Check out this new album I've put on Multiply. To add a comment to it, or see the other stuff I've posted, you'll need to join Multiply first if you haven't already (don't worry it doesn't cost anything).

You might be wondering what Multiply is -- it's a great new way to keep in touch. Check it out when you get a chance.

If you don't want to receive these messages, just let me know.

See the newest photos your friends are sharing every day... without lifting a finger! Once a day the Multiply Screensaver grabs a sampling of the latest photos your friends are sharing and displays them when your computer is idle.

The Multiply Screensaver is free to install and easy to use. Install it now or learn more!
Photo AlbumKeberangkatan Hari PertamaJul 17, '05 5:40 AM ET
for everyone
Inilah Kapas-Kapas di Langit
# 1

Selasa, 4 Juli 2005;
Pukul 19.35 pesawat boeing (777?!) SQ, menerbangkan kami berempat; Gola Gong, Fauzil Adhim, Irwan Kelana dan aku menuju Negeri Seribu Menara. Kami terbagi dalam dua kursi, aku bersama Fauzil Adhim. Sedangkan GG bareng Irwan Kelana. Mujur sekali, Fauzil berkenan menukar kursi, sehingga aku bisa duduk di samping jendela, suatu sudut yang selalu kuinginkan setiap kali menaiki pesawat.
Kulihat di pesawat yang sama ada rombongan umroh di bawah pimpinan Hajjah Suryani Tahir. Aku sempat bercakap-cakap dengan seorang ibu muda yang membawa serta tiga anak dan suaminya, ketika kami antri untuk sholat magrib di mushola mini ruang tunggu Bandara Sukarno-Hatta.
“Mau pergi umroh, ya Bu?” tanyaku ingin tahu.
“Iya, Bu, rombongan umroh dari Lippo Cikarang,” sahutnya dengan mata berbinar-binar.
“Ini anak yang keberapa?” tanyaku menatap makhluk mungil dalam pangkuannya.
“Anak kami yang ketiga, Bu, baru 1,5 tahun.”
Otakku seketika menghitung-hitung; kira-kira berapa uang yang harus dikeluarkan mereka untuk umroh sekeluarga? Apa kira-kira pekerjaan suaminya, istrinya, mereka berdua sehingga mampu berumroh ria? Mereka sepasang suami-istri yang masih sangat muda, berumur 30-an, tinggal di kawasan perumahan elite. Orang kaya, demikianlah adanya, liburan sekolah diisi dengan muhibah spiritual ke tanah suci Mekkah. Luar biasa!


Oya, ketika melintasi gerbang detector di terminal D2, salah satu koper besar bawaanku sempat menjadi perhatian khsusus petugas.
“Banyak banget bukunya, ini untuk apa? Bisnis ya?”
“Bukan, kami rombongan undangan KBRI di Cairo,” ujar Irwan Kelana.
Mendengar KBRI disebut agaknya lumayan jitu. Koper besar berisi 150 eksemplar tiga buku; Meretas Ungu, Jendela Cinta dan Ketika Cinta Menemukanmu… lolos!
“Wuaduuh… degdegplas jantungku!” gumamku menghela napas lega.
Beberapa saat kemudian, giliran Gola Gong yang dicekal, eeh, di-sweeping lebih cermat dari yang lainnya. Sampai seluruh isi tas hitamnya harus dikeluarkan,berikut isi dompet, jaket hingga sepatunya. Ada apa dengan GG?
“Gak apa-apa, Teh… aku sudah biasa diperlakukan begitu di setiap bandara di Indonesia. Mungkin karena penampilanku… berantakan,” sahut GG santai saja.
Dan meluncurlah berbagai kisah lucu dari mulut GG seputar paranoidnya petugas Bandara yang pernah disinggahinya. Hatta, dia sampai pernah ditahan beberapa menit di bandara Medan.
“Kelihatannya itu gara-gara rambut Anda yang gondrong!” komentar Irwan Kelana.
“Mas Gong, emang kenapa dipertahankan gondrongnya?” tanyaku iseng.
“Tias suka aku gondrong,” GG ketawa. “Pernah suatu kali pulang dari syuting rambutku dipangkas. Eee, istri ngambeeek!”
“Ya, sudah, biarkan saja begitu. Demi menyenangkan hati istri, itu kan ibadah juga.” Fauzil menutup percakapan seputar rambut GG.
Sesaat pesawat take-off dan kami berada di atas kota Jakarta, mataku tak putus-putusnya memandangi awan-awan putih, gedung-gedung yang semakin mengecil hingga bagaikan kotak-kotak korek api… Dan kapas-kapas di langit!
Ya, itulah kapas-kapas di langit yang pernah kupakai untuk judul sebuah novelku, ketika aku belum pernah merasai naik pesawat terbang. Sekarang, jam terbangku lumayan tinggi; hampir seluruh kota besar di Sumatra, Jawa dan Bali pernah kukunjungi. Lama aku termangu-mangu, merasai sensasi luar biasa yang merayapi dadaku; di sini, sekarang diriku tengah melakoni sebuah perjalanan panjang, melalui samudera, benua… Karena menulis, buku, karya!
Tanpa terasa ada yang menggenang hangat di sudut-sudut mataku. Air mata haru, air mata bahagia, campur aduk mengharu biru kalbu. Nuansa itu, seluruhnya serasa mengombak dan menggelombang dalam dadaku… Aaah!
Gelombang perasaan yang terus berkecamuk itu akhirnya dibuyarkan oleh suara lembut. Mereka, para pramugari yang ramah-ramah dan santun membagikan lap hangat kepada penumpang. Agak ragu sesungguhnya ketika kuterima juga benda panas, lembut dan aneh di mataku itu.
“Pssst, Mas Ustad, bagaimana kalau handuk kecil ini ada virus hepatitis atau HIV-nya?” bisikku kepada sang ustad muda, penulis best seller trilogi Indahnya Pernikahan Dini yang selalu tampak bersemangat dan enerjik itu.
Untuk sesaat kutangkap dia terperangah, mungkin cukup berpengaruh juga kata-kataku. Tapi sesaat kemudian dia menepis; “Yah, rasanya ndak mungkin, Teteh, pasti sudah di-desininfektan.”
Aku tersenyum tipis, mulai membuka handuk yang mulai hangat, dan menepuk-nepukkannya ke wajahku dengan keraguan yang telah memudar. Cepat sekali menjadi dingin, pramugari pun segera memintanya dari kami, masih dalam kesantunan dan kehangatan yang mengesankan.
“SQ ini, para pramugarinya sudah terkenal santun-santun,” komentar Fauzil sesaat wasweswos, menjawab tawaran menu makan malam. “Saya sudah berkeliling ke beberapa negara, paling nyaman ya dengan pesawat ini…”
“Promosi nih?” dia tersenyum sumringah.
Pramugari menghidangkan santap malam dengan menu ala Barat; roti gandum hangat lengkap dengan krim, keju, puding dan saladnya yang diberi seiris daging sapi asap. Selain itu ada juga dua pilihan menu utamanya, nasi kebab sate atau pure kentang dengan steak, ditambah puding dengan krimnya yang lezat.
Untuk sesaat aku hanya bisa tertegun-tegun, bagaimana bisa menghabiskan semuanya ini? Sementara Fauzil segera menyantap bagiannya dan tampak menikmatinya. Aku pun mencoba mencicipi semuanya, tapi apa boleh buat perutku tak terbiasa dengan makanan seabrek begitu.
Seketika aku jadi teringat akan perjamuan demi perjamuan yang diceritakan oleh NH. Dini dalam setiap serial kenangan dan novelnya. Dia salah satu penulis idolaku sejak aku duduk di bangku SD. Lepas dari perbedaan prinsip dan cara pandang kami tentang keyakinan dan moral, karya-karyanya memang selalu memukau hatiku, dan tentu ribuan perempuan bangsaku.
Aku membayangkan, Dini dengan anak perempuannya yang masih kecil dibawa melanglang buana oleh suaminya, diplomat Prancis. Dini pun menulis tentang perjalanannya yang menyebalkan; di atas kereta bawah tanah bersama Lintang kecil yang lucu menggemaskan, di samping suami yang kikir, terus-menerus minum wine, menggerutu dan mencela…
”Kita transit di Singapore, Teteh,” suara bariton Fauzil menghempaskan seluruh khayalku tentang penulis perempuan terkenal dari Indonesia yang kini tinggal di panti jompo di kawasan Jawa Tengah.
“Barapa lama, Ustad?” aku pun segera berkemas.
“Hanya satu jam.”
Penumpang mburudul keluar dari pesawat, diantar kesantunan para pramugari SQ dengan kalimatnya; “Selamat jalan, semoga Anda mendapatkan perjalanan yang menyenangkan…”
Inilah Kota Singa yang resik, modern dan terkenal karena disiplin kebersihannya itu Aku mencoba mencermati segalanya dari sudut mata seorang penulis. Changi, tak pelak lagi memang terkesan super-duper bersih, kinclooong! Pertokoan tertata apik dengan para pramuniaganya yang elok-elok, berbusana berani.
Tak ingin kulewatkan untuk melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana bersih dan disiplin yang diterapkan ketat di negeri ini. Maka, kumasuki toilet nya, hmmm, wuaduuuh… mana airnya?
“Ada apa?” Gola Gong menanyaiku, kaget pasti melihat tampangku yang pucat, keluar tergopoh-gopoh dari toilet.
“Pinjam aquanya, Mas…” Dan aku kembali melesat ke dalam toilet.
Seorang perempuan muda menyapaku dengan bahasa melayunya yang khas, “Nak apakah, Kak?”
“Oh, eh… mm, gak apa-apa, terima kasih,” sahutku tersipu-sipu.
Air itu, Sodara, ternyata baru keluar kalau kita sudah selesai!
Fauzil yang baru kusadari hobinya selain membaca, menulis, tilawahan juga jeprat-jepret, tampak semangat sekali mengabadikan pemandangan di sekitarnya. Irwan Kelana dengan mata jurnalistiknya, mengatur beberapa adegan kami yang dikatakannya untuk pelengkap berita, dan profil kami bertiga yang akan dimuat di harian Republika.
Dan perjalanan masih panjang…
***





Inilah Kapas-Kapas di Langit
# 1

Selasa, 4 Juli 2005;
Pukul 19.35 pesawat boeing (777?!) SQ, menerbangkan kami berempat; Gola Gong, Fauzil Adhim, Irwan Kelana dan aku menuju Negeri Seribu Menara. Kami terbagi dalam dua kursi, aku bersama Fauzil Adhim. Sedangkan GG bareng Irwan Kelana. Mujur sekali, Fauzil berkenan menukar kursi, sehingga aku bisa duduk di samping jendela, suatu sudut yang selalu kuinginkan setiap kali menaiki pesawat.
Kulihat di pesawat yang sama ada rombongan umroh di bawah pimpinan Hajjah Suryani Tahir. Aku sempat bercakap-cakap dengan seorang ibu muda yang membawa serta tiga anak dan suaminya, ketika kami antri untuk sholat magrib di mushola mini ruang tunggu Bandara Sukarno-Hatta.
“Mau pergi umroh, ya Bu?” tanyaku ingin tahu.
“Iya, Bu, rombongan umroh dari Lippo Cikarang,” sahutnya dengan mata berbinar-binar.
“Ini anak yang keberapa?” tanyaku menatap makhluk mungil dalam pangkuannya.
“Anak kami yang ketiga, Bu, baru 1,5 tahun.”
Otakku seketika menghitung-hitung; kira-kira berapa uang yang harus dikeluarkan mereka untuk umroh sekeluarga? Apa kira-kira pekerjaan suaminya, istrinya, mereka berdua sehingga mampu berumroh ria? Mereka sepasang suami-istri yang masih sangat muda, berumur 30-an, tinggal di kawasan perumahan elite. Orang kaya, demikianlah adanya, liburan sekolah diisi dengan muhibah spiritual ke tanah suci Mekkah. Luar biasa!


Oya, ketika melintasi gerbang detector di terminal D2, salah satu koper besar bawaanku sempat menjadi perhatian khsusus petugas.
“Banyak banget bukunya, ini untuk apa? Bisnis ya?”
“Bukan, kami rombongan undangan KBRI di Cairo,” ujar Irwan Kelana.
Mendengar KBRI disebut agaknya lumayan jitu. Koper besar berisi 150 eksemplar tiga buku; Meretas Ungu, Jendela Cinta dan Ketika Cinta Menemukanmu… lolos!
“Wuaduuh… degdegplas jantungku!” gumamku menghela napas lega.
Beberapa saat kemudian, giliran Gola Gong yang dicekal, eeh, di-sweeping lebih cermat dari yang lainnya. Sampai seluruh isi tas hitamnya harus dikeluarkan,berikut isi dompet, jaket hingga sepatunya. Ada apa dengan GG?
“Gak apa-apa, Teh… aku sudah biasa diperlakukan begitu di setiap bandara di Indonesia. Mungkin karena penampilanku… berantakan,” sahut GG santai saja.
Dan meluncurlah berbagai kisah lucu dari mulut GG seputar paranoidnya petugas Bandara yang pernah disinggahinya. Hatta, dia sampai pernah ditahan beberapa menit di bandara Medan.
“Kelihatannya itu gara-gara rambut Anda yang gondrong!” komentar Irwan Kelana.
“Mas Gong, emang kenapa dipertahankan gondrongnya?” tanyaku iseng.
“Tias suka aku gondrong,” GG ketawa. “Pernah suatu kali pulang dari syuting rambutku dipangkas. Eee, istri ngambeeek!”
“Ya, sudah, biarkan saja begitu. Demi menyenangkan hati istri, itu kan ibadah juga.” Fauzil menutup percakapan seputar rambut GG.
Sesaat pesawat take-off dan kami berada di atas kota Jakarta, mataku tak putus-putusnya memandangi awan-awan putih, gedung-gedung yang semakin mengecil hingga bagaikan kotak-kotak korek api… Dan kapas-kapas di langit!
Ya, itulah kapas-kapas di langit yang pernah kupakai untuk judul sebuah novelku, ketika aku belum pernah merasai naik pesawat terbang. Sekarang, jam terbangku lumayan tinggi; hampir seluruh kota besar di Sumatra, Jawa dan Bali pernah kukunjungi. Lama aku termangu-mangu, merasai sensasi luar biasa yang merayapi dadaku; di sini, sekarang diriku tengah melakoni sebuah perjalanan panjang, melalui samudera, benua… Karena menulis, buku, karya!
Tanpa terasa ada yang menggenang hangat di sudut-sudut mataku. Air mata haru, air mata bahagia, campur aduk mengharu biru kalbu. Nuansa itu, seluruhnya serasa mengombak dan menggelombang dalam dadaku… Aaah!
Gelombang perasaan yang terus berkecamuk itu akhirnya dibuyarkan oleh suara lembut. Mereka, para pramugari yang ramah-ramah dan santun membagikan lap hangat kepada penumpang. Agak ragu sesungguhnya ketika kuterima juga benda panas, lembut dan aneh di mataku itu.
“Pssst, Mas Ustad, bagaimana kalau handuk kecil ini ada virus hepatitis atau HIV-nya?” bisikku kepada sang ustad muda, penulis best seller trilogi Indahnya Pernikahan Dini yang selalu tampak bersemangat dan enerjik itu.
Untuk sesaat kutangkap dia terperangah, mungkin cukup berpengaruh juga kata-kataku. Tapi sesaat kemudian dia menepis; “Yah, rasanya ndak mungkin, Teteh, pasti sudah di-desininfektan.”
Aku tersenyum tipis, mulai membuka handuk yang mulai hangat, dan menepuk-nepukkannya ke wajahku dengan keraguan yang telah memudar. Cepat sekali menjadi dingin, pramugari pun segera memintanya dari kami, masih dalam kesantunan dan kehangatan yang mengesankan.
“SQ ini, para pramugarinya sudah terkenal santun-santun,” komentar Fauzil sesaat wasweswos, menjawab tawaran menu makan malam. “Saya sudah berkeliling ke beberapa negara, paling nyaman ya dengan pesawat ini…”
“Promosi nih?” dia tersenyum sumringah.
Pramugari menghidangkan santap malam dengan menu ala Barat; roti gandum hangat lengkap dengan krim, keju, puding dan saladnya yang diberi seiris daging sapi asap. Selain itu ada juga dua pilihan menu utamanya, nasi kebab sate atau pure kentang dengan steak, ditambah puding dengan krimnya yang lezat.
Untuk sesaat aku hanya bisa tertegun-tegun, bagaimana bisa menghabiskan semuanya ini? Sementara Fauzil segera menyantap bagiannya dan tampak menikmatinya. Aku pun mencoba mencicipi semuanya, tapi apa boleh buat perutku tak terbiasa dengan makanan seabrek begitu.
Seketika aku jadi teringat akan perjamuan demi perjamuan yang diceritakan oleh NH. Dini dalam setiap serial kenangan dan novelnya. Dia salah satu penulis idolaku sejak aku duduk di bangku SD. Lepas dari perbedaan prinsip dan cara pandang kami tentang keyakinan dan moral, karya-karyanya memang selalu memukau hatiku, dan tentu ribuan perempuan bangsaku.
Aku membayangkan, Dini dengan anak perempuannya yang masih kecil dibawa melanglang buana oleh suaminya, diplomat Prancis. Dini pun menulis tentang perjalanannya yang menyebalkan; di atas kereta bawah tanah bersama Lintang kecil yang lucu menggemaskan, di samping suami yang kikir, terus-menerus minum wine, menggerutu dan mencela…
”Kita transit di Singapore, Teteh,” suara bariton Fauzil menghempaskan seluruh khayalku tentang penulis perempuan terkenal dari Indonesia yang kini tinggal di panti jompo di kawasan Jawa Tengah.
“Barapa lama, Ustad?” aku pun segera berkemas.
“Hanya satu jam.”
Penumpang mburudul keluar dari pesawat, diantar kesantunan para pramugari SQ dengan kalimatnya; “Selamat jalan, semoga Anda mendapatkan perjalanan yang menyenangkan…”
Inilah Kota Singa yang resik, modern dan terkenal karena disiplin kebersihannya itu Aku mencoba mencermati segalanya dari sudut mata seorang penulis. Changi, tak pelak lagi memang terkesan super-duper bersih, kinclooong! Pertokoan tertata apik dengan para pramuniaganya yang elok-elok, berbusana berani.
Tak ingin kulewatkan untuk melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana bersih dan disiplin yang diterapkan ketat di negeri ini. Maka, kumasuki toilet nya, hmmm, wuaduuuh… mana airnya?
“Ada apa?” Gola Gong menanyaiku, kaget pasti melihat tampangku yang pucat, keluar tergopoh-gopoh dari toilet.
“Pinjam aquanya, Mas…” Dan aku kembali melesat ke dalam toilet.
Seorang perempuan muda menyapaku dengan bahasa melayunya yang khas, “Nak apakah, Kak?”
“Oh, eh… mm, gak apa-apa, terima kasih,” sahutku tersipu-sipu.
Air itu, Sodara, ternyata baru keluar kalau kita sudah selesai!
Fauzil yang baru kusadari hobinya selain membaca, menulis, tilawahan juga jeprat-jepret, tampak semangat sekali mengabadikan pemandangan di sekitarnya. Irwan Kelana dengan mata jurnalistiknya, mengatur beberapa adegan kami yang dikatakannya untuk pelengkap berita, dan profil kami bertiga yang akan dimuat di harian Republika.
Dan perjalanan masih panjang…
***










DSC00764.JPG
  

DSC00778.JPG
  

DSC00804.JPG
  

DSC00808.JPG
  

DSC00809.JPG
  

DSC00824.JPG
  

DSC00848.JPG
  

DSC00815.JPG
  

DSC01097.JPG
  

DSC00809.JPG
  

DSC00841.JPG
  

DSC00851.JPG
  

DSC01095.JPG
  



Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke