Khususna kang kumi ....
 
Maca dina kompas Senen kamari, kumaha tah saleresna kaayaan di LBM Eijkman teh ? ieu warta rada dipikahariwangeun ..
 
baktos,
budhi
oritate permai
 
Selasa, 19 Juli 2005

Memelihara Lembaga Eijkman

Di kompleks Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo terdapat gedung kuno namun apik yaitu Lembaga Eijkman. Gedung ini bersejarah, karena untuk pertama kalinya Hadiah Nobel jatuh ke peneliti Dr Eijkman yang bekerja di gedung ini. Namun, sudah hampir seratus tahun sejak itu belum ada lagi Nobel untuk Indonesia.

Semangat peneliti Eijkman ini dibangkitkan kembali dalam Lembaga Eijkman yang berdiri 1992, yang menjadi pelopor penelitian biomolekuler di Indonesia. Di gedung ini dibangun kembali budaya meneliti, dididik sejumlah PhD dan Master biomolekuler serta dihasilkan puluhan paper internasional.

Lembaga ini juga menghasilkan penelitian yang tidak hanya bermanfaat untuk pengembangan ilmu namun dapat menjadi pijakan untuk mengambil kebijakan nasional dalam bidang kesehatan melalui keragaman gen di bidang penyakit darah, Hepatitis B, maupun malaria.

Bahkan Lembaga Eijkman mungkin dapat menyumbangkan bukti asal nenek moyang kita melalui pemeriksaan genetik dikaitkan dengan antropologi. Juga dalam era terorisme sekarang dapat membantu mengidentifikasi jenazah yang rusak melalui pemeriksaan DNA.

Lembaga Eijkman telah berhasil memelopori pengembangan penelitian molekuler di Indonesia. Keberhasilan ini tak hanya diakui di tingkat nasional tetapi juga tingkat internasional sehingga cukup banyak mahasiswa doktor dari negara lain termasuk negara maju.

Sayang, statusnya yang belum jelas akan menjadikan lembaga ini rudimenter dan bukan tak mungkin menghilang dari bumi Indonesia. Tanpa kejelasan status, biaya penelitian dan operasional dengan sistem keuangan negara sekarang akan sulit mengalir ke Eijkman.

Menurut Prof Sangkot Marzuki, direktur lembaga ini, nasib Lembaga Eijkman akan tergantung pada perkembangan sampai akhir tahun ini. Jika tidak ada penetapan status dan dana, maka kemungkinan lembaga ini akan mati. Padahal, hanya sedikit lembaga ilmiah yang berjalan baik. Alangkah sayangnya jika Lembaga Eijkman harus mati. Membangun lembaga ini memerlukan upaya sungguh-sungguh dan kecintaan terhadap negeri ini, namun membunuhnya hanya dalam sekejap.

Takut PHK? Ternyata tidak. Staf Lembaga Eijkman adalah tenaga terampil yang dengan mudah akan mendapat pekerjaan baik di dalam maupun di luar negeri.

Saya mengenal Prof Sangkot sebagai kakak kelas saya di FKUI yang aktif di pramuka. Mungkin kegiatan di pramukalah yang menyisakan rasa nasionalisme tetap tinggi.

Ketika Pak Habibie memanggil pakar biotek Indonesia yang telah berhasil dan menjadi terkenal di luar negeri, hanya Prof Sangkot yang waktu itu bekerja di Universitas Monash Australia yang bersedia kembali. Padahal, kedudukannya sebagai staf pengajar dan peneliti senior di sana sudah amat nyaman.

Namun, dia mau memulai lagi dari awal untuk bangsanya. Apakah usaha yang telah dibangun Prof Sangkot Marzuki dan kawan-kawan akan lenyap begitu saja? Apakah bangsa kita ini hanya menghargai uang dan tidak lagi peduli pada kekayaan lain yaitu kemampuan ilmiah?

Maka saya mengajak teman teman media, ilmuwan, LSM dan wakil kita yang terhormat di DPR untuk memelihara Lembaga Eijkman dan menumbuhkannya untuk masa depan bangsa.

Samsuridjal Djauzi - Direktur RS Kanker Dharmais



Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




SPONSORED LINKS
Culture Corporate culture Hawaiian culture
Hispanic culture Jewish culture Organizational culture


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke