kenging 'ngorowot' tina KOMPAS.co.id poe ieu....
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0509/07/Sosok/2021775.htm

kaci nya kang Ush..
========================


Uu Nasrullah, Tukang Kredit Jadi Ahli Sutra


Oleh: Yenti Aprianti

Selama 25 tahun, Uu Nasrullah (61) berkeliling pulau sebagai tukang
kredit. Kini ia dikenal sebagai ahli sutra dan dijadikan guru oleh para
petani di berbagai provinsi dan mahasiswa. Rumah biliknya sering
dikunjungi ahli sutra dari berbagai negara.

Ini dari petani di Bengkulu. Mereka ingin mengabari saya bahwa mereka
sudah bisa membuat benang sutra, kata Uu sambil mengeluarkan benang sutra
dari sebuah amplop coklat. Uu sering diundang ke beberapa provinsi untuk
melatih petani ulat sutra.

Ahli sutra seperti dari China, Pakistan, Sri Lanka, Laos, Thailand,
Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Jepang, Australia, Amerika Serikat,
Belanda, dan Kanada juga masih terus mendatanginya.

Kalau datang, mereka selalu menggelengkan kepala. Takjub pada kualitas
sutra Indonesia yang mereka sebut sebagai sutra terbaik karena mengkilau,
benangnya rata, dan panjangnya bisa mencapai 1.500 meter. Padahal sutra di
negara lain panjangnya hanya mencapai 800 meter, tutur Uu.

Uu sudah mulai bekerja sejak usia 14 tahun. Saat itu ayahnya meninggal
sehingga ia harus membantu ibu dan adik-adiknya. Seperti kebanyakan lelaki
dari Desa Cipondok, Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya, Uu pun
pergi merantau, bekerja sebagai tukang kredit.

Ia mengkreditkan barang apa saja. Tidak hanya di kota-kota di Jawa Barat,
tetapi juga sampai Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera, dan
Kalimantan. Setelah menikah, istri dan anaknya tinggal di kampung. Uu
hanya pulang saat Lebaran. Di perantauan, Uu sering gelisah, teringat
nasib keluarga.

Dulu untuk menelepon sulit. Surat sering terlambat sampai sebulan, tutur
Uu. Tak heran, baru saja ia menerima surat bahwa anaknya sakit, tiba-tiba
datang kabar anaknya sudah meninggal. Sebetulnya anak saya tujuh. Tapi
anak kedua hingga kelima meninggal karena sakit pada usia satu atau tiga
tahun. Keluarga di kampung tidak bisa membawanya berobat karena tidak
punya uang, ujar suami Muntikah (52) ini.

Pulang kampung

Tahun 1982, Uu pulang kampung dan tersadarkan bahwa begitu luas lahan
tidur di kampungnya. Uu bertekad berhenti menjadi tukang kredit, dan
bertani. Pertama dia menanam apa saja sebelum beralih ke murbei, yang
menjadi makanan ulat sutra.

Ia mulai dengan menanam murbei pada lahan seluas tiga hektar. Usahanya
ternyata maju. Kepompong ulat sutranya diterima oleh sebuah perusahaan
benang sutra besar di Jawa Barat.

Karena permintaan meningkat, Uu melatih petani lain yang hanya menanami
lahannya dengan singkong untuk beralih pada murbei. Begitulah, dia
berhasil mengaktifkan 1.022 hektar lahan tidur di Kabupaten Tasikmalaya.
Ada ratusan petani dari hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya
yang terlibat dalam pertanian ini.

Tahun 1985 dia mendirikan Koperasi Sabilulungan III. Mereka memiliki alat
pemintalan dan penenunan yang didapat dari bantuan pemerintah. Sayangnya,
pemintalan dan penenunan kurang berjalan efisien karena koperasi tidak
memiliki uang untuk membeli kepompong dari petani. Itulah sebabnya dia
giat membuat proposal untuk menarik investor serta meminta pertolongan
dari dinas-dinas di pemerintahan.

Meskipun sudah tua, saya harus terus bekerja. Saya belum tenang kalau
petani belum sejahtera. Saya juga sangat menyayangkan jika mereka yang
sudah kembali ke kampung terpaksa urbanisasi lagi. Sementara puluhan ribu
lahan tidur masih belum tergarap di kabupaten Tasikmalaya, ujar Uu yang
menyayangkan betapa sulit mendapatkan modal kerja di negeri ini.

Kini karena kekurangan modal, koperasi yang dikelolanya hanya mampu
membuat 500 meter kain sutra per bulan. Padahal, kapasitas produksi di
pabrik sutranya mencapai 10.000 meter per bulan.

Kain sutra itu ia jual ke beberapa desainer di Jakarta, Bandung, dan
Cirebon. Mereka pesan sampai ratusan hingga ribuan meter. Tapi kami baru
sanggup memberinya 50-100 meter saja per orang, ujar Uu sambil terkekeh,
menertawakan nasib yang masih kurang menguntungkannya.

Tawa Uu makin keras saat menceritakan tawaran ekspor dari Singapura yang
meminta 25.000 meter dan Australia yang meminta satu kontainer. Permintaan
banyak sekali. Apa daya, tangan saya tak sampai, ujar Uu sambil mengangkat
tangan tinggi-tinggi.

Karena keahliannya di bidang sutra, kakek yang hanya lulusan kelas III
sekolah rakyat ini pernah juga ditawari untuk mendapat gelar doktor
honoris causa dari sebuah universitas di Amerika.

Uu menolak mentah-mentah. Ah, buat apa? Bikin malu saja. Ngomong Inggris
saja saya enggak bisa, ujar Uu sambil berdiri di muka rumahnya yang
berdinding bilik.

mj

http://geocities.com/mangjamal





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke