Note: forwarded message attached.


Yahoo! Photos
Ring in the New Year with Photo Calendars. Add photos, events, holidays, whatever.

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




SPONSORED LINKS
Corporate culture Business culture of china Organizational culture
Organizational culture change Jewish culture


YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---
 
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]On Behalf Of Dindin Afifudin
Sent: 21 Desember 2005 12:15
Subject: "SAYA MALU DAN MENYESAL JADI WARGA NEGARA RI"

 

Assalamualaikum.Wr.Wb

Dari milis tetangga dekat kita.....

 


PENGALAMAN


PENGURUSAN REKOM DEPNAKER


Nama Saya : Rustam Andeskun Bin Yurnalis

Passport No : M 763721

Calling Visa No : 032005197658



Saya mendapat pengalaman cukup menyakitkan terhadap perlakuan bangsa saya .
Didalam negeri tidak ada lapangan kerja.

Pergi keluar negeri saya dipersulit dan diperas.

Beda apa yang saya tahu dinegara Philipina, Pemerintah bersama aparat,
mereka di Bantu habis-habisan oleh Negara dianggap sebagai pahlawan Devisa.


"SAYA MALU DAN MENYESAL JADI WARGA NEGARA RI"


Kronologisnya sbb :

Saya dapat calling visa tgl 09 November 2005 di kirim oleh majikan ke Padang

Berangkat ke JKT naik Bus dan mengurus konfirmasi keberangkatan tgl 16
November 05 di Gulf Air. untuk berangkat 30 November 2005. Dengan modal
calling visa dan PTA (paid advance ticket) Gulf Air memberikan ticket dan
confirm keberangkatan kepada saya.

Tgl 18 November 05 saya ke Bandara Sukarno Hatta jam 11 malam dengan membawa
: calling visa, ticket, kartu Depnaker Padang. Bagian ticketing tidak mau
mengeluarkan boarding pass dan meminta saya untuk menghadap ke Depnaker
Bandara lantai-II. Sebelumnya saya dipanggil oleh SATPAM Bandara dan Polisi,
meminta dan melihat passport saya, dia menanyakan apakah anda teroris keluar
negeri ?. Saya jawab tidak, dia lanjut tanya kenapa keluar negeri, saya
jawab hidup susah dinegeri sendiri. Anda harus memiliki surat bebas teroris.
Saya taya dimana mengurusnya, urus didaerah masing-masing Pada waktu jumpa
saya dengan petugas Depnaker Bandara saya dinyatakan tidak bisa berangkat
dan diminta menghadap ke Depnaker Ciracas Jakarta esok Tgl 19 November 2005
saya pergi dan menghadap Depnaker Ciracas, nama petugas TURIMAN (bgn
registrasi). Membeli materai RP 6000, isi formulir (surat pernyataan
penduduk luar negeri / urus perjanjian kerja sendiri) dan menyerahkan
kembali kebapak ke Turiman.

Oleh pak Turiman saya diminta mengahadap bapak HARIYANTO NIP : 160047115
(an. KASUBDIT PENYEDIAAN PENEMPATAN DAN KERJASAMA KAWASAN II, KASI
PENEMPATAN DAN KERJASAMA). Sebelum menghadap, Satpam marah-marah dan
mencegat saya tidak dibolehkan menghadap pak HARIYANTO. Namun saya berusaha
masuk dan dan dapat menemui bapak Hariyanto pada saat SATPAM lengah sibuk
melayani calo-calo PJTKI karena saya menyaksikan calo tsb memberikan uang RP
50.000 kepada SATPAM tsb.

Pada pertemuan bapak Hariyanto beliau minta surat agreement kerja dan
calling visa dan kartu Depnaker dari Padang. Saya serahkankan calling visa
saja, selain itu saya tidak punya. Walau saya telah mencoba memohon agar
Rekom Depnaker diberikan . Tapi pak Hariyanto tidak meberikan surat Rekom
tsb. Saya diusir keluar untuk mengurus kontrak kerja dengan majikan di Qatar
dan meminta surat (kartu kuning / surat pencari kerja Depnaker dari Padang.
Diluar diruang informasi saya dipanggil SATPAM (Sugianto, telpon
081585248501) bersama para calo-calo sekitar 6 orang, salah satu namanya
IRWAN, no telpon : 08176712652, katanya kalau mau selesai Rekom bayar RP
3.000.000 tanpa persyaratan surat REKOM Depnaker bisa keluar.

Karena saya tidak punya uang, saya tidak mampu membayar.

Saya kembali lagi ke Padang naik bus selama 4 hari (PP) dan kembali ke JKT
Tgl 23 November 2005, di Padang saya berhutang sama tetangga RP 1.500.000
Kemudian menghadap lagi ke bapak Turiman Depnaker Ciracas dengan membawa
agreement contrak yang baru saja di fax dari Qatar dan kartu Depnaker
Padang, membeli lagi materai RP 6000 dan mengisi lagi formulir. Oleh pak
Turiman saya disuruh menghadap bapak Hariyanto lagi. Saya serahkan surat
yang diminta sebelumnya, namun Rekom Depnaker juga tidak diberikan, diminta
lagi agar kontrak kerja di legalisir oleh KBRI di Qatar, juga surat kontrak
asli yang telah dilegalisir oleh KBRI Qatar. Biaya saya telah habis, sedang
Rekom belum juga keluar. Saya telah benar-banar kesal keinginan membunuh
dalam hati muncul sambil keluar terus air mata kekesalan saya, dan SATPAM
(pakai topi haji) mencemooh saya dan berkata serahkan saja RP 2.000.000
kedia urusan bisa selesai, aman dan lancar. Sedang saya tidak punya biaya
sebesar yang diminta.

Tgl 26 November 2005 saya kembali lagi ke Padang untuk mencari uang dan
sambil menghilangkan rasa kesal, sedih, sakit hari, marah. Di Padang saya
jual emas orang tua (paun rupiah emas) laku RP 2.550.000. Kembali lagi ke
JKT kali yang ke III, menghadap lagi pak Hariyanto dengan membawa surat copy
kontrak kerja yang disahkan oleh Labor Dept Qatar, kartu Depnaker Padang,
calling visa. Oleh pak Hariyanto juga tidak mau mengeluarkan Rekom Depnaker.
Lantas saya keluar, nampak sama pak Turiman saya dipanggil dan saya disuruh
menghadap kantor Depnaker Pusat Jln Gatot Subroto lantai-6 menghubungi bapak
Triadi. Saya kesana ketemu degan bapak Triadi, saya serahkan semua surat
yang saya miliki. Jam 3.05 sore tgl 26 November 2005. Saya disuruh mnghadap
kembali pak Triadi besok. Pagi tgl 27 November 05, pak Triadi tidak
ditempat. Saya menungu diruang tunggu selama 5 jam mulai 8.00 s/d 12 siang.
Jam 12. pak Traidi datang disuruh saya photo copy seluruh surat-surat. Saya
serahkan copy, saya disuruh pulang dan diminta datang lagi besok pagi. Tgl
28 pagi jam 11 saya tiba dikantor Depnaker pusat jln gatot Subroto menghadap
lagi bapak Triadi. Saya disuruh menunggu karena surat-surat banyak s/d jam
4.00 sore. Saya disuruh pulang dan datang lagi besok tgl 29 November 05. Tgl
29 datang lagi jam 9.00 pagi, disuruh membayar / stor bank BRI Jln. Ampang
sebesar 15 USD. Naik ojeck ke jln Ampang, dan bayar 15 USD. Jam 11.00
selesai pembayaran. Kembali lagi ke bapak Triadi lantai 6, serahkan surat
bukti pembayaran BRI 15 USD. Saya disuruh pulang karana atasannya yang
menanda tangani surat syarat-syarat Rekom sedang rapat.

Tgl 30 November 05 kembali ke Depnaker Gatot Subroto, tiba 10.00 pagi, jam
1.00 siang baru diberikan berkas surat (dalam amvelop tertutup, tidak tahu
apa isinya) disuruh bawa ke Depnaker Ciracas untuk mendapatkan Rekom tsb. Di
kantor Depnaker Gatot Subroto sangat terkesan saya petugas acuh tak acuh dan
tidak mau melayani urusan perorangan, kecuali PJTKI atau calo-calo.

Tgl 01 Desember 2005 saya kembali Depnaker Ciracas menghapap bapak Turiman,
isi lagi formulir dan beli lagi materai RP 6000 dan membayar Jamsostek 40
USD dan menyerah amvelop tertutup ke pak Turiman. Surat formulir baru
diserahkan kepada pak Hariyanto dan menunggu s.d jam 6.00 sore. Pada jam
6.00 sore ini baru saya diberikan surat Rekom yang sebenarnya setelah urusan
12 hari pengurusan.

Tgl 12 Desember 2005 berangkat ke Bandara Sukarno Hatta dengan mambawa
ticket, passport dan rekom Depanker. Dibandara surat REKOM Depnaker sama
sekali tidak ditanyakan sampai saya saya tiba di Qatar.


SAYA MOHON KEPADA PEMERINTAH AGAR :


MENCABUT SURAT KEBIJAKAN KEHARUSAN REKOM DEPNAKER UNTUK TKI YANG AKAN
BERANGKAT KELUAR NEGERI.

__________________________________________________


*OO*


--- End Message ---

Kirim email ke