saurna dewi ciptraresmi atanapi disebat dyah pitaloka tea...


Saturday, October 1, 2005, 9:54:19 AM, you wrote:
---
ds> pami teu lepat mah nami puteri-na teh Dyah Pitaloka...


ds> ----- Original Message ----- 
ds> From: ":: Yayan Mulyana ::" <[EMAIL PROTECTED]>
ds> To: <[email protected]>; <[email protected]>
ds> Sent: Monday, 03 October, 2005 07:13
ds> Subject: [Urang Sunda] (unknown)


>> punteun ach bilih teu acan aya nu maca
>> http://www.tocatch.info/id/Kidung_Sunda.htm#Lihat_pula
>>
>> Kidung Sunda adalah sebuah karya sastra dalam bahasa
>> Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) dan
>> kemungkinan besar berasal dari Bali. Dalam kidung ini
>> dikisahkan prabu Hayam Wuruk dari Majapahit yang ingin
>> mencari seorang permaisuri, kemudian beliau
>> menginginkan putri Sunda yang dalam cerita ini tak
>> memiliki nama. Namun patih Gajah Mada tidak suka
>> karena orang Sunda dianggapnya harus tunduk kepada
>> orang Majapahit (baca orang Jawa). Kemudian terjadi
>> perang besar-besaran di Bubat, pelabuhan di mana
>> orang-orang Sunda mendarat. Dalam peristiwa ini orang
>> Sunda kalah dan putri Sunda yang merasa pilu akhirnya
>> bunuh diri.
>>
>>
>> Daftar Isi
>> 1 Versi kidung Sunda
>> 2 Ringkasan
>> 2.1 Pupuh I
>> 2.2 Pupuh II (Durma)
>> 2.3 Pupuh III (Sinom)
>> 3 Analisis
>> 4 Penulisan
>> 5 Beberapa cuplikan teks
>> 5.1 Gajah Mada yang dimaki-maki oleh utusan Sunda
>> (bait 1. 66b - 1. 68 a.)
>> 5.2 Raja Sunda yang menolak syarat-syarat Majapahit
>> (bait 2.69 - 2.71)
>> 5.3 Prabu Hayam Wuruk yang meratapi Putri Sunda yang
>> telah tewas (bait 3.29 - 3. 33)
>> 6 Referensi
>> 7 Lihat pula
>>
>>
>>
>>
>>
>> Versi kidung Sunda
>> Seorang pakar Belanda bernama Prof Dr. C.C. Berg,
>> menemukan beberapa versi KS. Dua di antaranya pernah
>> dibicarakan dan diterbitkannya:
>>
>> Kidung Sunda
>> Kidung Sundâyana (Perjalanan (orang) Sunda)
>> Kidung Sunda yang pertama disebut di atas, lebih
>> panjang daripada Kidung Sundâyana dan mutu
>> kesusastraannya lebih tinggi dan versi iniliah yang
>> dibahas dalam artikel ini.
>>
>>
>> Ringkasan
>> Perhatian: Bagian di bawah ini mungkin akan
>> membeberkan isi cerita atau akhir kisahnya.
>> Di bawah ini disajikan ringkasan dari Kidung Sunda.
>> Ringkasan dibagi per pupuh.
>>
>>
>> Pupuh I
>> Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang
>> permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim
>> utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk
>> mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa
>> lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik
>> hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri
>> Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke
>> sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya.
>> Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk,
>> raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak
>> menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan
>> mereka belum menikah.
>>
>> Maka Sri Baginda Hayam Wuruk tertarik dengan lukisan
>> putri Sunda. Kemudian prabu Hayam Wuruk menyuruh
>> Madhu, seorang mantri ke tanah Sunda untuk melamarnya.
>>
>> Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam
>> hari kemudian menghadap raja Sunda. Sang raja senang,
>> putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut.
>> Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak berkomentar.
>>
>> Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan
>> raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak
>> lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali
>> iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya
>> adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil.
>>
>>
>> Kapal jung. Ada kemungkinan rombongan orang Sunda
>> menaiki kapal semacam ini.
>> Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda
>> buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda
>> adalah sebuah "jung Tatar (Mongolia/China) seperti
>> banyak dipakai semenjak perang Wijaya." (bait 1. 43a.)
>>
>> Sementara di Majapahit sendiri mereka sibuk
>> mempersiapkan kedatangan para tamu. Maka sepuluh hari
>> kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa
>> rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk
>> beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka. Tetapi
>> patih Gajah Mada tidak setuju. Beliau berkata bahwa
>> tidaklah seyogyanya seorang maharaja Majapahit
>> menyonsong seorang raja berstatus raja vazal seperti
>> Raja Sunda. Siapa tahu dia seorang musuh yang
>> menyamar.
>>
>> Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat
>> menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem
>> keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat
>> mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan.
>>
>> Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar
>> kabar burung tentang perkembangan terkini di
>> Majapahit. Maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya,
>> patih Anepak&#283;n untuk pergi ke Majapahit. Beliau
>> disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka
>> langsung datang ke rumah patih Gajah Mada. Di sana
>> beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak
>> pulang dan mengira prabu Hayam Wuruk ingkar janji.
>> Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan
>> supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya
>> vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi
>> pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh
>> Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah
>> utusan raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan
>> terakhir raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua
>> hari.
>>
>> Sementara raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak
>> bersedia berlaku seperti layaknya seorang vazal. Maka
>> beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk
>> gugur seperti seorang ksatria. Demi membela
>> kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi
>> dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka
>> akan mengikutinya dan membelanya.
>>
>> Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan
>> menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi
>> mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani
>> sang raja.
>>
>>
>> Pupuh II (Durma)
>> Maka semua sudah siap siaga. Utusan dikirim ke
>> perkemahan orang Sunda dengan membawa surat yang
>> berisikan syarat-syarat Majapahit. Orang Sunda pun
>> menolaknya dengan marah dan perang tidak dapat
>> dihindarkan.
>>
>> Tentara Majapahit terdiri dari prajurit-prajurit biasa
>> di depan, kemudian para pejabat keraton, Gajah Mada
>> dan akhirnya prabu Hayam Wuruk dan kedua pamannya.
>>
>> Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit
>> banyak yang gugur. Tetapi akhirnya hampir semua orang
>> Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit.
>> Anepak&#283;n dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan
>> raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja
>> Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira
>> Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara
>> maayt-mayat serdadu Sunda. Kemudian ia lolos dan
>> melaporkan keadaan kepada ratu dan putri Sunda. Mereka
>> bersedih hati dan kemudian bunuh diri. Semua istri
>> para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan
>> bunuh diri massal di atas jenazah-jenazah suami
>> mereka.
>>
>>
>> Pupuh III (Sinom)
>> Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan
>> peperangan ini. Beliau kemudian menuju ke pesanggaran
>> putri Sunda. Tetapi putri Sunda sudah tewas. Maka
>> prabu Hayam Wurukpun meratapinya ingin dipersatukan
>> dengan wanita idamannya ini.
>>
>> Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan
>> mendoakan para arwah dilaksanakan. Tidak selang lama,
>> maka mangkatlah pula prabu Hayam Wuruk yang merana.
>>
>> Setelah beliau diperabukan dan semua upacara keagamaan
>> selesai, maka berundinglah kedua pamannya. Mereka
>> menyalahkan Gajah Mada atas malapetaka ini. Maka
>> mereka ingin menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian
>> bergegaslah mereka datang ke kepatihan. Saat itu patih
>> Gajah Mada sadar bahwa waktunya telah tiba. Maka
>> beliau mengenakan segala upakara (perlengkapan)
>> upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau
>> menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan
>> (niskala).
>>
>> Maka raja Kahuripan dan raja Daha, yang mirip "Siwa
>> dan Buddha" berpulang ke negara mereka karena
>> Majapahit mengingatkan mereka akan peristiwa memilukan
>> yang terjadi.
>>
>>
>> Analisis
>> Kidung Sunda harus dianggap sebagai karya sastra, dan
>> bukan sebuah kronik sejarah yang akurat, meski
>> kemungkinan besar tentunya bisa berdasarkan kejadian
>> faktual.
>>
>> Secara garis besar bisa dikatakan bahwa cerita yang
>> dikisahkan di sini, gaya bahasanya lugas dan lancar.
>> Tidak berbelit-belit seperti karya sastra sejenis.
>> Kisahnya memadukan unsur-unsur romantis dan dramatis
>> yang memikat. Dengan penggunaan gaya bahasa yang
>> hidup, para protagonis cerita ini bisa hidup. Misalkan
>> adegan orang-orang Sunda yang memaki-maki patih Gajah
>> Mada bisa dilukiskan secara hidup, meski kasar. Lalu
>> Prabu Hayam Wuruk yang meratapi Putri Sunda bisa
>> dilukiskan secara indah yang membuat para pembaca
>> terharu.
>>
>> Kemudian cerita yang dikisahkan dalam Kidung Sunda
>> juga bisa dikatakan logis dan masuk akal. Semuanya
>> bisa saja terjadi, kecuali mungkin moksanya patih
>> Gajah Mada. Hal ini juga bertentangan dengan
>> sumber-sumber lainnya, seperti kakawin
>> Nagarakretagama, lihat pula bawah ini.
>>
>> Perlu dikemukakan bahwa sang penulis cerita ini lebih
>> berpihak pada orang Sunda dan seperti sudah
>> dikemukakan, seringkali bertentangan dengan
>> sumber-sumber lainnya. Seperti tentang wafat prabu
>> Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada, penulisannya berbeda
>> dengan kakawin Nagarakretagama.
>>
>> Kemudian ada sebuah hal yang menarik, nampaknya dalam
>> kidung Sunda, nama raja, ratu dan putri Sunda tidak
>> disebut. Putri Sunda dalam sumber lain sering disebut
>> bernamakan Dyah Pitaloka.
>>
>> Satu hal yang menarik lagi ialah bahwa dalam teks
>> dibedakan pengertian antara Nusantara dan tanah Sunda.
>> Orang-orang Sunda dianggap bukan orang Nusantara,
>> kecuali oleh patih Gajah Mada. Sedangkan yang disebut
>> sebagai orang-orang Nusantara adalah: orang Palembang,
>> orang Tumasik (Singapura), Madura, Bali, Koci (?),
>> Wandan (Maluku), Tanjungpura (Banjarmasin) dan
>> Sawakung (?) (contoh bait 1. 54 b.) . Hal ini juga
>> sesuai dengan kakawin Nagarakretagama di mana tanah
>> Sunda tak disebut sebagai wilayah Majapahit di mana
>> mereka harus membayar upeti. Tapi di Nagarakretagama,
>> Madura juga tak disebut.
>>
>>
>> Penulisan
>> Semua naskah kidung Sunda yang dibicarakan di artikel
>> ini, berasal dari Bali. Tetapi tidak jelas apakah teks
>> ini ditulis di Jawa atau di Bali.
>>
>> Kemudian nama penulis tidaklah diketahui pula. Masa
>> penulisan juga tidak diketahui dengan pasti. Di dalam
>> teks disebut-sebut tentang senjata api, tetapi ini
>> tidak bisa digunakan untuk menetapkan usia teks. Sebab
>> orang Indonesia sudah mengenal senjata api minimal
>> sejak datangnya bangsa Portugis di Nusantara, yaitu
>> pada tahun 1511. Kemungkinan besar orang Indonesia
>> sudah mengenalnya lebih awal, dari bangsa Tionghoa.
>> Sebab sewaktu orang Portugis mendarat di Maluku,
>> mereka disambut dengan tembakan kehormatan.
>>
>>
>> Beberapa cuplikan teks
>> Di bawah ini disajikan beberapa cuplikan teks dalam
>> bahasa Jawa dengan alihbahasa dalam bahasa Indonesia.
>> Teks diambil dari edisi C.C. Berg (1927) dan ejaan
>> disesuaikan.
>>
>>
>> Gajah Mada yang dimaki-maki oleh utusan Sunda (bait 1.
>> 66b - 1. 68 a.)
>> Ih angapa, Gajah Mada, agung wuwusmu i kami, ngong iki
>> mangkw angaturana sira sang rajaputri, adulurana
>> bakti, mangkana rakwa kar&#283;pmu, pada lan Nusantara
>> dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring
>> yuda.
>> Abasa lali po kita nguni duk kita an&#283;kani jurit,
>> amrang pradesa ring gunung, &#283;nti ramening yuda,
>> wong Sunda kagingsir, wong Jipang amburu, praptâpatih
>> Sunda apulih, rusak wadwamu gingsir.
>> Mantrimu kalih tinigas anama L&#283;s Beleteng
>> ang&#283;masi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang,
>> amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan
>> pating bur&#283;ngik, padâmalakw ing urip.
>> Mangke agung kokohanmu, uwabmu lwir ntuting gasir,
>> kaya purisya tinilar ing asu, mengkene kahar&#283;pta,
>> tan pracura juti, ndi sasana tinutmu gurwaning
>> dustârusuh, dadi angapusi sang sadubudi, patitânêng
>> niraya atmamu t&#283;mbe yen antu.
>> Alihbahasa:
>>
>> "Wahai Gajah Mada, apa maksudnya engkau bermulut besar
>> terhadap kami? Kita ini sekarang ingin membawa Tuan
>> Putri, sementara engkau menginginkan kami harus
>> membawa bakti? Sama seperti dari Nusantara. Kita lain,
>> kita orang Sunda, belum pernah kami kalah berperang.
>> Seakan-akan lupa engkau dahulu kala, ketika engkau
>> berperang, bertempur di daerah-daerah pegunungan.
>> Sungguh dahsyat peperangannya, diburu orang Jipang.
>> Kemudian patih Sunda datang kembali dan bala tentaramu
>> mundur.
>> Kedua mantrimu yang bernama L&#283;s dan Beleteng
>> diparang dan mati. Pasukanmu bubar dan melarikan diri.
>> Ada yang jatuh di jurang dan terkena duri-duri. Mereka
>> mati bagaikan kera, siamang dan setan. Di mana-mana
>> mereka merengek-rengek minta tetap hidup.
>> Sekarang, besar juga kata-katamu. Bau mulutmu seperti
>> kentut jangkrik, seperti tahi anjing. Sekarang maumu
>> itu tidak sopan dan berkhianat. Ajaran apa yang kau
>> ikuti selain engkau ingin menjadi guru yang berdusta
>> dan berbuat buruk. Menipu orang berbudi syahdu. Jiwamu
>> akan jatuh ke neraka, jika mati!"
>>
>> Raja Sunda yang menolak syarat-syarat Majapahit (bait
>> 2.69 - 2.71)
>> [...], yan kitâw&#277;dîng pati, lah age mar&#277;ka,
>> i j&#277;ng sri naranata, aturana jiwa bakti,
>> wangining s&#277;mbah, sira sang nataputri.
>> Wahu karungu denira sri narendra, bangun runtik ing
>> ati, ah kita potusan, warah&#277;n tuhanira, nora
>> ngong mar&#277;ka malih, angat&#277;rana, iki sang
>> rajaputri.
>> Mong kari sasisih bahune wong Sunda, r&#277;mpak kang
>> kanan keri, norengsun ahulap, rin&#277;bateng
>> paprangan, sr&#277;ng&#277;n si rakryan apatih, kaya
>> siniwak, karnasula angapi.
>> Alihbahasa:
>>
>> [...], jika engkau takut mati, datanglah segera
>> menghadap Sri Baginda (Hayam Wuruk) dan haturkan bukti
>> kesetianmu, keharuman sembahmu dengan menghaturkan
>> beliau sang Tuan Putri.
>> Maka ini terdengar oleh Sri Raja <Sunda> dan beliau
>> menjadi murka: "Wahai kalian para duta! Laporkan
>> kepada tuanmu bahwa kami tidak akan menghadap lagi
>> menghantarkan Tuan Putri!"
>> "Meskipun orang-orang Sunda tinggal satu tangannya,
>> atau hancur sebelah kanan dan kiri, tiada akan 'silau'
>> beta!". Sang Tuan Patih juga marah, seakan-akan robek
>> telinganya mendengarkan (kata-kata pedas orang
>> Majapahit).
>>
>> Prabu Hayam Wuruk yang meratapi Putri Sunda yang telah
>> tewas (bait 3.29 - 3. 33)
>> Sireñanira tinañan, unggwani sang rajaputri,
>> tinuduhak&#283;n aneng made sira wont&#283;n aguling,
>> mara sri narapati, kat&#283;mu sira akukub,
>> per&#283;mas natar ijo, ingungkabak&#283;n tumuli,
>> kagyat sang nata dadi at&#283;mah laywan.
>> W&#283;n&#283;sning muka angraras, netra dum&#283;ling
>> sadidik, kang lati angrawit katon, kengisning waja
>> amanis, anrang rumning srigading, kadi anapa pukulun,
>> ngke pangeran mar&#283;ka, tinghal kamanda
>> punyaningsun pukulun, mangke prapta angajawa.
>> Sang tan sah aneng swacita, ning rama rena inisti,
>> marmaning par&#283;ng prapta kongang mangkw
>> at&#283;mah kayêki, yan si prapta kang wingi, bangiwen
>> pangeraningsun, pilih kari ag&#283;sang, kawula mangke
>> pinanggih, lah palalun, pangdaning Widy angawasa.
>> Palar-palar&#283;n ing j&#283;mah, pangeran sida
>> kapanggih, asisihan eng paturon, tan kalangan ing
>> duskr&#283;ti, sida kâptining rawit, mwang rena kalih
>> katuju, lwir mangkana panapanira sang uwus alalis,
>> sang sinambrama l&#283;ngl&#283;ng amrati cita.
>> Sangsaya lara kagagat, p&#283;t&#283;ng rasanikang
>> ati, kapati sira sang katong, kang tangis mangkin
>> gumirih, lwir guruh ing katrini, matag
>> pan&#283;d&#283;ng ing santun, awor swaraning kumbang,
>> tangising wong lanang istri,
>> ar&#283;r&#283;b-r&#283;r&#283;b pawraning g&#283;lung
>> lukar.
>> Alihbahasa:
>>
>> Maka ditanyalah dayang-dayang di manakah gerangan
>> tempat Tuan Putri. Diberilah tahu berada di tengah ia,
>> tidur. Maka datanglah Sri Baginda, dan melihatnya
>> tertutup kain berwarna hijau keemasan di atas tanah.
>> Setelah dibuka, terkejutlah sang Prabu karena sudah
>> menjadi mayat.
>> Pucat mukanya mempesona, matanya sedikit membuka,
>> bibirnya indah dilihat, gigi-giginya yang tak tertutup
>> terlihat manis, seakan menyaingi keindahan sri gading.
>> Seakan-akan ia menyapa: "Sri Paduka, datanglah ke
>> mari. Lihatlah kekasihnda (?), berbakti, Sri Baginda,
>> datang ke tanah Jawa.
>> Yang senantiasa berada di pikiran ayah dan ibu, yang
>> sangat mendambakannya, itulah alasannya mereka ikut
>> datang. Sekarang jadinya malah seperti ini. Jika
>> datang kemarin dulu, wahai Rajaku, mungkin <hamba>
>> masih hidup dan sekarang dinikahkan. Aduh sungguh
>> kejamlah kuasa Tuhan!
>> Mari kita harap wahai Raja, supaya berhasil menikah,
>> berdampingan di atas ranjang tanpa dihalang-halangi
>> niat buruk. Berhasillah kemauan bapak dan ibu,
>> keduanya." Seakan-akan begitulah ia yang telah tewas
>> menyapanya. Sedangkan yang disapa menjadi bingung dan
>> merana.
>> Semakin lama semakin sakit rasa penderitaannya.
>> Hatinya terasa gelap, beliau sang Raja semakin merana.
>> Tangisnya semakin keras, bagaikan guruh di bulan
>> Ketiga*, yang membuka kelopak bunga untuk mekar,
>> bercampur dengan suara kumbang. Begitulah tangis para
>> pria dan wanita, rambut-rambut yang lepas terurai
>> bagaikan kabut.
>> *Bulan Ketiga kurang lebih jatuh pada bulan September,
>> yang masih merupakan musim kemarau. Jadi suara guruh
>> pada bulan ini merupakan suatu hal yang tidak lazim.
>>
>>
>> Referensi
>> C.C. Berg, 1927, 'Kidung Sunda. Inleiding, tekst,
>> vertaling en aanteekeningen'. BKI 83: 1 - 161.
>> C.C. Berg, 1928, Inleiding tot de studie van het
>> Oud-Javaansch (Kidung Sund&#257;yana). Soerakarta: De
>> Bliksem.
>> Sri Sukesi Adiwimarta, 1999, 'Kidung Sunda (Sastra
>> Daerah Jawa)', Antologi Sastra Daerah Nusantara, kaca
>> 93-121. Jakarta: Yayasan Obor. ISBN 979-461-333-9
>> P.J. Zoetmulder, 1983, Kalangwan. Sastra Jawa Kuno
>> Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan. (hal. 528-532)
>>
>> Lihat pula
>> Sastra Jawa
>> Halaman berkategori: Majapahit | Sastra Jawa
>> Pertengahan | Sunda
>>
>>
>>
>> Kidung Sunda ! #
>>
>> www.figureout.info
>> forum.figureout.info
>> Online Books
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> All text is available under the terms of the GNU Free
>> Documentation License
>> This page is cache of Wikipedia
>>
>>
>>
>>
>>
>> ___________________________________________________________
>> How much free photo storage do you get? Store your holiday
>> snaps for FREE with Yahoo! Photos http://uk.photos.yahoo.com
>>
>>
>>
>> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
>>
>> Yahoo! Groups Links
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> 




ds> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
ds> Yahoo! Groups Links



 




  





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke