Punten teu di sundakeun. Panganteurna bae nu make basa sunda. Mangga
nyanggakeun;
Terjadinya Negara Baduy
Dikutip dari : Buletin Kebudayaan Jawa Barat "Kawit"
Pen : Badoejsche Geesteskinderen Door C.M Pleyte
Menurut cerita nenek moyang, dahulu kala Negara Baduy adalah hutan
belantara yang kosong tiada penghuni pula keadaannya sunyi sekali. Tidak
pernah dimasuki atau dilalui manusia, sebab pada waktu itu masih belum
banyak manusia. Walau pun demikian yang menjadi makanan utama telah
ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa, dan mulailah dijelmakan manusia
olehnya. Sebagai manusia pertama adalah yang disebut Batara, dan ini
menurunkan lagi Batara tujuh sampai kepada lima daleum dan terus turun
temurun sampai kini (lihat Arca Domas hal 512).
.
Bahkan pada waktu itu di Negara Banten pun masih kosong pula, hanya ada
satu dua orang saja yang mempunyai kesaktian dan sedang bertapa,
tidaklah seperti zaman sekarang banyak manusia dari berbagai golongan.
Pada waktu pertama kali memasukan agama Islam di Pulau Jawa, yaitu di
Pajajaran, diceritakan bahwa Raja Pajajaran tidak mau memeluk agama
Islam, beliau bersama-sama dengan saudaranya yang bernama Pucuk Umum
lalu menghilang dari Pajajaran.
.
Beliau merubah dirinya, bersalin rupa menjadi seekor burung beo, dan
terus terbang tinggi mencari tempat yang sunyi. Siang malam terus
terbang melayang dengan tiada hentinya mencari tempat yang sesuai dan aman.
.
Waktu sampai di Banten, yaitu yang disebut negara Cibaduy, mereka
menemukan sebuah hutan yang sepi dengan batu-batunya yang berbagai macam
ukuran dan dengan pasirnya yang indah dan hutan belantara ini luas
sekali. Tidak ada penghuni, kecuali binatang-binatang buas, seperti
macan. Badak, babi hutan dan banyak lainnya lagi, pula terdapat banyak
ular yang besar mau pun yang kecil, hanya itulah yang terdapat penghuni
hutan itu.
.
Di daerah inilah raja bersama saudaranya yang bernama Pucuk Umum
berhenti. Tak lama dari waktu itu, beliau menengok ke sebelah bawah,
maka terlihatlah oleh mereka, ada sungai yang besar serta airnya yang
bersih dan jernih sekali. Lalu mereka mandi di sana. Setelah selesai
mandinya, maka raja ini bentuk badannya berubahlah kembali menjadi
seorang manusia lagi.
.
sungai ini lalu diberi nama Cibeo, dan masih berlaku sampai sekarang
nama itu. Setelah beliau mandi, maka kembalilah beliau ke tempat tadi
yang banyak batu serta pasirnya itu.
.
Tempat ini oleh Raja diberi nama Ci-Keusiak, dan raja bersama saudaranya
terus bertempat tinggal di sana. Sejak saat itulah nama tempat ini
disebut Ci-Keusik. {>>}
.
Menurut cerita, raja ini adalah keturunan dari swarga-loka dan merajai
Pajajaran. Lama-kelamaan raja ini mempunyai keturunan yang banyak sekali
dan mereka membuka hutan sebelah hilirnya, lalu diberi nama Cikertawana
dan nama ini berlaku sampai sekarang.
.
Tempat ini diberi nama Cikertawana, karena di tempat inilah mula-mula
terjadinya keramaian, yang mempunyai arti : kerta = ramai, wana = hutan.
Pendapat ini adalah tidak benar kerta = kerta artinya di sini adalah
istirahat dan menikmati kebahagiaan, sedangkan rame berarti ramai,
gemuruh, hidup. Tydschr. V, Ind. T, L en Nk, jilid LIV. Aft 8 dan 9.
wana = hutan.
.
Mulai waktu itu terus-menerus sampai sekarang mereka membuka hutan dan
menempatinya, tetapi pada suatu tempat hanya diberi izin untuk dihuni
oleh 40 keluarga.
.
Sebagai pengisi waktu dan kebudayaan mereka, bila ada binatang-binatang
buas seperti harimau, celeng, banteng atau ular maka mereka
membinasakannya tidak dengan senapan, akan tetapi cukup dengan
dikejar-kejar saja. Bila belum tertangkap mereka terus mengejarnya, dan
jika tersusul maka terus saja berkelahi dengan menggunakan senjata
pedang atau alat pemukul.
.
Bahwasanya sampai sekarang di sana tak terdapat binatang buas, karena
habis dibunuh oleh orang-orang Baduy. Seseorang dikeluarkan dari
daerahnya apabila ia mencuri padi atau berani memegang susu atau pipi
perempuan, maka ia dibuang dan tempat pembuangannya dinamakan desa desa
Nangka-bengkung.
.
Bila ada orang yang mempunyai anak perempuan cantik, lalu ada laki-laki
yang menginginkannya, maka si ayah tak dapat melarangnya, asal si calon
menantu membawa pakaian untuk anaknya dan hasil bumi seperti padi, ubi,
pisang dll, hasil dari bercocok tanamnya sendiri, sedangkan yang berupa
uang hanyalah sebanyak duapuluh lima sen dan ini adalah untuk yang
menikahkan yaitu puun.
.
Yang ditunjuk sebagai rajanya di sana adalah geurang puun, dan yang
dijaga oleh mereka tidak lain hanyalah larangan-larangan yang dijunjung
tinggi. {>>}
.
Cerita ini tidak memerlukan banyak penjelasan, karena pada pokoknya
membahas hal-hal keanehan dari masyarakat Baduy yang sedikit banyaknya
telah dikenal orang. Hak yang baru, adalah tempat pembuangan untuk
orang-orang jahat yang dinamakan Nangka-bengkung, yang harus tinggal di
desa tersebut selama 3 tahun. Setelah masa pembuangan selesai, maka ia
boleh tinggal di bawah panamping.
.
Selanjutnya mengenai nama Pucuk Umum ternyata terdapadat dalam semua
cerita-cerita Sunda (tahun peristiwanya tertulis pada Batutulis dekat Bogor)
.
Keistimewaan-keistimewaan mengenai dirinya juru bicara saya tidaklah
mengetahuinya, tetapi sama Pucuk Umum terdapat pula terdapat pula pada
masyarakat Baduy, maka sudah dapat ditentukan, bahwa ia adalah seorang
tokoh dalam sejarah yang memegang peranan pula. Mengenai kurangnya
cerita ini diungkapkan dalam kenangan-kenangan orang Baduy, akan dapat
diungkapkan dalam cerita-cerita selanjutnya, bahwa ia sedikit banyaknya
mempunyai nilai sejarah.
.
.
Dewa Kaladri
.
Syahdan diceritakan orang, sejak sanghiyang sampai kini kira-kira sudah
ribuan tahun ke belakang , waktu itu ada seorang sanghiyang yang bernama
Sanghiyang Sakti yang mempunya seorang anak laki-laki.
.
Ada pun rupa anak ini sangat jelek sekali, badannya hitam dan perutnya
buncit. Oleh ayahnya anak ini diturukan ke bumi, disuruh bertama dan
mengelilingi dunia.
.
Setelah itu maka anak buncit itu turunlah ke bumi. Waktu sampai pusat
kota Ci-paitan, yaitu desa Ci-handam yang telah lama ditinggalkan, ia
terus bertapa di Gunung kujang. Waktu sedang bertapa, ia diketemukan
oleh Daleum Sangkan sedang telentang bertapa di atas sebuah batu yang
besar. Oleh Daleum Sangkan ia dibawa pulang diambil sebagai anak, serta
diurus dengan baik sekali dan disayangi sampai besar kira-kira teguh
samping (berumur delapan atau sepuluh tahun, menurut perhitungan sekarang).
.
Yang menjadi kesukaan anak buncit ini adalah memasang bubu setiap hari.
Lama-kelamaan istri Daleum Sangkan membencinya terhadap anak buncit ini
karena parasnya yang jelek hitam, perutnya makin lama makin buncit dan
matanya besar membelalak.
.
Hanya Nyi Sangkan tidak berani mengusirnya karena takut terhadap Daleum
Sangkan. Pada suatu hari waktu itu Daleum Sangkan mengajak si anak
buncit untuk memasang bubu di sungai, tetapi tidak diperkenankan
memasangnya di tempat yang baik dan dalam, ia harus memasangnya di
tempat yang jelek dan diangkat saja, agar tidak mendapat ikannya. Nyi
Sangkan berkata : "Kalau tempat yang baik adalah untukku memasang bubu,
jangan oleh kamu". Lalu mereka masing-masing menempatkan bubunya. {>>}
.
Kalau si anak buncit memasangnya di tempat-tempat yang telah ditunjukan
oleh Nyi Sangkan, yaitu di tempat-tempat yang jelak dengan arus airnya
yang deras. Sedangkan Nyi Sangkan menempatkannya di tempat-tempat yang
baik dengan airnya yang tenang.
.
Waktu keesokan harinya dilihat, bubunya Nyi Sangkan tidak berisi ikan
sama sekali, walau pun di tempat yang baik. Sedangkan waktu bubunya si
buncit diangkat, ternyata banyak ikannya, bahkan ada seekor ikan yang
besar yang disebut ikan lubang, lalu ikannya dibawalah pulang.
.
Dengan demikian Nyi Sangkan bertambah benci terhadap anak buncit itu.
Ikan yang besar tadi, tidaklah diberikan kepada Nyi Sangkan oleh anak
itu, bahkan ia pelihara dan dismpan dalam tong yang terbuat dari batang
pohon kawung. Nyi Sangkan menjadi sangat marah, lalu memaki-maki, tetapi
si anak buncit ini tidaklah menghiraukannya.
.
Tak lama kemudian, Nyi Sangkan mengajak menanam talas di humanya. Tetapi
seperti biasa saja, yaitu Nyi Sangkan menanam talasnya di tempat yang
tanahnya bagus, sedangkan si buncit disuruh menanamnya ditempat yang
jelek yang tanahnya merah bercampur pasir. Lalu mereka menanam talas.
Nyi Sangkan berkata kepada anak buncit : "Wah, kamu menanam talas juga
tak akan ada umbinya, sebab tanahnya jelek, mana merah bercampur pasir
lagi, walau pun nantinya ada juga berumbi, paling besar juga hanya
sebesar kelentitku". "Kalau tanamanku sudah pasti bagusnya dan banyak
umbinya, sebab tanahnya bagus." Anak buncit tidak menjawab apa-apa,
hanya dalam hatinya ia berkata, barangkali saja nanti umbinya banyak.
Setelah lama, talas itu sudah masnya berumbi, lalu mereka tengok dan
terus masing-masing mencabutnya. Waktu mereka masing-masing mencabut
talasnya, ternyata tanaman Nyi Sangkan, talasnya tidak ada umbinya dan
lagi keri jelek tumbuhnya. Waktu si anak buncit mencabut talasnya
umbinya besar sekali, tetapi hanya sebuah, besarnya sebesar tempayan
tempat beras. Anak buncit berbicara kepada Nyi Sangkan sambil
memperlihatkan talasnya dengan diayun-ayunkan : {>>}
.
"Ini lihatlah Ua, tanaman talasku ada umbinya sampai sebesar burut
Ua."Setelah itu, dengan mendadak terbukti terkena oleh sapaan, alat
kelamin Nyi Sangkan menjadi burut sebesar talas tadi, sama dengan
tempayan beras. Nyi Sangkan menjadi kalang kabut, hatinya makin marah
saja kepada si anak buncit itu, karena ia terkena sapaannya, yaitu
menjadi burut alat kelaminnya, sampai ia susah berjalan, hampir-hampir
tak dapat pulang ke rumah. Ia terus menangis. Mulai saat itu Nyi Sangkan
makin lama makin membenci anak buncit itu. Oleh karena ia merasa malu,
maka ia bermaksud untuk membunuh si buncit, hanya ia merasa takut oleh
suaminya Daleum Sangkan. Pada suatu waktu si buncit sedang bepergian,
ikan lubang kesayangannya dicuri oleh Nyi Sangkan dari tong kawung.
Terus dibawa ke rumah dan dibuat masakan, sedangkan kepala ikan tersebut
tidak dimasaknya, ia masukkan ke dalam mangkuk dan disimpan di rak
piring dengan ditutup oleh periuk. Tidak lama kemudian si buncit datang
sambil membawa makanan ikan, terus ia mencari ikannya untuk diberi
makan. Waktu dilihat ternyata ikannya sudah tidak ada lagi, yaitu dicuri
oleh Nyi Sangkan, si buncit terus menanyakan, dan katanya : "Ua, ikan
saya dikemanakan, sebab tidak ada lagi dari tempatnya, sudah tentu
dicuri olehmu"
.
Waktu sedang berbicara demikian, maka ayam jantan berkokok demikian
bunyinya :
.
Kiplip-kiplip (suara tiruan tepukan sayap, sebelum ayam berkokok)
Kongkorongok (suara koko ayam)
Kepala lubang disembuyikan,
Ditutup oleh periuk,
Ditempatkan di dalam mangkuk,
Disimpan di rak piring,
Cepat-cepat, segera harus dicari,
Jangan percaya kepada Nyi Sangkan,
Sebab, dia buruk hatinya,
Ia bermaksud membunuhmu. {>>}
.
Setelah mendengar kokok ayam yang demikian bunyinya, maka si buncit
terus saja mencarinya ke rak piring. Waktu ditengoknya, ternyata kepala
lubang itu ada, ditutup oleh periuk. Setelah itu si buncit tidak bicara
lagi. Ia terus melarikan diri karena marahnya dan benci kepada Nyi
Sangkan. Ia langsung pergi ke Negara Pakuan barat dan bertempat tinggal
di sana sebagai pertapa dipegunungannya.
.
Diceritakan Raja Pakuan Barat mempunyai seorang putri yang sangat cantik
bernama Putri Tasik Larang raja kembang. Waktu itu sedang baleg kembang
(dewasa hasrat untuk lain jenis mulai tumbuh. Kemudian perasaan takut
dalam menghadapi lain jenis kelamin, tapi belum ada keberanian untuk
bercintaan. Ini yang disebut "baleg tampele", sedangkan "baleg sedeng",
adalah tumbuhnya hasrat untuk bercinta dengan segala akibatnya.) umurnya
kira-kira sudah limabelas tahun dan belum mempunyai suami. Menurut
cerita, anak buncit itu terus mandi di lubuk Sipatahunan (suatu lubuk
yang sepenuh tahun selalu banyak airnya.) Setelah selesai ia mandi, maka
rupanya menjadi amat bersih dan tampan sekali, bercahaya bagaikan
seorang raja, hanya buncitnya tidak menjadi hilang. Ia segera turun ke
kota untuk meminang Putri Tasik Larang raja kembang. Pinangan si buncit
diterima oleh raja, dan terus disuruh kawin. Putri pun menerima dengan
senang hati bersuamikan si buncit ada pun namanya si buncit, kini
diganti menjadi Prabu Anom Munding Kawangi. Maka pesta perkawinannya pun
dilangsungkan dan oleh mertuanya dijadikan Prabu Anom Pakuan Barat.
.
Cerita tentang yang menjadi raja kita tinggalkan dulu. Kita beralih
kembali ke Parakan Kujang. Sewaktu raja muda sedang bertapa di Gunung
Kujang, ia mempunyai seorang sahabat karib sedemikan rupa sehingga sudah
seperti saudara sendiri ; sama-sama baik hati, percaya-mempercayai untuk
untuk saling melindungi , namanya adalah Ratu Bagus Banarudin.
.
Pada suatu waktu karena sudah kelamaan di Pakuan Barat Raja muda merasa
rindu dan ingin bertemu dengan Ratu Bagus Banarudin di Parung Kujang.
Maka ia mohonizin kepada mertuanya untuk pergi dengan istrinya ke Parung
Kujang. Mertuanya mengizinkan, hanya berpesan : "Jangan terlalu lama di
Parung Kujang".
.
Setelah itu maka segeralah suami istri itu pergi ke Parung Kujang.
Sesampainya di Parung Kujang, langsung saja menemui Ratu Bagus
Banarudin, mereka diterima dengan baik seperti pada saudara sendiri saja
dan oleh karena sudah tidak merasa canggung lagi, makan - minum dan
tidur pun di rumah Ratu Bagus Banarudin. {>>}
.
Akan tetapi dalam hatinya Ratu Bagus Banarudin mempunyai hasrat jelek,
yaitu ia sebetulnya menginginkan prameswarinya Ratu Anom Pakuan Barat,
hanya tidak diperlihatkan. Lama-kelamaan Ratu Anom Pakuan Barat minta
diri kepada Ratu Bagus Banarudin, dan mengemukakan maksudnya akan
menjalankan bertapa lagi di Gunung Caladi. Sedangkan istrinya ia
titipkan kepada Ratu Bagus Banarudin, dan berkata : "Nanti sepulang
bertapa, kakakmu akan dijemput lagi, sekarang titiplah dulu, sebab tidak
akan terlalu lama. Setelah oleh Ratu Bagus Banarudin diterima, maka raja
muda pergi menuju tempat pertapaan.
.
Sesampainya di Gunung Caladi, maka ia mengganti namanya menjadi Dewa
Kaladri, sebab tempat bertapanya adalah Gunung Caladi. Selama ia sedang
bertapa, Ratu Bagus Banarudin bermain cinta denga permasuri raja anom,
dan diterimanya, maka terus saja dijadikan permaisurinya.
.
Waktu tapanya telah mencapai 7 bulan, Dewa Kaladri meninggalkan tempat
pertapaannya dan terus menjemput permasurinya yang akan dibawa pulang
lagi ke Pakuan Barat.
.
Waktu sampai di Parung Kujang dan setelah dilihatnya ternyata
permaisurinya itu telah menjadi permaisuri Ratu Bagus Banarudin, jadi ia
urungkan untuk pergi ke rumah Ratu Bagus Banarudin. ia lalu berdiam diri
di saung huma, tidur tertelungkup, dengan perasaan heran yang bukan
kepalang bahwa permaisurinya telah direbut oleh sahabat karibnya sendiri.
.
Tetapi ia tidak mau memarahinya, karena merasa kasihan kepada sahabat
karibnya itu, bahkan ia membiarkan saja. Sedang demikian, ia dapat
diketahui oleh pengikutnya Ratu Bagus Banarudin, lalu dilaporkannya
kepada rajanya, dan oleh raja diperintahkan untuk ditangkap dan dibunuh.
Dewa Kaladri terus meninggalkan tempat itu, melarikan diri menuju ke
sebelah Tenggara. Waktu sampai di Tanjakan Ci-Batu ia bertemu dengan
seorang tukang penyadap aren yang bernama Ki Kondoy. Ia sedang meninggur
tangan-tangan aren sambil membuang ijuk dan kelopak-kelopaknya. Dewa
Kaladri menanya kepada Ki Kondoy : "Eh, sedang apa kau di sana?" Ki
Kondoy menjawab : "Saya sedang meninggur, tangan-tangan aren ini mau
disadap sambil membuang ijuk dan kelopaknya". Dewa Kaladri berkata :
Coba, hari ini aku harus segera kau tolong, karena aku sedang mendapat
kesusahan, yaitu sedang dikejar-kejar oleh pengikutnya Ratu Bagus
Banarudin dan mau dibunuh". "Tapi aku tidak mau melawannya, karena
kasihan". "Sekarang juga aku harus segera kau sembunyikan, jangan sampai
aku dibunuhnya". Setelah itu maka terus saja oleh Ki Kondoy diberi
pertolongan. Ia disimpannya ke dalam Lombang Labuhan Bulan, dan ditutupi
ijuk dengan kelopak aren tadi sampai rapi sekali, sehingga tak
kelihatan. Tidak lama kemudian, pengikut-pengikutnya Ratu Bagus
Banarudin berdatangan mencari Dewa Kaladri. Waktu mereka bertemu dengan
orang yang sedang menyadap, dan langsung menanyakan : "Hey yang sedang
menyadapa, apakah kau tidak melihat orang lewat ke sini?" Jawab penyadap
: "Aku tidak melihatnya, sebab sejak dari pagi aku ada di sini sedang
menyadap, tetapi tidak ada orang lewat ke sini". Setelah itu, mereka
kembali lagi, tidak terus mencarinya. Setelah musuhnya kembali, maka
Dewa Kaladri dikeluarkan lagi oleh Ki Kondoy dari Lombang Labuhan Bulan,
dan selamatlah dari mara-bahaya.
.
Pada waktu itulah Dewa Kaldri mengeluarkan perkataan kepada Ki Kondoy,
beginilah katanya : "Kondoy, aku sangat berterima kasih atas
pertolonganmu sampai aku selamat dari bahaya maut. Kini aku mendo'akanmu
agar kau menjadi kaya raya dari hasil pekerjaan yang sehari-hari kau
kerjakan, yaitu menyadap aren. Hanya aku titip, di kelak kemudian hari,
anak cucumu janganlah coba-coba kawin dengan keturunan Ratu Bagus
Banarudin di Parung Kujang dan dengan keturunan daleum Sangkan di
Cihandam. Inilah yang harus dijadikan tabu olehmu karena Ratu Bagus
Banarudin sudah memperlihatkan kerendahan budinya padaku. "Begitu pula
istri Daleum Sangkan telah menyakitkan hatiku, dan anak cucu
keturunannya, telah aku sapa, perempuannya menjadi burut kemaluannya."
"Jika kamu berani melanggar larangan ini, kamu akan mendapat kecelakaan,
tidak menemui kebahagiaan, akan tetapi jika kamu mentaatinya, niscaya
kamu mendapat kebahagiaan, tidak akan mengalami kekurangan apa-apa".
"Nah, begitulah nasihatku, camkan dan perhatikan baik-baik". "Kini aku
tak akan lama di sini, aku bermaksud menuju Parakan Dangong". Ki Kondoy
menerima nya segala nasihat dan pepatah dari Dewa Kaladri, dan selamanya
dijalankan dengan baik, serta disampaikan pula pada anak-cucunya.
.
Atas kepatuhannya pada nasihat-nasihat tadi, maka keturunan Aki Kondoy
tidak mengalami kekurangan sandang-pangan. Setelah Dewa Kaladri memberi
nasihat, maka terus saja pergi dan menghilang tanpa ada yang mengetahui
kemana arah tujuannya.
.
Syhdan, diceritakan oranglah, bahwa Dewa Kaladri muncul di Ci-Masuk. Di
sini banyak terdapat rumah-rumah dan orang-orangnya hidup berkecukupan. {>>}
.
Pada suatu ketika ia melihat seorang perempuan yang sedang mengangkat
nasi. Maka Dewa Kaladri pura-pura kelaparan ingin mencoba perempuan
tadi, dan meminta nasinya, katanya "Saya minta makan". Perempuan tadi
tidak memberinya karena takut tidak akan cukup untuk makan keluarganya,
dan jawabnya : "Tidak ada makanan, yang ada hanya wedang". Menjawab
demikian itu, tiada lain hanya untuk menghindar pertanyaan-pertanyaan
lain. Dewa Kaladri berkata : "Biar saja bila tidak ada, aku pun tudak
memaksa tetapi bila diberi wedang pun aku mau menerimanya". Bersamaan
dengan Dewa Kaldri berkata demikian itu, maka nasi yang ditanak tadi
menjadi wedang. Perempuan itu berdiam diri saja, tidak bicara, tidak
apa, kaget melihat nasi sudah menjadi wedang.
.
Dewa Kaladri berkata : "Nah kalau orang suka berdusta maka beginilah
kejadiannya". "Kini kau menyapamu, karena kau telah mendustai kau, maka
keturunanmu di Ci-Masuk, tidak akan berkecukupan kehidupannya dari hasil
Seri. (Seri = Padi, dikatakan demikian itu menurut Dewa dari mana
asalnya padi itu. Perkataan ini bukanlah spesifik Bahasa Baduy
petani-petani di pedalaman menyebutnya seri juga, bukan pare, beas dan
lainnya) Tapi bisa juga mendapat kehidupan dari aren sebab yang aku
terima hanya wedangnya saja".
.
Setelah berkata begitu, tak lama kemudian Dewa Kaladri menghilang, tidak
tahu kemana perginya. Sampai saat ini, penduduk di Ci-Masuk tidak ada
yang berkecukupan dari menanam padi, hanya dari hasil pohon aren saja,
sebab telah disapa oleh Dewa Kaladri. Begitu pula, setiap yang telah
disapa oleh Dewa Kaladri sampai saat ini masih menjadi tabu, seperti di
desa Ci-Handam dan di Tanjakan Ci-Batu. Mereka tidak melakukan
perkawinan silang sebab pada waktu telah kena sapaannya dan
wanita-wanitanya telah menjadi burut alat kelaminnya.
.
Semua ketabuan telah diwariskan turun-temurun sampai kepada anak cucunya
hingga kini. Diceritakan, bahwa Dewa Kaladri suda ada lagi di Parakan
Dangong sedang bertapa.
.
Tempat ini disebutnya Parakan Dangong karena sebagai peninggalan para
dewata membuat bendungan dan Dewa Kaladri di tempat itu bertapanya duduk
di atas batu dengan kepala menengadah. Ada lagi, sekarang yang
diceritakan Butut Lanting, kepala kampung di Ci-Keusik, mengadakan
perundingan dengan teman-temannya yaitu kepala kampung Cibeo dan
cikertawana, sebab oleh Geurang Puun telah diperintahkan untuk mencari
dewa yang menjelma sebagai anak buncit, yang dulu diturunkan oleh
ayahnya ke dunia dari kahyangan disuruh bertapa. Kini Geurang Puun telah
menerima berita, bahwa raja dewa itu telah muncul di Parakan dangong. {>>}
.
Maka Buyut Lanting bermusyawarah dengan para temannya. Setelah itu, maka
mereka pergi menuju Parakan Dangong, dan masing-masing membwa teman lagi
5 orang, jadi 3 orang kepala kampung, membawa 15 orang, maka semuanya
berjumlag 18 orang.
.
Sesampainya di parakan Dangong, ternyata Dewa Kaladri sudah ada sedang
bertapa di atas batu dengan kepala menengadah. Lalu dihampirinya, dan
mereka telah bertemu dengannya di sini.
.
Waktu Dewa Kaladri melihatnya, dia merasa kaget disangkanya
pengikut-pengikut Ratu Bagus Banarudin. Terus Dewa pergi sambil
mengambil sebuah batu besar, sebesar kepala manusia, akan dilemparkan
kepada 18 orang tadi. Sambil ia berkata : "Hey, apakah kalian betul
pengikut Ratu Bagus Banarudin, ataukah bukan", "Kalau benar, mari
berperang dengan aku, coba, kalian mendekat ke sini bila ingin tahu".
.
Kepala kampung Buyut lanting dan teman-temannya duduk bersimpuh, kaget
bercampur takut dan mereka yakin bahwa ini adalah benar raja dewa yang
dicari. Maka mereka lalu berbicara, dan katanya : "Duh, Gusti, kami ini
bukannya pengikut Ratu Bagus Banarudin, kami adalah dari Ci-Keusik,
Ci-Beo dan Ci-Kertawana. Kami datang ke mari, justru diutus oleh seorang
Geurang Puun mencari raja dewa, yang dulu sudah diturunkan oleh ayahnya
ke dunia dan mungkin kini Gusti harus kembali ke kahyangan".
.
Setelah mendengar tutur kata mereka yang demikian, maka amarah Dewa
Kaldri menjadi reda. Selanjutnya ia berkata : "Oh, baiklah bila demikian
adanya, kalian aku terima, bila kalian betula sebagai kepala kampung
Ci-Keusik, Ci-Beo dan Ci-Kertawana, hanya aku sekarang tak dapat menjadi
raja kalian di dunia ini, karena akan segera pulang ke kahyangan, hanya
sampai hari ini, saya dapat bertemu muka". "Hendaknya kamu sekalian
selalu hati-hati dan waspada dan dengarlah baik-baik jagalah segala yang
tabu janganlah dilanggar, dan jagalah semua rakyat kecil, agar
kebahagiaan terus turun-temurun sampai ke anak-cucu, hendaknya semua ini
ditaati".
.
"Janganlah berani coba-coba melanggar semua larangan yanh tabu, seperti
mencuri, beralih kepercayaan, melanggar kesusilaan dan kesopanan, semua
ini mengakibatkan suatu malapetaka.
"Barangsiap berani melanggar larangan-larangan ini, tidak mentaati
nasihatku, pasti akan mengalami kecelakaan".
"Nah begitulah, kini aku akan pulang ke kahyangan, kamu sekalian
pulanglah segera, dan katakan kepada Geurang Puun, bahwa kamu sekalian
telah bertemu denganku".
.
Setelah berkata demikian, maka menghilanglah Dewa Kaladri, hilang tiada
bekas.
.
copy right : mistiksunda.com
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/