunung Salak
di akhir abad 17 itu.
Tak ada berita mengenai nasib penduduk sepanjang
aliran Ciliwung waktu itu. Hanya saja pada tahun 1701, penduduk Kampung Baru
masih dapat mengantar rom a Ram & Coops tadi. Selain itu Abraham van
Riebeeck tidak mencatat apa-apa mengenai sisa-sisa akibat letusan itu. Ini
menunjukkan bahwa kehidupan penduduk yang masih jarang itu tidak terganggu.
Bahkan, tahun 1704, Van Riebeeck mendirikan pondok peristirahatan di Batutulis
karena ia menganggap Gunung Salak sudah tidak menakutkan lagi.
4. Kopi
membuka Cakrawala Baru
Usaha Gubernur Jenderal Henricus Zwaardecroon
(1718 - 1725) membiakkan tanaman kopi di sekitar benteng Batavia berhasil baik.
Tahun 1721 hasil kopi sudah bisa dihasilkan di beberapa daerah, diantaranya:
DAERAH PRODUKSI (dalam pikul)
Kampung Baru 61. 000
Kedung
Badak 1. 596
Cipamingkis 43. 825
Cianjur & Jampang 59. 900
Cibalagung 5. 750
Cikalong 4. 350
Bekasi 482
Jati Nagara 8. 450
Cibadak 250
Pager Wesi 800
Tangerang 1. 800
Melihat hasil
yang baik ini, sejak 15 April 1723, tanaman kopi juga wajib ditanamkan di
tanah-tanah swasta sekitar Jakarta. Sejak saat itu, mulailah apa yang disebut
Sistem Priangan, Preanger Stelsel, yang berlangsung selama dua abad lamanya.
Tahun 1724, Wiranata III (Bupati Cianjur) telah dapat memanen kopi sebanyak
1.216.257 pikul, yang nilainya kala itu 202. 271,25 ringgit.
Selain
kopi, tanaman yang diwajibkan dalam "stelsel" itu adalah kapas, lada dan tarum
(indigo). Toh, kopilah yang jadi primadona. Maklum, tanaman itu menjadi komoditi
utama Hindia Belanda di pasar dunia. Produk kopi dari Jawa Barat ini laku keras
di Meksiko dan telah berjasa menolong Kas Keuangan Pemerintah Hindia Belanda
zaman Daendels. Saat itu, hubungan ke negeri Belanda terputus akibat peperangan
antara Prancis dan Inggris. Atas dasar ini Jawa Barat mendapat julukan gabus
pelampung Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia.
Politik dan sistem
pemerintahan Belanda di Jawa Barat selalu disesuaikan
dengan kepentingan kopi
ini. Meskipun, untuk itu mereka menerapkan sistem tersendiri untuk setiap
wilayah. Sistem tanam paksa yang hanya berlaku di Cirebon disebut urstelsel.
Hari Jadi Bogor
1. Tanggal yang menjadi acuan
Hari jadi, dalam
kaitan apapun juga, menyangkut identitas. Salah satu identitas Bogor yang cukup
n di Jawa Barat adalah latar belakang sejarahnya karena di Bogor inilah terletak
Ibukota Pajajaran dan di sini pula Siliwangi pernah hidup dan memerintah. Dua
serangkai ini, Pajajaran dan Siliwangi, merupakan salah satu kebanggan
masyarakat Jawa Barat. Wajar sekali bila Pemerintah Daerah Kotamadya dan
Kabupaten Bogor sepakat mengambil titik awal identitasnya dari dua serangkai
ini.
Telah diungkapkan bahwa Jaman Pajajaran dimulai dengan pemerintahan
Sri Baduga Maharaja yang dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi. Sri
Baduga
mulai memerintah tahun 1482 dan berlangsung selama 39 tahun. Sejak dia
memerintah Pakuan dijadikan ibukota kerajaan menggantikan
Kawali.
Peristiawa kepindahan itulah yang dijadikan titik tolak
perhitungan hari jadi Bogor.
Hubungan antara Bogor dengan peristiwa masa
lalu sebenarnya tak sulit dicari karena sejak lama disadari oleh orang-orang
tua. Entje Madjid salah satunya (tokoh seni awal abad ke-20) sudah lama
mencetuskan lirik "Pajajaran tilas Siliwangi, wawangina kasilih jenengan, kiwari
dayeuhnya Bogor" (Pajajaran peninggalan Siliwangi, namanya semerbak mewangi,
kini kotanya Bogor).
Jadi beliau telah mengambil kesimpulan bahwa dayeuh
Bogor adalah pengganti dayeuh Pajajaran.
Pengambilan angka tahun 1482
berpijak pada telaah sejarah karena sumber yang ada akan menampilkan angka tahun
itu sebagai awal masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi). Untuk
bulan dan tanggal rupanya harus ditelusuri dari sumber sejarah dengan berpijak
pada upacara tradisional dengan nama Gurubumi dan Kuwerabakti karena
sumber-sumber sejarah itu tidak menuliskan secara eksplisit mengenai bulan dan
tanggalnya.
Berikut adalah penjelasan mengenai upacara Gurubumi dan
Kuwerabakti: Dalam Lakon Ngahiyangnya Pajajaran dikisahkan, bahwa di Ibukota
Pajajaran selalu diadakan upacara Gurubumi dan Kuwerabakti setiap tahun. Dalam
upacara itu hadir para pembesar dan raja-raja daerah. Upacara itu dimulai 49
hari setelah penutupan musim panen dan berlangsung selama sembilan hari dan
kemudian ditutup dengan upacara Kuwerabakti pada malam bulan purnama.
Kisah dari Pantun ini didukung oleh sumber lainnya. Misalnya, Kropak 406
yang memberitakan bahwa raja-raja daerah harus datang menghadap ke Pakuan setiap
tahun. Di antara barang antaran yang dibawa raja-raja daerah, ikut serta juga
"Anjing Panggerek" (Anjing Pemburu). Jadi dalam waktu perayaan yang sembilan
hari itu, kegiatan berburu juga dilakukan. Tome Pires menyebutkan, bahwa "the
king is great sportman and hunter" (Raja adalah olahragawan dan pemburu yang
ulung).
Fakta lain yang mendukung adalah upacara Gurubumi ini masih
biasa dilakukan di daerah pakidulan (bagian selatan Banten dan Sukabumi).
Mengenai Kuwerabakti, para sesepuh di Sirnaresmi mengemukakan bahwa upacara itu
hanya dilakukan di dayeuh. Meskipun Sirnaresmi ini terletak di Kecamatan Cisolok
- Sukabumi, yang dimaksud dayeuh di sini adalah Bogor karena upacara Kuwerabakti
ini dulu hanya dilakukan di Ibukota Pajajaran. Kaum adat Sirnaresmi adalah
keturunan para pengungsi dari Pakuan waktu kota ini diserang Banten.
Dari cerita terdahulu digambarkan bahwa latar belakang kebudayaan
masyarakat Pajajaran adalah pertanian ladang. Di Jawa Barat, masyarakat ladang
murni hanya tinggal Masyarakat Baduy di Kanekes (Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten
Lebak). Dalam hal ini, yang berkaitan dengan Upacara Gurubumi dan Kuwerabakti
adalah siklus pertaniannya, terutama menyangkut musim panennya. Kalender
Pertanian Masyarakat Baduy sejalan dengan pranatamangsa yang pada masa lalu juga
digunakan oleh masyarakat tani di seluruh Pulau Jawa dan Bali.
Perbedaan
usia bulan memang ada, tetapi jumlah hari dalam setahun tetap sama, yaitu 365
hari. Kedua kalender itu pun berpedoman kepada bentang waluku (bentang=bintang),
yang di Kanekes dan Kiarapandak (Cigudeg), juga disebut bentang kidang (Sunda).
Gugus bintang ini terletak pada rasi Orion. Kadang-kadang juga digunakan gugus
bintang tetangganya, yaitu Kereti (Kartika atau Pleyades) yang terdapat pada
rasi Taurus. Pengamatan astronomi traditional ini bertujuan untuk mengamati
musim, sebab baik di ladang maupun di sawah, musim tanam padi harus pada musim
labuh (Sunda: dangdangrat), yaitu musim hujan awal yang jatuh pada minggu ketiga
bulan September. Musim panen jatuh pada bulan Maret karena usia padi rata-rata 5
bulan 10 hari, kecuali padi jenis Hawara yang usianya lebih pendek.
Untuk
lebih jelas, mungkin patut diketahui: Kalender Baduy diawali dengan Kapat atau
Sapar. Upacara musim panen di Kanekes hanya diadakan di Kajeroan yaitu upacara
Kawalu. Upacara pergantian tahun (Ngalaksa) diadakan tiga hari sebelum tahun
berganti. Upacara Kawalu jatuh pada bulan Maret, sedangkan upacara Ngalaksa di
adakan Bulan Katiga (pranatamangsa: Sada) yang jatuh pada bulan
Juni.
Dari uraian Pantun di atas diperkirakan bahwa untuk tahun 1482,
upacara Kuwerabakti dilangsungkan pada tanggal 2 Juni, malam 3 Juni. Pada
tanggal 3 Juni 1482 inilah secara resmi kegiatan upacara selama sembilan hari di
Ibukota itu berakhir.
Upacara Gurubumi yang diadakan 49 hari setelah
panen tentunya bukan tiada maksud. Lamanya penyelanggaraan upacara itu
dimaksudkan agar raja-raja daerah berkesempatan mengadakan upacara penutupan
panen di daerahnya masing-masing sebelum berangkat ke ibukota. Seperti yang
masih terjadi di Kanekes. Upacara di daerah itu jatuh pada sekitar bulan
Maret.
Dan yang menjadi titik perhatian dalam masalah ini adalah mulai
berfungsinya kembali Pakuan sebagai pusat pemerintahan. Wajar sekali bila
peristiwa itu dirayakan dan disyukuri yang bersamaan dengan memberikan
pengumuman kepada raja-raja daerah bahwa sejak saat itu pusat pemerintahan ada
di Pakuan.
Dalam naskah Wangsakerta yang mengandung nilai sejarah lebih
tinggi dibanding naskah-naskah tradisional diberitakan, bahwa waktu itu Sri
Baduga baru dinobatkan dan beberapa hari menempati kedatuan Sri Bima. Dengan
demikian dapat diperkirakan bahwa penobatan Sri Baduga Maharaja menjadi
Susuhunan Pajajaran terjadi pada bulan Maret/April tahun 1482.
Maka,
perayaan besar dan peresmian Pakuan menjadi pusat pemetintahan tentu
dilangsungkan dalam peristiwa upacara Gurubumi dan Kuwerabakti terdekat. Untuk
1482, upacara dimulai tanggal 25 Mei dan ditutup 9 hari kemudian.
2.
Bogor sebagai alur kehidupan
Topografi Pakuan dibentuk oleh dua sungai,
yaitu Cisadane dan Cihaliwung sehingga tak heran kalau kedua sungai itu selalu
disebut dalam rajah pantun. Sisipan ha pada Cihaliwung hanyalah melengkapi suku
kata menjadi delapan buah untuk kepentingan matra. Oleh karena itu tak perlu
disalah tafsirkan dengan selokan kecil Cihaliwung pada alur Cikahuripan di
belakang Pajaratan Embah Dalem di Batutulis.
Kelengkapan alami di Pakuan
ini disempurnakan oleh Dalem Aria Natanagara dengan pembuatan saluran yang
menghubungkan Cisadane dan Ciliwung. Karya besar ini sebenarnya tidak kalah
nilainya dengan Parit Pakuan Karya Prabu Siliwangi yang membentang sepanjang
jalur rel kereta api dari Jembatan Bondongan sampai Station Batutulis.
Pembangunan saluran buatan itu sebenarnya dimaksudkan untuk mengairi
pesawahan yang waktu itu masih dibangun. Akan tetapi oleh orang-orang tua
peristiwa itu ditanggapi dari sisi lainnya. Pak Cilong menganggap pembuatan
saluran itu sebagai suatu "perkawinan alur hidup". Ia mengartikan kejadian itu
dengan "Ngadanikeun nu laliwung" (menyadarkan yang pada bingung).
Menurut
Pak Cilong, dane atau dani artinya sadar atu eling, arti kiasannya jernih, benih
yang sewarna dengan putih. Sedangkan liwung diartikan bingung atau kusut
pikiran, arti kiasannya keruh, kusam yang sewarna dengan hitam.
Pandangan
orang tua ini sejalan dengan pandangan umum yang menilai kehidupan dari sudut
serba-dua. Misalnya jasad yang fana (terdiri atas materi dan menjadi sarang
nafsu) dan jiwa yang abadi (yang lembut supra-materi dan menjadi sumber budi).
Demikianlah putih dan hitam yang dijadikan perlambang kehidupan dan itu pulalah
makna Cisadane dan Ciliwung yang, menurut Pak Cilong, airnya dipadukan melalui
alur Cipakancilan.
Sejalan dengan hal di atas, ada kenyataan ganjil pada
cara berpakain orang Baduy di Kanekes. Tumbuhan tarum untuk bahan mencelup
pakaian terdapat di seluruh daerah ini. Akan tetapi tradisi mereka tetap
mengharuskan orang Kajeroan tetap berikat kepala putih, sedangkan orang
Panamping berikat kepala biru kehitaman (karena dicelup dengan tarum atau
nila?).
Tentu saja kenyataan seperti ini bukan hanya masalah teknis.
Lihat saja pada Sundapura (Kota Sunda), ibukota kerajaan Taruma yang dibangun
Purnawarman. Kata Sunda (menurut Macdonell) mengandung arti putih atau bersih,
ini sejalan dengan arti dani atau dane. Sedangkan Tarum mengandung arti nilai
yaitu warna antara biru dengan hitam, dan ini sejalan dengan arti
liwung.
Brigjen Polisi Purnawarman R. Gojali Suriamijaya dan Alm. Dadang
Ibnu, salah satu pembantu Oto Iskandardinata, dari Sukaraja mengajukan kisah
yang sama, bahwa lambang Galuh adalah harimau kumbang, sedangkan lambang
Pajajaran adalah harimau putih. Di sini yang ditonjolkan bukan harimaunya,
melainkan warnanya, yaitu warnah putih dan kumbang (warna antara birudengan
hitam). Jadi pola ini menunjukkan hal sama dengan pola sebelumnya.
Orang
Pulau Jawa sendiri menyadap kata wyaghra dari bahasa Sangsakerta yang mengandung
arti hariamu atau pahlawan. Dalam Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I
sarga 1, dikisahkan bahwa Purnawarman yang selalu unggul dalam peperangan itu
dijuluki Wyaghra Ning Tarumanagara atau Harimau Tarumanagara. Jadi, ada tradisi
yang mengasosiasikan harimau dengan perbuatan kepahlawanan.
Ki Buyut
Rambeng dalam lakon Dadap Malang menggunakan sebutan maung selang untuk para
senapati Pajajaran. Konon, harimau ini kecil tetapi terkenal garang (menurut
Coolsma, "tijger met zwarte grondkleur roode strepen" = harimau dengan bulu
dasar hitam bergaris merah)].
Patung Harimau peninggalan masa silam
belum ditemukan, tetapi agama Budha memperkenalkan patung singa pengawal seperti
tampak di pelataran Candi Borobudur. Singa adalah lambang Sidharta Gautama yang
sebelum menjalani kehidupan sebagai Budha menjadi pahlawan bangsanya dengan
gelar Ksatria Sakyasimha (singa bangsa Sakya).
Ikonografi di Borobudur
menampilkan patung singa-pengawal dengan sikap duduk seragam seperti Spinx dekat
Piramida Gizeh di Mesir. Duduk pada kaki belakang dan bertopang pada keduakaki
depan yang dilipat menjulur ke depan sambil menegakkan dada. Itulah sikap
santai, tenang dan anggun tetapi penuh kewaspadaan tanpa menampilkan sikap
mengancam. Dengan sikap duduk seperti itu, hewan jenis harimau dan singa dapat
langsung berdiri dengan sekali gerakan lompat.
Masyarakat traditional di
Jawa Barat pada tahun 1930-an selalu membuat tabungan (cengcelengan) berbentuk
harimau dengan sikap duduk sepertisinga-pengawal di Borobudur itu. Hal ini tentu
saja diwarisinya turun-temurun.
Itulah kajian yang melatar-belakangi
sikap duduk patung harimau di depan Balai Kota Bogor.
Pertanyaannya
sekarang adalah, adakah sebenarnya harimau yang berwana putih? Pertanyaan yang
sama dapat pula diajukan untuk patung badak putih atau sosok wayang Anoman.
Pernahkan pula ada burung rajawali yang berbulu ekor 8 helai, bersayap 17 helai
dan berbulu leher 45? Mungkin ada, entah di mana. Yang jelas ada dalam mitos dan
legenda atau kisah orang-orang tua.
Tapi bila kita saksikan bagaimana
kisah kepergian Surawisesa atas perintah ayahnya (Siliwangi) ke Malaka dalam
lakon pantun digubah menjadi kepergian Mundinglaya Dikusuma ke Kahiyangan
mencari Lalayang Salakadomas, dan tokoh Alfonso d'Albuquerque digantikkan
posisinya oleh tokoh Sunan Ambu, dapatlah disimpulkan bahwa kisah-kisah ajaib
seperti itu bernilai simbolik dan menyembunyikan sesuatu kenyataan.Tidak
mungkinkah kisah gaib harimau kumbang dan harimau putih itu juga melambangkan
kaitan historis antara Tarumanagara (tarum=nila=hitam) dengan Sunda (putih)?.
Terlepas dari itu semua, orang sependapat bahwa harimau menjadi lambang
kepahlawanan dan putih melambangkan kesucian, kemurnian, kejujuran dan keadilan.
Patung harimau putih hanyalah hiasan yang mudah-mudahan mampu mengingatkan kita
apa arti keadilan dan kejujuran dalam ajaran moralsebagai bagian warga negara
Republik Indonesia. "The Kingdom of Sunda is justly governed" (kata Tome Pires)
patut kita buktikan, minimal di sebagian kecil bekas ibukotanya. Taruma-Sunda
adalah identitas sejarah Bogor.
Ciliwung-Cisadane menjadi identitas
topografinya (waruga). Sesuai dengan makna yang terkandung didalamnya, Kotamadya
Bogor memiliki bendera pengenal yang berwarna tarum dan putih dengan lambang
daerah di tengahnya. Silahkan baca saja bendera itu dengan Kotamadya Bogor di
atas lahan Ciliwung dan Cisadane.
Uraian ini ditambahkan sebagai
pelengkap dengan maksud memandang ke sisi lain tempat orang-orang tua yang bijak
merenungkan sesuatu di luar wujud materi. Manusia modern pernah beranjak terlalu
jauh dan menganggap dirinya berhadapan, bahkan berhak menaklukkan alam. Namun
pengalaman membuktikan bahwa mereka hanya sebagian dari alam itu. Menaklukkan
alam berartimemusnahkan diri sendiri karena lingkungan hidup itu bukan untuk
para penghuninya, melainkan terdiri atas para penghuninya.
Hana nguni
hana mangketan hana nguni tan hana mangkeaya ma beuheula aya tu ayeunahanteu ma
beuheula hanteu tu ayeunahana tunggak hana watangtan hana tunggak tak hana
watanghana ma tunggulnya aya tu
catangnya.