Memelihara Lembaga Eijkman
Di kompleks Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo terdapat gedung kuno namun
apik yaitu Lembaga Eijkman. Gedung ini bersejarah, karena untuk pertama
kalinya Hadiah Nobel jatuh ke peneliti Dr Eijkman yang bekerja di gedung
ini. Namun, sudah hampir seratus tahun sejak itu belum ada lagi Nobel
untuk Indonesia.
Semangat peneliti Eijkman ini dibangkitkan kembali dalam Lembaga
Eijkman yang berdiri 1992, yang menjadi pelopor penelitian biomolekuler di
Indonesia. Di gedung ini dibangun kembali budaya meneliti, dididik
sejumlah PhD dan Master biomolekuler serta dihasilkan puluhan paper
internasional.
Lembaga ini juga menghasilkan penelitian yang tidak hanya bermanfaat
untuk pengembangan ilmu namun dapat menjadi pijakan untuk mengambil
kebijakan nasional dalam bidang kesehatan melalui keragaman gen di bidang
penyakit darah, Hepatitis B, maupun malaria.
Bahkan Lembaga Eijkman mungkin dapat menyumbangkan bukti asal nenek
moyang kita melalui pemeriksaan genetik dikaitkan dengan antropologi. Juga
dalam era terorisme sekarang dapat membantu mengidentifikasi jenazah yang
rusak melalui pemeriksaan DNA.
Lembaga Eijkman telah berhasil memelopori pengembangan penelitian
molekuler di Indonesia. Keberhasilan ini tak hanya diakui di tingkat
nasional tetapi juga tingkat internasional sehingga cukup banyak mahasiswa
doktor dari negara lain termasuk negara maju.
Sayang, statusnya yang belum jelas akan menjadikan lembaga ini
rudimenter dan bukan tak mungkin menghilang dari bumi Indonesia. Tanpa
kejelasan status, biaya penelitian dan operasional dengan sistem keuangan
negara sekarang akan sulit mengalir ke Eijkman.
Menurut Prof Sangkot Marzuki, direktur lembaga ini, nasib Lembaga
Eijkman akan tergantung pada perkembangan sampai akhir tahun ini. Jika
tidak ada penetapan status dan dana, maka kemungkinan lembaga ini akan
mati. Padahal, hanya sedikit lembaga ilmiah yang berjalan baik. Alangkah
sayangnya jika Lembaga Eijkman harus mati. Membangun lembaga ini
memerlukan upaya sungguh-sungguh dan kecintaan terhadap negeri ini, namun
membunuhnya hanya dalam sekejap.
Takut PHK? Ternyata tidak. Staf Lembaga Eijkman adalah tenaga terampil
yang dengan mudah akan mendapat pekerjaan baik di dalam maupun di luar
negeri.
Saya mengenal Prof Sangkot sebagai kakak kelas saya di FKUI yang aktif
di pramuka. Mungkin kegiatan di pramukalah yang menyisakan rasa
nasionalisme tetap tinggi.
Ketika Pak Habibie memanggil pakar biotek Indonesia yang telah berhasil
dan menjadi terkenal di luar negeri, hanya Prof Sangkot yang waktu itu
bekerja di Universitas Monash Australia yang bersedia kembali. Padahal,
kedudukannya sebagai staf pengajar dan peneliti senior di sana sudah amat
nyaman.
Namun, dia mau memulai lagi dari awal untuk bangsanya. Apakah usaha
yang telah dibangun Prof Sangkot Marzuki dan kawan-kawan akan lenyap
begitu saja? Apakah bangsa kita ini hanya menghargai uang dan tidak lagi
peduli pada kekayaan lain yaitu kemampuan ilmiah?
Maka saya mengajak teman teman media, ilmuwan, LSM dan wakil kita yang
terhormat di DPR untuk memelihara Lembaga Eijkman dan menumbuhkannya untuk
masa depan bangsa.
Samsuridjal Djauzi - Direktur RS Kanker
Dharmais