sara raka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Juli 2005
Anak Bandung Bangun Teleskop Robotik SATU lagi kisah anak negeri yang sukses menimba ilmu dan meniti karier di negeri orang. Namanya Mohamad Ridwan Hidayat, M.Sc. Pria yang lahir di Bandung, 36 tahun lalu itu, dikenal sebagai seorang astronom andal. Di Indonesia mungkin tidak banyak orang yang mengenalnya. Namun, kalangan ilmuwan di Malaysia banyak yang mengenal Ridwan sebagai astronom jempolan. Pasalnya, gelar S1 dan S2 di bidang astronomi, ia raih di Universitas Kebangsaan Malaysia, di Bangi, Selangor.
Karena keahliannya itu, Ridwan kerap dipercaya pemerintahan Malaysia untuk menjalankan projek nasionalnya, khususnya di bidang astronomi. Tak salah kiranya Ridwan juga didaulat untuk mempresentasikan sebuah projek nasional Malaysia lainnya di bidang astronomi, dalam acara Asia Pacific Regional IAU Meeting (APRIM) 2005 di Nusa Dua Bali. Kertas kerja yang ia paparkan dalam bahasa Inggris itu ialah sebuah projek Robotic Telescope pertama di Malaysia, yang nantinya juga menjadi observatorium terbesar pertama di Malaysia.
Observatorium nasional itu terletak di Pulau Langkawi, dekat perbatasan Malaysia-Thailand. Projek itu dimulai sejak akhir 2003, dan direncanakan bakal rampung pada Desember 2005. Perdana Menteri Malaysia rencananya akan meresmikan difungsikannya observatorium tersebut.
Dalam projek itu, Ridwan memegang tanggung jawab sebagai manajer projeknya. Ridwan juga yang mendesain sistem, membuat konsepnya, dan mengintegrasikan sistem-sistem tersebut hingga bisa diaplikasikan nantinya. Ia merupakan satu-satunya orang Indonesia yang terlibat penuh dalam projek tersebut.
Ridwan memaparkan bahwa projek tersebut dimotori oleh Agency Angkasa Negara atau National Space Agency Malaysia (semacam Lapan di Indonesia). "Pemerintah Malaysia sangat mendukung projek ini karena pemerintah di sana sangat concern soal dunia sains, terutama tentang angkasa. Mereka juga memberi dana yang besar pada projek ini," katanya.
Dijelaskannya, teleskop yang dipasang di observatorim ini memiliki diameter lensa 60 sentimeter dengan autosistem CCD, dan mampu melakukan imaging, fotometri, spektroskopi, serta astrometri. Teleskop seharga 1,5 juta ringgit Malaysia itu (sekira Rp 3,9 miliar) dikirim dari Amerika. Teleskop juga dilengkapi dengan kamera All Sky yang berguna untuk memantau langit secara keseluruhan.
Sebenarnya di Malaysia sudah ada empat observatorium yaitu di Kuala Lumpur (Observatorium Negara), Malaka (Observatorium Al Quarizmi), Trengganu (Observatorium Kusza) dan Observatorium Syekh Tahir. Yang membedakan observatorium Langkawi dengan empat lainnya ialah, selain lebih canggih, juga mampu dikontrol via internet. "Itulah kenapa disebut robotic telescope. Jadi, kita mampu menjalankannya secara otomatiks, dan dikontrol via internet," jelas Ridwan.
Kedatangannya ke APRIM 2005, selain untuk mengenalkan observatorium itu ke khalayak, juga hendak menjalin kerja sama dengan Indonesia tentang astronomi, khususnya Departemen Astronomi ITB. "Saya sudah menghubungi Departemen Astronomi ITB, dan mereka menyambut baik kerja sama ini," tutur Ridwan.
Dengan kerja sama itu, nantinya para ilmuwan astronomi di Indonesia bisa memakai observatorium Malaysia di Langkawi. "Tidak perlu datang ke lokasi. Cukup dikontrol via internet di Indonesia. Namun kalau mau secara manual pun tetap bisa," ungkap Ridwan. Begitu pula sebaliknya, ilmuwan astronomi Malaysia diperkenankan memakai Observatorium Bosscha di Lembang.
Mengapa dengan Indonesia? "Karena di ASEAN, baru observatorium di Indonesia yang juga telah memakai sistem robotic telescope," ungkap Ridwan. Ke depannya, ada rencana untuk membuat jaringan se-ASEAN dengan membangun observatorium yang memakai teleskop berdiameter 2 meter (lensanya).
"Tempatnya mungkin sesuai hasil observasi pihak Astronomi ITB yaitu di NTT," kata Ridwan. Pemilihan NTT (Nusa Tenggara Timur) sebagai observatorium regional dilihat dari berbagai faktor. "Tempat yang paling bagus untuk observatorium ialah yang paling minimum curah hujan, dan yang paling minimum tutupan awan. Dan, dari data-data pihak ITB yang diperoleh dari BMG dan citra satelit, NTT-lah daerah yang pas untuk itu," katanya.
Teleskop warisan
Selain terjun dalam projek pembangunan observatorium nasional Malaysia, Ridwan juga banyak terlibat dalam projek-projek penelitian lainnya terkait astronomi di Malaysia. Sebelumnya, ia turut berkiprah dalam pembuatan dan pemasangan kamera All Sky dengan sistem kamera Fish Eye di Antartika di akhir 2004. "Kamera All Sky yang dilengkapi dengan kamera CCD itu, berguna untuk memonitor langit secara keseluruhan karena sudut yang dicapai bisa 180 derajat," ujarnya.
Projek penelitian itu merupakan kerja sama antara Malaysia dengan New Zealand. Dipilih Antartika karena di sana selama enam bulan matahari tidak bersinar, dan enam bulan berikutnya matahari bersinar terus. "Dari situ didapat penampakan langit yang berbeda dengan di ekuator (khatulistiwa). Kita bisa memantau perputaran bintang, juga aktivitas aurora di langit selatan," kata Ridwan.
Langit. Kata itulah yang memicu Ridwan untuk menggeluti bidang astronomi. "Dari kecil, saya memang suka melihat langit. Dan ayah saya mendukung kesukaan saya itu," tutur Ridwan.
Dukungan itu berupa hadiah teleskop refraktor 60 mm buatan Jepang. Hidayat Suhari, ayah Ridwan, memberikan hadiah itu saat Ridwan masih berusia 8 tahun. Dengan teleskop itu, Ridwan kecil kian tergila-gila dengan hobinya. Hampir tiap malam ia meneropong langit dari kamar atau loteng rumah di Jln. Sanggar Hurip, Soekarno-Hatta.
Benda langit yang paling ia ingat saat melihat melalui teleskopnya ialah bulan dan Planet Saturnus. "Sebelumnya, lihat nyala bulan saja bagi saya sudah begitu indah. Ketika ada teleskop, saya bisa lihat kawah-kawahnya. Kalau Saturnus, Subhanallah, saya bisa melihat cincinnya itu dengan teleskop. Padahal sebelumnya hanya melihat titik kuningnya saja," tutur Ridwan mengenang.
Sejak di SD yaitu SD Merdeka, hingga bangku SMP di SMP 2, Ridwan terus memperdalam hobinya soal astronomi dengan otodidak, seperti membaca buku-buku soal astronomi. Hobinya kian terarah saat menginjak bangku SMA di SMAN 5 Bandung. Ketika itu ia dikenalkan oleh temannya kepada Prof. Dr. Bambang Hidayat. Ternyata temannya itu masih ada hubungan saudara dengan Bambang Hidayat.
Prof. Dr. Bambang Hidayat adalah astronom terpandang di Indonesia juga di dunia internasional. Meski kini sudah purnabakti dari Departemen Astronomi ITB, tenaganya masih dibutuhkan sebagai dosen luar biasa, atau sumber ilmu bagi mahasiswanya.
"Pak Bambanglah yang menyarankan saya untuk mempelajari ilmu astronomi di luar Indonesia. Makanya saya pergi ke Malaysia yaitu University Kebangsaan Malaysia," ujar Ridwan, yang pernah sekelas dengan pemusik Yofie Widianto saat di SMAN 5.
Di universitas itu, astronomi bukan jurusan tersendiri tapi substudi dari jurusan Fisika. Setelah lulus S-1 di tahun 1992, Ridwan meminta nasihat kepada Prof. Bambang tentang ke mana ia harus meneruskan. "Apakah saya harus kembali ke Indonesia atau tidak. Beliau bilang, 'Kamu jangan terlalu nasionalis. Dapatkan kepakaran di luar. Kalau sudah matang baru pulang'. Begitu katanya," tutur Ridwan.
Ia lalu mengambil S-2 juga di universitas yang sama dengan tesisnya "Pemakaian Kamera CCD Untuk Fotometri Astronomi", dan lulus di tahun 1994. "Sekarang saya berencana ambil S-3. Kalau ada jalan, insya Allah saya mau ambil di Jerman," tuturnya.
Sejak menggeluti astronomi, ia merasa makin dekat dengan Sang Khalik. "Setiap melihat ke langit, memberi ketenangan batin. Dan bagi seorang Muslim, makin mendekatkan kepadaNya karena alam semesta yang cerdas ini pasti ciptaan-Nya. Makin kita pelajari makin sadar kita ini kecil sekali," ujarnya.
Ridwan bermaksud memberi "kesadaran" tersebut kepada anak-anak dari istrinya Anna Mardiana yang seorang lulusan S-2 Pertanian Unpad. "Baru anak pertama saya, Jaish Muhammad, mulai ada minat dengan astronomi. Umurnya 8 tahun, sama seperti saat saya pertama kali tertarik soal astronomi," ucapnya. Untuk itu, teleskop pemberian ayahnya yang masih terawat, Ridwan wariskan kepada Jaish. Ia berharap, melalui teleskop itu anaknya kian tertarik ke astronomi. Dan yang lebih penting, melalui benda itu, Jaish dan tiga anaknya yang lain, kian dekat dengan Yang Maha Segalanya. (EsGe/"PR")***
-
Hak Cipta © 2002 - Pikiran Rakyat Cyber Media
--
Start your day with Yahoo! - make it your home page
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "urangsunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

