Emh karunya teuing neng Fifi teh, mani tega kitu, sementawis wakil2 Fifi di DPR rajin pisan ngayakeun "studi banding" ka Eropa sapertos anu dikutip di handap ieu, jeung sibukna teh ngan ngusahakeun naekna gajih maranehanana wae, samasakali henteu sensitip kana kaayaan rahayat, tos leungiteun rasa nurani-na meureun. Tetela bangsa urang teh teu kinten terbelakangna, cobi naon nu ku urang - bangsa Indonesia - tiasa dibanggakeun?
Cag,
Mustakim
 
Kompas Sabtu, 30 Juli 2005

Beredar, Foto Anggota DPR Sedang Belanja Barang-barang Mewah di
Belanda


Jakarta, Kompas - Perjalanan sejumlah anggota DPR ke luar negeri
yang mereka namakan studi banding juga menuai protes masyarakat
Indonesia di Perancis.

Keberangan semakin menjadi setelah para mahasiswa yang berhimpun di
Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda memergoki anggota DPR
ternyata jalan- jalan berbelanja barang mewah.

Foto para anggota DPR yang ngelencer menenteng barang mewah bermerek
tersebut kini beredar di internet, seperti biasa dilihat di situs
Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda (www.ppibelanda.org).
Sejumlah foto anggota Badan Legislasi DPR yang studi banding ke
Belanda terlihat masing-masing menenteng tas belanja bertuliskan
Bally dan Gucci.

Ada enam foto yang berhasil mereka abadikan. Masing-masing foto
melukiskan anggota DPR yang menjinjing tas Bally atau Gucci dengan
berbagai posisi. Ada yang menjinjing di tangan kanan, tangan kiri,
ada juga yang di pundak. ”Gambar ini adalah gambaran kecil yang
berhasil kami tangkap kemarin di Hotel Radisson SAS Airport
Hoofdorp, Belanda,” demikian tertulis dalam situs itu, tertanggal
28 Juli 2005.


PPI Belanda juga menyatakan sikap prihatin karena itu mencerminkan
wakil rakyat yang kehilangan sensitifnya. Mereka juga kecewa karena
dalam kunjungan ke Belanda, para wakil rakyat itu tidak berdialog
dengan komunitas masyarakat Indonesia di Belanda.

Protes senada disampaikan PPI di Perancis. Dalam pernyataan pers
yang disampaikan Ketua PPI Perancis Rudianto Ekawan, PPI Perancis
merasa prihatin dengan studi banding tersebut. Bahkan, di kabarkan,
para mahasiswa melakukan protes dengan meninggalkan jamuan makan
malam di Kedutaan Besar Indonesia di Paris.

Dalam suasana di Tanah Air sedang mengalami permasalahan yang berat
dan kompleks, seperti kemiskinan bangsa dengan utang luar negeri
mencapai 134 miliar dollar AS, di antara tangisan bayi dan anak
Indonesia yang menderita busung lapar, meningkatnya angka kemiskinan
yang jumlahnya hampir 40 juta orang, krisis BBM yang melanda seluruh
pelosok Nusantara, pelaksanaan studi banding bukanlah cara dan waktu
yang tepat, demikian pernyataan PPI Perancis. (sut)


Didi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Naha nagri urang bet jadi kieu ateuh? geus luntur rasa kamanusaanana?
beu!!!!. punten lah teu disundakeun

Tragedi Fifi, Tragedi Kaum Miskin!

UNTUK kesekian kalinya siswa sekolah di Republik ini mengakhiri hidupnya
secara tragis karena kemiskinan. Fifi Kusrini, siswi SMP Negeri 10
Bekasi yang baru saja naik kelas II, nekat menggantung diri Jumat (15/7)
sore karena kemiskinan orang tuanya.

Warga Kelurahan Cikiwul, Bantar Gebang, Bekasi, itu malu karena
menunggak sisa uang gedung, buku rapor, dan BP3 yang jumlahnya hampir
Rp300.000. Namun, yang membuat gadis berusia 14 tahun itu memilih jalan
kematian, karena ejekan kawan-kawannya. Fifi tidak lagi punya kekuatan
mental ketika kawan-kawannya mengejeknya sebagai anak tukang bubur.

Jika benar ejekan itu menjadi penyebab jalan kematian Fifi, ini sungguh
persoalan amat serius bagi kita. Serius karena pertama, anak-anak
sekolah, sesama kawan Fifi, tidak tahu bagaimana menghargai mereka yang
mencari nafkah secara halal. Kedua, mereka juga tidak mempunyai empati
dan solidaritas sosial.

Para guru, orang tua murid, dan kita semua ikut bertanggung jawab atas
cara pandang siswa yang sempit seperti itu. Bagaimana orang yang bekerja
mencari nafkah secara halal justru menjadi olok-olok. Bukankah jumlah
orang miskin di negeri ini sangat besar? Sekitar 35 juta dari 220 juta
penduduk Indonesia. Karena itu, kita semua perlu memberi pemahaman dan
keteladanan terhadap anak-anak kita bagaimana melakukan
kebajikan-kebajikan sosial yang konkret.

Kita harus mempunyai pemahaman kemiskinan bukanlah sebuah pilihan.
Bahkan, dalam konteks keadilan, orang-orang miskin itu adalah korban.
Korban akibat gagal negara yang terjadi berkali-kali di negeri ini.
Gagal negara terjadi karena para elite tidak memahami makna hakiki
membangun bangsa.

Kaum miskin juga korban dari orang-orang loba yang mengeruk kekayaan
semena-mena. Korban dari sistem ekonomi pasar (kapitalisme) yang sama
sekali tidak memberi proteksi terhadap mereka yang tidak punya kapital
dan akses.

Karena itu, kita semua, khususnya pemerintah, jangan menyikapi fenomena
bunuh diri siswa tidak punya sebagai hal biasa. Ia sudah terjadi
berkali-kali. Bahkan, kasus lebih banyak dialami anak-anak sekolah
dasar. Kita masih ingat kasus Haryanto di Sanding, Garut, Jawa Barat,
pada 2003 dan Eko Haryanto di Tegal, Jawa Tengah, pada 2004?

Kisah tragis yang menimpa Fifi dan anak-anak yang lain, sekali lagi,
harus dilihat sebagai korban orang-orang kalah. Kasus seperti ini harus
menjadi pelajaran serius, khususnya para elite dan kaum berpunya, untuk
tidak hidup bermewah-mewah di tengah-tengah saudara-saudara kita yang
papa.


Wassalam
Aa Dicky
Moalboros Los Teu Maksa



Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id



Start your day with Yahoo! - make it your home page

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




SPONSORED LINKS
Culture Corporate culture Hawaiian culture
Hispanic culture Jewish culture Organizational culture


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke