Punten sakedik info perkawis Muhammadiyah..
 
Di Muhammadiyah ayeuna aya "perang" dua kubu. Saur nu terang mah KUbu Lantai 3 vs lantai 4. Lantai 3 gaduh kiblatna ka penafsiran islam liberal-na Ulil Absar sedengkeun lantai 4 kiblatna ka Islam konservatif alias Islam "Galak" cenah.
 
Perkawis hiji-ngahijikeun, meureun moal ngahiji-ngahiji jalaran: " Moal ngahiji hate2 anjeun kecuali anjeun kaasup jalma nu yakin (imaan)". Panginten salah sawios di antara dua pihak eta sanajan ngaku Islam tapi teu dilebetkeun kana jalmi imaan ku Allah SWT nu ngakibatkeun hatena hese ngahiji (naudzubillahi).
 
Nu mana? Duka ah, tangtos sadaya tiasa nalungtik. Pami abdi nuduhkeun mah bilih lepat da teu terang elmuna: sanes dokter tapi wawanian diagnosis. Paling ngiring ka 'ulama nu badi yakin.
 
Nu bener mah tos jelas benerna nu lepat tos jelas lepatna.
Wallau 'alam Bishawaaab, punten henteu di-Sundakeun
 
baktos
y
 
 
Salah Tafsir Tajdid Muhammadiyah
Syamsul Hidayat ** Dosen Unmuh Surakarta dan Anggota MPKSDI PP Muhammadiyah
Opini Republika 28 Juni 2005
 
Dalam memahami Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid fil Islam, banyak yang salah kaprah. Ini bisa dilihat dari lontaran pemikiran Syamsul Arifin (Republika, 14/6/2005) dan Boy T Pradana yang merespon tulisan saya (Republika, 21/6/2005) yang dimuat dalam situs panitia muktamar dalam rubrik wacana. Tajdid yang dalam pengertian etimologis berarti pembaharuan dimaknai dengan modernisasi atau liberalisasi pemahaman Islam, dengan menyesuaikan pemahaman terhadap ajaran Islam dengan modernitas dan liberalitas kontemporer. Padahal, tajdid sebagai sebuah konsep yang diambil dari hadits Rasulullah yang terdapat dalam bab al-malahim dari kitab Aunul Ma'bud, telah memiliki makna khas, sebagai upaya membangkitkan kembali semangat berislam sebagaimana ajaran Alquran dan Sunnah. (Asy-Syatibi, al-I'tisham, 1989).
 
Untuk itu, Muhammadiyah mendefinisikan tajdid dengan dua makna operasional, yaitu: (1) purifikasi, yakni pemurnian terhadap hal-hal yang baku dalam agama Islam (al-tsawabit), seperti keontentikan Alquran sebagai firman dan petunjuk Allah, keotentikan hadits-hadits yang makbul sebagai sabda dan pengarahan Rasulullah bagi umat, juga masalah akidah, seperti keyakinan bahwa Islam sebagai satu-satunya dinullah yang haqqun mutlaqun, masalah-masalah ibadah dan akhlak, dan sebagian muamalah. Pemurnian meliputi pemahamanan, penghayatan dan pengamalannya; (2) dinamisasi, yakni pengembangan, pembaharuan dan modernisasi dalam masalah-masalah ijtihadiyah dan yang dapat berubah secara kondisional (al-mutaghayyirat), seperti masalah sistem organisasi, pengembangan model-model pendidikan dan seterusnya. Namun, tetap berada di atas nilai-nilai dan jiwa ajaran Islam, yang bersumber kepada Al-Quran dan Al-Sunnah. (lihat putusan Muktamar Tarjih 22, 1989 di Malang).
Distorsi
Salah kaprah terhadap makna tajdid mengakibat terjadi distorsi pemikiran dan gerakan keagamaan di kalangan Islam, seperti dilakukan oleh Jaringan Islam Liberal (JIL), Kajian Utan Kayu, juga sekelompok kecil anak muda yang mengaku kader Muhammadiyah yang menamakan diri mereka dengan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Bentuk-bentuk distorsi itu, pada masalah prinsip adalah pengaburan dan pencapuradukan masalah-masalah baku (al-tsawabit) dan masalah-masalah berubah (al-mutaghayyirat), akhirnya kebenaran Islam sebagai satu-satunya agama disisi Allah diganti dengan paham pluralisme yang memandang semua agama sama. Masing-masing pemeluk agama, termasuk Muslim tidak boleh mengatakan bahwa agamanyalah yang benar dan diterima Allah.
 
Islam sebagai agama yang haqqun mutlak, digusur dengan paham relativisme. Paham ini di Muhammadiyah dipelopori oleh M Amien Abdullah, yang pernah menjadi ketua Majelis Tarjih dan kini wakil ketua. Juga dapat dilihat dari pandangan Abdul Munir Mulkhan, wakil sekjen PP Muhammadiyah, yang mengatakan bahwa Alquran adalah produk budaya (muntaj tsaqafi), sehingga seluruh isinya bersifat zhanni (relatif). Tentu saja paham ini menjadi kontroversial di kalangan warga dan pimpinan Muhammadiyah, karena sangat bertentangan dengan putusan atau pemikiran yang resmi di Muhammadiyah, seperti tercantum dalam matan keyakinan dan cita-cita hidup (MKCH), matan Kepribadian Muhammadiyah, dan rumusan terakhir Pedoman Hidup Islami warga Muhammadiyah.
 
Salah kaprah dalam memaknai tajdid, juga muncul dalam pemikiran JIMM, yang menawarkan pemikiran hermeneutika dialektika sosial. Pemakaian hermeneutika sendiri ketika ditujukan kepada kajian Alquran jelas-jelas sangat berbahaya karena produk akhirnya adalah pembongkaran atas keontentikan Alquran dan penghujatan terhadap para ulama tafsir (mufassir), dan disertai dengan pemujaan terhadap berbagai pandangan kaum Orientalis kuffar.
 
Hermeneutika dialektika sosial juga mengarahkan kepada Muhammadiyah agar gerakan sosial pendidikan dan kesejahteraan masyarakat yang selama ini menjadi tema utama gerakan Muhammadiyah, jangan dibebani sebagai misi dakwah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas keislaman masyarakat, tetapi harus difokuskan sebagai gerakan kemanusiaan, yang mengentaskan masalah kemanusiaan. Karena kalau dikaitkan dengan kepentingan agama akan menjadi sektarian. Oleh karena itu, kata seorang anggota JIMM, Muhammadiyah jangan lagi memandang Kristenisasi sebagai problem umat, karena problem yang sesungguhnya adalah kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan.
 
Kalau pandangan-pandangan tersebut, oleh Syamsul Arifin dipandangan sebagai proliferasi pemikiran Muhammadiyah, atau oleh Boy Pradana dipandangan sebagai pembaharuan pemikiran Muhammadiyah, saya kita kedua saudara tersebut telah memasuki jebakan salah kaprah di atas. Menurut hemat saya, proliferasi atau pembaharuan pemikiran Muhammadiyah tidak sejalan dengan liberalisasi pemikiran Islam.
Pembunuhan identitas
Liberalisasi pemikiran Islam hanya ajakan membawa Muhammadiyah jauh dari semakin jauh dari cita-citanya, membangun masyarkat Islam yang sebenar-benarnya. Masyarakat yang cinta kepada nilai-nilai Alquran dan Sunnah, baik dalam akidah, akhlak, ibadah dan muamalahnya. Namun, sesuai dengan jiwa ajaran Islam yang mengakui kemajemukan (pluralitas) baik agama dan budaya dalam masyarakat, Muhammadiyah tetap aktif dan proaktif dalam membangun kebersamaan dengan elemen masyarakat lain dalam membangun bangsa Indonesia, yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Pengakuan terhadap pluralitas tidak sejalan dengan paham pluralisme agama dan budaya.
 
Pengakuan terhadap adanya pluralitas agama dan budaya, dapat melahirkan sikap toleransi dan saling menghormati perbedaan masing-masing. Sedangkan paham pluralisme justru lahir dari sikap mereka yang tidak siap berbeda. Semua perbedaan harus dilebur, dan digusur ke dalam satu persamaan. Akhirnya yang terjadi adalah pembunuhan terhadap identitas. Kalau itu terjadi pada identitas agama, sama halnya dengan sekularisasi ateistik, yaitu penghapusan agama dari kehidupan manusia. Dalam pengamatan saya, saat ini Muhammadiyah, terutama kaum intelektualnya, baik yang muda maupun yang agak tua telah terkooptasi oleh pemikiran Liberal dari Barat-Sekular yang begitu hegemonik.
 
Banyak di antara mereka yang tergiur oleh cara pikir Barat-Sekular yang secara pelan tapi pasti menusuk jantung pemikiran Islam. Akibatnya, banyak generasi Islam (yang tua apalagi yang muda) terbawa arus gelombang tsunami pemikiran Barat yang liberal dan sekular itu. Contoh konkretnya adalah perasaan lebih maju, lebih ilmiah, lebih moderat, dan lebih progresif apabila menggunakan cara pikir Barat tersebut. Dan untuk itu tidak segan-segan menghujat karya dan khazanah intelektual para ulama salaf dan kholaf yang commited to truth sebagai jumud, bebal dan sebagainya. Bahkan selanjutnya menggugat Alquran itu sendiri.
 
Untuk itu, menurut hemat saya, Muhammadiyah saat ini, tidak ada jalan lain, kecuali harus kembali ke relnya. Ibarat kereta api, Muhammadiyah yang dikendalikan oleh para masinis liberalis ini telah keluar dari relnya, sehingga jalannya terseok-seok, bahkan tergelincir dan mandek. Buktinya, kini banyak aktifitas kajian dan pengajian regular di cabang-cabang dan ranting-ranting yang mati. Hanya tinggal pengajian insidental yang masih bisa jalan. Hal ini disebabkan oleh banyak pimpinan, baik tingkat pusat maupun daerah yang kurang istiqomah mengawal pengajian yang sistematis kurikulum dan nara sumbernya, sebagaimana banyak dirintis oleh para pendahulu Muhammadiyah.
 
Muhammadiyah, mulai Muktamar ke-45 di Malang ini harus lebih selektif dalam memilih pimpinan, sehingga melahirkan kepemimpinan yang efektif dalam kerjanya, dan efektif pula dalam menegakkan nilai-nilai syariat Islam, dengan dakwah dan pembinaan umat. Perlu cermat dalam melihat calon pemimpin Muhammadiyah, misalnya: (1) hindari calon pimpinan yang terindikasi pemikiran liberalisme, pluralisme, dan sekularisme, (2) hindari calon pimpinan yang terindikasi kurang lurus moralitasnya, seperti terlibat dalam kasus Bank Persyarikatan Indonesia (BPI) dan tindak korupsi lainnya, (3) hati-hati dalam memilih calon pimpinan yang mantan pejabat, karena sangat mungkin ketika telah terpilih, akan masuk dalam daftar tersangka kasus korupsi di jabatan yang pernah dipegangnya. Wallahu a'lam.
 
--- In [email protected], "Waluya" <[EMAIL PROTECTED]...> wrote:
> Hatur nuhun Kang Jaka kana informasina. Sami sim kuring oge henteu panuju ka Akhmadiyah teh ngan sim kuring mah teu satuju pisan lamun cara-cara heuras ( kekerasan) jiga kamari di Parung Bogor dilakukeun. Nu kahijina mah kalakuan kitu teh ngarusak aran Islam nu kaduana ngalanggar kontitusi nagara urang nu ngajamin kabebasan beragama. Sakaterang sim kuring mah aliran Akhmadyah di Indonesia teh parantos lami, parantos 80 taun, malah di Bandung aya masjidna sagala, lamun teu lepat mah aya dua, nu hiji di Cikutra nu hiji deui di Bojongloa. Salami ieu sim kuring teu kantos ngadangu dua masjid ieu diserebu atanapi ditutup.
>
> Perkawis buku "Ada Pmurtadan di IAIN", sim kuring mah teu acan maca, janten teu tiasa komentar naon-naon. Ngan ari perkawis Dawam Raharjo, sakaterang sim kuring mah anjeunna teh mantan ketua Muhammadyah, ormas Islam nomor dua pangageungna. Rada aneh oge aya tilas ketua Muhammadyah dianggap tokoh/ pembela "pemurtadan". Nu jelas mah, kuring mah jadi lieur, cenah Islam teh kudu ngahiji, tapi geuning kanyataanana diantara tokoh Islam kalahka silih tuduh "sesat". Bade kumaha ngahijikeunana?
>
Baktos,
WALUYA


--
>> yudi irmawan <<


Start your day with Yahoo! - make it your home page

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke