Kanggo naon buku Sajarah enteh? Skripsi nya?
Tah, kuring kurah-koreh ka pabetekan, mendakan
perkawis teh di jaman "ngungkueuk" dugi ka jaman
kiwari. Tanah Pasundan teh pusatna per entehan di
Indonesia. Tapi kiwari sacara global ekspor teh ti
urang eleh ku nagri sejen. Malihan mah sok sanaos aya
peningkatan ekspor teh tapi geuning tina sisi
"penerimaan" cicis kalah ka beuki morosot.
Ceuk cenah teh di Indonesia teh beurat teuing ku
"budaya lama", hilap, batur mah ngulik enteh teh nepi
ka ngangge R & D sagala.
Panyakit anu matuh aya di ampir sadaya urang Sunda
(oge Indonesia),"bangga akan masa lampau".

Perkara Teh ieu tiasa janten hiji "sentilan" atawa
panggeuing pikeun sakumna Urang Sunda.
(Urang Sunda Hudang Euy!!)

baktos,

mrachmatrawyani

--- Jatigede <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Kumaha daramang Juragan Sadayana?
>   Bade nyuhunkeun tulung, manawi aya anu gaduh buku
> ngeunaan sajarah enteh di Priangan(1850-1950/sekitar
> 1900-an). Komo upami aya mah, terjemahan buku
> karangan Hella S. Hasse (Heren van de Tee). Diantos
> pisan ku abdi. Hatur nuhun............
>    
>   Deden Sureden (aspal)
>   0813 16760877 


  SOS Teh  Indonesia

Ini adalah salah satu contoh, betapa menyedihkan
perkembangan ekspor teh Indonesia, yang dulu sempat
menjadi andalan ekspor perkebunan. Keberhasilan masa
lalu telah memerangkap kita untuk tetap menekuni usaha
yang sama bertahun-tahun tanpa inovasi.
Dalam salah satu artikel di Kompas, terlihat betul
betapa menyedihkannya perkembangan ekspor teh
Indonesia. Teh, yang dulu menjadi andalan ekspor
perkebunan, sekarang nilai penjualannya anjlok terus.
Sayangnya tak banyak orang perkebunan kita yang
menyadari bahwa research & development (R & D) sangat
penting. Di pasaran internasional, saat ini berkat
kemajuan R & D, unsur teh dalam campuran teh yang
diperdagangkan telah semakin kecil. Barang-barang
konsumsi berupa teh telah dicampur oleh ingredient
lain seperti bunga mawar, aroma mangga, kayu manis,
jeruk dan sebagainya.

Selain itu, ada demikian banyak produk pengganti yang
dijajakan sebagai teh.  Korea Selatan misalnya, saat
ini sedang gencar-gencarnya memasarkan ginseng dalam
bentuk teh (teh ginseng).  Atau negara-negara Amerka
Selatan dan India yang memasok teh Chamomille. Semua
itu telah mencuri porsi pasar teh tradisional
Indonesia.  Sementara negara-negara pesaing terus
meningkatkan kualitas produk dan masuk ke dalam
produk-produk bernilai tambah tinggi. 
Produsen-produsen teh Jepang saat ini gencar
menjelaskan betapa teh hijaunya berkhasiat tinggi. 
Teh hijau Jepang saat ini juga dipasarkan dalam
berbagai minuman kaleng dan es krim (green tea ice
cream) yang nilai tambahnya jauh lebih tinggi dari
sekedar komoditas seperti yang dilakukan oleh
pelaku-pelaku bisnis teh Indonesia.

Teh merupakan bagian  budaya yang sudah berusia ribuan
tahun. Diyakini bahwa teh ini berasal dari negeri
China.  Konon pada jaman Kaisar Shen Nung (2737 SM),
secara tidak sengaja selembar daun jatuh dan masuk ke
dalam rebusan air dan terseduh oleh Sang Kaisar.  Daun
tersebut adalah daun teh dan Kaisar merasakan
nikmatnya air seduhan tersebut.  Setelah itu, teh
mulai dikenal dan menyebar luas.

Cerita teh di Indonesia berawal dari Andreas Cleyer.
Pada tahun 1686, ia membawanya ke Indonesia untuk
tanaman hias.  Lalu, 42 tahun kemudian, yaitu tahun
1728, Belanda mulai tertarik terhadap teh dan mulai
mendatangkan benih teh dari China untuk dibudidayakan
di Pulau Jawa.

Tahun 1824, Van Siebold melanjutkan upaya pengembangan
teh yang benihnya berasal dari Jepang. Usaha
perkebunan teh pertama di Indonesia dipelopori
Jacobson pada 1828.  Teh mulai berkembang dan
memberikan keuntungan bagi Belanda.  Gubernur Van Den
Bosch menjadikan teh sebagai salah satu komoditas
Sistem Tanam Paksa (cultuurstelsel). Jawa Baratlah
yang menjadi pusat teh di Indonesia.

Sekarang teh sudah menjadi bagian dari kebudayaan
dunia, minum teh adalah tradisi yang bukan hanya
bersifat ”ritual”, ”spiritual”, tetapi dalam kehidupan
beberapa golongan masyarakat di negara lain sudah
menjadi simbol kehidupan ”glamor”.

Sejarah panjang ini tentu memberikan  makna besar bagi
bangsa Indonesia. Data tahun 2002 menunjukkan bahwa
luas areal teh di Indonesia sudah mencapai lebih dari
157.000 hektar, yang terdiri atas perkebunan teh milik
BUMN sekitar 49.000 hektar, swasta 43.000 hektar, dan
petani 66.000 hektar. Sekitar 70 – 80 persen
perkebunan teh ini berada di Jawa Barat., tanah
Pasundan.

Pada 2002, Indonesia memproduksi 172.700 ton teh dari
produksi dunia 3,05 juta ton. Jadi pangsa (share)
Indonesia 5,6 persen. Sebagai perbandingan, produski
negara lain seperti India 826,.200 ton, China 745.400
ton, Sri Langka 310.600 ton, dan Kenya 287.000 ton
(international Tea Comitte, 2003).

Teh merupakan komoditas ekspor Indonesia, khususnya
Jawa Barat. Pada tahun 2002, nilai ekspor teh
Indonesia mencapai 103, juta dolar AS, dengan volume 
ekspor 94.700 ton untuk teh hitam dan 5.500 ton teh
hijau.  Tahun 1993, nilai ekspor teh Indonesia ini
mencapai 155,7 juta dolar dengan volume ekspor 123.926
ton.  Pada 1998, nilai ekspor teh Indonesia menurun
menjadi 113,2 juta dolar dengan volume 67.219 ton.

Data ini menggambarkan bahwa penerimaan devisa dari
ekspor teh Indonesia ternyata menurun dari 1993 dan
1998. Yang paling mengkhawatirkan adalah data
1998-2002, dimana volume ekspor meningkat 33.000 ton,
tetapi pendapatan menurun 9,8 juta dolar atau Rp83,3
miliar dalam empat tahun.

Tabel 1 mencoba memberikan gambaran melalui
perbandingan kinerja antara Sri Langka dan Indonesia
dalam bidang pertehan ini. Data inilah yang
mengungkapkan bahwa teh Indonesia berada dalam situasi
gawat (SOS).

Hal ini diperlihatkan oleh, pertama, harga teh Sri
Langka selalu lebih tinggi daripada harga teh
Indonesia, dengan selisih terendah 0,6 dolar (1993)
dan tertinggi 1,38 dolar (1996) per kilogram.

Setelah tahun 1996, harga teh Sri Langka selalu di
atas 2,24 dolar per kilogram, sedangkan harga teh
Indonesia pada periode yang sama sekitar 0,99-1,68
dolar per kilogram. Harga teh Sri Langka 48-130 persen
lebih tinggi dari harga teh Indonesia (1993-2002).
(sebagai catatan, data harga ini merupakan hasil
perhitungan nilai ekspor dibagi oleh volume ekspor,
jadi bukan data transaksi).

Kedua, volume ekspor teh Sri Langka relatif meningkat
terus. Pada tahun 1993, ekspor Sri Langka 209.942 ton,
dan tahun 2002 menjadi 285.985 ton. Volume ekspor
Indonesia berfluktuasi cukup tajam.  Hal ini
menandakan bahwa kontinuitas ekspor Indonesia lemah.

Ketiga, nilai ekspor teh Sri Langka naik terus sejalan
dengan kenaikan volume ekspor, tetapi nilai ekspor
Indonesia fluktuatif. Bahkan kenaikan volume ekspor
teh Indonesia tidak selalu diikuti oleh kenaikan
pendapatan dari ekspor ini.  Contoh: volume ekspor
Indonesia pada 1998 sebanyak 67.210 ribu ton
memberikan pendapatan 113,2 juta dolar, tetapi volume
ekspor teh sebanyak 100.185 ribu ton (2002) memberikan
pendapatan lebih rendah, yaitu 103,4 juta dolar AS.

Fluktuasi volume ekspor dan harga yang selalu lebih
rendah, dan rendahnya harga itu jauh dari apa yang
dicapai Sri Langka, tentu menyembunyikan banyak
persoalan.  Persoalan tersebut bukan hanya terletak
pada aspek budidaya teh, tetapi tentu lebih mendasar
lagi. Hal ini didasari oleh argumen bahwa daya saing
suatu produk tidak hanya terbatas pada aspek teknis
saja, tetapi lebih luas daripada itu.

Banyak teori atau pendapat tentang bagaimana kita
dapat meningkatkan daya saing di pasar global.
Diantaranya adalah dengan membaca buku The Marketing
of Nations karya Philip Kotler  et.al. (1997) atau
buku Creating Wealth karya Lester Thurow (1999) dan
buku Lester Thurow (2003) Fortunes Favors the Bold.
 
Namun, apakah kita mampu membangun daya saing itu,
pada akhirnya kembali pada kita sendiri. APakah kita
mau dan bisa membangun diri kita sendiri, masyarakat
pertehan Indonesia, khususnya masyarakat pertehan Jawa
Barat.  Pihak lain hanyalah pihak yang hanya sampai
sebatas membantu, bukan yang utama.

Apabila kehancuran teh Indonesia dibiarkan terjadi,
dampaknya akan sangat luas. Bukan hanya ribuan petani
kehilangan pekerjaan, para pekerja perkebunan
kehilangan penghasilan, tetapi negara secara
keseluruhan juga akan mengalami kerugian yang sangat
besar.

Kerugian yang paling besar adalah kehilangan 
kepercayaan diri itu sendiri (social capital) yang
sangat penting. Satu mata rantai budaya yang telah
tumbuh di Indonesia bersamaan dengan berkembangnya teh
selama ini akan punah.  Apalagi yang dapat diceritakan
oleh generasi kita kepada generasi selanjtunya,
kecuali ketidakmampuan kita melanjutkan kejayaan masa
lalu, yang sekaligus juga menjadi dan memberikan beban
kepada anak cucu kita.

SOS.....SOS  &  siapa yang bisa menolong teh ini?


Agus Pakpahan, Ketua Badan eksekutif Gabungan Asosiasi
Petani Perkebunan Indonesia.
  


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke