Baraya, Kahaturkeun oleh-oleh ti milist tatanggi, kalawan kenging ngedit deui sakedik. Hapunten teu kungsi ditarjamahkeun heula kana Basa Sunda, ma'lum keur pakupis ku cicing :)
manAR --- In [email protected], oman abdurahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Kawan semua, Sebuah pendapat yang menyatakan bahwa korupsi mempercepat kematian menggelitik kita untuk mempertanyakan kembali apa yang disebut "kematian". Sementara itu, bangsa Indonesia memang seperti mengganggap enteng kematian. Departemen Kesehatan yang sudah diperingatkan sejak 2 dasawarsa lalu oleh YKI tentang merebaknya penggunaan formalin dalam berbagai makanan yang banyak dikonsumsi rakyatnya baru peduli belakangan ini. Ada kesan bahwa orang Indonesia dipaksa jadi mayat meski masih hidup dan segar bugar. Apakah korupsi mempercepat kematian? Jawabannya bergantung bagaimana definisi kita tentang kematian. Apa itu mati? Para dokter sudah sejak dulu memperdebatkan kematian. Apakah kematian itu sekedar perginya nafas dari tubuh kita, atau berhentinya detak jantung, atau kegagalan fungsi otak sehingga manusia meski nafasnya masih terasa dan detak jantungnya masih terdeteksi, namun sudah hilang kesadaran dan tak mampu menunjukkan aktivitas hidupannya. Hidup memang berdekatan dengan kematian. Mampu mendefinisikan mati secara otomatis akan mampu mengidentifikasi hidup. Sementara itu, agama samawi atau tradisi budaya lokal memiliki definisi tersendiri mengenai kematian. Al Qur'an, dalam salah satu surahnya memperingatkan bahwa jangan dikira orang-orang yang "terbunuh" (mati) di jalan Alloh itu mati, sesungguhnya mereka hidup bahkan mendapat rezeki di sisi Alloh. Logika Al Qur'an tentang kematian berbeda dari logika awam. Syaidina Ali kw, misalnya, memberikan definisi kematian -sekaligus kehidupan - yang selaras dengan Al Qur'an:" Kematian adalah hidup dalam keadaan terhina (karena berbuat kedzaliman), dan kehidupan adalah kematian yang menghinakan (mereka yang berbuat dzalim)". Jangan dikira hanya Al Qur'an atau para penjaga AL Qur'an saja yang memiliki definisi berbeda tentang kematian. Tradisi, kearifan atau budaya lokal umumnya senada dengan AL Qur'an. Dalam pepatah Cina, umpamanya, disebutkan bahwa kehidupan itu ibarat lorong-lorong, dan kematian adalah salah satu pintunya. Walhasil, menurut pepatah Cina, kematian bukan sesuatu yang kontra terhadap kehidupan, melainkan bagian dari "hidup". Menurut isi sebuah prasasti, Prasasti Kawali yang terletak di Tatar Sunda, kehidupan yang abadi akan tercapai hanya dengan membiasakan diri berbuat kebajikan (pakena gawe rahayu pakeun heubeul jaya di bhuana). Isi prasasti mengindikasikan bahwa tak ada kematian bagi mereka yang telah membiasakan diri berbuat kebajikan. Kebajikan atau amal saleh atau - lebih luas lagi - amal sosial, karena itu -sebagaimana Al Qur'an dan tradisi mengatakannya- dapat mempercepat di kabulkannya do'a, termasuk do'a untuk panjang umur (baik dalam makna umum maupun makna khusus). Dalam salah satu do'a dari -kembali lagi - Syaidina Ali kw, yaitu Do'a Kumyl yang mashur di kalangan para pengamalnya, disebutkan bahwa salah satu tarekah atau jalan untuk menhindarkan bencana adalah beramal shalih. Mungkin karena itu pula, meski formalin telah merajalela dalam makanan rakyat kecil, namun mereka masih tetap hidup. Ya, karena para orang kecil seringkali beramal shalih secara diam-diam atau...pengorbanan mereka sendiri selama ini sudah merupakan amal shalih. Jadi, apakah korupsi mempercepat kematian? Bila korupsi itu telah sedemikian menyengsarakan rakyat, bukan saja mempercepat kematian, namun bahkan para koruptor itu telah mengalami kematian. Demikian itu jika kita mengambil salah satu definisi kematian berdasarkan tradisi. salam, manAR [Non-text portions of this message have been removed] --- End forwarded message --- ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Clean water saves lives. Help make water safe for our children. http://us.click.yahoo.com/CHhStB/VREMAA/E2hLAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

