Dr. Azahari geus tiwas, tapi naha leres bom "bunuh diri" bakal 
leungit?. Ieu aya artikel meunang ti millis sabeulah, cenah mah 
meunang tina TEMPO. Nyanggakeun!

JENDERAL LASKAR ISTIMATA


RUMAH tua itu terletak persis di belakang Pondok Pesantren Al-Mukmin,
Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Ada dua boneka kecil mainan anak-anak
tergeletak di depan pintu. Di sebelah kiri ruang tamu, ada garasi 
kosong
berdebu. Langit-langitnya banyak yang jebol. Di setiap sudut, jaring
laba-laba penuh menjuntai. Pada suatu sore pertengahan September 
silam, dari
dalam rumah itu terdengar suara tangis bayi. Merengek-rengek.

Sudah setahun lamanya Rahayuningtyas, si nyonya rumah, menunggu kabar
suaminya, Aris Sumarsono. Perempuan bercadar berusia 32 tahun itu?dia 
akrab
disapa Ning?terakhir bertemu dengan suaminya pada Lebaran tahun 
silam. Aris,
kata Ning, suka ke luar kota untuk urusan berdagang kain. Kadang 
sepekan,
paling lama sebulan. Tapi kepergian yang terakhir tak menyisakan 
jejak. "Dia
hanya pamit ke Sragen, setelah itu tak kembali lagi ke rumah," 
ujarnya.

Aris Sumarsono tak lain adalah Zulkarnaen, yang disebut-sebut sebagai
komandan tertinggi sayap militer Jamaah Islamiyah (JI). Kini, anak 
Desa
Gebang, Sragen, itu menjadi buron penting. "Zulkarnaen salah satu 
tokoh
penting JI yang lagi kita uber," ujar Inspektur Jenderal Polisi 
Ansyaad
Mbaai, Kepala Desk Antiteror di Kantor Menteri Koordinator Politik dan
Keamanan.

Posisinya di pucuk itu makin terungkap setelah polisi menangkap Achmad
Roihan alias Saad, tokoh teras Markaziyah (pimpinan pusat) JI di 
Palu, April
silam. Roihan mengaku Zulkarnaen hadir dalam pertemuan Markaziyah di
Tawangmangu, Solo, setelah bom Bali meledak.

Zulkarnaen punya nama lain: Daud. "Orangnya bertubuh kecil dan 
pendiam,"
kata Mualif Rosidi, bekas guru Zulkarnaen di Pondok Pesantren Ngruki. 
Dia
masuk pondok itu sejak 1975, dan belajar di sana selama enam tahun. 
Lulus
dari pondok, Zulkarnaen, yang kerap masuk peringkat lima besar di 
sekolahnya
itu, masuk ke Jurusan Biologi Universitas Gadjah Mada, 
Yogyakarta. "Sejak
mondok, dia jarang pulang," ujar Mualif.

Tak jelas sejak kapan Zulkarnaen mulai terlibat dalam gerakan militan 
itu.
Yang terang, namanya kini disebut-sebut sebagai salah satu arsitek 
bom Bali.
Dari persidangan kasus bom Bali, melalui kesaksian Nasir Abbas, kakak 
ipar
Muchlas yang merupakan salah satu pelaku utama lainnya, terungkap 
posisi
Zulkarnaen memang cukup penting di organisasi JI.

Nasir, yang kini ditahan di Markas Besar Polri, adalah veteran pejuang
Afganistan. Dia terjun ke medan jihad Afganistan sejak 1987 sampai 
1993.
Setelah itu, dia bergabung dengan gerilyawan Moro Islamic Liberation 
Front
(MILF) di Moro, daerah selatan Filipina. Dia mengangkat senjata ke 
Moro atas
perintah Mustofa alias Pranata Yudha, salah satu pentolan JI yang 
tertangkap
di Semarang. "Mustofa meminta saya, atas perintah Zulkarnaen dan atas 
saran
Abdullah Sungkar," kata Nasir Abbas. Sungkar adalah pemimpin besar JI
sebelum Abu Bakar Ba'asyir.

Perintah pengiriman pasukan jihad ke Moro, yang diberikan Zulkarnaen 
kepada
Mustofa, membuktikan Zulkarnaen memang berada di pucuk struktur. 
Mustofa
saat itu menjabat Ketua Mantiqi III, struktur operasi JI yang meliputi
wilayah Filipina Selatan, Serawak, Sabah, Brunei, dan Kalimantan. 
Posisi
Zulkarnaen, kata Nasir, adalah Ketua Bidang Askari (militer) 
Markaziyah,
yang dulunya langsung berada di bawah Abdullah Sungkar. Mustofa kini
meringkuk di sel Kepolisian Daerah Metro Jaya, setelah dicokok 
petugas pada
Juli silam.

Bagi para mujahidin asal Indonesia, Zulkarnaen mereka hormati sebagai
senior. Dia termasuk angkatan pertama lulusan akademi militer di 
Afganistan.
Seorang veteran mujahidin, Abi Sholeh (nama samaran), mengaku satu 
angkatan
dengan Zulkarnaen, saat terjun ke Afganistan pada 1985. Waktu itu 
mereka
dikirim oleh almarhum Abdullah Sungkar, pendiri JI.

Abi Sholeh tak mau menyebut jumlah pasti berapa orang yang berangkat 
pada
gelombang pertama itu. Yang jelas, kata dia, mereka mendapat 
pelatihan di
Kamp Saddah, akademi militer milik Syekh Abdurrasul Sayyaf, tokoh 
legendaris
mujahidin Afganistan. "Kamp itu letaknya di Khumran Agency, di dekat
Parachinar, perbatasan Pakistan dan Afganistan," kata Abi.

Di sana mereka menimba ilmu perang, dari teori sampai praktek. Juga 
soal
perang gerilya, termasuk gerilya kota, meracik bom, dan artileri. Para
mujahidin itu juga lihai membaca peta dan teknik pengintaian 
musuh. "Mereka
latihan aneka macam senjata, seperti AK-47 dan M-16," ia berkisah.

Di Afganistan, Zulkarnaen adalah lulusan terbaik. "Dia ahli dalam 
semua
pelajaran militer," tutur Abi lagi. Bahkan, sebelum lulus, Zulkarnaen 
sudah
diminta mengajar di Kamp Saddah?di mana Syaikh Sayyaf memberikan 
tempat
khusus bagi mujahidin asal Asia Tenggara. Zulkarnaen ditunjuk sebagai 
kepala
akademi militer itu, untuk melatih mujahidin asal Indonesia, Filipina,
Malaysia, dan Singapura.

Pengalaman tempur Zulkarnaen, kata Abi, juga di atas rata-rata. Dia 
pernah
terlibat pertempuran selama tiga pekan di Jaji (Joji), pada April 
1987. Saat
itu tarung senjata berlangsung hebat antara pasukan mujahidin dan 
tentara
pendudukan Uni Soviet. Tak semua mujahidin asal Asia Tenggara 
dilibatkan di
garis depan. Kata Sayyaf, seperti dikutip Abi, tujuan latihan militer 
bukan
untuk berjihad di Afganistan. "Yang penting, menyiapkan diri berjihad 
di
negeri sendiri," begitu pesan sang Syekh.
Achmad Roihan alias Saad, anggota Markaziyah, pun mengaku seangkatan 
dengan
Zulkarnaen ketika terjun ke Afganistan. Saad, sama seperti Abi, 
mengakui
Zulkarnaen menjabat posisi ketua dewan militer di Markaziyah JI. "Tapi
sekarang saya tak tahu apa posisinya," ujar Saad kepada TEMPO, kala 
ditemui
di Penjara Krobokan, Bali, beberapa waktu lalu.

Tapi, menurut seorang bekas pemimpin JI (dia menolak disebut namanya 
karena
alasan keamanan), posisi Zulkarnaen saat ini belum tergantikan. Dialah
pemegang tongkat komando pasukan jihad, yang menjadi inti gerakan JI.
Sebagai Ketua Dewan Askari, Zulkarnaen adalah jenderal bagi para 
laskar JI
itu. "Ada tiga kategori laskar," ujar sumber itu. Pertama laskar 
biasa, yang
anggotanya pernah ikut latihan militer selama empat sampai enam 
bulan. Lalu,
kedua, Laskar Khos, yaitu satuan khusus yang punya kemampuan perang 
dan
senjata, minimal ikut latihan militer tiga tahun. Ketiga adalah Laskar
Istimata.

Yang paling militan adalah Laskar Istimata. Mereka yang masuk satuan 
itu
siap melakukan amaliyah istishadiyah (bom syahid). Anggotanya bisa 
saja
direkrut dari luar JI. "Contohnya adalah kasus Iqbal Arnasan, yang 
menjadi
martir dalam bom Bali," ujar sumber itu. Dia melanjutkan, dalam aksi 
bom di
Hotel Marriott, JI pun menggunakan salah satu kader Laskar Istimata, 
yaitu
Asmar Latin Sani. "Ketiga jenis laskar itu berada di bawah komando
Zulkarnaen."

Sebagai panglima, Zulkarnaen punya wewenang besar. Dia bertanggung 
jawab
atas operasi intelijen dan "operasi pembangunan kekuatan". Lingkupnya 
antara
lain pelatihan militer, baik kursus singkat enam bulan maupun memimpin
"akademi militer" yang makan waktu tiga tahun. Selain itu, di tangan
Zulkarnaen pula wewenang "operasi penggunaan kekuatan", semisal bom 
Natal
dan bom Bali bisa dijalankan. "Untuk operasi seperti itu, Zulkarnaen 
harus
mendapat izin dari Majelis Fatwa Markaziyah JI," ujarnya.

Keterangan itu dibenarkan oleh Saad. Semua aksi memang harus melewati 
forum
fatwa dulu, agar tindakan jihad menjadi sah secara organisasi. Namun, 
sejak
Abdullah Sungkar meninggal pada November 1999, forum fatwa tak lagi
berjalan. "Banyak operasi sekarang yang tidak diputuskan organisasi,"
ujarnya. Dia mencontohkan, bagaimana order dari Mantiqi I (wilayah 
Singapura
dan Malaysia) justru dilakukan di Mantiqi II dan sama sekali tak
diberitahukan lebih dulu kepada pemimpin struktur setempat. Mantiqi II
berpusat di Solo, dengan wilayah operasi seluruh Indonesia, kecuali
Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Menurut Saad, kecakapan militer Zulkarnaen tergolong biasa saja. Tapi 
dia
ahli dalam soal taktik tempur. Satu lagi, Zukarnaen juga kuat dalam 
soal
komandaniyat (bahasa Afganistan berarti kepemimpinan?Red.). Lalu, apa 
yang
menjadi tugas utama komandaniyat itu? "Manajemen organisasi tempur," 
ujar
Saad mantap.






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke