|
Game-na di mana bisa didownload??
Kuring hayang nyobaan.
Baktos,
Om TEDDY
tukang ulin
----- Original Message -----
Sent: Sunday, December 04, 2005 10:30
PM
Subject: Re: [Urang Sunda] (Kompas) kang
Sony tukang game...
ieu nembe kang soni.... cobi urang sunda nu sanesna...gabunng
atuh....
insaalloh bakal hebatlah !!......
ulah cekap/ agul ku kang soni......... mana karya
urang......... kamalinaan <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
aya
ku reueus poe saptu, jaba bisa datang ka hbh kusnet di wisma batan
cipanas puncak, jaba kang sony asup rubrik sosok kompas.
hehe..
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0511/26/Sosok/2236606.htm
"Game"
Animasi Sony Rosyan
Burung raja udang suka makan ikan. Namun,
karena ikan di sungai banyak diracun atau disetrum listrik, si burung
raja udang terpaksa makan buah. Ia pun terbang mencari buah di gua-gua,
seperti Gua Cukang Taneuh di Ciamis dan Sunyaragi di
Cirebon.
Kisah mini yang mengandung pelajaran pengenalan dan
pelestarian lingkungan itu terangkum dalam game animasi berjudul Si
Jeknyeh Kalaparan karya Sony Rosyan. Menurut pria kelahiran 12 Juli 1965
ini, jeknyeh adalah nama lokal Sunda untuk burung raja
udang.
Sony tidak sekadar menempelkan nama lokal Sunda. Sebab, hampir
keseluruhan permainan animasi itu memang bernuansa Sunda. Mulai dari
penjelasan hingga perintah, Sony mengusahakan memakai bahasa
tradisional itu. Termasuk juga nama gua-gua tempat Si Jeknyeh
berburu buah yang semuanya berlokasi di Jawa Barat. Untuk musik
pengiring, Sony memakai potongan musik kendang dan kacapi
suling.
"Tujuan utama saya untuk mengenalkan bahasa Sunda kepada
anak-anak," kata Sony. Memprogram permainan dalam bahasa Sunda diawali
dari kegelisahan Sony melihat bahasa tradisi itu mulai ditinggalkan
dalam percakapan sehari-hari. "Banyak anak tetangga saya yang tidak bisa
bahasa Sunda. Padahal, mereka asli Sunda," tutur Sony yang tinggal
di Jalan Sekelimus III No 1A, Bandung.
Menurut Sony, bahasa
adalah bagian budaya yang perlu dilestarikan agar tidak punah. Alumnus
Pendidikan Ahli Teknik Telekomunikasi (sekarang Sekolah Tinggi Teknologi
Telkom) tahun 1989 ini mengatakan, bahasa tradisional suku mana pun
perlu dilestarikan agar tidak punah.
Dari
kegelisahan
Menurut Sony, anak-anak suka meniru dan tidak takut
salah. "Anak saya bisa menghitung satu sampai sepuluh dalam bahasa
Spanyol gara- gara nonton Dora The Explorer," kata Sony mencontohkan
efektifnya belajar bahasa pada usia dini.
Kegelisahan itu
mengantarnya pada suatu pertanyaan: saya bisa berbuat apa? "Menulis
(sastra Sunda), saya enggak bisa," kata Sony. Ia sempat merasa tidak
bisa berbuat sesuatu yang berarti untuk menjawab kegelisahannya. Namun,
Sony punya banyak teman yang mendorongnya untuk menggunakan talentanya
dalam melestarikan bahasa Sunda.
Jadilah, lelaki yang bekerja
sebagai Business Development Officer di PT Telkom itu mengawinkan
teknologi modern dengan pernik-pernik tradisi. Si Jeknyeh Kalaparan dan
Wanara Mulung Sentul adalah dua game berbahasa Sunda di antara belasan
game animasi karyanya yang lain.
Suami Kartika (37) dan ayah dari
Aridita Yasmina Dewi (14), Asarela Orchida Dewi (12), Aurora Rosena Dewi
(6), dan Audira Gladiola Dewi (2 bulan) ini belajar animasi secara
otodidak. Imajinasinya terlatih sejak kecil akibat kegemarannya membaca
berbagai buku cerita dan komik. "Ketika SMA, saya tergila-gila baca
(karya) Khoo Ping Hoo," ujar anak nomor tiga dari enam bersaudara
ini.
Perkenalannya dengan komputer membuatnya suka bereksperimen. Ia
sudah suka mencoba-coba membuat animasi sejak tersedia program
Lotus, yang jika dibandingkan dengan program-program sekarang sudah
sangat kuno dan ketinggalan.
Sebelum menciptakan game animasi
berbahasa Sunda, Sony rajin membuat game dengan bahasa Indonesia atau
bahasa Inggris. Semula, ia hanya menyimpan game animasi berbahasa Sunda
itu. Keterlibatannya di mailing list Komunitas Urang Sunda di Internet
(Kusnet) memberinya banyak teman yang mendorong agar ia memublikasikan
karyanya.
Tidak memikirkan hak cipta
Dalam skala terbatas,
Sony pun menunjukkan hasil kerjanya dan mendapat tanggapan positif.
Salah satunya ketika Kongres Bahasa Sunda yang diselenggarakan di bulan
Juli tahun ini. Ia dengan senang hati memberikan kopi game-nya kepada
beberapa teman tanpa pusing memikirkan soal hak cipta.
Selain ia
sendiri yang hobi main game, anak-anaknya pun ketularan. Baginya, game
adalah media yang cukup ampuh untuk menyampaikan sesuatu. Ia beralasan
bahwa pada dasarnya manusia suka bermain. "Pada game ada tantangan,
bikin penasaran, dan pembelajaran kalah atau menang," kata
Sony.
Karena hanya dikerjakan sebagai pengisi waktu luang, perlu
waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu permainan. Meski demikian,
ia punya mimpi jika hasil karyanya bisa digandakan lantas dibagikan
kepada khalayak luas. "Kalau bisa, tidak komersial," harap
Sony.
Namun, sekali lagi, niat seperti itu sering terkendala banyak
hal, terutama dana. "Di Indonesia sangat banyak bahan (cerita), tetapi
kita tidak pintar menyajikannya. Selain itu, penghargaan terhadap
karya yang sudah ada juga kurang," ujar Sony.
Hal itu tidak
membuatnya berhenti berkarya. Di kepalanya kini ada imajinasi untuk
menghadirkan gedung-gedung tua di Bandung lengkap dengan petanya dalam
sebuah game animasi. "Akan sangat bagus kalau bisa dikerjakan bersama
ahli sejarah dan desain," kata Sony.
(D06/D11)
Yahoo! Personals Single? There's someone we'd like you to
meet. Lots of someones, actually. Try
Yahoo! Personals
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
YAHOO! GROUPS LINKS
|