Lamun nengetan
kalawan taliti eta warta,
nu matak SBY ngambek teh lain pedah nyebutkeun pendidikan di Indonesia goreng, tapi pedah
basa SBY keur ngajawab pananya, nu nanya kalahka
“bisik-bisik”. Ceuk kuring
mah teu sopan,
ongkoh nanya tapi kalah ngagosip.
Baktos,
budhi
pe en es nu nuju
sakola
-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of padjar
Sent: Thursday,
December 22, 2005 8:16 PM
To: [email protected]
Subject: [Urang Sunda] Pendidikan
Inonesia jelek
Ti milis sapalih. "Pendidikan di
Indonesia mahal (awis), goreng jste", saur Tylla Subijantoro.
Tylla Subijantoro: Saya Tidak Menjelekkan Bangsa
TYLLA Subijantoro, mahasiswi S-2 ilmu hukum Universitas New Delhi, India,
tiba-tiba mencuri perhatian. Pertanyaan Tylla kepada Presiden Yudhoyono
konon membuat SBY marah. "Saat berdialog dengan masyarakat
Indonesia di India, ada warga yang sejak mulai bicara sampai selesai
menjelek-jelekkan negeri kita dan memuji luar negeri. Saya menyesalkan,"
kata SBY di Tanah Air.
Apa yang ditanyakan Tylla kepada SBY pada pertemuan 23 November lalu itu?
Berikut petikan perbincangan Tylla dengan Basfin Siregar dari Gatra:
Benarkah Anda menjelek-jelekkan bangsa sendiri?
Saya tidak terima dibilang menjelek-jelekkan bangsa! Yang saya
jelek-jelekkan itu pemerintah. Saya membandingkan kebijakan Pemerintah
India dengan SBY. Saya lihat Pemerintah India memberi subsidi gede banget
untuk pendidikan. Adalah salah pemerintah kalau pendidikan di Indonesia
makin nggak terjangkau!
Berapa uang kuliah Anda di India?
Untuk program S-2 dua tahun, saya cuma bayar US$ 600, sekitar Rp 6 juta.
Itu sudah all-in, sudah admission fee dan tuition fee. Tinggal mikir biaya
hidup. Dan biaya hidup di Delhi sama dengan di Jakarta. Uang US$ 600 itu
pun karena saya foreigner yang bayar lebih mahal. Soalnya, duit saya itu
dipakai buat subsidi warga India asli. Kalau orang India yang kuliah,
setahun bayarnya cuma 700 rupee, sekitar Rp 40.000.
Bagaimana dibandingkan dengan biaya di Indonesia?
Tahun lalu, saya mendaftar program notariat. Untuk semester pertama saja
habis Rp 50 juta.
Anda kaget ketika SBY marah?
Sebenarnya SBY marah bukan karena pertanyaan saya. Melainkan karena waktu
SBY ngasih penjelasan, eh, saya malah bisik-bisik ke teman. Saya bilang,
''Ah, SBY mau ngomong apa, nyatanya anaknya disekolahin ke luar
negeri juga. Berarti dia setuju pendidikan di luar negeri bagus.''
Reaksi SBY bagaimana?
SBY sepertinya menganggap saya anak yang kaget. Baru sekali sekolah di luar
negeri, kok, sudah sombong banget. Soalnya, SBY bilang bahwa dia sudah
sembilan kali sekolah di luar negeri, dan pendidikan di Indonesia nggak
jelek. Tapi kenyataannya, di ranking dunia, pendidikan Indonesia kan nggak
masuk?
Ketika dibentak, reaksi Anda sendiri bagaimana?
Saya senyum aja, terus diem nunduk-nunduk, manggut-manggut minta maaf.
Terus saya perhatikan lagi. Tapi saya bisik ke teman itu cuma beberapa
detik aja kok. Sepanjang sebelumnya saya juga memperhatikan penjelasan SBY.
Seperti apa jawaban SBY waktu menjawab pertanyaan Anda?
Ya pokoknya pemerintah sudah bekerja, bahwa pendidikan di Indonesia tidak
jelek. Pendidikan di luar negeri ada yang bagus, tapi ada juga yang lebih
jelek dibanding di Indonesia. Begitu. Terus waktu menjawab soal
buku-buku
murah, SBY bilang kalau pemerintah juga sudah menyiapkan content (materi)
untuk buku-buku SD, bagaimana agar bisa kepake untuk sekian generasi.
Teknis begitu. Itu kan nggak nyambung dengan apa yang saya sampaikan.
Seperti apa subsidi pendidikan di India?
Di sini, buku murah luar biasa, bahkan buku-buku impor karena pemerintah
memberi subsidi kertas! Selain itu pemerintah juga bikin kerja sama dengan
penerbit-penerbit gede kayak Penguin Books agar buku-buku mereka
bisa dicetak di India, jadi bisa dijual lebih murah. Buku-buku
kuliah saya,
kalau dikonversi ke rupiah, paling mahal cuma Rp 10.000. Kalau di
Indonesia, saya bisa keluar sampai Rp 2,5 juta
untuk beli buku saja. Dan
karena subsidi kertas itu, harga langganan koran juga murah. Saya itu
langganan satu koran, satu majalah berita semacam Gatra, dan satu majalah
wanita. Nah, untuk langganan tiga media itu, sebulannya saya cuma bayar 110
rupee, atau sekitar Rp 22.000. Selain itu di India, pelajar dapat fasilitas
kartu abonemen yang harganya cuma 50 rupee, atau sekitar
Rp 10.000, yang berlaku selama empat bulan. Dengan kartu pas itu, selama
empat bulan kita bisa gratis naik bis pemerintah jurusan apa aja. Mau
keliling-keliling Delhi juga boleh. Meski bisnya bobrok, tapi
nyaman.
Berhentinya juga cuma di halte. Kartu abonemen itu selain untuk pelajar,
juga dikasih untuk pegawai negeri, tentara, orang jompo dan physically
disabled (orang cacat). Itu untuk transportasi.
Tidak takut dianggap melebih-lebihkan India?
Lho, justru karena saya cinta bangsa Indonesia, saya ingin pemerintah
belajar kepada India. Orang Indonesia itu pintar-pintar. Tapi, soalnya,
pemerintah tidak bisa memfasilitasi pendidikan murah. Para insinyur di
India mampu bersaing untuk masuk di Microsoft.
Sedangkan di Indonesia hanya
beberapa orang saja yang beruntung. Maka tolonglah pemerintah bikin agar
pendidikan itu affordable.
Tapi, pendidikan di Indonesia kan ada juga bagusnya?
Kalau mau jujur, infrastrukturnya lebih bagus. Di kampus sudah ada lift,
whiteboard, pakai OHP. Kalau di sini enggak. Naik dari lantai I ke lantai
IV masih manual, masih pakai kapur tulis, terus nggak ada AC. Tapi, kalau
kualitas content-nya, kita kurang.
Kalau pengajarnya bagaimana?
Kalau di India enaknya, dosen-dosen itu bisa dihubungi kapan saja. Kayak
Amartya Sen, peraih nobel, kalau mahasiswanya minta diskusi private
session, masih dilayanin. Nggak susah. Bahkan presidennya sendiri, Abdul
Kalam, dia juga mengajar, dan masih bisa ditelepon! Saya pernah bareng
mahasiswanya makan malam bareng Abdul Kalam. Saya lihat Abdul Kalam itu
dikritik mahasiswanya yang orang India, ditunjuk-tunjuk gitu, dia nggak
marah kok. Masih santai aja.
Setelah pertemuan dengan SBY itu, apakah Anda ditegur, misalnya oleh orang
KBRI?
Ah, nggak. Orang KBRI itu asyik-asyik. Yang ribut itu justru pegawai negeri
(dari Indonesia) yang tugas belajar ke India. Mereka pada marah.
Dibilangnya saya itu anak itik yang baru keluar dari induknya, kaget.
Padahal saya kan juga bukan baru pertama kali ke luar
negeri. Sebelumnya
saya kan juga sempat ikut summer course atau
homestay gitu. Tapi kan nggak
kompatibel kalau membandingkan Indonesia dengan negara-negara maju. Makanya
dibandingin dengan India.
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
YAHOO! GROUPS LINKS
|