Baraya, ieu aya artikel hade, beunang nyutat dina PR poe ieu, Saptu 18/2/06. 
Lumayan, pikeun noong Indonesia. (mh)

Janji                 Politik, Janji Asmara
                 Oleh JAKOB SUMARDJODALAM beberapa                 hal, 
janji-janji politik kaum politisi mirip dengan janji-janji sepasang asyik 
masyuk yang                 sedang dilanda asmara, yakni janji gombal. Namun 
itu semua tergantung dari karakter kedua                 pasangannya.
                 Sekurang-kurangnya ada empat varian pasangan asmara.           
      Pasangan pertama, lelakinya bodoh dan perempuannya bodoh. Pasangan kedua, 
lelakinya pintar                 dan perempuannya juga pintar. Pasangan ketiga, 
lelakinya pintar perempuannya bodoh.                 Pasangan keempat, 
lelakinya bodoh perempuannya pintar.
                 Analoginya dalam bidang politik adalah, pertama calon          
       pemimpinnya bodoh dan rakyat pemilihnya juga bodoh. Kedua, calon 
pemimpin pintar dan                 rakyat pemilih juga pintar. Ketiga, calon 
pemimpin pintar, rakyatnya bodoh. Keempat, calon                 pemimpin bodoh 
sedang rakyat pemilihnya pintar-pintar.
                 Padanan politik dan asmara adalah, bahwa si lelaki alias       
          calon pemimpin rumah tangga sosial amat ngebet sukses membawa 
perempuan ke ranjang                 pelaminan seperti calon pemimpin yang 
membayangkan nikmatnya kursi kekuasaan yang akan                 memberinya 
kemudahan, kekayaan, dan penghormatan. Apapun caranya akan ditempuh agar maksud 
                hati dapat terpenuhi, bahkan juga janji-janji gombal itu. 
Soalnya nafsu ngebet tadi                 itu.
                 Apa yang akan terjadi kalau pasangan lelaki bodoh              
   berpasangan dengan perempuan yang bodoh, seperti calon pemimpin bodoh 
berhadapan dengan                 calon pemilihnya yang bodoh? Tentu saja akan 
kita saksikan obral hujan janji-janji gombal                 tadi itu. Tanpa 
pikir panjang si lelaki menjanjikan untuk memetik bintang-bintang, bulan        
         dan matahari bagi kekasihnya. Dan perempuannya percaya seratus persen. 
Alangkah indahnya                 bertabur bintang di ranjang pengantin nanti.
                 Janji-janji palsu semacam ini marak terlihat pada masa         
        demokrasi liberal kita tahun 1950-1959. Janji pemimpin partai yang akan 
membagikan tanah                 kepada para pemilihnya apabila partai menang, 
mirip janji menghadiahi bintang-bintang di                 langit. Janji akan 
memakmurkan kehidupan rakyat digambarkan seperti Aladin akan mengusap           
      lampu wasiat. Janji akan membebaskan rakyat dari uang sekolah dan 
kesehatan adalah setara                 dengan janji lelaki bodoh kepada 
perempuannya yang bodoh. Semua janji politik irasional,                 mimpi 
di siang bolong. Namun rakyat percaya, dan benar-benar mencoblos. Dan negara 
tidak                 tertolong.
                 Pasangan kedua adalah pasangan ideal, yakni lelakinya          
       pintar dan perempuannya pintar. Calon pemimpin pintar dan rakyat 
pemilihnya juga tinggi                 IQ-nya. Sulit mencari contohnya di 
Indonesia, untuk mudahnya melihat berita-berita dari                 Eropa dan 
Amerika, Kanada, Jepang. Di sini jangan coa-coba mengobral janji gombal karena  
               akan segera terjadi putus cinta. Di sini dibutuhkan debat asmara 
di depan publik. Dan                 rakyat pemilih, calon pengantin perempuan, 
akan menilai taraf kepintaran kekasihnya. Debat                 jotos-jotosan 
otak ini terjadi di mimbar televisi, di mimbar konvensi, di lapangan kota,      
           di surat-surat kabar. Janji-janji tentu ada, namun semua ditakar 
secara empiri, ilmiah,                 dan filosofis-etis. Tidak ada janji 
memetik bintang di langit.
                 Dalam pemilihan umum tahun 2004 yang lalu, Indonesia           
      maunya menjajarkan diri sebagai pasangan lelaki pintar berhadapan dengan 
perempuan yang                 pintar. Itulah sebabnya debat ala calon presiden 
Amerika kita lakukan, dan disiarkan                 secara nasional oleh 
stasiun-stasiun televisi. Tetapi apakah rakyat kita sebagai kekasih             
    calon-calon presiden itu telah cukup pintar politik? Apakah ini tidak 
setara dengan                 lelakinya pintar tetapi perempuannya bodoh? Si 
lelaki boleh saja membeberkan strategi                 pemerintahannya kelak 
secara rasional, jelas, rinci, dan terukur, namun akankah rakyat                
 kebanyakan akan mampu memahaminya? Dan karena tidak memahami isi otaknya, maka 
si                 perempuan ini akhirnya mencoblos lelaki yang paling ganteng 
saja, setidak-tidaknya mampu                 menghibur di ranjang.
                 Itulah problem lelaki pintar bercintaan dengan perempuan       
          bodoh. Dalam ilmu cinta, dan mungkin juga ilmu negara, lelaki pintar 
ini tak usah                 memamerkan kecerdasannya dengan bukti-bukti 
statistik, tetapi harus pandai menjelaskan                 kecerdasannya secara 
sederhana, mudah dimengerti oleh orang bodoh mana pun. Untuk itu si             
    lelaki harus pandai dalam membangun simbol-simbol yang akrab dengan 
pengalaman si bodoh.                 Substansinya tetap namun wujudnya mudah 
dikenali oleh rakyat kebanyakan. Dan rupanya                 bahasa simbol 
semacam ini kurang dikuasai oleh calon-calon pemimpin kita. 
                 Contoh populer untuk kelihatan ini adalah Bung Karno (ya       
          siapa lagi?). Ketika ia menjelaskan arti nasionalisme di depan rakyat 
desa di alun-alun,                 maka Bung Karno menggambarkannya lewat tokoh 
Gatotkaca yang membela mati-matian negara                 ayahnya dari akal 
licik musuh. Rakyat desa ini membayangkan dirinya sebagai pahlawan              
   nasional Gatotkaca yang berani mati membela negaranya. Bung Karno 
menggembleng rakyatnya                 sebagai Gatotkaca melawan penjajah 
Belanda yang dibayangkannya sebagai begundal Kongso.
                 Indonesia itu harus dibayangkan sebagai pasangan kekasih       
          yang lelakinya pintar (dan ngebet juga) dan perempuan yang 
dicintainya kurang                 pendidikan. Banyak calon-calon pengantin 
lelaki yang pintar-pintar di negeri ini, namun                 mereka salah 
menilai kekasihnya yang dikiranya banyak membaca buku seperti dirinya. Inilah   
              sebabnya mereka selalu merayu dalam bahasa buku dan bukan bahasa 
pengalaman. Mereka ini                 selalu berkata bahwa rakyat Indonesia 
sekarang ini sudah pintar-pintar! Tidak bisa                 dibodohi lagi. 
Tidak bisa dibodohi memang benar, namun bukan dalam arti pengetahuan tetapi     
            pengalaman, hati nurani. Orang kurang pendidikan, hati nuraninya 
justru sering lebih peka                 terhadap nilai kebenaran. Perempuan 
boleh bodoh namun nuraninya cepat membaca kelancungan                 kata-kata 
pintar.
                 Tragedi Indonesia ini bukan hanya bersimbol pasangan           
      lelaki pintar perempuan bodoh, tetapi juga lelaki bodoh dengan kekasih 
perempuannya yang                 pintar. Inilah yang kita saksikan dalam 
berbagai peristiwa pilkada. Janji-janji gombal                 para calon 
pemimpin di daerah mirip potret tahun 1950-an. Ijazah palsu, mendahului start,  
               janji menyulap daerah dalam hitungan membalik telapak tangan, 
semua itu sarapan pagi di                 koran-koran. Ini semua kalau dilihat 
dari kaca mata perempuan pintar di kota-kota besar.                 Perempuan 
pintar yang mendengarkan janji-janji gombal semacam itu tentu saja akan         
        cepat-cepat menutup pintu atas kedatangan apel mingguan kekasihnya. 
Mereka lebih baik                 tidak mencoblos.
                 Kita menginginkan pasangan kekasih yang serba cerdas dan       
          pintar. Kita ingin cepat-cepat menyusul ketinggalan kita dengan 
negara-negara maju, baik                 di Barat maupun di Timur. Sayang kita 
terlalu berat berguru pada pengalaman Barat dari                 pada 
pengalaman dunia Timur, yang dalam beberapa hal menyerupai pengalaman 
Indonesia.                 Pasangan asmara politik Indonesia itu masih belum 
jodoh, karena lelakinya pandai dan                 perempuannya bodoh atau 
lelakinya bodoh perempuannya sudah pandai. Oposisi biner Indonesia              
   belum berfungsi saling melengkapi, sehingga jauh dari harapan hidup bahagia  
               selama-lamanya.*** 
                 Penulis, budayawan.




=====
Situs: http://www.urang-sunda.or.id/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]
                
---------------------------------
 
 What are the most popular cars? Find out at Yahoo! Autos 

[Non-text portions of this message have been removed]



Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke