Kolot baheula, nu ngalamanan jaman Walanda, sok nyarebutkeun cenah jaman
harita teh "jaman normal". Pun Aki Almarhum oge sok nyebatkeun kitu. Ari
ngobrol sareng nu sagenerasina teh, tara nyebatkeun jaman dijajah, tapi
"jaman Normal". Istilah ieu, kanggo generasi nu arayeuna, tantosna oge
aneh, moal enya jaman dijajah disebat "Jaman Normal" .....hehehehe

Ieu aya artikel kenging Ahmad Tohari ( jigana mah novelis nu ngarang
"Ronggeng Dukuh Paruk"), perkawis "jaman Normal". Nyanggakeun!


REPUBLIKA
Senin, 19 Desember 2005

Zaman Nornmal Lebih Baik?
Oleh : Ahmad Tohari


Di kampung saya ada seorang lelaki tua yang dikenal dengan nama Pak
Mantri. Mungkin pada zaman normal dulu (zaman sebelum tentara Jepang
datang pada tahun 1942) dia menjadi mantri pasar, atau mantri kehutanan,
atau malah mantri kakus. Entahlah, yang jelas pada masa tuanya lelaki itu
dikenal sebagai Pak Mantri, dan konon usianya kini hampir delapan puluhan.

Ada yang menarik pada diri Pak Mantri ini. Dia sangat suka berbicara
segala hal yang terjadi atau situasi pada zaman normal alias zaman
penjajahan Belanda. Karena kesukaannya itu, cerita-cerita Pak Mantri
kurang disukai para tetangga. Orang kampung saya berpendapat dengan
memuji-muji keadaan di masa penjajahan seolah-olah Pak Mantri tidak
mendukung Indonesia yang merdeka. Juga tidak menghargai jasa ribuan
pahlawan yang gugur demi Indonesia merdeka. Namun Pak Mantri sering
bergeming mengatakan bahwa keadaan di zaman normal lebih baik daripada
masa sesudah kemerdekaan.

"Di zaman normal, bila ada kuda lecet kulitnya pasti si sais kena denda."
Begitu kata Pak Mantri. "Demikian juga bila orang naik sepeda tanpa pening
atau reflector apalagi tanpa lampu di malam hari, pasti kena denda.
Sekadar mencari ranting kering di hutan jati tutupan akan berurusan dengan
hukum. Jadi hutan jati utuh. Keadaan sekarang bagaimana?" tanya Pak
Mantri.

Biasanya orang kampung kami menganggap sepi omongan Pak Mantri. Bahkan
tidak jarang lelaki tua itu dikatakan sebagai belandis, yaitu orang yang
merindukan kembalinya masa jaya ketika menjadi pegawai pemerintah jajahan.
Tapi dasar Pak Mantri, pendapatnya tentang keadaan di jaman penjajahan
dipertahankannya dengan gigih.

"E, kalian orang muda! Kalian saya kasih tahu ya. Pada tahun 1941 Governor
Generaal (diucapkannya hufernur heneraal) di Batavia bikin laporan ke
Belanda. Isinya adalah hasil penelitian yang menyatakan bangsa Indonesia
saat itu belum siap merdeka. Dikatakan, bangsa Indonesia belum siap ngurus
jalan, ngurus kereta api, menyelenggarakan rumah sakit, menyelenggarakan
pendidikan, pokoknya belum siap mengurus negara sendiri."

Saya yang ketika itu ikut mendengar omongan Pak Mantri, tiba-tiba merasa
harus ikut bicara. Rasa kebangsaan saya yang selama ini hampir tertidur
mendadak bangkit. Pak Mantri harus dihentikan. Bukan hanya karena almarhum
ayah saya seorang mantan pejuang yang nyawanya hampir melayang karena
peluru KNIL (Koningklijk Nederlands Indische Leger, tentara kerajaan
Belanda pribumi). Lebih dari itu. Pak Mantri sudah keterlaluan
belandisnya. Saya bilang, nyatanya karena berkah Allah dan jasa para
pemimpin kini Indonesia sudah 60 tahun menjadi negara merdeka. Dan dunia
mengakuinya.

"Itu betul. Tapi merdeka macam apa? Betul yang dikatakan orang Belanda 64
tahun yang lalu bahwa kita belum bisa ngurus jalan, kereta api, sekolahan,
hutan, rumah sakit, dan sebagainya bukan? Malah, jangan-jangan banyak
pemimpin kita sekarang salah mengerti tentang tujuan kemerdekaan yang kamu
katakan tadi, kemerdekaan yang minta tumbal ribuan nyawa dan penderitaan
panjang itu. Buktinya banyak pemimpin kita sekarang menikmati berkah
kemerdekaan hanya untuk mereka sendiri dan rakyat banyak dibiarkan lapar
dan sengsara. Apa omongan saya ini ngarang?"

Sampai Pak Mantri bangkit dan ngeloyor pergi tak seorang pun mau menjawab
omongan lelaki tua itu. Saya pun tidak. Padahal saya dan mungkin juga
teman-teman tidak ingin menemukan omongan Pak Mantri yang belandis itu
benar. Selain itu saya juga tidak sependapat bahwa bangsa Indonesia
sebenarnya belum siap mengurus sebuah negara yang merdeka. Yang benar,
banyak pemimpin yang mengkhianati cita-cita kemerdekaan. Contohnya, betapa
banyak pejabat pusat sampai daerah, gubernur, bupati, anggota TNI/Polri,
anggota DPR/DPRD yang melakukan tindak pidana, terutama korupsi.

Saya juga jadi teringat olok-olok Prof Syafi'i Ma'arif. Beliau pernah
bilang, karena sulit mencari sosok yang baik untuk memimpin negeri ini,
apa salahnya kita mengimpor seorang presiden. Almarhum Romo Mangunwijaya
juga pernah mengatakan hal yang senada; bila hanya taraf kehidupan
masyarakat seperti sekarang yang kita citakan, tak perlulah kita merdeka
karena mungkin pemerintah jajahan bisa melakukannya lebih baik.

Pahit memang, sepahit omongan seorang belandis tua di kampung saya yang
bernama Pak Mantri. Dia selalu bilang, hidup di zaman normal lebih baik
daripada hidup di zaman sekarang. Siapa yang setuju atau menyanggah
omongan Pak Mantri tadi, silakan.



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke