Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Nagn bisa bati ngaheruk wae, maso warta di Kompas ngeunaan dulur nu di Sukabumi kakeunaan rawan pangan, deudeuh teuing kidulur, mugya sing sabar dina kaayaan walurat, sing di pasihan rizki nu sae tur Halal, amiin
ikmal
pituin Sukabumi
=====================================================================
Rawan Pangan di Sukabumi, Ratusan Warga Makan Ganyong
(Kompas Minggu)
Sedikitnya 100 warga Kampung Cimarayah, Ciujung, dan
Seuseupan, Desa Walangsari Kecamatan Kalapanunggal,
Kabupaten Sukabumi, dilaporkan menderita rawan pangan.
Ratusan warga yang berada di kaki Gunung Halimun itu, hanya
mampu makan nasi atau bubur sekali dalam sehari.
Selebihnya perut mereka diganjal dengan singkong, ganyong
(sejenis talas), talas, atau pisang yang direbus. Sejauh
ini tidak tercatat adanya warga yang jatuh sakit atau
meninggal akibat musibah rawan pangan tersebut.
Berdasarkan pemantauan di lapangan Minggu (22/1) sebenarnya
kondisi memprihatinkan ini sudah berlangsung lama. Namun,
dalam sepekan terakhir ini kondisinya semakin
memprihatinkan. Masalahnya, bantuan dari para tetangga yang
terbilang mampu sudah terhenti.
Kondisi serupa ternyata ditemukan juga di Kampung
Cimanggutengah,
Desa Kabandungan Kecamatan Kabandungan. Di desa ini,
tercatat ada
104 jiwa yang menderita rawan pangan, sebagian besar adalah
jompo
yang pada umumnya berusia di atas 60, tetapi masih bekerja
sebagai pemetik teh di Perkebunan Jayanegara Indah dengan
pendapatan rata-rata Rp 1.250/hari. Sebagian dari para
jompo ini bertempat tinggal di gubuk perkebunan.
Salah satu tokoh masyarakat di Kabupaten Sukabumi, Marwan
Hamdani
mengatakan, kasus rawan pangan di Kabupaten Sukabumi
sebenarnya
ibarat gunung es. Kejadian serupa sudah lama terjadi di
beberapa
daerah lainnya terutama di wilayah Sukabumi selatan.
"Ini persoalan serius dan akut bagi kabupaten Sukabumi,
sementara
pemerintah daerah belum mampu mengatasinya secara
terencana," kata Marwan, yang juga salah satu pengurus
partai politik (Parpol) itu.
Menurut dia, kemiskinan di Sukabumi lebih disebabkan oleh
ketimpangan struktural yang membuat kehidupan para petani
di daerah tidak berdaya dalam menghadapi realitas hidupnya.
Para petani yang sebagian besar hanya berkapasitas sebagai
buruh
tani atau buruh perkebunan itu, katanya, tersisihkan secara
ekonomi akibat tidak adanya perhatian serius dari
pemerintah.
Seperti dilansir media massa, Ny Erum (65), Ny. Een (50),
Saol (40) tiga keluarga penderita rawan pangan di Kampung
Cimarayah
menyebutkan, sejak dua pekan terakhir, singkong, ubi jalar,
atau
pisang mentah, menjadi menu pokok yang dikonsumsi dua kali
dalam
sehari. Sedangkan nasi atau bubur nasi --kalau ada-- hanya
dimakan pada siang hari. "Bagi saya tidak makan nasi dua
hari berturut-turut dianggap sudah biasa. Tapi, anak-anak
harus tetap makan nasi atau bubur," kata Saol.
Diakui warga, sebagian besar penderita rawan pangan,
sebelumnya
bekerja di perkebunan. Namun, baru-baru ini perkebunan
tersebut
gulung tikar. Akibatnya, karyawan harian di perusahaan itu
berhenti bekerja.
Sedangkan di Cimanggu Tengah, sebagaimana diakui oleh Kades
Kabandungan, Tata Saklan, penderitaan ke-14 warganya ini
sebenarnya sudah berlangsung lama. Namun, mereka tetap
bertahan karena pada saat-saat tertentu mendapat bantuan
dari pembelian beras miskin atau bantuan lainnya.
"Di kompleks perkebunan ini ada 37 jompo yang masih bekerja
sebagai pemetik teh. Setiap hari para jompo ini hanya mampu
mengumpulkan rata-rata 6 kg pucuk teh dengan upah Rp165/kg.
Jadi, penghasilan mereka kurang dari Rp1.000/hari. Sangat
pantas jika para jompo dan warga lainnya menderita rawan
pangan. Masalahnya, harga beras di sini Rp3.700/liter.
Sementara, penghasilan mereka hanya satu per tiga liter
setiap harinya," tutur Iwan, Kepala Dusun II Desa Kabandungan.
(Kompas Minggu)
Sedikitnya 100 warga Kampung Cimarayah, Ciujung, dan
Seuseupan, Desa Walangsari Kecamatan Kalapanunggal,
Kabupaten Sukabumi, dilaporkan menderita rawan pangan.
Ratusan warga yang berada di kaki Gunung Halimun itu, hanya
mampu makan nasi atau bubur sekali dalam sehari.
Selebihnya perut mereka diganjal dengan singkong, ganyong
(sejenis talas), talas, atau pisang yang direbus. Sejauh
ini tidak tercatat adanya warga yang jatuh sakit atau
meninggal akibat musibah rawan pangan tersebut.
Berdasarkan pemantauan di lapangan Minggu (22/1) sebenarnya
kondisi memprihatinkan ini sudah berlangsung lama. Namun,
dalam sepekan terakhir ini kondisinya semakin
memprihatinkan. Masalahnya, bantuan dari para tetangga yang
terbilang mampu sudah terhenti.
Kondisi serupa ternyata ditemukan juga di Kampung
Cimanggutengah,
Desa Kabandungan Kecamatan Kabandungan. Di desa ini,
tercatat ada
104 jiwa yang menderita rawan pangan, sebagian besar adalah
jompo
yang pada umumnya berusia di atas 60, tetapi masih bekerja
sebagai pemetik teh di Perkebunan Jayanegara Indah dengan
pendapatan rata-rata Rp 1.250/hari. Sebagian dari para
jompo ini bertempat tinggal di gubuk perkebunan.
Salah satu tokoh masyarakat di Kabupaten Sukabumi, Marwan
Hamdani
mengatakan, kasus rawan pangan di Kabupaten Sukabumi
sebenarnya
ibarat gunung es. Kejadian serupa sudah lama terjadi di
beberapa
daerah lainnya terutama di wilayah Sukabumi selatan.
"Ini persoalan serius dan akut bagi kabupaten Sukabumi,
sementara
pemerintah daerah belum mampu mengatasinya secara
terencana," kata Marwan, yang juga salah satu pengurus
partai politik (Parpol) itu.
Menurut dia, kemiskinan di Sukabumi lebih disebabkan oleh
ketimpangan struktural yang membuat kehidupan para petani
di daerah tidak berdaya dalam menghadapi realitas hidupnya.
Para petani yang sebagian besar hanya berkapasitas sebagai
buruh
tani atau buruh perkebunan itu, katanya, tersisihkan secara
ekonomi akibat tidak adanya perhatian serius dari
pemerintah.
Seperti dilansir media massa, Ny Erum (65), Ny. Een (50),
Saol (40) tiga keluarga penderita rawan pangan di Kampung
Cimarayah
menyebutkan, sejak dua pekan terakhir, singkong, ubi jalar,
atau
pisang mentah, menjadi menu pokok yang dikonsumsi dua kali
dalam
sehari. Sedangkan nasi atau bubur nasi --kalau ada-- hanya
dimakan pada siang hari. "Bagi saya tidak makan nasi dua
hari berturut-turut dianggap sudah biasa. Tapi, anak-anak
harus tetap makan nasi atau bubur," kata Saol.
Diakui warga, sebagian besar penderita rawan pangan,
sebelumnya
bekerja di perkebunan. Namun, baru-baru ini perkebunan
tersebut
gulung tikar. Akibatnya, karyawan harian di perusahaan itu
berhenti bekerja.
Sedangkan di Cimanggu Tengah, sebagaimana diakui oleh Kades
Kabandungan, Tata Saklan, penderitaan ke-14 warganya ini
sebenarnya sudah berlangsung lama. Namun, mereka tetap
bertahan karena pada saat-saat tertentu mendapat bantuan
dari pembelian beras miskin atau bantuan lainnya.
"Di kompleks perkebunan ini ada 37 jompo yang masih bekerja
sebagai pemetik teh. Setiap hari para jompo ini hanya mampu
mengumpulkan rata-rata 6 kg pucuk teh dengan upah Rp165/kg.
Jadi, penghasilan mereka kurang dari Rp1.000/hari. Sangat
pantas jika para jompo dan warga lainnya menderita rawan
pangan. Masalahnya, harga beras di sini Rp3.700/liter.
Sementara, penghasilan mereka hanya satu per tiga liter
setiap harinya," tutur Iwan, Kepala Dusun II Desa Kabandungan.
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
SPONSORED LINKS
| Corporate culture | Business culture of china | Organizational culture |
| Organizational culture change | Jewish culture |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "urangsunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

