saurna dewi ciptraresmi atanapi disebat dyah pitaloka tea...
Saturday, October 1, 2005, 9:54:19 AM, you wrote: --- ds> pami teu lepat mah nami puteri-na teh Dyah Pitaloka... ds> ----- Original Message ----- ds> From: ":: Yayan Mulyana ::" <[EMAIL PROTECTED]> ds> To: <[email protected]>; <[email protected]> ds> Sent: Monday, 03 October, 2005 07:13 ds> Subject: [Urang Sunda] (unknown) >> punteun ach bilih teu acan aya nu maca >> http://www.tocatch.info/id/Kidung_Sunda.htm#Lihat_pula >> >> Kidung Sunda adalah sebuah karya sastra dalam bahasa >> Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) dan >> kemungkinan besar berasal dari Bali. Dalam kidung ini >> dikisahkan prabu Hayam Wuruk dari Majapahit yang ingin >> mencari seorang permaisuri, kemudian beliau >> menginginkan putri Sunda yang dalam cerita ini tak >> memiliki nama. Namun patih Gajah Mada tidak suka >> karena orang Sunda dianggapnya harus tunduk kepada >> orang Majapahit (baca orang Jawa). Kemudian terjadi >> perang besar-besaran di Bubat, pelabuhan di mana >> orang-orang Sunda mendarat. Dalam peristiwa ini orang >> Sunda kalah dan putri Sunda yang merasa pilu akhirnya >> bunuh diri. >> >> >> Daftar Isi >> 1 Versi kidung Sunda >> 2 Ringkasan >> 2.1 Pupuh I >> 2.2 Pupuh II (Durma) >> 2.3 Pupuh III (Sinom) >> 3 Analisis >> 4 Penulisan >> 5 Beberapa cuplikan teks >> 5.1 Gajah Mada yang dimaki-maki oleh utusan Sunda >> (bait 1. 66b - 1. 68 a.) >> 5.2 Raja Sunda yang menolak syarat-syarat Majapahit >> (bait 2.69 - 2.71) >> 5.3 Prabu Hayam Wuruk yang meratapi Putri Sunda yang >> telah tewas (bait 3.29 - 3. 33) >> 6 Referensi >> 7 Lihat pula >> >> >> >> >> >> Versi kidung Sunda >> Seorang pakar Belanda bernama Prof Dr. C.C. Berg, >> menemukan beberapa versi KS. Dua di antaranya pernah >> dibicarakan dan diterbitkannya: >> >> Kidung Sunda >> Kidung Sundâyana (Perjalanan (orang) Sunda) >> Kidung Sunda yang pertama disebut di atas, lebih >> panjang daripada Kidung Sundâyana dan mutu >> kesusastraannya lebih tinggi dan versi iniliah yang >> dibahas dalam artikel ini. >> >> >> Ringkasan >> Perhatian: Bagian di bawah ini mungkin akan >> membeberkan isi cerita atau akhir kisahnya. >> Di bawah ini disajikan ringkasan dari Kidung Sunda. >> Ringkasan dibagi per pupuh. >> >> >> Pupuh I >> Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang >> permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim >> utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk >> mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa >> lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik >> hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri >> Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke >> sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. >> Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, >> raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak >> menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan >> mereka belum menikah. >> >> Maka Sri Baginda Hayam Wuruk tertarik dengan lukisan >> putri Sunda. Kemudian prabu Hayam Wuruk menyuruh >> Madhu, seorang mantri ke tanah Sunda untuk melamarnya. >> >> Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam >> hari kemudian menghadap raja Sunda. Sang raja senang, >> putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. >> Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak berkomentar. >> >> Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan >> raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak >> lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali >> iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya >> adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil. >> >> >> Kapal jung. Ada kemungkinan rombongan orang Sunda >> menaiki kapal semacam ini. >> Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda >> buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda >> adalah sebuah "jung Tatar (Mongolia/China) seperti >> banyak dipakai semenjak perang Wijaya." (bait 1. 43a.) >> >> Sementara di Majapahit sendiri mereka sibuk >> mempersiapkan kedatangan para tamu. Maka sepuluh hari >> kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa >> rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk >> beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka. Tetapi >> patih Gajah Mada tidak setuju. Beliau berkata bahwa >> tidaklah seyogyanya seorang maharaja Majapahit >> menyonsong seorang raja berstatus raja vazal seperti >> Raja Sunda. Siapa tahu dia seorang musuh yang >> menyamar. >> >> Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat >> menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem >> keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat >> mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan. >> >> Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar >> kabar burung tentang perkembangan terkini di >> Majapahit. Maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya, >> patih Anepakěn untuk pergi ke Majapahit. Beliau >> disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka >> langsung datang ke rumah patih Gajah Mada. Di sana >> beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak >> pulang dan mengira prabu Hayam Wuruk ingkar janji. >> Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan >> supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya >> vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi >> pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh >> Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah >> utusan raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan >> terakhir raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua >> hari. >> >> Sementara raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak >> bersedia berlaku seperti layaknya seorang vazal. Maka >> beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk >> gugur seperti seorang ksatria. Demi membela >> kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi >> dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka >> akan mengikutinya dan membelanya. >> >> Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan >> menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi >> mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani >> sang raja. >> >> >> Pupuh II (Durma) >> Maka semua sudah siap siaga. Utusan dikirim ke >> perkemahan orang Sunda dengan membawa surat yang >> berisikan syarat-syarat Majapahit. Orang Sunda pun >> menolaknya dengan marah dan perang tidak dapat >> dihindarkan. >> >> Tentara Majapahit terdiri dari prajurit-prajurit biasa >> di depan, kemudian para pejabat keraton, Gajah Mada >> dan akhirnya prabu Hayam Wuruk dan kedua pamannya. >> >> Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit >> banyak yang gugur. Tetapi akhirnya hampir semua orang >> Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. >> Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan >> raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja >> Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira >> Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara >> maayt-mayat serdadu Sunda. Kemudian ia lolos dan >> melaporkan keadaan kepada ratu dan putri Sunda. Mereka >> bersedih hati dan kemudian bunuh diri. Semua istri >> para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan >> bunuh diri massal di atas jenazah-jenazah suami >> mereka. >> >> >> Pupuh III (Sinom) >> Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan >> peperangan ini. Beliau kemudian menuju ke pesanggaran >> putri Sunda. Tetapi putri Sunda sudah tewas. Maka >> prabu Hayam Wurukpun meratapinya ingin dipersatukan >> dengan wanita idamannya ini. >> >> Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan >> mendoakan para arwah dilaksanakan. Tidak selang lama, >> maka mangkatlah pula prabu Hayam Wuruk yang merana. >> >> Setelah beliau diperabukan dan semua upacara keagamaan >> selesai, maka berundinglah kedua pamannya. Mereka >> menyalahkan Gajah Mada atas malapetaka ini. Maka >> mereka ingin menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian >> bergegaslah mereka datang ke kepatihan. Saat itu patih >> Gajah Mada sadar bahwa waktunya telah tiba. Maka >> beliau mengenakan segala upakara (perlengkapan) >> upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau >> menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan >> (niskala). >> >> Maka raja Kahuripan dan raja Daha, yang mirip "Siwa >> dan Buddha" berpulang ke negara mereka karena >> Majapahit mengingatkan mereka akan peristiwa memilukan >> yang terjadi. >> >> >> Analisis >> Kidung Sunda harus dianggap sebagai karya sastra, dan >> bukan sebuah kronik sejarah yang akurat, meski >> kemungkinan besar tentunya bisa berdasarkan kejadian >> faktual. >> >> Secara garis besar bisa dikatakan bahwa cerita yang >> dikisahkan di sini, gaya bahasanya lugas dan lancar. >> Tidak berbelit-belit seperti karya sastra sejenis. >> Kisahnya memadukan unsur-unsur romantis dan dramatis >> yang memikat. Dengan penggunaan gaya bahasa yang >> hidup, para protagonis cerita ini bisa hidup. Misalkan >> adegan orang-orang Sunda yang memaki-maki patih Gajah >> Mada bisa dilukiskan secara hidup, meski kasar. Lalu >> Prabu Hayam Wuruk yang meratapi Putri Sunda bisa >> dilukiskan secara indah yang membuat para pembaca >> terharu. >> >> Kemudian cerita yang dikisahkan dalam Kidung Sunda >> juga bisa dikatakan logis dan masuk akal. Semuanya >> bisa saja terjadi, kecuali mungkin moksanya patih >> Gajah Mada. Hal ini juga bertentangan dengan >> sumber-sumber lainnya, seperti kakawin >> Nagarakretagama, lihat pula bawah ini. >> >> Perlu dikemukakan bahwa sang penulis cerita ini lebih >> berpihak pada orang Sunda dan seperti sudah >> dikemukakan, seringkali bertentangan dengan >> sumber-sumber lainnya. Seperti tentang wafat prabu >> Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada, penulisannya berbeda >> dengan kakawin Nagarakretagama. >> >> Kemudian ada sebuah hal yang menarik, nampaknya dalam >> kidung Sunda, nama raja, ratu dan putri Sunda tidak >> disebut. Putri Sunda dalam sumber lain sering disebut >> bernamakan Dyah Pitaloka. >> >> Satu hal yang menarik lagi ialah bahwa dalam teks >> dibedakan pengertian antara Nusantara dan tanah Sunda. >> Orang-orang Sunda dianggap bukan orang Nusantara, >> kecuali oleh patih Gajah Mada. Sedangkan yang disebut >> sebagai orang-orang Nusantara adalah: orang Palembang, >> orang Tumasik (Singapura), Madura, Bali, Koci (?), >> Wandan (Maluku), Tanjungpura (Banjarmasin) dan >> Sawakung (?) (contoh bait 1. 54 b.) . Hal ini juga >> sesuai dengan kakawin Nagarakretagama di mana tanah >> Sunda tak disebut sebagai wilayah Majapahit di mana >> mereka harus membayar upeti. Tapi di Nagarakretagama, >> Madura juga tak disebut. >> >> >> Penulisan >> Semua naskah kidung Sunda yang dibicarakan di artikel >> ini, berasal dari Bali. Tetapi tidak jelas apakah teks >> ini ditulis di Jawa atau di Bali. >> >> Kemudian nama penulis tidaklah diketahui pula. Masa >> penulisan juga tidak diketahui dengan pasti. Di dalam >> teks disebut-sebut tentang senjata api, tetapi ini >> tidak bisa digunakan untuk menetapkan usia teks. Sebab >> orang Indonesia sudah mengenal senjata api minimal >> sejak datangnya bangsa Portugis di Nusantara, yaitu >> pada tahun 1511. Kemungkinan besar orang Indonesia >> sudah mengenalnya lebih awal, dari bangsa Tionghoa. >> Sebab sewaktu orang Portugis mendarat di Maluku, >> mereka disambut dengan tembakan kehormatan. >> >> >> Beberapa cuplikan teks >> Di bawah ini disajikan beberapa cuplikan teks dalam >> bahasa Jawa dengan alihbahasa dalam bahasa Indonesia. >> Teks diambil dari edisi C.C. Berg (1927) dan ejaan >> disesuaikan. >> >> >> Gajah Mada yang dimaki-maki oleh utusan Sunda (bait 1. >> 66b - 1. 68 a.) >> Ih angapa, Gajah Mada, agung wuwusmu i kami, ngong iki >> mangkw angaturana sira sang rajaputri, adulurana >> bakti, mangkana rakwa karěpmu, pada lan Nusantara >> dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring >> yuda. >> Abasa lali po kita nguni duk kita aněkani jurit, >> amrang pradesa ring gunung, ěnti ramening yuda, >> wong Sunda kagingsir, wong Jipang amburu, praptâpatih >> Sunda apulih, rusak wadwamu gingsir. >> Mantrimu kalih tinigas anama Lěs Beleteng >> angěmasi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang, >> amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan >> pating burěngik, padâmalakw ing urip. >> Mangke agung kokohanmu, uwabmu lwir ntuting gasir, >> kaya purisya tinilar ing asu, mengkene kaharěpta, >> tan pracura juti, ndi sasana tinutmu gurwaning >> dustârusuh, dadi angapusi sang sadubudi, patitânêng >> niraya atmamu těmbe yen antu. >> Alihbahasa: >> >> "Wahai Gajah Mada, apa maksudnya engkau bermulut besar >> terhadap kami? Kita ini sekarang ingin membawa Tuan >> Putri, sementara engkau menginginkan kami harus >> membawa bakti? Sama seperti dari Nusantara. Kita lain, >> kita orang Sunda, belum pernah kami kalah berperang. >> Seakan-akan lupa engkau dahulu kala, ketika engkau >> berperang, bertempur di daerah-daerah pegunungan. >> Sungguh dahsyat peperangannya, diburu orang Jipang. >> Kemudian patih Sunda datang kembali dan bala tentaramu >> mundur. >> Kedua mantrimu yang bernama Lěs dan Beleteng >> diparang dan mati. Pasukanmu bubar dan melarikan diri. >> Ada yang jatuh di jurang dan terkena duri-duri. Mereka >> mati bagaikan kera, siamang dan setan. Di mana-mana >> mereka merengek-rengek minta tetap hidup. >> Sekarang, besar juga kata-katamu. Bau mulutmu seperti >> kentut jangkrik, seperti tahi anjing. Sekarang maumu >> itu tidak sopan dan berkhianat. Ajaran apa yang kau >> ikuti selain engkau ingin menjadi guru yang berdusta >> dan berbuat buruk. Menipu orang berbudi syahdu. Jiwamu >> akan jatuh ke neraka, jika mati!" >> >> Raja Sunda yang menolak syarat-syarat Majapahit (bait >> 2.69 - 2.71) >> [...], yan kitâwĕdîng pati, lah age marĕka, >> i jĕng sri naranata, aturana jiwa bakti, >> wangining sĕmbah, sira sang nataputri. >> Wahu karungu denira sri narendra, bangun runtik ing >> ati, ah kita potusan, warahĕn tuhanira, nora >> ngong marĕka malih, angatĕrana, iki sang >> rajaputri. >> Mong kari sasisih bahune wong Sunda, rĕmpak kang >> kanan keri, norengsun ahulap, rinĕbateng >> paprangan, srĕngĕn si rakryan apatih, kaya >> siniwak, karnasula angapi. >> Alihbahasa: >> >> [...], jika engkau takut mati, datanglah segera >> menghadap Sri Baginda (Hayam Wuruk) dan haturkan bukti >> kesetianmu, keharuman sembahmu dengan menghaturkan >> beliau sang Tuan Putri. >> Maka ini terdengar oleh Sri Raja <Sunda> dan beliau >> menjadi murka: "Wahai kalian para duta! Laporkan >> kepada tuanmu bahwa kami tidak akan menghadap lagi >> menghantarkan Tuan Putri!" >> "Meskipun orang-orang Sunda tinggal satu tangannya, >> atau hancur sebelah kanan dan kiri, tiada akan 'silau' >> beta!". Sang Tuan Patih juga marah, seakan-akan robek >> telinganya mendengarkan (kata-kata pedas orang >> Majapahit). >> >> Prabu Hayam Wuruk yang meratapi Putri Sunda yang telah >> tewas (bait 3.29 - 3. 33) >> Sireñanira tinañan, unggwani sang rajaputri, >> tinuduhakěn aneng made sira wontěn aguling, >> mara sri narapati, katěmu sira akukub, >> perěmas natar ijo, ingungkabakěn tumuli, >> kagyat sang nata dadi atěmah laywan. >> Wěněsning muka angraras, netra duměling >> sadidik, kang lati angrawit katon, kengisning waja >> amanis, anrang rumning srigading, kadi anapa pukulun, >> ngke pangeran marěka, tinghal kamanda >> punyaningsun pukulun, mangke prapta angajawa. >> Sang tan sah aneng swacita, ning rama rena inisti, >> marmaning parěng prapta kongang mangkw >> atěmah kayêki, yan si prapta kang wingi, bangiwen >> pangeraningsun, pilih kari agěsang, kawula mangke >> pinanggih, lah palalun, pangdaning Widy angawasa. >> Palar-palarěn ing jěmah, pangeran sida >> kapanggih, asisihan eng paturon, tan kalangan ing >> duskrěti, sida kâptining rawit, mwang rena kalih >> katuju, lwir mangkana panapanira sang uwus alalis, >> sang sinambrama lěnglěng amrati cita. >> Sangsaya lara kagagat, pětěng rasanikang >> ati, kapati sira sang katong, kang tangis mangkin >> gumirih, lwir guruh ing katrini, matag >> paněděng ing santun, awor swaraning kumbang, >> tangising wong lanang istri, >> arěrěb-rěrěb pawraning gělung >> lukar. >> Alihbahasa: >> >> Maka ditanyalah dayang-dayang di manakah gerangan >> tempat Tuan Putri. Diberilah tahu berada di tengah ia, >> tidur. Maka datanglah Sri Baginda, dan melihatnya >> tertutup kain berwarna hijau keemasan di atas tanah. >> Setelah dibuka, terkejutlah sang Prabu karena sudah >> menjadi mayat. >> Pucat mukanya mempesona, matanya sedikit membuka, >> bibirnya indah dilihat, gigi-giginya yang tak tertutup >> terlihat manis, seakan menyaingi keindahan sri gading. >> Seakan-akan ia menyapa: "Sri Paduka, datanglah ke >> mari. Lihatlah kekasihnda (?), berbakti, Sri Baginda, >> datang ke tanah Jawa. >> Yang senantiasa berada di pikiran ayah dan ibu, yang >> sangat mendambakannya, itulah alasannya mereka ikut >> datang. Sekarang jadinya malah seperti ini. Jika >> datang kemarin dulu, wahai Rajaku, mungkin <hamba> >> masih hidup dan sekarang dinikahkan. Aduh sungguh >> kejamlah kuasa Tuhan! >> Mari kita harap wahai Raja, supaya berhasil menikah, >> berdampingan di atas ranjang tanpa dihalang-halangi >> niat buruk. Berhasillah kemauan bapak dan ibu, >> keduanya." Seakan-akan begitulah ia yang telah tewas >> menyapanya. Sedangkan yang disapa menjadi bingung dan >> merana. >> Semakin lama semakin sakit rasa penderitaannya. >> Hatinya terasa gelap, beliau sang Raja semakin merana. >> Tangisnya semakin keras, bagaikan guruh di bulan >> Ketiga*, yang membuka kelopak bunga untuk mekar, >> bercampur dengan suara kumbang. Begitulah tangis para >> pria dan wanita, rambut-rambut yang lepas terurai >> bagaikan kabut. >> *Bulan Ketiga kurang lebih jatuh pada bulan September, >> yang masih merupakan musim kemarau. Jadi suara guruh >> pada bulan ini merupakan suatu hal yang tidak lazim. >> >> >> Referensi >> C.C. Berg, 1927, 'Kidung Sunda. Inleiding, tekst, >> vertaling en aanteekeningen'. BKI 83: 1 - 161. >> C.C. Berg, 1928, Inleiding tot de studie van het >> Oud-Javaansch (Kidung Sundāyana). Soerakarta: De >> Bliksem. >> Sri Sukesi Adiwimarta, 1999, 'Kidung Sunda (Sastra >> Daerah Jawa)', Antologi Sastra Daerah Nusantara, kaca >> 93-121. Jakarta: Yayasan Obor. ISBN 979-461-333-9 >> P.J. Zoetmulder, 1983, Kalangwan. Sastra Jawa Kuno >> Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan. (hal. 528-532) >> >> Lihat pula >> Sastra Jawa >> Halaman berkategori: Majapahit | Sastra Jawa >> Pertengahan | Sunda >> >> >> >> Kidung Sunda ! # >> >> www.figureout.info >> forum.figureout.info >> Online Books >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> All text is available under the terms of the GNU Free >> Documentation License >> This page is cache of Wikipedia >> >> >> >> >> >> ___________________________________________________________ >> How much free photo storage do you get? Store your holiday >> snaps for FREE with Yahoo! Photos http://uk.photos.yahoo.com >> >> >> >> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id >> >> Yahoo! Groups Links >> >> >> >> >> >> >> >> ds> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id ds> Yahoo! Groups Links ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

