Kanggo baraya ana teu acan maos Pikiran Rakyat.
Baktos,
WAG

Serba-serbi Kongres Basa Sunda

ATM 

ANIMO masyarakat untuk mengikuti Kongres Basa Sunda
(KBS) VIII betul-betul di luar dugaan. Dari 200 jatah
peserta yang disediakan, ternyata yang mendaftar di
meja panitia ada ... 350 orang. "Pokoknya berapa pun
saya harus membayar, saya tidak keberatan. Yang
penting saya bisa jadi pamilon kongres!" kata
seseorang berbicara dengan nada tinggi di hadapan meja
panitia. Pamilon itu asal katanya dari pamiluan,
artinya dalam bahasa Indonesia adalah ... peserta.

"Ibu pekerjaannya apa?" kata seorang panitia.

"Saya guru. Walaupun saya guru, tetapi saya mampu
membayar biaya kongres berapa pun besarnya!" kata
orang itu tetap berbicara dalam nada tinggi.

"Saya percaya. Apalagi ibu seorang guru, kan rata-rata
guru itu besar ATM-nya," jawab seorang panitia
bercanda.

"ATM? Apa maksudnya?" kata orang itu.

"ATM, artos tabungan murid!"

Mendengar gurauan panitia tersebut, si ibu mereda
amarahnya. Setelah dia tercatat sebagai peserta KBS
VIII dengan tanpa harus membayar, dia berlalu sambil
bungangang.*** 

Goreng Kotok 

BANYAK peserta merasa kecewa karena Pak Danny
Setiawan, Gubernur Jawa Barat, urung hadir untuk
membuka kongres. Namun, kekecewaan tersebut terobati,
saat Pak Setia Hidayat, Sekda Provinsi Jawa Barat,
tampil sebagai keynote speaker memaparkan kebijakan
Pemda Jawa Barat dalam membina dan melestarikan
bahasa, sastra, dan aksara Sunda. Dalam paparannya,
Pak Setia menyelipkan humor-humor segarnya, yang
membuat peserta KBS VIII tertawa terpingkal-pingkal.

"Ada seseorang yang berlaga sok tahu masuk restoran
Kentucky Fried Chicken. Setelah di mejanya tersaji
nasi dengan goreng ayam, orang tersebut menggerutu,
naha pesen kentucky teh kalah dibere ... goreng kotok
(Pesan Kentucky kok malah diberi...goreng ayam)," kata
Setia Hidayat diiringi derai tawa peserta KBS VIII. 

Oncom vs Dage 

SAAT berlangsung ceramah Prof. Ayat Rohaedi yang
membahas tentang bahasa Sunda dialek, lagi-lagi derai
tawa peserta KBS VIII sering terdengar.

Saat Dodo Suwondo, peserta asal Kuningan, maju ke
podium, seluruh peserta tertawa terbahak-bahak. Dodo
bercerita, saat ia pulang dari Bandung membawa
oleh-oleh oncom, ternyata istrinya ngabageakeun
(menyambut) dengan wajah ceria. "Nuhun, akang parantos
nyandak oleh-oleh .... dage," kata istrinya. Ternyata
oncom itu di Kuningan mah disebutnya dage. 

Candoli 

NAMANYA Idar, guru bahasa Sunda di salah satu SMP
Negeri di Jln. Sumatra Bandung. Ketika Bu Idar
bercerita kepada teman-temannya sesama peserta KBS
VIII, seluruh yang mendengar tertawa terbahak-bahak.

"Saya pernah menyuruh murid saya membuat kalimat
dengan memakai kata candoli. Ada murid saya yang
menjawab begini, Kumargi abdi cape tos olah raga, abdi
eueut candoli seep dua gelas (Karena saya lelah
sehabis olah raga, saya minum candoli dua gelas),"
kata Bu Idar diiringi derai tawa peserta KBS VIII yang
lainnya.

Sang murid mengira candoli sinonim dengan cendol.
Padahal, candoli adalah julukan bagi seseorang yang
bertugas mengurus perberasan dalam sebuah hajatan
/pesta.(Taufik Faturohman).***

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke