ngadongeng heula ach...........

Aih... Aih...
Author: Abu Aufa* (http://www.abuaufa.net/)

(*Penulis Diary Kehidupan 2, diterbitkan oleh PT
Syaamil Cipta Media, Bandung, Phone: 022-7219806 dan
Sapa Cinta dari Negeri Sakura, diterbitkan oleh PT
Pena Pundi Aksara, Jakarta, Phone: 021-7972501)


Cinta, duuuh cinta...
Virus cinta emang bisa bikin blingsatan dan jungkir
balik gak karuan. Uring-uringan, hingga makan tak
enak, tidur pun tak nyenyak. Bahkan dapat merubah
pribadi seseorang, yang awalnya benci banget kata-kata
puitis nan manis, mendadak jadi pujangga yang pandai
menebar janji tuk memikat hati.

Sambil bersimpuh dengan seikat bunga mawar ditangan,
sang pujangga pun merayu sang pujaan,
"Duhai belahan hati, tak dapat kuhidup tanpa dirimu di
sisi."

Kadang ia bergaya bagaikan bintang film India,
"Adinda..., belahlah dadaku ini, kan kau lihat ada
dirimu di sana."

Sang gadis pun tersipu malu, hidung kembang-kempis dan
jempol kaki jadi gede,
"Idih... abang bisa aja nih."

Tak peduli siang malam, yang dipikirkan hanya juwita
sayang impian seorang. Tak tahan dengan rayuan maut
sang pujangga karbitan, si gadis pun langsung jatuh
cinta. Jiwa terbang ke awang-awang, bermain dengan
bintang gemintang.

Akhirnya, adik jadi milik abang seorang.

Cihuiii... nikah juga!!!

Pesta tiga hari tiga malam pun diadakan, ngikutin
tradisi bintang-bintang sinetron atau anak orang-orang
kaya. Meriah, dengan orkes dangdut setiap malam yang
memekakkan telinga, juga tak ketinggalan pemutaran
layar tancap di depan rumah.

Tamu-tamu begitu banyak yang datang, dan tak
henti-hentinya ucapan selamat dihaturkan,
"Duuh neng, cantiknya...," seraya tangan mencubit
gemes pengantin perempuan.

"Aduuh!" ternyata nyubitnya sakit juga, sambil
ngedumel dalam hati,
"Iih... luntur deh make-up, nih ibu reseh banget sih!"


Tapi senyuman masih mengembang, memikirkan banyaknya
amplop yang akan diterima, dan kembali berbisik dalam
hati,
"Sudah tradisi...," menirukan iklan produk biskuit di
tivi.

Rasa puas serta bahagia terpancar dari kedua pasangan,
dan tentu saja keluarga besar. Bangga, bisa membuat
pesta gede-gedean karena katanya itu simbol kaum
terhormat dan kaya raya.

Rencana bulan madu pun tak lupa dipikirkan,
"Bang, ntar kita bulan madu kemana?" tanya istri
sambil bergelayut manja.

"Kemana aja boleh, terserah adikku sayang," sambil
mencium pipi dengan mesra, muaaah! Maklum, pengantin
baru.

"Huu... yang benar dong jawabnya," pura-pura merajuk.

"Kalo ke bulan, adik mau ikut?"

"Ikuuut...," sambil memegang erat tangan kekanda
tercinta.

 Aih... aih...

 * * *

Cinta, duuuh cinta...
Di awal pernikahan duhai sungguh indah,
sayang-sayangan yang bikin mabuk kepayang. Makan
saling suap-suapan, di jalan pun tangan saling
bergandengan, hingga kadang membuat iri yang belum
menemukan pasangan. Tak lupa foto adinda yang sedang
tersenyum dipajang di meja kerja, dielus-elus saking
cintanya, karena tak sabar ingin segera pulang ke
rumah.

Jam kerja kadang digunakan untuk telpon-telponan,
"Lagi ngapain, honey?"

Karena masih pengantin baru, masih gede rasa cemburu.

"Hani? Siapa tuh Hani? Kan namaku bukan Hani, pacar
baru lagi ya?"

Hiks... hiks... hiks...

Hah???

 * * *

Waktu berlalu, hari berganti hari hingga tahun
berganti tahun. Layaknya sebuah kehidupan, tentu ada
pasang surut. Roda pun tak selalu di atas, selalu
ganti berputar. Begitu juga perjalanan bahtera rumah
tangga anak manusia, kadang manis tak jarang pula
sebaliknya.

Gejolak cinta di masa muda yang begitu bergelora untuk
mendapatkan pasangan jiwa lalu berganti dengan keluh
kesah, hingga bosan pun meranggas cinta. Suami yang
dulu begitu mesra, perlahan mulai lupa dengan yang di
rumah. Sang istri kini lebih sering merenung sambil
bersenandung lagu Kemesraan-nya Franky Sahilatua,
berharap kemesraan yang dulu janganlah cepat berlalu.

Istri kadang sendirian, karena kekanda tercinta suka
pulang larut malam. Makan malam yang dihidangkan pun
kini tak lagi disentuh, karena restoran telah menjadi
pilihan. Dilayani pelayan-pelayan yang berpenampilan
rapih, bagi sang suami lebih menyenangkan daripada
disambut istri yang wajahnya penuh dengan masker
bengkoang dan celemek kucel penuh bau masakan
beraneka-ragam. Bahkan tak jarang kepala bermahkotakan
rol rambut aneka warna.

Ah...
Rumah tangga kini tak lagi tampak mesra. Suami yang
dulunya selalu berjanji sehidup semati, kini lain di
bibir, lain di hati. Sindir menyindir sering jadi luka
yang menyayat pedih.

* * *

"Neng... manusia itu tak ada yang sempurna, semua
pasti ada kekurangannya," nasehat Wak Haji di mushola
kecil yang diapit rumah-rumah mewah di kompleks
perumahan tersebut.

"Suami istri saling cekcok atau bertengkar itu hal
yang biasa," beliau kembali menambahkan.

"Wak Haji juga dong?" cepat memotong.

"Lha iya, emang saya bukan manusia?" Wak Haji menjawab
sambil mesem-mesem.

"Lho, mestinya Wak Haji ngasih contoh yang baik, masak
udah haji kok bertengkar?"

Lalu kembali berkomentar,
"Kalo Wak Haji yang udah tua gini masih juga suka
berantem, lha kita yang muda ini nyontohnya ke siapa?
Wak Haji mikir dong, mikir...!"

Wuaaah...!!!

"Aih... aih... Wak Haji gitu aja marah, terusin deh"
senyum-senyum.

Sambil menahan gemes, Wak Haji pun melanjutkan,
"Neng juga harus inspeksi diri sendiri..."

"Mungkin introspeksi ya Wak, maksudnya?" membenarkan.

"Oh iya, ya itu..., Neng juga harus intrupsi"

"Introspeksi Wak, bukan intrupsi!" kembali
membenarkan, sembari menahan kesal.

"Aduuh... susah ya pakai istilah tingkat tinggi, apa
tadi, inflasi?" Wak Haji bertanya kembali.

Wuaaah...!!!

"Aih... aih... Neng, gitu juga marah, he... he...
he...," Wak Haji terkekeh-kekeh, girang banget bisa
membalas.

"Tak ada gading yang tak retak, demikian juga rumah
tangga. Lautan masih terlalu luas terbentang, ribuan
karang siap menghadang, ombak pun kadang menerjang.
Karena itu semua persoalan tak hanya dapat dipecahkan
dengan cinta, tapi juga butuh sikap dewasa," nasehat
Wak Haji.

Kembali beliau menambahkan,

"Untuk bersikap dewasa harus ada yang namanya ujian.
Nah..., jadikan ujian itu sebagai pernik-pernik dalam
pernikahan, ia akan menjadi indah saat setiap pasangan
menyikapinya dengan dewasa, bukan dengan amarah. Sikap
dewasa akan menyuburkan cinta, sehingga istri atau
suami akan lebih mengutamakan pasangannya. Misalnya
nih contoh gampangnya, kadang si istri lebih senang
berdandan untuk orang lain daripada suaminya, atau
sebaliknya."

"Maksudnya Wak Haji?" bertanya, karena belum jelas.

"Iya, coba si Neng inspeksi, eh... apa tadi, inflasi?"
sahut Wak Haji seraya membenarkan letak kopiahnya.

"Idih mulai lagi nih, introspeksi, Wak Haji" sambil
menahan senyum.

"Eh iya, si Neng coba introspeksi diri, apa iya kalo
dandan di rumah juga seperti ini? Padahal Islam
menganjurkan kalo berdandan untuk suami di rumah itu
jauh lebih baik daripada untuk orang lain," nasehat
Wak Haji bagaikan air bening yang merembes di telaga
hati.

Si Neng hanya terdiam, membenarkan. Kemudian ia
merenung betapa indah, bahkan teramat indah Islam
mengajarkan syariat kepada para pemeluk-Nya, hingga
mengatur hal-hal yang sangat sederhana. Ia tertunduk
malu, karena terkadang terlalu berlebihan berdandan
untuk orang lain saat keluar rumah, padahal yang lebih
utama semestinya itu adalah hak kekanda, sang belahan
jiwa.

* * *

Krek...
Suara pintu dibuka, suami tercinta baru pulang kerja.

"Aih... aih..., mau kemana malam-malam begini?" tanya
suami curiga, melihat istri yang berdandan begitu
cantiknya.

Ia hanya diam, dan tersenyum manis sementara kekanda
tercinta masih bengong, menatap tak percaya.

"Nggak kemana-mana, emangnya gak boleh tampil cantik
di rumah?" jelas adinda sambil mengedipkan genit
sebelah matanya.

"Kata Wak Haji, istri itu harus melayani suami dengan
baik, termasuk tampil cantik saat ia ada di rumah,"
menirukan apa yang telah didengarnya di mushola.

Suami terharu, aaah... ia memang telah tampil beda.
Suami pun sadar bahwa dirinya dan juwita tercinta
memang sudah beranjak jauh dari masa-masa muda yang
penuh gelora, tapi kekuatan cinta akan selalu
menjadikan seseorang berusaha memberikan yang terbaik
kepada yang dicintainya. Sang pujangga lalu berjanji
dalam hati, untuk selalu menjadi pujangga cinta bagi
adinda, sang belahan jiwa.

"Abang...," istri berkata perlahan.

Dalam hati sudah mengira, pasti adinda akan meminta
maaf atas segala kekhilafan yang dilakukannya,
sehingga dengan cepat ia berkata,

"Sudahlah dek, abang juga salah, suka mengabaikan
tanggung jawab di rumah," terharu, mata tambah
berkaca-kaca.

"Aih... aih..., emangnya saya mau ngomong apa,"
gerutunya dengan manja,
"Cuma mau nanya, kan udah awal bulan, uang gajiannya
mana?"

Hah???

WaLlahua'lam bi shawab.

*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*
Al-Hubb FiLlah wa LiLlah,


Abu Aufa
(Tulisan ini telah dimuat di buku Diary Kehidupan 2,
untuk pembelian di Jepang silahkan menghubungi Sdr.
Deddy Nur Zaman: http://www.nurcendekia.com/)

Have a nice day &
Best Regards
Kang Didi


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<!-- SpaceID=1705013556 loc=TM noad -->

--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke