Punten sadayana,
 
Artikel sae perkawis stereotip seler sareng konflik antar seler di Indonesia.
 
Diantawisna disebatkeun: "Kejujuran, misalnya, yang juga dinyatakan sebagai sifat utama bagi diri subyek sendiri dan etnik Jawa dan Sunda, tidak sesuai dengan kenyataan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang paling korup di dunia."
 
Lengkepna di: http://neumann.f2o.org/sarlito/stereo2.html. Punten henteu di-Sundakeun.
 
Baktos
Yudi
 
***********************************************
"Yang menarik dari tabel di atas adalah bahwa secara umum bangsa Indonesia distereotipkan sebagai mempunyai beberapa sifat yang baik, tetapi dalam kenyataan pasca reformasi (setelah 1998) justru tidak sesuai dengan fakta yang sesungguhnya. Kejujuran, misalnya, yang juga dinyatakan sebagai sifat utama bagi diri subyek sendiri dan etnik Jawa dan Sunda, tidak sesuai dengan kenyataan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang paling korup di dunia. Demikian juga nasionalisme, tidak sesuai dengan fakta adanya beberapa propinsi (Aceh, Papua, Riau) yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Indonesia.

Hal menarik lain adalah bahwa bangsa Indonesia tidak dianggap sebagai bangsa yang agresif. Dalam tata urut sifat khas gabungan etnik yang diteliti, sifat-sifat yang secara potensial dapat menyebabkan konflik terletak pada urutan yang relatif rendah, antara lain agresif (urutan 10, dari 62 sifat), emosional (15), kasar (18), cepat marah (21), curiga (25), kepala batu (28), dan radikal (46) (Warnaen, 2002: 195). Padahal kenyataan menunjukkan banyaknya kerusuhan, konflik, kriminal, unjuk rasa, main hakim sendiri dan sebagainya yang ditandai dengan kekerasan sampai tingkat sadis (kepala dipenggal di Kalimantan Barat, tukang copet dibakar hidup-hidup dsb.), yang meminta korban ribuan nyawa sejak tahun 1998 sampai saat tulisan ini dibuat.

Sebaliknya, etnik Batak yang distereotipkan sebagai emosional, cepat tersinggung dan keras kepala, justru hampir tidak pernah terlibat dalam konflik dengan kekerasan yang serius. Di sisi lain, orang Maluku memang terlibat konflik berkepanjangan (sejak 1999 sampai saat tulisan ini dibuat) dan dalam tabel di atas pun diberi stereotip kasar, emosional, agresif, dan cepat tersinggung. Tetapi mereka tidak dianggap religius, sementara konflik mereka justru bukan antar etnik, melainkan antar pemeluk agama yang berbeda di dalam etnik yang sama. Demikian pula sifat sangat religius gabungan etnik-etnik terdapat pada urutan ke 34, sementara konflik dan teror di Indonesia (termasuk bom Bali 12 Oktober 2002, bom malam Natal di Jakarta 2000 dan bom malam Idul Fitri di Makasar 2002) justru dilakukan oleh kelompok religius yang radikal, yaitu stereotip pada urutan 46 (Warnaen, 2002: 195)."



--
>> yudi irmawan <<


Yahoo! Mail for Mobile
Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile phone.

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke