Mencermati Kasus Tabloid ”Peta”
                 Meski Bersaing, Tetaplah Proposional dan EtisRAMAI-ramai       
          memprotes pemuatan karikatur Nabi Muhammad saw. ibarat jamur di musim 
penghujan. Hampir di                 setiap negara yang ada penduduk Muslimnya 
menghujat dan mengutuk koran di Denmark yang                 memuat karikatur 
tersebut. Begitu pula Indonesia. 
                 Kini, giliran tabloid mingguan Peta yang kena getahnya. Maksud 
hati hanya ingin                 memberitakan tentang adanya pemuatan karikatur 
itu di sebuah koran di Denmark,                 ujung-ujungnya malah akan 
dituntut. Pasalnya, tabloid Peta juga ikut memuat                 karikatur 
tersebut sebagai "penegasan" pemberitaan tersebut. 
                 Peta memberitakan pemuatan karikatur yang terjadi di Denmark 
disertai dengan                 menampilkan karikatur yang menjadi pemicu 
kemarahan umat Muslim se-dunia. Hal itu dapat                 diketahui dalam 
terbitannya edisi V Februari 2006, yang memuat 10 gambar karikatur dan          
       menerbitkan sekira 3.000 eksemplar. "Meskipun alasannya untuk penegasan, 
justru                 membahayakan tabloid Peta sendiri," komentar Dindin S. 
Maolani, S.H., saat                 dihubungi "PR", baru-baru ini. 
                 Menurut Dindin, mungkin redaksi Peta ingin menyamakan 
popularitas dengan                 koran-koran yang sudah besar, tetapi malah 
jadi bumerang. Hujatan dari umat Muslim                 terhadap mereka 
membanjir. Bahkan, kantor Peta terancam akan dihancurkan massa.                 
Atas kejadian itu, redaksi tabloid Peta sudah menyampaikan permintaan maaf 
kepada                 umat Muslim, karena telah memublikasikan gambar Nabi 
Muhammad saw. Redaksi Peta                 juga akan segera menarik seluruh 
tabloid yang telah beredar.
                 Menurut Dindin, permintaan maaf dan penarikan kembali 
tabloidnya saja sebenarnya tidak                 cukup. "Perbuatan mereka harus 
dipertanggungjawabkan secara hukum," ujar Dindin.                 
                 Ia mencontohkan ada sebuah media memuat gambar porno, 
masyarakat tidak menyukainya.                 Kemudian, masyarakat menyerang 
kantor media tersebut. Di lain pihak, ada media yang                 
memberitakan penyerangan tersebut disertai alasan penyerangan. Lalu, mereka pun 
memuat                 gambar yang menjadi pemicu penyerangan itu. 
                 "Ini sama. Tabloid Peta memuat objek yang dilarang untuk 
dimuat. Kalau                 beritanya saja, sih, tidak apa-apa," lanjut 
Dindin. Ini bisa dikatakan memuat                 ulang. 
                 "Ini tidak boleh ditampilkan, sekalipun sebagai alasan 
penegasan. Karena gambar                 inilah yang menjadi pemicu kemarahan 
umat Muslim," ujarnya.
                 Tabloid Peta dapat dikenakan delik penghinaan dan diadukan 
sebagai pelanggaran                 pidana terhadap masyarakat terutama 
masyarakat Muslim. Di sinilah, pers harus menunjukkan                 etika 
sebagai pers. Bebas tapi bertanggung jawab. "Jadilah pers dengan sikap          
       profesional, proporsional dalam menyajikan berita, dan etis," tutur 
Dindin. 
                 Menurut dia, boleh-boleh saja membuat berita macam apa pun, 
tapi harus proporsional,                 patut, dan bertanggung jawab. Dindin 
pun mengerti kedudukan pers sekarang berada dalam                 persaingan 
bisnis. Mereka harus menyajikan berita yang menjual. Namun, jangan sampai       
          dengan alasan tersebut pers melupakan fungsinya.
                 "Pers seharusnya memperhatikan hal-hal yang akan merugikannya. 
Hal-hal yang                 dilakukan oleh tabloid Peta dan bagaimana 
akibatnya, harus dijadikan perhatian                 tersendiri bagi pers untuk 
ke depannya," kata Dindin. 
                 Dunia pers semakin disorot bersamaan dengan munculnya berbagai 
infotainment yang                 berebut berita yang lebih "heboh" dibanding 
acara yang lain. Menurut Dindin,                 yang mereka pentingkan 
hanyalah rating dan popularitas. Mereka tidak memperhatikan                 
objek-objek yang diberitakannya, apakah itu dilarang atau tidak? 
                 Sekali lagi, seharusnya pers berusaha membangun dirinya 
sebagai pers yang bebas dan                 bertanggung jawab. Tidak 
mementingkan persaingan bisnis, karena pers bertugas memberikan                 
informasi yang sehat. 
                 "Karena tidak ingin kalah dari yang lain, berusaha 
mengorek-orek kejelekan orang                 lain lebih hebat lagi. Bisa-bisa 
berita seperti itu malah akan menjatuhkan kredibilitas                 sendiri 
atau dijatuhkan oleh kelompok lain. Memang, kalau sudah berbicara masalah       
          kepentingan bisnis, akan jadi repot," ungkapnya.
                 Dindin menegaskan bahwa sekaranglah saatnya, pers memberikan 
warning pada                 dirinya sendiri sebagai fungsi kontrol agar tetap 
berjalan di relnya. Jangan membiarkan                 hal-hal yang membahayakan 
dan merugikan pers menghadang perjuangan pers.                 
(Dewiyatini/"PR")***



=====
Situs: http://www.urang-sunda.or.id/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]
                
---------------------------------
 
 What are the most popular cars? Find out at Yahoo! Autos 

[Non-text portions of this message have been removed]



Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke