Ieu aya rerencangan ngintun seratan sapertos
dihandap.Kanggo ngalengkepan beja anu tos aya.

Baktos,

mrachmatrawyani


SUARA PEMBARUAN DAILY 
"Playboy" Bukan Sekadar Erotisme

T Yulianti 

MASYARAKAT dihebohkan dengan akan terbitnya Majalah
Playboy edisi Indonesia mulai bulan Maret nanti. Lebih
dari 50 ormas Islam dan LSM secara resmi menolak
peredaran majalah berbau porno itu di Tanah Air.
Namun, tidak sedikit pula orang yang diam-diam
menyambutnya dengan suka cita. Selamat datang
pornografi, seksualisasi, dan konsumerisme! 

Playboy telah berperan sangat penting dalam membawa
pornografi ke luar dari kamar tidur dan memasuki ruang
publik secara terbuka. Lebih dari itu, Playboy telah
membuka jalan bagi industri pornografi yang omsetnya
sekarang ini mencapai US$ 10 triliun. Sejak didirikan
bulan Oktober 1953 oleh Hugh Hefner, konsep awal
Majalah Playboy memang bukan sekadar membuat pria
ejakulasi, melainkan juga mendorong berkembangnya
seksualisasi dan konsumerisme. 

Majalah Playboy sedari awal memang telah diarahkan
--meminjam istilah Gail Dines-- untuk "selling
consumerism, selling women". Jelas, Playboy bukan
majalah keluarga. Ia majalah kaum pria yang gandrung
pada wanita-wanita seperti Hefner sendiri. Makanya
dinamakan Playboy. Jika terbit di Medan dan berbahasa
Batak, majalah itu mungkin dinamakan "Si Doli
Par-jalang". 

Dari namanya saja, penerbitannya di Tanah Air sudah
mengundang masalah. Se- orang wakil rakyat di DPR yang
dengan keras menolak penerbitan Playboy edisi
Indonesia, misalnya, mengatakan, "Kalau memang baik,
tentu namanya bukan Playboy. Tapi Goodboy". 

Terlepas dari penolakan tersebut, pihak pemegang
lisensi Playboy di Indonesia akan tetap menerbitkan
majalah itu dengan "mengedepankan artikel" dan bukan
mengeksploitasi "explicit picture and nudity". Bagi
yang belum mengenal sejarah dan jatidiri Playboy,
tentu penjelasan itu bisa meredam panas hati
pihak-pihak yang menolak peredaran majalah itu di
Indonesia. 

Tapi, orang yang mengenal siapa Hugh Hefner akan
mengatakan bahwa justru konsep tidak secara vulgar
menampilkan ketelanjangan itulah yang menjadi ciri
khusus majalah Playboy. Dalam terminologi populer,
Playboy (dan juga Penthouse) sering diacu kepada
"soft-core" pornografi, sementara majalah semacam
Hustler dan Tit Torture diacu kepada "hard-core". 

Bedanya, hard-core pornografi menampilkan wanita
sebagai komoditi seks dan ditampilkan secara telanjang
dengan memperlihatkan alat-alat genitalnya, sedangkan
soft-core pornografi menawarkan lifestyle yang menca-
kup komersialisasi produk- produk gaya hidup. 


Pornografi 

Baik Playboy maupun Hustler tetap dikategorikan
pornografi, karena sama- sama menyajikan erotisme yang
bertujuan untuk memfasilitasi kaum pria ereksi dan
bermasturbasi. Yang membedakan adalah Majalah Playboy
memiliki tempat khusus di dunia ekonomi dan industri
penerbitan, sedangkan Hustler melulu menjual erotisme.


Playboy dan Penthouse, dua majalah gaya hidup
pornografi tertua dan tersukses, bukan hanya
menyajikan gambar wanita-wanita molek berpose seksi,
melainkan juga menyediakan tulisan mengenai
produk-produk konsumsi mutakhir, kolom nasehat
seksual, cerita pendek dari penulis terkemuka,
wawancara dengan selebritis, ulasan film-film baru,
kartun seronok, dan surat pembaca. 

Saat perusahaan-perusahaan menghindarkan diri untuk
memasang iklan di Hustler atau Tit Torture,
halaman-halaman Playboy dan Penthouse dipenuhi
iklan-iklan dari perusahaan terkemuka seperti Benson &
Hedges, Mercedes, Sony, dan Bugle Boy. Majalah
hard-core tidak memuat tulisan bagaimana Presiden
Jimmy Carter bicara tentang fantasi seksualnya seperti
di Playboy atau Ratu Anne dari Keluarga Kerajaan
Inggris meresmikan pembukaan kantor perwakilan
Penthouse di London. 

Penerimaan (tokoh) publik semacam Presiden Carter dan
Ratu Anne terhadap Playboy dan Penthouse sering
digembar-gemborkan dan dikesankan bahwa
majalah-majalah itu memiliki "cita rasa" atau
"bukanlah pornografi yang sesungguhnya". Tapi,
pemberian kesan itu sangat bias kasta sosial.
Seolah-olah pornografi yang sesungguhnya adalah yang
diproduksi secara murah meriah, yang menampilkan
gambar wanita seronok dengan latar belakang seadanya,
seperti sofa butut, kamar motel murah, atau aksesoris
ala kadarnya. 

Sedangkan gambar-gambar wanita di Playboy adalah yang
berkasta tinggi (high-class) dengan latar belakang
glamour, pernik-pernik mewah, dan kualitas nomor satu.
Model Playboy selalu diambil gambarnya di ruang yang
wah, pantai yang indah dan furnitur yang mahal. 

Konsep ini, menurut pengamatan Gail Dines dalam
"Playboy Magazine and the Sexualization of
Consumerism", bukanlah suatu kebetulan. Hugh Hefner,
pemilik dan pendiri Playboy, merancangnya demikian.
Semuanya diarahkan untuk kepuasan pembaca kalangan
menengah atas. 


Kualitas Nomor Satu 

Semua produk yang ada di Playboy (juga Penthouse)
diproduksi dalam kualitas tinggi, seperti cerita
pendek yang ditulis cerpenis kondang, wawancara dengan
tokoh terkenal, mobil mewah keluaran terbaru, alkohol
yang membuai, pakaian dalam yang seksi, makanan yang
merangsang kejantanan, dan tentu saja wanita-wanita
bahenol yang jadi modelnya. Semuanya kualitas nomor
satu. Begitulah cara Hugh Hefner memasarkan majalahnya
dan dia meraih sukses luar biasa. 

Sejak awal, Hefner sudah jelas siapa target
audiensnya. Ia menulis dalam Playboy edisi perdananya
di bulan Oktober 1953 bahwa: "Jika Anda pria berusia
antara 18 sampai 80, Playboy adalah untuk Anda" 

Hefner menyatakan pihaknya ingin membuat kejelasan
sejak awal bahwa Playboy bukanlah majalah keluarga.
"Di halaman-halaman Playboy, Anda akan menemukan
artikel, cerita fiksi, gambar-gambar, humor, kartun...
yang dimaksudkan untuk memberi kenikmatan bagi cita
rasa kelaki-lakian". 

Strategi Hefner yang menawarkan gaya hidup, lebih dari
sekadar membuat pria ejakulasi, ternyata menarik
perhatian bukan saja para pembaca tapi juga pemasang
iklan. Terbitan perdana terjual 53.991 eksemplar.
Setahun kemudian sudah naik menjadi 175.000 eksemplar.
Se- karang ini setiap bulannya Playboy menjual lebih
dari 7.000.000 eksemplar. 

Jika penerbit Playboy edisi Indonesia berani
mengeluarkan kocek lebih dari Rp1 miliar hanya untuk
mendapatkan lisensi, berarti dari kalkulasi bisnis,
peredaran majalah itu di Tanah Air akan sangat
menguntungkan. Masalahnya, apakah Hugh Hefner juga
bisa berjaya di negara berpenduduk Muslim terbesar di
dunia? Waktu akan membuktikan. * 


Penulis adalah pemerhati masalah internasional 






__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke