BEDAH PUSTAKA

Merawat Sunda di Rumah Baca

RATUSAN buku tampak berjajar rapi di dalam tiga lemari kaca. Puluhan buku lainnya, yang tidak kebagian tempat, terpaksa harus rela ditumpuk di atas kursi dan kardus, masih di ruangan yang sama.

Dari luar, tidak ada yang membedakan rumah di Jalan Marga Wangi VII/5 itu dengan rumah tinggal lainnya. Namun, ketika kaki mulai melangkah ke ruangan depan, perbedaan itu tampak sangat mencolok.

Di ruang tamu rumah milik Mamat Sasmita ini tidak ada lagi hiasan dan kursi layaknya rumah biasa. Dua lemari kaca berisi jejeran buku sangat mendominasi ruangan tersebut.

Ruangan di sampingnya, yang sebenarnya berfungsi sebagai sebuah kamar, juga dikorbankan sebagai ruang buku. Dua kursi baca dan sebuah lemari kaca berada berdampingan dengan tumpukan buku.

Nama Mamat Sasmita mulai menjadi pembicaraan peminat buku Sunda di Bandung dalam beberapa tahun terakhir. Koleksi buku bahasa Sunda, juga buku berbahasa Indonesia tentang Sunda, tergolong sangat langka.

Di antara salah satu koleksi Mamat yang mungkin tidak ada duanya adalah kamus Sunda-Inggris, yang ditulis oleh Jonathan Rigg. Buku dengan tulisan pada sampul Dictionary Sunda Language itu diterbitkan pada 1862, dan sering menjadi referensi mahasiswa di Bandung untuk berbagai keperluan.

''Di dalam buku ini saya menemukan bahwa di masa lampau ternyata sudah ada ratusan nama untuk jenis-jenis padi yang tumbuh di Tanah Pasundan. Ini adalah buku kesayangan saya, di samping Wawatjan yang diterbitkan pada 1956, sebagai buku pertama yang dikenalkan almarhum orang tua saya kepada saya,'' tuturnya.

Di rumah, yang di pagar depannya bertuliskan papan Rumah Baca Sunda Jeung Sajabana ini, Mamat menyimpan 600 judul buku berbahasa Sunda dan 200 judul buku bahasa Indonesia tentang Sunda. Koleksi lainnya adalah lebih dari 300 judul buku pengetahuan umum lainnya, khususnya bidang sastra, agama, dan humaniora.

Pria kelahiran Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, 15 Mei 1951 ini mengategorikan buku-buku Sundanya dengan istilah unik tersendiri. Tempelan di atas kaca memperlihatkan jenis buku itu, seperti novel, carita pantun, sajak Sunda, wawatjan, bacaeun barudak, musik sunda, carpon, inohong Sunda, dan sejarah Sunda.

Motivasi anak bungsu dari lima bersaudara untuk menggerakkan minat baca juga mendapat dukungan Komunitas Orang Sunda yang berinteraksi lewat internet. Terbukti, dalam beberapa tahun terakhir para pecinta buku Sunda sudah membuka perpustakaan kecil di banyak daerah di Jabar, seperti Cianjur, Purwakarta, Subang, Tasikmalaya, juga Sukabumi.

Dari kumpul-kumpul di dunia maya, dua buku Sunda digulirkan komunitas ini, yakni Sajak Banyol Jeung Sajabana (2002) dan Sura Seuri Siga Sero (2204). Dalam dua buku ini Mamat dipercaya sebagai editornya.

''Sejalan dengan usia, juga waktu cukup banyak yang saya miliki sekarang ini, saya tengah berusaha untuk menulis. Memang baru awal, tapi ini akan saya tekuni mungkin sebagai profesi baru nantinya,'' tandasnya. Sugeng Sumaryadi/P-2



--Roisz Tea
Mugia Urang Balarea Aya Dina
Ginulur Karahayuan Ginanjar Kawilujeungan
Nu Dirahmatan Ku Gusti Nu Maha Suci

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke