Have a nice day &
Best Regards
Kang Didi
Profesi yang satu ini bagi banyak orang dianggap rendah karena
hanya
menjual desahan. Tetapi sebenarnya, para perempuan operator
jalur
dewasa itu juga acap berperan sebagai konselor bagi mereka
yang
sedang dihadang persoalan. Paling tidak, mereka adalah teman
ngobrol
yang mengasyikkan, sampai si penelepon sering lupa waktu,
lupa
pulsa, lupa biaya!
Osi, begitu nama panggilan di telepon gadis 28
tahun ini. Nama
sebenarnya adalah Emil. Ia sarjana hukum lulusan sebuah
perguruan
tinggi swasta di Bogor. Pernah bekerja sebagai guru taman
kanak-
kanak, tetapi kemudian keluar dan hampir satu tahun terakhir ini
ia
berprofesi sebagai operator party line yang lebih dikenal
sebagai
penjual desah pada jalur premium 0809XXXXXX.
Abis nyari kerja
susah. Enggak dapet-dapet. Yang ada ini, ya terima
aja dulu. Enggak enak
nganggur, kata gadis yang masih tinggal
bersama orangtuanya di sebuah desa di
Cibinong, Kabupaten Bogor, ini
dalam sebuah percakapan per telepon beberapa
waktu lalu.
Tidak mudah sebenarnya untuk mengorek informasi tentang
jati
dirinya. Diperlukan waktu berkali-kali telepon, barulah dia
sedikit
demi sedikit membuka diri. Saya harus hati-hati. Kalau sudah
tanya-
tanya identitas, ujung-ujungnya ngajak ketemuan. Padahal, di
sini
sangat dilarang kami copy darat (bertemu langsung) dengan
klien,
katanya.
Sangat bisa dimaklumi kenapa copy darat itu dilarang.
Sebab, bisnis
premium call itu pada dasarnya adalah bisnis jualan pulsa.
Semakin
banyak penelepon dan semakin lama berbicara, pendapatan
perusahaan
makin besar. Kalau klien kemudian bertemu langsung dengan
kita-kita,
rugi dong perusahaan, kata perempuan bertubuh kurus itu dalam
sebuah
perjumpaan setelah berkali-kali berbicara lewat telepon.
Pulsa
telepon memang menjadi ukuran berhasil tidaknya seorang
operator party line.
Karena itu, Osi dan kawan-kawan seprofesi
lainnya dituntut pintar berbicara
atau setidaknya memancing orang
supaya berbicara lama di telepon. Tak peduli
siapa yang
meneleponnya. Tak peduli apakah si penelepon itu bos-bos
yang
kebanyakan duit, pegawai rendahan di kantor pemerintah, atau
office
boy di kantor-kantor swasta. Bahkan, juga ketika si penelepon
adalah
anak-anak berusia di bawah 10 tahun sekalipun!
Saya pernah
dapat call dari anak-anak. Tiga anak sekaligus. Kakak-
beradik,
katanya.
Awalnya dia kaget juga mendapat penelepon bocah-bocah yang
usianya
paling tua 10 tahun itu. Bayangkan saja, bocah-bocah kecil
itu
nanyanya sudah yang aneh-aneh. Lalu? Bagi saya yang penting
mereka
ngomong-nya lama. Pelan-pelan saya alihkan pembicaraan ke
hal-hal
yang menyenangkan anak-anak. Saya tanya soal pelajaran, saya
ajak
nyanyi, terus cerita. Pokoknya bagaimana mereka happy,
katanya.
Pernah juga dia mendapat penelepon dari Makassar. Setiap
pagi,
sekitar pukul 06.15, orang itu sudah telepon. Kadang satu
jam,
kadang satu setengah jam. Sampai suatu saat lama sekali orang
itu
tidak lagi telepon. Lalu suatu kali dia telepon lagi, mencari
saya,
dan marah-marah, katanya.
Barulah dia tahu kalau si pelanggan
itu office boy di kantor swasta.
Ia dipecat karena ulahnya membengkakkan
tagihan telepon hingga
belasan jutaan rupiah. Temen-ku malah pernah dapat
caller yang
dipenjara karena membuat tagihan telepon kantornya membengkak,
kata
sulung tiga bersaudara itu.
Di luar cerita-cerita menyedihkan
itu, ada juga cerita yang
menyenangkan. Bukan semata karena meneleponnya
lama, tetapi juga
karena ia sering mendapat kiriman pulsa dan transfer uang
dari si
penelepon.
Swear. Aku belum pernah jumpa sama mereka. Akan
tetapi, mereka suka
ngasih pulsa dan uang, kata gadis yang mengaku harus
menanggung
hidup ibu dan adik-adiknya.
Pelanggan seperti itu, katanya,
selalu saja ada. Mereka umumnya
justru bukan penelepon yang mau menjurus ke
urusan desah-mendesah.
Mereka biasanya orang yang punya masalah dan
merasa senang karena
kami setia mendengarkan keluhannya. Apalagi kalau kami
juga memberi
masukan atau solusi dari apa yang sedang dia hadapi. Jadi
kadang
kami ini memang mirip konselor saja, kata Osi.
Pelanggan baik
hati seperti itu memang tidak banyak. Sebab sebagian
besar (sekitar 70-80
persen) penelepon jalur premium itu memang
maunya bicara esek-esek. Padahal,
pelanggan seperti itu umumnya
hanya bicara sebentar. Seperlunya! Kalau sudah
keluar ya udah.
Putus, kata gadis 165 cm itu sambil cekikikan.
Sistem
target
Memperpanjang pembicaraan adalah tujuan utama para
perempuan
operator party line. Sebab, penghasilan mereka memang
sangat
ditentukan oleh durasi telepon yang berhasil mereka kumpulkan
dalam
satu bulan.
Seorang pemula dengan masa kontrak tiga bulan
ditargetkan mendapat
1.000 menit percakapan. Jika target minimal tercapai, ia
mendapat
gaji Rp 500.000 (tanpa uang transpor dan uang makan).
Kelebihan
durasi percakapan akan diperhitungkan sebagai penghasilan
tambahan
alias bonus.
Jika dalam tiga bulan dia terus mencapai target,
kontraknya
diperpanjang dengan target lebih tinggi (1.500 menit).
Begitu
seterusnya
Pintar-pintar menyiasati
Bagi pelanggan party
line yang suka ngeres, cerita Osi dan
Dindaâ?"juga bukan nama
sebenarnyaâ?"ini mungkin bisa menjadi
gambaran bagaimana sebenarnya para
operator itu melayaninya.
Misalnya saja, mereka bisa mendesah-desah dan
berpura-pura melakukan
apa pun yang dimaui si penelepon, tetapi pada saat
yang sama
sebenarnya si operator sedang sibuk sendiri. Entah
menulis,
menggambar, ber-SMS-an dengan temannya, atau bahkan ngobrol
dengan
temannya lewat bahasa-bahasa tubuh.
Berbagai cara dilakukan
para operator untuk memuaskan pelanggan,
tetapi soal durasi percakapan tetap
harus dijaga agar lama. Untuk
itu diperlukan strategi dan teknik menghindar
ala jinak-jinak
merpati.
Kalau klien (sebutan untuk penelepon) sudah
on, saya izin mau pipis
dulu, kata Osi. Tak lupa gaya minta izinnya dibuat
seolah ia sudah
kalah duluan. Lelaki kan senang kalau kami sampai duluan,
katanya
manja.
Soal fantasi, pelanggan party line itu jago-jago
sehingga
permintaannya pun aneh-aneh. Biasanya, lelaki di seberang
telepon
minta si operator melakukan sesuatu sesuai dengan fantasinya.
Dari
sekadar kissing, melepas baju, retsleting, dan seterusnya
dan
seterusnya.
Para operator juga tak kalah pintar menyiasatinya.
Kalau dia minta
saya buka retsleting, saya tarik tas ke gagang telepon.
Lalu
retsletingnya saya buka. Sreeet.... Si penelepon pun lama
terdiam.
Saya enggak tahu pengalaman imajinatif seperti apa yang dia
bangun,
kata Dinda yang sarjana lulusan perguruan tinggi ternama di
Jakarta
Barat.
Tak sampai di situ, bahkan soal gaya pun para penelepon
suka
mengaturnya. Di telepon sih kami bilang iya, sudah, terus....,
tapi
sebenarnya saya sambil potong kukulah, corat-coretlah, kata
Emil.
Bukan hanya itu, selera si klien pun macam-macam. Pernah
Dinda
ditanya apakah dirinya masih perawan. Jujur dia katakan
masih.
Tiba-tiba telepon diputus. Rupanya, si penelepon ingin
dilayani
operator yang janda. Barangkali saja dia punya pengalaman
mendalam
dengan janda sehingga begitu terobsesi,
katanya.
----------------
Salam dan Tetap
Semangat!
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "urangsunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

