Dari Milis Sebelah................ 
 
                  PERNYATAAN KEPRIHATINAN 
PERHIMPUNAN PELAJAR INDONESIA DI PRANCIS
TENTANG STUDI BANDING ANGGOTA DPR

Tulisan ini dimaksudkan sebagai dukungan dan sekaligus juga sebagai sambutan
terhadap pernyataan yang dikeluarkan oleh pimpinan Perhimpunan Pelajar
Indonesia di Prancis berkaitan dengan kunjungan 10 anggota DPR ke Prancis
yang dinamakan « studi banding ». Mengingat arti penting kasus ini dilihat
dari segi politik, moral, dan psikologis, kalau dihubungkan dengan situasi
di Indonesia, maka di bawah ini disajikan pernyataan PPI Prancis tersebut
dengan lengkap, ditambah dengan komentar atau curahan hati, yang mungkin
bisa dianggap oleh orang-orang atau kalangan-kalangan tertentu sebagai
ungkapan yang keterlaluan tajamnya atau, bahkan,  sembarangan saja.



Berikut adalah teks pernyataan tersebut :



Kepada Yth

Yang mulia Anggota Badan Legislasi DPR

Republik Indonesia



Perhimpunan Pelajar Indonesia di Prancis (PPI Prancis), sebagai bagian
komunitas masyarakat Indonesia di Prancis, menerima undangan dari Kedutaan
Besar Republik  Indonesia di Prancis untuk menghadiri acara ramah-tamah
dengan anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR Republik Indonesia. PPI Prancis
mengucapkan terima-kasih kepada KBRI Prancis atas undangan ini.



Berdasarkan informasi yang kami peroleh, kunjungan Yang mulia anggota Badan
Legislasi DPR kali ini adalah melakukan studi banding proses penyusunan
rancangan UU di Prancis. PPI Prancis mendukung upaya studi banding yang
dilakukan anggota DPR-RI. PPI Prancis berpendapat bahwa dengan studi banding
diharapkan anggota DPR-RI dapat memperoleh pengetahuan dan wawasan sehingga
dapat menjalankan fungsi sebagai legislator secara lebih baik.



Namun demikian, PPI Prancis berpendapat bahwa studi banding dengan
berkunjung langsung ke negara yang hendak dilakukan perbandingan adalah
bukan satu-satunya cara mendapatkan hasil yang efektif. Kini, dengan
kemajuan teknologi, pelaksanaan studi banding dapat dilakukan dengan cara
lain dengan hasil yang efektif, misalnya tele-conference dan web-conference.
Untuk mendapatkan bahan atau dokumen secara lebih detail dapat dilakukan
dengan memanfaatkan perwakilan Indonesia di negara tersebut dan atau bisa
dilakukan dengan membuka informasi di

situs internet.



Dalam suasana di tanah air sedang mengalami permasalahan yang berat dan
kompleks, seperti kemiskinan bangsa dengan utang luar negeri mencapai 134
miliar dollar AS, di antara tangisan bayi dan anak Indonesia yang menderita
busung lapar, meningkatnya angka kemiskinan yang jumlahnya hampir 40 juta
orang, krisis BBM yang melanda seluruh pelosok nusantara, pelaksanaan studi

banding dengan mendatangi ke negara tujuan saat ini bukanlah cara dan waktu
yang tepat. Pelaksanaan studi banding seperti ini hanya akan mengurangi
citra Yang mulia anggota Badan Legislasi DPR-RI dan DPR-RI secara
kelembagaan di mata masyarakat dalam dan luarnegeri. Disamping itu hal ini
dapat mempersepsikan rendahnya sense of crisis anggota DPR yang terhormat.



PPI Prancis sangat prihatin atas permasalahan bangsa Indonesia dewasa ini
demikian pula sangat prihatin atas pelaksanaan studi banding anggota Dewan
yang terhormat kali ini.



Demikian pernyataan keprihatinan PPI Prancis.



Paris, 26 Juli 2005





Rudianto Ekawan

Ketua PPI Prancis 2004-2005



* * *



Curahan hati dan komentar atas pernyataan PPI Prancis :



Sebagai orang yang sudah lanjut usia (76 tahun) dan yang sudah tinggal di
Paris selama lebih dari 30 tahun dan melakukan berbagai kegiatan politik,
sosial dan kebudayaan, untuk tanah-air Indonesa, saya merasa sekaligus
berang, muak, prihatin, malu,  dicampur bangga dan senang sekali membaca
pernyataan PPI Prancis tersebut di atas.



Sebab, pernyataan ini mencerminkan bahwa sebagian generasi muda bangsa kita
sangat peduli dan peka terhadap situasi di tanah air, yang sedang dirundung
oleh berbagai kesulitan ekonomi dan sosial yang parah sekali dan juga
kebobrokan moral yang serius. Ketika pada dewasa ini media massa di
Indonesia dibanjiri berita-berita tentang korupsi yang merajalela di
kalangan atas sampai kalangan yang terbawah, tentang orang-orang miskin yang
jumlahnya sekitar 40 juta, tentang pengangguran di kalangan anak muda dan
buruh yang membengkak, tentang anak-anak bayi yang busung lapar di berbagai
tempat, tentang anak sekolah yang bunuh diri karena tidak bisa bayar uang
sekolah, maka wajarlah kalau generasi muda kita brontak dan marah mendengar
adanya acara « studi banding » para anggota DPR ke Eropa.





SIKAP  POLITIK  DAN MORAL YANG TEPAT



Secara politik, sikap generasi muda kita ini adalah tepat sekali dan juga
obyektif secara moral, karena sesuai dengan situasi kongkrit dan nyata di
tanah air dewasa ini. Jadi,  orang tidak bisa mengatakan bahwa pernyataan
PPI Prancis itu mengada-ada, atau demagogis, atau bombastis, atau « asal
njeplak » saja. Sebaliknya, kalau kita amati dengan teliti baik isi maupun
cara dan gaya bahasa yang digunakan dalam pernyataan itu tercermin sikap
yang sopan, hati-hati, dan « terkendali », dalam mengutarakan pendapat
tentang tujuan « studi banding » para anggota  DPR dan juuga sikap terhadap
KBRI yang correct.



Dengan amat tajam dalam statemen itu sudah diangkat berbagai persoalan besar
dan serius  yang sedang dihadapi bangsa (  antara lain ; utang luarnegeri,
jumlah orang miskin yang 40 juta orang, krisis BBM, busung lapar).  Juga
telah dituangkan kritik keras terhadap program kunjungan « studi banding »
dengan kata-kata « saat ini bukanlah cara dan waktu yang tepat » dan bahwa
lunjungan studi banding itu « mengurangi citra anggota Badan Legislasi DPR,
dan  dapat mempersepsikan rendahnya sense of crisis anggota DPR (« yang
terhormat »)..



Arti penting statemen PPI Prancis itu bukan saja dapat dilihat dari segi
benarnya orientasi isinya dalam menghadapi situasi bangsa dewasa ini, tetapi
juga bahwa sikap ini bisa merupakan dorongan atau contoh bagi PPI di
berbagai negeri lainnya di dunia dan juga bagi generasi muda Indonesia
umumnya (mahasiswa, pemuda, pelajar).





MEMBOIKOT JAMUAN MAKAN



Sebab, menurut informasi yang saya terima, pernyataan ini telah disajikan
atau diantar oleh sejumlah anggota PPI Prancis di Wisma Duta (rumah resmi
Duta Besar, yang sekarang masih dijabat oleh Kuasa Usaha Ibu Lucia Rustam).
Oleh « delegasi » PPI ini pernyataan tersebut telah dibacakan di depan para
hadirin yang diundang untuk silaturahmi dan jamuan makan malam untuk
menyambut kunjungan rombongan anggota parlemen (yang jumlahnya 10 orang).



Tanpa maksud untuk bersikap negatif terhadap para petugas KBRI , tetapi
melulu sebagai tanda protes terhadap kunjungan « studi banding » para
anggota DPR itu, 5 pemuda yang mewakili PPI Prancis itu kemudian
meninggalkan ruangan (memboikot) jamuan makan, dengan diringi oleh pandangan
banyak orang yang terkejut dengan tindakan « berani » para pemuda itu.



Dari informasi yang saya terima, rombongan anggota DPR itu pada hari  Rabu
(tanggal 27 Juli) telah meninggalkan Paris menuju Amsterdam untuk kunjungan
« studi  banding » juga. Mereka telah « bekerja » di Paris dengan
mengunjungi parlemen Prancis tidak sampai satu hari. Bisa diramalkan bahwa
di Holland pun rombongan anggota parlemen kita ini akan menghadapi reaksi
atau suara-suara « yang tidak mengenakkan ».



Apa saja yang telah dapat dihasilkan para anggota DPR « yang mulia dan
terhormat »  dengan mengadakan »studi banding » itu (yang berlangsung dalam
waktu yang begitu singkat) tidak atau belum diketahui. Tetapi, berdasarkan
pengalaman yang sudah-sudah, dapatlah kiranya diperkirakan bahwa hasil
kunjungan « studi banding » semacam itu, hanyalah sedikit sekali atau tidak
mempunyai arti penting, yang sepadan  dengan besarnya beaya yang telah
dikeluarkan oleh negara.Hal ini jugalah yang telah diangkat oleh PPI
Prancis, dengan mengajukan usul-usul  atau  cara-cara yang bisa membawakan
hasil lebih effektif (tele-conference atau web-conference).





KESAN ORANG :  HANYA UNTUK JALAN-JALAN



Mengingat itu semua, sudah wajarlah kalau banyak orang mempunyai kesan bahwa
para anggota DPR itu dengan alasan atau dalih « studi banding » sebenarnya
mereka hanya mau menggunakan (lebih tepatnya :  mensalahgunakan) kedudukan
mereka « yang terhormat, sebagai wakil rakyat » untuk jalan-jalan atau main
plesir ke luarnegeri atas beaya yang besar sekali dari rakyat.



Kalau hal ini digabungkan dengan hiruk-pikuk yang mencerminkan kualitas
rendah mentalitas para anggota DPR dengan issu usul atau rencana menaikkan
gaji mereka secara gila-gilaan. Suratkabar Sinar Harapn (22 Juli 2005)
memuat berita ; « Menurut data Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR saat
ini, Ketua DPR mendapatkan gaji Rp 35,17 juta per bulan. Wakilnya Rp 29,89
juta. Sementara anggota dewan Rp 28, 37 juta. Gaji ini dinilai terlalu kecil
dan diusulkan untuk ketua menjadi Rp 65,17 juta atau naik 82, 5 %. Wakilnya
menjadi Rp 51,39 juta, naik 71, 8 %. Dan anggota dewan menjadi Rp 38,01
juta, naik 33,9 %. Ini berarti gaji bulanan ketua DPR secara keseluruhan
naik 104 %, wakilnya naik 89,5 % dan anggotanya naik 82,8 % ».



Begitu rendahkah mentalitas atau sudah begitu bejatkah moral anggota DPR
kita itu ? Sebab, ketika negara dan rakyat sedang kembang-kempis hidupnya
disebabkan banyaknya kesulitan parah di bidang ekonomi dan  sosial, mereka
tidak segan-segan  atau tanpa malu -- dan  tanpa merasa prihatin dan tanpa
kepedulian sama sekali ! -- telah mengusulkan kenaikan gaji mereka dalam
jumlah yang keterlaluan besarnya.





BENAR ARAHNYA DAN PENTING PERANNYA



Sepercik berita yang berikut ini juga memberikan gambaran tentang betapa
buruknya kualitas moral  anggota perwakilan rakyat kita secara keseluruhan
dewasa ini. Menurut Jawapos (tgl 27 Juli 2005) ; « Setelah disidangkan
selama 15 bulan, 27 anggota DPRD Padang periode 1999-2004, kemarin dijatuhi
vonis 4 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider 4 bulan kurungan di
Pengadilan Negeri Padang. Majelis hakim menilai 27 terdakwa tersebut
bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama atas APBD Kota
Padang 2001-2002, sehingga merugikan keuangan negara sebesar Rp10,4
miliar. ». Sungguh, contoh yang tipikal dari moralitas sebagian besar
kalangan atas kita !



Selain itu, selama ini sudah kita baca juga adanya anggota-anggota DPR (dan
DPRD) yang terima suapan dari berbagai kalangan, ( antara lain dari kalangan
dari KPU)  untuk mempengaruhi penanganan berbagai urusan yang berkaitan
dengan keputusan DPR atau DPRD.



Mengingat itu semua, maka nyatalah bahwa pernyataan dan sikap PPI Prancis
dalam « memboikot » jamuan makan untuk menghormati kunjungan « studi
banding » anggota DPR di Paris adalah benar arahnya, besar pesan yang
dikandungnya, tepat sasarannya, dan penting perannya untuk mengingatkan
tokoh-tokoh bangsa bahwa generasi muda kita masih terus bisa menjadi harapan
bangsa.





Paris 27 Juli 2005

















--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.0.338 / Virus Database: 267.9.5/58 - Release Date: 25/07/2005


[Non-text portions of this message have been removed]


 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke