Punten kabaraya sadayana upami aya nu lepat panglereskeun, mugia aya mangfa'atna keu urang sarerea, Amien...... (teu disundakeun)
Tansah Ustad Leboy Tea Puasa itu ibadah pribadi Ada peribahasa "sambil menyelam minum air". Waktu saya kecil, masih belajar puasa, peribahasa itu dipelesetkan menjadi "sambil berwudu minum air" ....:-) Lama-lama ayah curiga, melihat anak-anaknya setelah wudu dan salat, jadi lebih segar dan bibirnya tidak kering lagi. Atau mungkin ayah juga waktu kecil melakukan hal yang sama, berarti ini penyakit keturunan ....:-D Satu hari ketika saya memijat ayah dengan cara menginjak-injak kaki ayah yang menelungkup, ayah bertanya apakah saya minum ketika berwudu. Saya mengaku dan ayah tidak marah tapi memberi tahu bahwa puasa ini ibadah pribadi, sangat pribadi karena yang mengetahui apakah seseorang berpuasa hanya dirinya sendiri dan Allah. Ayah juga mengingatkan bahwa minum air mentah itu tidak sehat, di beberapa negara memang air sudah dalam keadaan bersih dan siap minum, tapi di Indonesia walaupun jernih, air ledeng itu masih tidak siap minum. Dalam Surat Al Baqarah 183, dijelaskan bahwa tujuan puasa itu untuk lebih bertakwa. Dalam ayat-ayat awal surat Al Baqarah dijelaskan 5 ciri-ciri orang yang bertakwa. Dari ciri-ciri ketakwaan itu, keyakinan kepada yang gaib, mendapatkan penanaman dan peneguhan yang utama melalui ibadah puasa. Prof.Dr. Nurcholish Madjid (semoga Allah SWT memberi kesembuhan kepada Cak Nur yang masih terbaring sakit di National University Hospital, Singapura), berpendapat bahwa dari semua bentuk ibadah, puasa adalah ibadah yang paling pribadi, personal atau private, tanpa kemungkinan bagi orang lain untuk dapat sepenuhnya melihat, mengetahui, dan -apalagi- menilainya. Sebuah hadis qudsi menuturkan firman Allah, "Puasa adalah untuk-Ku semata, dan Akulah yang menanggung pahalanya." Artinya, pada dasarnya tidak ada yang tahu bahwa seseorang berpuasa, selain Allah (dan dirinya sendiri). Pertanyaannya kemudian, mengapa orang berpuasa, padahal dia dapat membatalkannya kapan saja dia mau, pada saat dia sendirian. Mengapa orang bersedia menahan lapar dan dahaga serta pemenuhan kebutuhan biologis lainnya, padahal dia bisa melakukan semua itu kapan saja secara pribadi dan rahasia atau sembunyi-sembunyi, tanpa diketahui orang lain. Jawabannya adalah karena dia mempunyai keyakinan bahwa Allah selalu menyertai, melihat dan mengawasinya. Dia tidak akan melanggar suatu larangan sekalipun dia dalam keadaan sendirian tanpa ada sesama manusia yang tahu, karena Dia yang secara gaib selalu hadir bersamanya, yaitu Allah subhan-a Allah-u wa ta'ala. Kesadaran bahwa apapun yang dilakukan, baik ataupun buruk, sebesar dzarah (atom)-pun, Allah akan mengetahui dan memperhitungkannya (Al Zalzalah 7-8). Allah juga beserta manusia di manapun dia berada, dan Allah mengetahui segala sesuatu yang dia kerjakan (Al Hadiid 4). Allah juga mengetahui apapun yang ada di langit dan bumi. Allah selalu bersama mereka di manapun mereka berada. Pada hari kiamat, Dia akan beberkan kepada mereka segala hal yang dikerjakan mereka. Sesungguhnya Allah Mahatahu atas segala sesuatu (Al Mujaadilah 7). Dengan puasa yang dijalankan dengan kesadaran yang mendalam akan kehadiran Allah dalam hidup ini, seseorang dilatih untuk mampu menahan diri, menahan diri dari dorongan dan desakan memenuhi kebutuhan biologis yang menjelma menjadi dorongan "hawa nafsu". Seperti yang dijelaskan dalam satu hadis, "Barang siapa tidak meninggalkan perkataan palsu dan pengamalannya, dan (tidak meninggalkan) kebodohan (kejahatan)-nya, maka Allah tidak peduli bahwa orang itu tidak makan dan tidak minum (puasa)." Artinya bila seseorang berpuasa tidak makan minum tapi tetap melakukan amal buruk seperti berbohong, menyebarkan fitnah, menyakiti orang lain, dan lain-lain, maka Allah tidak peduli kepada puasanya. Sia-sia saja ibadah puasanya. Semoga kita semua bisa berpuasa dengan benar, melakukannya dengan kesadaran kehadiran Allah. A. Yasmina ====================================================================== Keberkahan Sahur 'Makan sahurlah, sebab dalam sahur ada keberkahan' [HR Bukhari, Muslim] Kandungan Hadits : Y Keberkahan berarti : turunnya kebaikan dari Allah, bertambahnya kebaikan dan pahala serta kemanfaatannya di dunia dan akhirat. Y Diantara keberkahan sahur : 1. Menyambut perintah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam 2. Syiar umat Islam 3. Menyelisihi Ahlul Kitab 4. Menambah kekuatan untuk berbuat ketaatan 5. Mendapatkan rahmat dari Allah 6. 'Mendapatkan do'a dari Malaikat' 7. Waktu sahur adalah waktu yang berkah 8. "Waktu istighfar yang utama" 9. Membantu menegakkan sholat subuh berjamaah di masjid Y Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat atas orang-orang yang makan sahur' [HR Ibnu Hibban, Ath Thabrani, dihasankan oleh Syaikh Albani]. Sumber : Ramadhan Durusun wa 'Ibar Tarbiyatun wa Asrar, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd ====================================================================== MENINGKATKAN AMAL IBADAT DI SEPULUH HARI TERAKHIR BULAN RAMADAN Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu 'Ala Rasulillah, Wa'ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah Bulan Ramadan adalah bulan yang mulia dan bulan yang mendapat kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan rasulNya. Oleh kerana itu, ibadah yang dilakukan di dalam bulan Ramadan itu mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda daripada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Daripada Salman Radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah : "Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada Allah dengan suatu perkerjaan kebajikan di dalamnya (bulan Ramadan), samalah dia seperti orang menunaikan satu fardhu di bulan yang lain. Dan barangsiapa yang menunaikan satu fardhu di dalam bulan Ramadan, samalah seperti orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan yang lain." (Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah) Rasullullah Sallallahu 'alaihi wasallam sendiri di dalam bulan Ramadan meningkatkan berbagai bentuk ibadah, lebih-lebih lagi di sepuluh terakhir bulan Ramadan. Bahkan diriwayatkan, bahawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pada sepuluh terakhir bulan Ramadan, Baginda bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadat yang mana perkara ini tidak dilakukan oleh Baginda di bulan-bulan yang lain. Daripada Aisyah Radhiallahu 'anha berkata: "Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh (mengerjakan amal ibadat) di puluhan yang terakhir (bulan Ramadan), apa yang baginda tidak kerjakan di puluhan terakhir (bulan-bulan) yang lain." (Hadits riwayat Muslim) Adapun sebab penekanan dan peningkatan yang dilakukan oleh Rasulullah dalam melakukan ibadat di sepuluh terakhir bulan Ramadan ini ialah ada hubungkaitnya dengan satu malam iaitu malam Lailatulqadar. Malam Lailatulqadar adalah suatu malam yang paling utama di antara malam-malam yang ada di bulan Ramadan bahkan sepanjang tahun. Ia adalah malam yang penuh keberkatan dan mempunyai keistimewaan. Melakukan amal ibadat di malam tersebut adalah lebih baik ganjarannya dari melakukan amal ibadat selama seribu bulan. Firman Allah di dalam surah Al-Qadr ayat 3: "Malam Lailatulqadar itu lebih baik dari seribu bulan." Manakala diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu daripada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mengerjakan ibadat di malam Lailatulqadar kerana imannya kepada Allah dan kerana mengharapkan keredaanNya nescaya diampunkan dosanya yang telah lalu." Menurut Jumhur ulama, malam Lailatulqadar itu berlaku di salah satu malam sepuluh yang terakhir bulan Ramadan dan besar kemungkinan ianya berlaku pada malam berangka ganjil di antara malam-malam yang sepuluh itu. Ini adalah berdasarkan daripada riwayat Abu Sa'id Al-Khudri Radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maka kamu carilah Lailatulqadar itu pada sepuluh terakhir (bulan Ramadan) dan carilah ia pada tiap-tiap malam yang ganjil." (Hadits riwayat Bukhari) Maka oleh kerana itu, Apabila masuk sahaja sepuluh terakhir bulan Ramadan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam meningkatkan dengan bersungguh-sungguh dalam menghidupkan berbagai-bagai ibadat bagi menyambut kedatangan malam Lailatulqadar itu. Di antara perkara-perkara yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di sepuluh terakhir bulan Ramadan sebagai menyambut kedatangan Lailatulqadar ialah melakukan iktikaf. Diriwayatkan daripada Abdullah bin Umar Radhiallahu 'anhuma berkata: "Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam beriktikaf di sepuluh terakhir dari bulan Ramadan." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim) Iktikaf adalah suatu sunnah yang sangat tinggi nilainya. Ia boleh mewujudkan suasana kejiwaan yang mengarah kepada pemusatan fikiran kepada beribadat untuk menambahkan dan menebalkan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, kerana orang yang beriktikaf di dalam masjid itu adalah orang yang menahan dirinya dari melakukan perkara dosa. Dengan itu dia adalah orang yang sedang berada dalam peribadatan selagi mana dia di dalam keadaan beriktikaf sekalipun dia tidak melakukan apa-apa jenis ibadah yang lain di dalam iktikafnya itu. Bahkan orang yang beriktikaf itu diberi ganjaran dengan dilakukan kepadanya seperti orang yang melakukan kebaikan sebagaimana yang diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkata perihal orang yang beriktikaf, dia adalah menahan perbuatan dosa, dan dilakukan kepadanya perbuatan baik seperti orang yang melakukan kebaikan semuanya." (Hadits riwayat Ibnu Majah) Di sepuluh terakhir bulan Ramadan juga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menghidupkan malam-malamnya dengan berjaga melakukan berbagai-bagai amal ibadat melebihi yang biasa baginda lakukan di malam-malam yang lain. Di samping itu juga Baginda membangunkan ahli keluarganya daripada tidur untuk melakukan ibadat. Diriwayatkan daripada Ali bin Abi Talib karramallahu wajhahu berkata: "Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam adalah baginda itu membangunkan ahli keluarganya pada sepuluh terakhir daripada bulan Ramadan." (Hadits riwayat Tirmidzi) Di dalam riwayat yang lain, daripada Aisyah Radhiallahu 'anha berkata: "Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam apabila masuk sahaja sepuluh (yang terakhir bulan Ramadan), baginda mengikat pinggangnya (bersungguh-sungguh untuk melakukan amal ibadat), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya." (Hadits riwayat Bukhari) Maka dari itu, sebagai mengambil contoh yang dilakukan oleh Rasulullah Shallalllahu 'alaihi wasallam, sepatutnya orang-orang Islam di setiap malam sepuluh terakhir bulan Ramadan hendaklah meningkatkan amal ibadat dan sentiasa mengerjakan amal salih bagi menyambut kedatangan malam Lailatulqadar, bukannya meningkatkan menguruskan hal-hal keduniaan sehingga bukan sahaja peningkatan amal ibadah tidak dapat di lakukan bahkan amal ibadat sunat yang biasa dilakukan seperti tarawih dan membaca Al-Quran di bulan Ramadan berkurang atau pun yang lebih menyedihkan lagi tidak dilakukan langsung. Sungguhpun perkara-perkara tersebut adalah sunat saja hukumnya, tetapi pada hakikatnya kita memang berhajat kepada amal ibadat yang sunat bagi menampung kekurangan-kekurangan yang terdapat di dalam amal ibadat yang fardhu. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya perkara yang mula-mula sekali dihisab amal seseorang itu di hari Kiamat ialah sembahyangnya. Jika sembahyangnya itu baik maka berbahagialah dan berjayalah dia. Jika sembahyangnya itu rosak maka berdukacitalah dan rugilah dia. Jika terdapat sesuatu kekurangan daripada sembahyang fardhunya, Allah 'Azza wa Jalla berfirman (kepada para malaikat): "Kamu lihatlah, adakah bagi hambaku itu (melakukan) daripada sembahyang sunat untuk disempurnakan dengannya apa yang kurang daripada sembahyang fardhu, kemudian demikian juga berlaku kepada semua amalan (fardhunya yang lain)." (Hadits riwayat Tirmidzi) Sesungguhnya Allah yang memfardhukan perkara-perkara yang fardhu memang mengetahui bahawa hamba-hambaNya akan melakukan kecacatan dan kekurangan di dalam menunaikan perkara yang fardhu itu. Oleh itu di samping perkara-perkara yang fardhu disyariatkanNya juga kepada mereka perkara-perkara yang sunat untuk menampal kekurangan dan kecacatan yang ada itu. Maka kerana itu apabila ada sembahyang fardhu maka ada disyariatkan di sana sembahyang sunat, apabila ada sedekah yang fardhu (zakat) maka ada disyariatkan di sana sedekah yang sunat, apabila ada puasa yang wajib maka ada disyariatkan di sana puasa yang sunat dan apabila ada haji dan umrah yang wajib maka ada disyariatkan di sana haji dan puasa yang sunat. Oleh itu di samping memelihara dengan baik perkara-perkara yang fardhu itu, maka janganlah dipandang ringan terhadap amalan-amalan yang sunat. Rebutlah peluang meningkatkan amal ibadat terutama sekali di sepuluh terakhir di bulan Ramadan yang hanya datang sekali setahun. -----wallohu a'lam bish-shawab----- ====================================================================== MENINGKATKAN AMAL IBADAT DI SEPULUH HARI TERAKHIR BULAN RAMADAN Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu 'Ala Rasulillah, Wa'ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah Bulan Ramadan adalah bulan yang mulia dan bulan yang mendapat kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan rasulNya. Oleh kerana itu, ibadah yang dilakukan di dalam bulan Ramadan itu mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda daripada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Daripada Salman Radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah : "Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada Allah dengan suatu perkerjaan kebajikan di dalamnya (bulan Ramadan), samalah dia seperti orang menunaikan satu fardhu di bulan yang lain. Dan barangsiapa yang menunaikan satu fardhu di dalam bulan Ramadan, samalah seperti orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan yang lain." (Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah) Rasullullah Sallallahu 'alaihi wasallam sendiri di dalam bulan Ramadan meningkatkan berbagai bentuk ibadah, lebih-lebih lagi di sepuluh terakhir bulan Ramadan. Bahkan diriwayatkan, bahawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pada sepuluh terakhir bulan Ramadan, Baginda bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadat yang mana perkara ini tidak dilakukan oleh Baginda di bulan-bulan yang lain. Daripada Aisyah Radhiallahu 'anha berkata: "Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh (mengerjakan amal ibadat) di puluhan yang terakhir (bulan Ramadan), apa yang baginda tidak kerjakan di puluhan terakhir (bulan-bulan) yang lain." (Hadits riwayat Muslim) Adapun sebab penekanan dan peningkatan yang dilakukan oleh Rasulullah dalam melakukan ibadat di sepuluh terakhir bulan Ramadan ini ialah ada hubungkaitnya dengan satu malam iaitu malam Lailatulqadar. Malam Lailatulqadar adalah suatu malam yang paling utama di antara malam-malam yang ada di bulan Ramadan bahkan sepanjang tahun. Ia adalah malam yang penuh keberkatan dan mempunyai keistimewaan. Melakukan amal ibadat di malam tersebut adalah lebih baik ganjarannya dari melakukan amal ibadat selama seribu bulan. Firman Allah di dalam surah Al-Qadr ayat 3: "Malam Lailatulqadar itu lebih baik dari seribu bulan." Manakala diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu daripada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mengerjakan ibadat di malam Lailatulqadar kerana imannya kepada Allah dan kerana mengharapkan keredaanNya nescaya diampunkan dosanya yang telah lalu." Menurut Jumhur ulama, malam Lailatulqadar itu berlaku di salah satu malam sepuluh yang terakhir bulan Ramadan dan besar kemungkinan ianya berlaku pada malam berangka ganjil di antara malam-malam yang sepuluh itu. Ini adalah berdasarkan daripada riwayat Abu Sa'id Al-Khudri Radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maka kamu carilah Lailatulqadar itu pada sepuluh terakhir (bulan Ramadan) dan carilah ia pada tiap-tiap malam yang ganjil." (Hadits riwayat Bukhari) Maka oleh kerana itu, Apabila masuk sahaja sepuluh terakhir bulan Ramadan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam meningkatkan dengan bersungguh-sungguh dalam menghidupkan berbagai-bagai ibadat bagi menyambut kedatangan malam Lailatulqadar itu. Di antara perkara-perkara yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di sepuluh terakhir bulan Ramadan sebagai menyambut kedatangan Lailatulqadar ialah melakukan iktikaf. Diriwayatkan daripada Abdullah bin Umar Radhiallahu 'anhuma berkata: "Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam beriktikaf di sepuluh terakhir dari bulan Ramadan." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim) Iktikaf adalah suatu sunnah yang sangat tinggi nilainya. Ia boleh mewujudkan suasana kejiwaan yang mengarah kepada pemusatan fikiran kepada beribadat untuk menambahkan dan menebalkan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, kerana orang yang beriktikaf di dalam masjid itu adalah orang yang menahan dirinya dari melakukan perkara dosa. Dengan itu dia adalah orang yang sedang berada dalam peribadatan selagi mana dia di dalam keadaan beriktikaf sekalipun dia tidak melakukan apa-apa jenis ibadah yang lain di dalam iktikafnya itu. Bahkan orang yang beriktikaf itu diberi ganjaran dengan dilakukan kepadanya seperti orang yang melakukan kebaikan sebagaimana yang diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkata perihal orang yang beriktikaf, dia adalah menahan perbuatan dosa, dan dilakukan kepadanya perbuatan baik seperti orang yang melakukan kebaikan semuanya." (Hadits riwayat Ibnu Majah) Di sepuluh terakhir bulan Ramadan juga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menghidupkan malam-malamnya dengan berjaga melakukan berbagai-bagai amal ibadat melebihi yang biasa baginda lakukan di malam-malam yang lain. Di samping itu juga Baginda membangunkan ahli keluarganya daripada tidur untuk melakukan ibadat. Diriwayatkan daripada Ali bin Abi Talib karramallahu wajhahu berkata: "Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam adalah baginda itu membangunkan ahli keluarganya pada sepuluh terakhir daripada bulan Ramadan." (Hadits riwayat Tirmidzi) Di dalam riwayat yang lain, daripada Aisyah Radhiallahu 'anha berkata: "Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam apabila masuk sahaja sepuluh (yang terakhir bulan Ramadan), baginda mengikat pinggangnya (bersungguh-sungguh untuk melakukan amal ibadat), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya." (Hadits riwayat Bukhari) Maka dari itu, sebagai mengambil contoh yang dilakukan oleh Rasulullah Shallalllahu 'alaihi wasallam, sepatutnya orang-orang Islam di setiap malam sepuluh terakhir bulan Ramadan hendaklah meningkatkan amal ibadat dan sentiasa mengerjakan amal salih bagi menyambut kedatangan malam Lailatulqadar, bukannya meningkatkan menguruskan hal-hal keduniaan sehingga bukan sahaja peningkatan amal ibadah tidak dapat di lakukan bahkan amal ibadat sunat yang biasa dilakukan seperti tarawih dan membaca Al-Quran di bulan Ramadan berkurang atau pun yang lebih menyedihkan lagi tidak dilakukan langsung. Sungguhpun perkara-perkara tersebut adalah sunat saja hukumnya, tetapi pada hakikatnya kita memang berhajat kepada amal ibadat yang sunat bagi menampung kekurangan-kekurangan yang terdapat di dalam amal ibadat yang fardhu. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya perkara yang mula-mula sekali dihisab amal seseorang itu di hari Kiamat ialah sembahyangnya. Jika sembahyangnya itu baik maka berbahagialah dan berjayalah dia. Jika sembahyangnya itu rosak maka berdukacitalah dan rugilah dia. Jika terdapat sesuatu kekurangan daripada sembahyang fardhunya, Allah 'Azza wa Jalla berfirman (kepada para malaikat): "Kamu lihatlah, adakah bagi hambaku itu (melakukan) daripada sembahyang sunat untuk disempurnakan dengannya apa yang kurang daripada sembahyang fardhu, kemudian demikian juga berlaku kepada semua amalan (fardhunya yang lain)." (Hadits riwayat Tirmidzi) Sesungguhnya Allah yang memfardhukan perkara-perkara yang fardhu memang mengetahui bahawa hamba-hambaNya akan melakukan kecacatan dan kekurangan di dalam menunaikan perkara yang fardhu itu. Oleh itu di samping perkara-perkara yang fardhu disyariatkanNya juga kepada mereka perkara-perkara yang sunat untuk menampal kekurangan dan kecacatan yang ada itu. Maka kerana itu apabila ada sembahyang fardhu maka ada disyariatkan di sana sembahyang sunat, apabila ada sedekah yang fardhu (zakat) maka ada disyariatkan di sana sedekah yang sunat, apabila ada puasa yang wajib maka ada disyariatkan di sana puasa yang sunat dan apabila ada haji dan umrah yang wajib maka ada disyariatkan di sana haji dan puasa yang sunat. Oleh itu di samping memelihara dengan baik perkara-perkara yang fardhu itu, maka janganlah dipandang ringan terhadap amalan-amalan yang sunat. Rebutlah peluang meningkatkan amal ibadat terutama sekali di sepuluh terakhir di bulan Ramadan yang hanya datang sekali setahun. -----wallohu a'lam bish-shawab----- ====================================================================== 5 Harapan Allah ttg Puasa penulis : M Din Syamsuddin Bismillaahirrahmaanirrahiim, Mungkin ada yang bertanya, mengapa ALLAH Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya masih berharap kepada manusia, bukankah DIA tidak memerlukan apa-apa dari makhluk-NYA? Namun, ternyata ALLAH menaruh harapan atas kaum beriman. Lima harapan ALLAH itu terungkap dalam rangkaian ayat tentang puasa dan Ramadhan (al Baqarah: 183-189), yaitu dalam bentuk 'kalimat harapan' (la'alla) yang terdapat pada akhir beberapa ayat tersebut. Dalam perspektif Bahasa Arab, la'alla, secara harfiah berarti mudah-mudahan atau semoga, merupakan harapan faktual dan potensial, yakni bahwa harapan itu berdasarkan fakta-fakta yang ada dalam diri yang diharapkan dan karenanya sangat mungkin terlaksana. Harapan pertama, (akhir ayat 183), la'allakum tattaqun, semoga kamu menjadi orang bertakwa, dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah puasa. Bahwa, shaimin dan shaimat diharapkan dapat meraih predikat ketakwaan, tentu melalui proses aktif dan dinamis dalam suatu keberagaman yang berorientasi pada sikap menjadi (to be) daripada sekadar memiliki (to have). Harapan kedua (akhir ayat 185), la'allakum tasykurun, semoga kamu menjadi orang bersyukur, berhubungan antara lain dengan wahyu Alquran yang diturunkan pertama kali pada bulan Ramadhan. Alquran adalah hidayah ALLAH berupa petunjuk, nilai dan ajaran yang sangat penting bagi manusia untuk mencapai derajat kemanusiaan tertinggi, karenanya harus disyukuri melalui pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Alquran tersebut. Harapan ketiga, la'allahum yarsyudun, semoga mereka menjadi orang yang terbimbingkan, dikaitkan dengan komunikasi intensif melalui doa kepada ALLAH. Doa adalah medium yang sangat efektif untuk memperoleh tambahan kekuatan dari sumber-NYA, yaitu Sang Pencipta yang sesungguhnya sangat dekat dengan manusia ciptaan-NYA, bahkan lebih dekat dari urat nadinya sendiri. Harapan keempat (akhir ayat 187), la'allahum yattaqun, semoga mereka menjadi orang bertakwa, merupakan pengulangan dan penekanan dari harapan pertama, yang kali ini dikaitkan dengan pengindahan terhadap ketentuan dan batas-batas yang telah ditentukan ALLAH dalam kehidupan muamalat. Sikap ketaatan seperti inilah yang akan membawa kaum beriman kepada ketakwaan. Harapan terakhir (akhir ayat 189), la'allakum tuflihun, semoga kamu menjadi orang yang menang dan berbahagia, berkaitan dengan sikap hidup yang berorientasi kepada kebaikan dan kebenaran sebagai pangkat kemenangan dan kebahagiaan. ====================================================================== Bulan Ramadhan Di antara kelebihan Ramadhan itu ialah terdapat di dalamnya perintah berpuasa sebagai salah satu Rukun Islam. Ayat Al Quran pertama diturunkan pada bulan ini, malam 17 Ramadhan. Terdapat satu malam yang melebihi 1000 bulan pahalanya apabila beribadah pada malam tersebut dikenali sebagai Malam Lailatul Qadar. Malam-malam Ramadhan juga diserikan dengan sembahyang Tarawih dan Tedarus Al Quran. Ketika ditanya oleh Sayidina Ali kwh apakah pahala atau kelebihan mendirikan Sembahyang Tarawih pada setiap malam di sepanjang Bulan Ramadhan, Rasulullah SAW menjawab: "Orang-orang Mukmin yang menunaikan sembahyang Tarawih pada malam bulan Ramadhan, akan mendapat kelebihan seperti berikut: Malam 1 Dosanya dihapuskan seperti ia baru dilahirkan oleh ibunya. Malam 2 Diampunkan dosanya, juga dosa-dosa kedua ibu bapanya, jika keduanya itu Muslim. Malam 3 Dipanggil oleh malaikat dari bawah Arasy dengan seruan, "Beramallah, kerana Allah telah mengampunkan dosamu yang telah lalu." Malam 4 Diberi pahala yang sama dengan pahala orang-orang yang membaca Kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al Quran. Malam 5 Diberi pahala umpama orang yang bersembahyang di Masjidil Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Aqsa di Palestin. Malam 6 Diberi pahala umpama orang yang bertawaf di Baitullah; batu-batu dan pasir-pasir turut memohon ampun untuknya. Malam 7 Seperti orang yang hidup sezaman dengan Nabi Allah Musa, yang membantunya mengalahkan Firaun dan Hamman. Malam 8 Diberi Allah segala apa yang pernah dikurniakan-Nya kepada Nabi Ibrahim a.s. Malam 9 Pahala menyembah Allah baginya seperti Rasulullah SAW dan nabi-nabi menyembah Allah. Malam 10 Dikurniakan Allah kebaikan di dunia dan Akhirat Malam 11 Keluar dari dunia seperti mana dia dilahirkan bersih dari segala dosa. Malam 12 Di Hari Qiamat wajahnya bercahaya dan bersinar umpama bulan purnama. Malam 13 Di Hari Qiamat keadaannya aman dari segala kejahatan dan keburukan Malam 14 Malaikat akan menjadi saksi (atas sembahyang Tarawihnya itu) di Hari Qiamat ia dibebaskan Allah dari segala kemudaratan. Malam 15 Semua malaikat yang memikul Arasy dan Kursi berselawat dan meminta ampun untuknya. Malam 16 Dituliskan baginya lepas dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Syurga. Malam 17 Diberikan pahala sebanyak pahala para Nabi. Malam 18 Malaikat berseru: "Wahai hamba Allah! Bahawasanya telah redha Allah kepadamu dan kedua ibu bapamu." Malam 19 Diangkat darjatnya kedalam Syurga Firdaus. Malam 20 Diberikan pahala para syuhada dan solehin. Malam 21 Dibina untuknya istana dari nur di dalam Syurga. Malam 22 Di Hari Qiamat, ia akan diamankan dari segala dukacita dan kerisauan. Malam 23 Dibangunkan untuknya sebuah bandar di dalam Syurga. Malam 24 Dibuka peluang baginya berdoa sebanyak 24 kali yang akan dimakbul oleh Allah. Malam 25 Diselamatkan dari siksa kubur. Malam 26 Dianugerah pahala ibadah baginya selama 40 tahun. Malam 27 Dapat melintas titian Sirat di Akhirat kelak, kelajuannya seperti kilat. Malam 28 Diaugerah baginya 1,000 darjat di Akhirat. Malam 29 Dikurniakan pahala 1,000 ibadah haji yang mabrur. Malam 30 Diseru oleh Allah dengan seruan, "Wahai hamba-Ku! Makanlah buah-buahan Syurga dan mandilah dengan air Salsabil (sebatang sungai yang mengalir dalam Syurga) serta minumlah dari Telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu dan engkau adalah hamba-Ku." ============================================================== 4 Cermin Di Bulan Puasa Oleh : WIERANTA AKU DAN ANAKKU Matahari telah pecah. Angin berbondong-bondong menyerbu bumi. Bulan sabit muncul lagi. "Besok sudah memasuki bulan Romadhon, bapa?" tanya anakku. "Ya, buyung. Kau mesti belajar puasa!" kataku. "Tidak makan dan tidak minum, bapa?" "Untuk kamu cukup itu saja". "Kenapa bapa?" "Tuhan tidak menghendaki kau dalam kesulitan". Matahari hampir terbenam. Beduk Asyar telah lewat bertalu-talu. Senyum mengambang bagai kelopak bunga. Aku manggut-manggut. PERANG TELAH MULAI "Mari, mari kita bertarung lagi, sobat!" kataku. "Kita selesaikan persoalan yang sulit kita urai ini". "Kau atau aku yang terbantai". "Dalam diri manusia selalu terjadi peperangan. Tak pernah terjadi gencetan senjata". Karena siapa yang bisa mengalahkan dirinya sendiri, itulah orang yang paling kuat. CERITA BUAT ISTRI DAN GADISKU Dari tadi kudengar tangis perempuan yang menyayat hati. Tangis itu berjumlah berjuta-juta. Bermilyar-milyar. "Apakah itu, malaikat?" tanyaku. "Kenapa mereka menangis?" "Mereka mendapat siksaan dari TuhanMu". "Apakah tidak ada lelakinya, malaikat?" "Ada. Tapi tidak sebanyak mereka". "Kenapa?" "Karena perempuan suka bergunjing dengan sesamanya, sementara mereka tidak bisa beribadah sepenuh waktu seperti kaummu". "Oh!" Tangis itu makin mengiris-iris. LAILATUL QADAR Malam itu adalah malam yang lebih baik dari pada 1000 malam. Lebih baik dari 83 tahun. Karena pada malam itu mulai turun cahaya kebenaran yang bakal membimbing umat manusia ke jalan yang benar. "Malam itu penuh dengan kesejahteraan sampai terbit pagi", kata Tuhan "Bakal panjang usia semua umat manusia". "Tapi terlalu sulit malam tersebut diketahui". "Allaahu Akbar. Tuhan Maha Besar". 29 Sya'ban 1425 H ====================================================================== "Marhaban Ya Ramadhan..... Engkau bulan yang kucinta......" ===== dalam sebuah catatan skeptis selamat datang ==== Setiap muslim dan muslimah yang benar-benar beriman kepada janji-janji Allah dan Rasulnya pasti amat bergembira menyambut kedatangan bulan Ramadhan Al-Mubarak pada setiap tahun. Begitu juga tahun ini dimana kita sekali lagi diberi kesempatan oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk menyambut dan merayakan datangnya bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan pahala, dengan kegembiraan serta iman takwa yang teguh. Hanya mereka yang lemah iman saja yang merasa cemas dan risau dengan kedatangan Ramadhan ini. Begitu juga dengan mereka yang tidak mengetahui fadhilat atau keberkahannya. Tetapi bagi orang yang dapat memahami fadhilatnya akan menyambutnya dengan jiwa yang penuh rasa syukur seperti yang dijelaskan oleh baginda Rasulullah s.a.w. melalui hadisnya, "sekiranya umatku mengetahui kemuliaan dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka akan mengharapkan kedatangan Ramadhan itu disepanjang tahun." Keistimewaan Ramadhan akan lebih ketara lagi jika ia dibandingkan dengan sebelas bulan yang lain. Walaupun semua bulan mempunyai kelebihan, namun kelebihan Ramadhan tetap tidak tertandingi. Hal ini ditegaskan nabi kita Muhammad s.a.w. dengan sabdanya yang artinya : "bulan Ramadhan adalah penghulu dari bulan-bulan yang lain." Terdapat banyak yang menerangkan keagungan Ramadhan Al-Mubarak, di antaranya sabda Rasulullah s.a.w., yang artinya : "Apabila menjelang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu syurga, ditutupkan neraka dan dibelenggu segala Iblis dan syaitan" Hadis diatas ini memberi pengertian bahawa bulan Ramadhan adalah bulan keemasan untuk umat Islam dalam meningkatkan amal ibadah serta memantapkan iman dan membersihkan diri dari pekerjaan maksiat yang didorong oleh hawa nafsu atau godaan syaitan. Di dalam bulan yang suci inilah sepatutnya mereka melakukan hisab atau muhasabah diri atas pekerjaan yang telah dilaluinya dan yang akan dihadapi maupun yang bermanfaat atau sebaliknya. Para ulama menjelaskan, Ramadhan adalah bulan yang menjanjikan sebaik-baik balasan kepada mereka yang berbuat amal soleh baik diawal, pertengahan ataupun diakhirnya. Sebaliknya mereka yang malas dan yang terus melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan dosa, atau memandang bulan Ramadhan ini sama seperti bulan-bulan yang lain, bukan saja mereka tidak mendapat pahala yang dijanjikan malahan akan menerima azab akibat dari kejahatan yang boleh menjatuhkan kesucian Ramadhan dan keluhuran akhlak umat Islam seluruhnya. Ramadhan adalah semulia-mulia bulan, berbagai kejadian atau peristiwa berlaku di dalamnya, yang menjadikan tarafnya lebih agung dan lebih berkah, di antaranya : Pertama, perintah Allah subhanahua ta'ala ke atas kaum muslimin untuk mengerjakan shaum, firman Allah di dalam surah Al-Baqarah ayat 183 "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bershaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" Tidak syak lagi, perintah mengerjakan puasa yang menjadi rukun Islam ketiga dalam bulan yang mulia ini menjadikan ia lebih agung dari yang lain. Kedua, permulaan turunnya kitab suci Al-Quran dari ayat pertama hingga kelima dari surah Al-Alaq' yaitu tanggal 17. Firman Allah subhanahua ta'ala dalam surah Al-Baqarah ayat 185; "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)." Ketiga, dalam bulan Ramadhan ini juga umat Islam diwajibkan membayar zakat fitrah atau zakat badan serta zakat harta benda ke atas mereka yang mencukupi syarat dan rukunnya. Kefardhuan zakat fitrah di bulan Ramadhan ini menggambarkan betapa eratnya hubungan puasa dan ibadah zakat. Kedua-duanya wajib dikerjakan dengan sempurna. Maka tidak sempurna agama seseorang itu jika hanya melakukan salah satu daripadanya. Hal ini dijelaskan oleh baginda Rasulullah s.a.w. melalui hadisnya, yang artinya, "pahala puasa Ramadhan terbelenggu di antara langit dan bumi, ia tidak terangkat ke langit kecuali dengan zakat fitrah" Keempat, disepanjang bulan Ramadhan yang penuh rahmat ini, Allah subhanahu wa ta'ala menghadiahkan kepada umat Islam satu malam yang pahala atau keberkahannya melebihi seribu bulan, yang dinamakan Lailatulqadar. Oleh karena itu, maka menjadi kewajiban ke atas setiap muslim dan muslimat berusaha untuk mendapatkan keagungannya. yaitu dengan memperbanyakkan zikrullah, bertakbir, bertahlil, bertahmid, berdoa dan lain-lain ibadat yang dituntut Al-Quran dan sunnah Rasulullah. Nabi Muhammad s.a.w. menggalakkan umatnya beribadat pada malam tersebut dengan menghampirkan dirinya kepada Allah subhanahu wa ta'ala melalui majlis Qiamullail, beristigfar dan bertadarus Al-Quran disepanjang malam pengampunan dosa ini. Janganlah ada orang Islam yang memandang kelebihan malam LailatulQadar sama seperti malam-malam yang lain. Di pandang dari sudut manapun ibadah puasa perlu dilakukan oleh manusia. Agama Islam yang mengutamakan kesejahteraan umatnya dari segi rohani dan jasmani, tidak menyuruh mereka melakukan ibadah agung ini sekiranya ia tidak mendatangkan manfaat kepada mereka. Maka di antara sebab hikmah ibadah ini diwajibkan ialah : 1. Meningkatkan iman dan takwa manusia dengan melaksanakan perintah Al-Khaliq secara ikhlas dengan melahirkan rasa syukur terhadapnya; 2. Melahirkan sifat mulia dan jiwa murni dan bersimpati terhadap penderitaan yang dihadapi oleh fakir miskin dan yang menderita; 3. Menguji kesabaran dalam menghadapi kelezatan makan dan minum, keinginan nafsu jasmani atau godaan hidup yang dilarang oleh syara'; 4. Melatih diri untuk terus berjihad meninggikan syiar Islam di samping tetap menjaga persatuan dan keselamatan diri serta membersihkan jiwa dari sifat- sifat tamak, serakah dan sifat-sifat buruk yang lain. Untuk memastikan pelaksanaan rukun Islam ketiga ini diterima Allah SWT serta mendapat keredho'an-Nya, ia hendaklah dilakukan dengan mengikuti syarat-syarat atau rukunnya dengan sempurna, berniat ikhlas, berdisplin dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang akan membatalkan puasa dan menghilangkan pahalanya. Ini disebabkan tujuan berpuasa bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja tetapi menahan semua anggota dari melakukan pekerjaan yang tidak berakhlak atau yang dilarang oleh agama. Dalam hal ini kita harus ingat dengan hadis Rasulullah s.a.w. yang artinya : "berapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapat apapun balasan dari puasanya melainkan hanya lapar dan dahaga" Mengambil hikmah dan keagungan Ramadhan marilah kita tekadkan niat untuk terus meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah, sekurang-kurangnya dengan berpuasa pada siang hari dan bersolat terawih pada malam harinya. Orang yang menghormati tuntutan Ramadhan berarti memuliakan dirinya dan orang yang mencemari Ramadhan berarti ia menjatuhkan harga dirinya sendiri. wallohu a'lam bish-shawab,- ============================================================== ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

