Baraya ieu aya wawar dicutat ti Sabili.co.id, insya
Allah aya manfaat keur urang.

Baktos,
WAG
===========================================
Menghadang Serbuan Buku Sesat

Berbagai buku yang merusak dan mengancam akidah,
membanjir di pasar. Dari yang menghina Islam dan
al-Qur’an sampai merayakan kebebasan seks yang
dianggap mencerahkan. Bagaimana Muslim seharusnya
bertindak?

Tahun lalu, seorang penulis Italia menjalani
pengadilannya karena sebuah buku. Oriana Fallaci,
begitu nama jurnalis berdarah Italia yang tinggal dan
menetap di New York ini. Ia diadukan oleh Muslim Union
of Italy dengan pasal telah menghina Islam dalam
karyanya.

Karya Fallaci yang disoal berjudul The Force of Reason
atau yang bisa diterjemahkan sebagai ‘kekuatan akal’,
diterbitkan hanya dalam hitungan 24 jam setelah aksi
bom 11 Maret 2004 di Spanyol. Isinya tentu menyudutkan
Islam. Buku tersebut bukan aksi pertama yang
dilancarkan Fallaci untuk menyerang Islam. Dalam buku
lainnya, dengan judul The Rage and the Pride, yang
terbit hanya dalam waktu dua pekan setelah peristiwa
meledaknya gedung WTC, Fallaci bahkan dengan arogan
menyebut imigran Muslim tak ubahnya tikus. Yang
berkembang biak dan menjadi banyak dalam peradaban
Barat.

Tak hanya menghina ajaran Islam dan kaum Muslimin,
Oriana Fallaci juga melakukan banyak penyelewengan
sejarah dan fakta-fakta Islam dalam berbagai buku yang
ditulisnya. Demikian salah satu sebab yang dijadikan
delik aduan oleh Adel Smith, Presiden Muslim Union of
Italy.

Baru-baru ini, bahkan, penghinaan terhadap al-Qur’an
dilakukan di penjara Guantanamo, Kuba. Berita ini
untuk pertama kalinya dilansir oleh Newsweek dan
menyulut aksi demonstrasi di seluruh dunia. Bahkan di
Afghanistan, aksi demo sampai menelan korban jiwa.
Tentara Amerika memasukkan al-Qur’an ke dalam WC
sebagai cara mengintimidasi para tawanan. Belakangan
berita ini dinyatakan tidak kuat, dan berasal dari
sumber yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Tak kurang
dari Menteri Luar Negeri Amerika sendiri, Condoleeza
Rice memberikan verifikasi tentang ketidakakuratan
Newsweek dan meminta media ini untuk menarik dan
meminta maaf atas artikelnya. Tapi, investigasi yang
dilakukan oleh FBI, belakangan justru membenarkan
telah terjadi penghinaan dan pelecehan terhadap
al-Qur’an.

 Di Indonesia sendiri, aksi pelecehan terhadap
al-Qur’an dan ajaran Islam, tak kurang jumlahnya.
Tidak saja ditulis oleh orang-orang musyrik, kaum
orientalis dan para pemikir Barat, tapi juga ditulis
sendiri oleh orang-orang yang mengaku Muslim, bernama
kearab-araban, bahkan tak jarang menyematkan predikat
intelektual Islam atau gelar Kiai Haji.

Jika pembaca saat ini mendatangi beberapa toko buku
yang tersebar di Jakarta, mulai dari jaringan
Gramedia, Gunung Agung, dan toko buku lainnya, tak
akan susah didapat berbagai buku, yang seolah ilmiah,
tapi sesungguhnya sangat menghina Islam. Lihat saja
buku berjudul Lubang Hitam Agama, yang beredar di
pasar dan lahir dari seorang yang bernama Sumanto
al-Qurtuby.

Di halaman tentang penulis, dijelaskan bahwa penulis
adalah pemikir muda Indonesia paling menonjol saat
ini. Bahkan, di halaman sebelumnya, dalam pengantar
penerbit, pujian yang sangat besar diberikan untuk
buku ini. “Ini buku luar biasa,” tulis penerbitnya,
Rumah Kata, dengan cetakan huruf hitam yang lebih
tebal dari kata-kata lainnya.

Di sampul halaman belakang, berbagai pujian juga
disematkan dari berbagai tokoh. Moeslim Abdurrahman,
tokoh Muhammadiyah yang kemungkinan besar akan berlaga
sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah yang akan datang,
memuji buku ini sebagai karya yang perlu dibaca oleh
siapa saja yang ingin bertaqarrub dan mencari
kebenaran. Ahmad Thohari, budayawan dan novelis,
memberikan komentar bahwa buku ini menawarkan ruang
luas bagi pemahaman agama yang manusiawi. Sedangkan
Abdurrahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan
panggilan Gus Dur, menjelaskan posisi buku ini dalam
tradisi keberagamaan. “Islam itu seperti sebuah hutan.
Kalau dilihat dari jauh tampak satu, tetapi kalau
didekati ada banyak pohon. Fundamentalisme hanya salah
satu dari sekian banyak ‘pohon keislaman’ itu, bukan
Islam itu sendiri,” tulis Gus Dur dalam endorsement
untuk buku ini.

Sedemikian hebatkah buku ini, sehingga banyak pujian
bertaburan?
Adian Husaini, penulis yang begitu gencar menerbitkan
buku untuk mengcounter pemikiran liberal dan sekuler
ini mencatat, segala pujian untuk buku Lubang Hitam
Agama lahir karena buku ini penuh dengan hujatan pada
Islam, al-Qur’an, Rasulullah, dan juga para sahabat
nabi, terutama Utsman bin Affan.

Al-Qur’an, kitab suci umat Islam, bagi Sumanto al
Qurtuby adalah sebuah kitab yang seram. Kitab yang
tidak orisinil datang dan turun langsung sebagai wahyu
dari Allah, melainkan “konspirasi politik” Khalifah
Utsman bin Affan untuk melanggengkan kekuasaannya.
Bahkan, oleh Sumanto, kata kitab suci sendiri dirasa
belum pas disematkan pada al-Qur’an. Karenanya, ia
harus memakai tanda kutip setiap kali menyebut kata
kitab suci.

Sekadar membaca ulang, lihat saja paragraf-paragraf
yang terdapat dalam buku ini:
“Seandainya (sekali lagi seandainya) Pak Harto
berkuasa ratusan tahun, saya yakin Pancasila ini bisa
menyaingi al-Qur’an dalam hal “keangkerannya”
tentunya,” (hal. 64).

“Al-Qur’an, sehingga menjadi “Kitab Suci” (sengaja
saya pakai tanda kutip) juga tidak lepas dari peran
serta “tangan-tangan gaib” yang bekerja di balik layar
maupun di atas panggung politik kekuasaan untuk
memapankan status al-Qur’an. Dengan kata lain, ada
proses historis yang amat pelik dalam sejarah
pembukuan al-Qur’an hingga teks ini menjadi sebuah
korpus resmi yang diakui secara konsensus oleh semua
umat Islam. Proses otorisasi sepanjang masa terhadap
al-Qur’an menjadikan kitab ini sebuah scripto sacra
yang disanjung, dihormati, diagungkan, disakralkan dan
dimitoskan. Padahal sebagian dari proses otorisasi itu
berjalan dan berkelindan dengan persoalan-persoalan
politik yang murni milik Bangsa Arab. Bahkan proses
turunnya ayat-ayat al-Qur’an sendiri tidak lepas dari
“intervensi” Quraisy sebagai suku mayoritas Arab,”
(hal. 65).

“Kita tahu, al-Qur’an yang dibaca oleh jutaan umat
Islam sekarang ini adalah teks hasil kodifikasi untuk
tidak menyebut “kesepakatan terselubung” antara
Khalifah Usman (644-656M) dengan panitia pengumpul
yang dipimpin Zaid bin Tsabit, sehingga teks ini
disebut Mushaf Usmani,” (hal. 65).

“Maka, penjelasan mengenai al-Qur’an sebagai “Firman
Allah” sungguh tidak memadai justru dari sudut pandang
internal, yakni proses kesejarahan terbentuknya teks
al-Qur’an (dari komunikasi lisan ke komunikasi
tulisan) maupun aspek material dari al-Qur’an sendiri
yang dipenuhi ambivalensi. Karena itu tidak pada
tempatnya, jika ia disebut “Kitab Suci” yang
disakralkan, dimitoskan,” (hal. 66).

“Dalam konteks ini, anggapan bahwa al-Qur’an itu suci
adalah keliru. Kesucian yang dilekatkan pada al-Qur’an
(juga kitab lain) adalah “kesucian palsu” – pseudo
sacra. Tidak ada teks yang secara ontologis itu suci,”
(hal. 67).

Paragraf-paragraf di atas hanya sedikit dari sekian
banyak kata-kata hinaan untuk al-Qur’an yang konon
hasil dari penjelajahan ilmiah seorang Sumanto al-
Qurtuby, lulusan pascasarjana Universitas Kristen
Satya Wacana, Salatiga.
Mengomentari buku ini, Adian Husaini, dalam catatan
tetapnya di www.hidayatullah.com justru merasa kasihan
dan berharap sang penulis bertaubat. “Sayang sekali
jika potensi akal cerdas yang diberikan Allah SWT
justru digunakan untuk menyesatkan umat manusia.
Kasihan dirinya, kasihan orangtuanya yang nantinya
hanya mengharapkan doa dari anak yang shalih, bukan
anak yang salah,” tulis Adian Husaini yang kini sedang
mengejar gelar doktor di bidang peradaban Islam di
International Institute of Islamic Thought and
Civilization, Malaysia.

Lebih keras dari Adian Husaini, Hartono Ahmad Jaiz,
dengan pedas menyebut buku karya Sumanto ini sebagai
buku sesat dan menyesatkan. “Hati-hati, buku ini
merusak iman, akidah dan keyakinan umat Islam
Indonesia,” ujar Hartono yang juga sangat produktif
melahirkan buku melawan pemikiran liberal.

Dua tahun yang lalu, sebuah buku beredar diam-diam di
Jakarta. Mulai dari toko buku sampai pedagang
kakilima. Judul buku tersebut, Islamic Invasion, cukup
lux, dengan judul berbahasa Inggris tapi isi berbahasa
Indonesia. Di pasar, buku karangan Robert Morey ini
dijual dengan harga sangat murah, Rp 5.000. Dan tentu
saja laris.

Tapi isinya, sungguh luar biasa keji menghina Islam.
Kini buku yang diterbitkan sebuah publishing beralamat
di Amerika itu bahkan sudah cetak ulang untuk kesekian
kalinya. Cover dan kata sambutan pun sudah diperbarui.

Dalam buku ini, Islam disebut tak pantas sebagai
agama, tapi sebuah pendewaan budaya Arab. Robert
Morey, penulisnya menyebut shalat yang menghadap ke
kiblat di Makkah sebagai pemaksaan kultural. Begitu
juga dengan haji, ia menyebut rukun Islam kelima ini
adalah perintah ibadah yang berdasarkan kepentingan
mengeruk keuntungan material semata untuk bangsa Arab.
Bahkan, Allah dalam buku ini disebut sebagai Dewa
Bulan yang menikah dengan Dewa Matahari lalu beranak
pinak melahirkan Latta, Uzza, Mannat dan Hubal (yang
dijadikan berhala-berhala kaum Quraisy sebelum Islam
datang).

Buku-buku seperti ini, memang sejak empat tahun
terakhir begitu membanjir. Publik pembaca Indonesia,
khususnya kaum Muslimin, disuguhi berbagai karya
pemikiran yang merusak akidah dan iman umat Islam.
Dari yang mulai berwarna tasauf, pemikiran, sains,
politik, budaya sampai yang berbau esek-esek.

Ada buku yang benar-benar baru, seperti Wacana Islam
Liberal karangan Charles Kurzman yang diterbitkan oleh
Paramadina pada tahun 2001. Paramadina memang garda
terdepan untuk kategori pemikiran sekuler dan liberal.
Saking ambisiusnya dengan gagasan-gagasan inklusif dan
pluralis, lembaga ini hendak mengokohkan perannya
sebagai sebuah “mahzab liberal” dengan menerbitkan
Fiqih Lintas Agama yang diterbitkan tahun 2004 lalu.
Buku ini merumuskan banyak hal, mulai dari bolehnya
mengucap salam pada non-Muslim, doa bersama, nikah
beda agama sampai akhirnya, inti dari berbagai gagasan
itu adalah, semua agama pada titik puncak adalah sama
benarnya.

Buku-buku lain yang memiliki bahaya menggelincirkan
akidah umat adalah karya-karya yang mengupas dunia
sufi dengan tafsir liberal. Membedah proses
keberagamaan Syekh Siti Jenar, al-Hallaj, Rabiah
al-Adawiyah dengan menggunakan pendekatan nalar
liberal. Ada juga yang berkedok metodologi ilmiah
seperti memasarkan teori hermanuetika sebagai pisau
bedah dan analisa untuk al-Qur’an yang dianggap
teksnya terlalu banyak menyimpan masalah. Bahkan, di
beberapa kampus perguruan tinggi Islam, metode
hermanuetik dijadikan mata kuliah tetap menggantikan
kajian tafsir yang berabad-abad sudah terbukti
kebaikannya. Sedangkan hermaneutika, metodologi ini
adalah sebuah pisau bedah yang sebelumnya digunakan
dalam tradisi memeriksa bibel. Dan salah satu syarat
paling fundamental dalam hermaneutika adalah, sang
peneliti, atau seseorang yang mengkaji al-Qur’an harus
bersikap netral alias tak menganggap al-Qur’an sebagai
kitab suci.

Selain daftar jenis buku di atas, yang terbilang karya
baru, ada juga buku-buku lama, yang nyaris hilang,
tapi diterbitkan kembali seperti karya Ahmad Wahib
yang berjudul Pergolakan Pemikiran Islam. Bahkan,
untuk pemikiran sosok yang satu ini, tak hanya bukunya
yang diterbitkan kembali, tapi juga diselenggarakan
sebuah penghargaan bernama Ahmad Wahib Award. Misinya
tentu saja memberikan penghargaan pada pemikir-pemikir
muda Muslim yang saling berlomba untuk menjadi paling
liberal di antara mereka.

Kategori lain yang tak kalah maraknya adalah
penjelajahan mereka yang disebut “santri”, menulis
masalah-masalah seks. Sebuah majalah berpaham liberal
yang terbit di Jakarta, misalnya, secara khusus
menurunkan laporan utamanya dengan mengekspos fenomena
ini. Seolah merayakan keliaran penulisnya yang berani
mendobrak pembahasan masalah seksualitas. Di antara
penulis yang diangkat adalah Moammar Emka, penulis
Jakarta Under Cover, sebuah buku tentang petualangan
penulis ke tempat-tempat pelacuran dan hiburan
syahwat. Dalam banyak kesempatan, predikat santri
sering dilekatkan pada sosok yang pernah belajar di
IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta itu.

Jika Moammar Emka dalam bukunya, tak secara eksplisit
menuturkan turut melakukan kegiatan cabul dalam proses
penulisan, berbeda dengan nama lain yang menulis buku
lain pula. Soffa Ihsan, yang kini masih tercatat
sebagai mahasiswa pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah, dalam bukunya In the Name of Sex:
Santri, Dunia Kelamin dan Kitab Kuning dengan terang
mengakui petualangannya. Soffa Ihsan pernah nyatri di
Pesantren Tebu Ireng, Jombang dan Pesantren
al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, menuliskan tentang
pengalaman seksnya dengan seorang cewek bernama Karin
yang sedang ingin happy yang ia temui di mal. “Singkat
cerita, saya menginap di kosnya. Besoknya pukul 12-an,
saya pulang,” tulis Soffa di halaman tiga.

Berbagai petualangan ia tuturkan. Dan buku ini diberi
komentar oleh seorang berpredikat KH, pengasuh
pesantren Darut Tauhid, Arjawinangun, Cirebon. Kiai
pesantren yang bernama Hussein Muhammad itu memuji
buku ini. “Sesudah membaca buku ini, meski tanpa
sempat melakukan proses tadabbur, saya tercenung dan
terkagum-kagum. Sesekali mengangguk-angguk, dan kadang
geleng-geleng kepala,” (hal. ix).

Buku-buku yang sama sekali tidak islami, bahkan
menghina dan menghujat nilai-nilai Islam, begitu
membanjir hari-hari ini. Buku-buku dan pemikiran yang
jauh dari Islam tapi disanding-sematkan dengan
kata-kata Islam. Jika kita menolak, tentu saja bukan
karena kita anti ilmu atau jagal pemikiran. Kita
menolak, karena memang ada yang perlu diluruskan.
Banyak cara yang bisa kita tempuh untuk melakukan
perlawanan. Mengajukan buku-buku ini pada proses
pengadilan, seperti yang dilakukan Muslim Union of
Italy di awal tulisan. Atau melawannya dengan cara
yang sama, menerbitkan buku dan pemikiran. Tapi yang
jelas, sebelum memutuskan cara mana yang akan kita
jalankan, memagari iman, menjernihkan akidah serta
mengkaji ilmu-ilmu yang baik dan benar, harus kita
prioritaskan. Semoga Allah melindungi kita dari
kesesatan. 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke