Kumaha lamun urang inventarisir tokoh-tokoh sunda anu aya di pamerentahan, politisi, kampus (pengamat), seniman. dll.

Waluya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Prof Sarbini Sumawinata, guru besar emirtus ekonomi UI, ceuk beja mah boga
teureuh Sunda asli, ngan lahirna di Madiun, da kulantaran ramana didamel
di Madiun. Sanajan dina hiji koran, kungsi manehna ngaku yen sacara
budaya, manehna teh "full urang Jawa" sabab lahir jeung gede di kabudayaan
Jawa. Prof Sarbini dina wartos ieu nganjurkeun diayakeun "Revolusi
Kabudayaan". Mangga Nyanggakeun!


Revolusi Prof Sarbini Sumawinata
Oleh: Elly Roosita

Seperti pengakuannya, dia bukan budayawan, tetapi di
refleksi 87 tahun usianya, Profesor Sarbini Sumawinata
menyerukan revolusi kebudayaan. Merombak pemahaman
terhadap ideologi, agama, dan sikap hidup, jika negeri
ini ingin maju.

Bukan tanpa alasan jika guru besar Ilmu Ekonomi
Universitas Indonesia meneriakkan ajakan itu.
”Budaya kita terpuruk. Ini yang membuat kemerosotan
sebagai bangsa. Lakukan revolusi kebudayaan,
tinggalkan yang usang,” katanya di ruang kerjanya di
kantor buletin Business News di Jl Abdul Muis,
Jakarta.

Dalam ideologi, turun-temurun muncul sikap
antikapitalisme tanpa merenungkan benar tidaknya sikap
itu sekarang. Dunia tidak lagi seperti tahun 1848,
saat Karl Marx menulis kerangka pemikiran dan analisis
untuk menilai kapitalisme. Pergolakan besar terjadi.
Revolusi industri, listrik, transportasi, dan
komunikasi mengubah dunia dan kemanusiaan. Marx tidak
mengalaminya. Teorinya bahwa dunia kelak dihuni
orang-orang miskin (proletar) yang tidak memiliki
kekuatan apa pun kecuali badannya, oleh karenanya
berontak, menghancurleburkan masyarakat kapitalis,
tidak terbukti. Kapitalisme tidak runtuh, seperti
prediksi Marx.

”Bukan kapitalisme berubah menjadi baik. Dunia yang
berubah. Kapitalisme tidak mampu lagi melakukan
eksploitasi karena monopoli tidak mungkin lagi,
kompetisi begitu hebat,” ujar Sarbini yang pada
Senin (22/8) memperingati 87 tahun usianya dengan
orasi ”Revolusi Kebudayaan untuk Pembangunan” di
Jakarta. Sarbini lahir di Madiun, 20 Agustus 1918.

Sayangnya, elite politik tidak paham. Sikap
antikapitalisme yang wujudnya anti-AS, anti-Barat,
anti-orang kaya masih menjadi ”jualan” elite
politik. ”Perjuangan ideologinya masih pemikiran
orang miskin,” kata Sarbini yang awal bergulir
reformasi (1998), dalam tulisannya Perjoangan
Kerakyatan mengingatkan, menggulingkan Soeharto tanpa
”mengubur” rezim dan sistem yang dibangun Orde
Baru tidak membawa perubahan ke arah kemajuan bangsa.
Reformasi saja tidak cukup, harus revolusi.

Pandangan dalam beragama pun sama. Seolah ada musuh
yang harus dihadapi bersama, diidentikkan dengan
Barat, AS dan Yahudi. Selain sikap permisif terhadap
pelanggaran, penyelewengan, dan ketidakdisiplinan
bangsa sendiri. Membuat Amerika dan Barat enggan
meneruskan investasinya ke Indonesia, ujar Sarbini
yang turut mendirikan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia
(ISEI) dan menjadi ketuanya (1958).

Bersikap rasional

Apakah Sarbini yang sosialis berubah jadi kapitalis?
Bekerja sama tidak perlu setuju atau jadi antek
kapitalisme. Kita harus rasional. Ekonomi Indonesia
tetap sosialis, bukan kapitalis. Tetapi perlu mereka
untuk bangkit. Mereka yang punya teknologi, modal, dan
peranti untuk maju. China yang komunis saja mau kerja
sama dan luwes terhadap kapitalisme, tegas putra
Soelaiman Soemawinata, pekerja Kantor Pekerjaan Umum
di Madiun.

Sebagai ekonom, dia tidak setenar Soemitro
Djojohadikusumo atau Widjojo Nitisastro yang pernah
jadi menteri. Sarbini memilih di luar. Padahal, dia
yang pertama menyampaikan konsep pembangunan ekonomi
kepada Soeharto sebagai Panglima Kostrad pada Oktober
1965. Ingatan publik terhadap Sarbini adalah ketika
dipenjarakan Orde Baru karena dianggap terlibat
peristiwa Malari (1974).

Belajar di Technische Hogeschool, lalu Sekolah Teknik
Tinggi di Universitas Gadjah Mada, sambil bekerja di
Bagian Perencanaan Kementerian Kemakmuran Yogyakarta.
Menjadi staf KBRI di Belanda dia belajar di Centraal
Plan Bureau. Pindah ke Washington, Sarbini belajar di
Bank Dunia, IMF, Kementerian Pertanian AS, American
University, dan program master di Departemen Ekonomi
Universitas Harvard. Belajar statistik di Badan Pusat
Statistik Kanada, sebelum menjadi Kepala BPS.

Meski ekonom, Sarbini sangat tahu politik. Dia yang
pertama mengingatkan bahaya militerisme, pentingnya
kerja sama sederajat sipil-militer, dan kebebasan
pers, dalam Seminar Angkatan Darat II (1966). Sarbini
menjadi Ketua Tim Politik, meski kemudian mantan
Presiden Soeharto membubarkannya. Seminggu kemudian
dia ditawari posisi Dubes RI di Washington. Dia
menolak dan malah mengusulkan Soedjatmoko. Sarbini
memilih di luar.

Aktivis muda silih berganti datang dan pergi menyerap
kekayaan pengetahuan dan pengalamannya. Tanpa lelah,
Sarbini mendorong perubahan menuju ke arah yang lebih
baik bagi negeri ini. Kita bisa jadi bangsa maju.
Asal, pemimpin dan intelektualnya tidak mengingkari
akal sehatnya, hanya untuk populer. Tinggalkan
pandangan, falsafah, dan sikap usang, yang menghambat
daya kreatif. Buat keputusan yang betul, meski tidak
populer, pesannya.



Start your day with Yahoo! - make it your home page

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




SPONSORED LINKS
Culture Corporate culture Hawaiian culture
Hispanic culture Jewish culture Organizational culture


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke