haturan,

nyanggakeun tulisan batur meunang nyutat ti milis sejen. bisa jadi
kulantaran masih aya heabna poe basa indung, tukang nulis, nulis ieu. asa
bener. meureun ieu teh hiji deui bukti yen urang leuwih nganggap luhur basa
deungeun. heu heu heu heu...

nyanggakeun, bisi pernah maca, hampura.

bakti,

deha
mang J, dongeng mieling "poean basa Indung" di unpad mana? he he he he he he

---------- Forwarded message ----------
From: akmal n. basral <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Feb 27, 2006 1:08 PM
Subject: [KlubSastraBentang] Suara Lirih Nurwitri

Suara Lirih Nurwitri
Kurnia JR


Malam itu bulan separuh gelap, bintang bertaburan.

Di pendapa rumahnya, Ki Wanakarta memaparkan kitab Dasanama kepada Mas
Cebolang dan empat pembantunya (Nurwitri, Saloka, Palakarti, dan Kartipala).
Dimulai dengan rambut, rai (wajah), ulat (sinar wajah), susu (buah dada),
walakang (selangkangan), silit (pantat), peli (pelir), konthol (kantong buah
pelir), sampai pawestren (kemaluan wanita), itil (kelentit), dan seterusnya,
nama-nama diuraikan dengan gamblang.

Nurwitri berkata pelan, "Nama lain penthil (puting susu), pringsilan (buah
pelir), dan jembut (rambut kemaluan) belum diuraikan." Jawab Ki Wanakarta,
"Buyung, saya belum menjumpai."

Orang tua itu melanjutkan uraiannya. Ketika ia sampai pada nama-nama hewan,
Nurwitri bertanya lagi—demikian dalam Centhini III, Balai Pustaka, 1994,
hlm. 296—suaranya lirih, "Anggota tubuh yang belum disebutkan yaitu
telanakan (peranakan), jembut, dan
penthil."

Ki Wisma tersenyum. "Saya belum menemukan. Lain lagi yang akan saya
ceritakan, kudapan dan minuman itu sangat kasihan, mohon untuk diusik…."

Sastra Jawa awal abad ke-19 mengolah aspek seksualitas sebagai kewajaran,
sebagai ilmu, pengajaran, tanpa kesan atau asosiasi perversi. Bahkan
sebagian kosakatanya tentang organ kelamin masuk kamus bahasa Indonesia.
Dalam Serat Wirid Hidayat Jati, Raden Ngabehi Ranggawarsita menghimpun
wejangan esoteris delapan wali tanah Jawa yang, antara lain, melakukan
transendensi makna "konthol Adam" selaku wujud zahir
Baitul Muqaddas (rumah yang disucikan) untuk mengupas hakikat sifat Tuhan.

Kini apa yang terjadi? Nama-nama itu melindap. Citranya saru, tak senonoh,
"diharamkan"—ada di kamus, tetapi pantang dilafazkan di muka umum, kecuali
sebagai makian berludah di dunia haram jadah. Kosakata itu masuk kategori
"vulgar", "tidak pantas dalam wacana ilmiah", "tak patut di ruang elitis".
Media massa umumnya memakai kata pinjaman dan serapan dari bahasa Inggris:
penis, testikel, testis,
skrotum, vagina, klitoris—atas nama kesopanan (?) sementara atribut makna
metafisik-spiritualnya terkelupas jadi semata-mata fisik-anatomis.

Lepas dari konteks apa pun, kosakata tradisional sudah terdesak ke sudut
konotasi "kampungan". Pada kelas menengah, sebutan kutang mulai tergusur
oleh bra seolah ada yang salah dengan istilah itu. Maaf—agaknya kini ada
parafrase: "kutang itu penutup
dada nenek di kampung; penutup dada wanita karier metropolitan namanya bra".

Kita terbiasa menghindari, tanpa urgensi, nama-nama "lokal" tentang alat
kelamin, termasuk kutang, kaus kutang, kancut, dan sejenisnya, yang pada
dasarnya kaprah dalam sejarah bahasa ini. Kita seperti sengaja membiarkannya
arkais, dan mungkin kelak menghapusnya. Lingkap. Yang ada cuma anu.

Bahasa menyembunyikan pikiran, kata Ludwig Wittgenstein dalam Tractatus
Logico-Philosophicus (proposisi 4.002), tak ubahnya pakaian yang membungkus
rapi dan tidak memungkinkan untuk menjelajahi rupa tubuh di dalamnya.
Menyangkut gengsi, kita bukanlah bangsa yang ugahari. Kita ingin tampil
necis seraya menafikan kata-kata yang
sekian lama dirawat oleh kecendekiaan leluhur. Rekayasa mentallah yang
membuat kata-kata itu cemar, lalu "sang dalang" bersembunyi di balik
bunga-bunga ungkapan.

Seraya menista tradisionalis jumud, kita tidak jitu menangkap arti
produktivitas bahasa. Saat dunia menggandrungi keragaman etnik, kita justru
memupus keunikan warna lokal dan melebur dalam arus besar bahasa Inggris
tanpa menggali dasanama, senarai
sinonim. Kita tak memiliki girah dan "intuisi kolektif" tentang strategi
bahasa
sebagaimana pada masyarakat Prancis. Kita pun tak punya perspektif tentang
bagaimana bahasa meneguhkan jati diri. Dibutuhkan keberanian untuk
membongkar bentuk-bentuk peyoratif yang terpola di alam bawah sadar, yang
merongrong khazanah bahasa serta kebanggaan memakainya. Berani menatap
karakter: pamornya, laurnya, liarnya.

Apabila sebuah UU Kebahasaan kelak gagal melawan peyorasi, membebaskan kita
dari belenggu psiko-kultural yang absurd, jatuhlah fungsinya sekadar
melegitimasi terungku bagi Marquis de Sade: nihilitas. Tak mengubah apa pun.


Di ujung diskusi bahasa, bergaya tak acuh namun jelas ada itikad menantang
resepsi hadirin, Remy Sylado menyebut alat kelamin perempuan dengan kosakata
"pribumi" tanpa tedeng aling-aling. Hadirin terpingkal-pingkal, sementara
pembicara perempuan di
sisinya repot menata air muka, dan moderator meringis dengan wajah bagai
cucian diperas.

Mungkinkah ini pembawaan inferior kelas menengah kita terhadap bahasa
sendiri? Atau kegamangan—sehingga suara lirih Nurwitri kini terdengar
riskan, dangkal, dan "nakal"?

Setelah melucuti harkatnya yang wajar dan netral, kita campakkan nama-nama
itu ke dalam kamar berahi, atau lorong-lorong berbau bacin yang disuruki
angin lengas.

[Sumber: Tempo, 27 Februari 2006, rubrik Bahasa]


--
~:ngadék sacékna, nilas saplasna:~
deha.wordpress.com
borondongjagong.blogspot.com


[Non-text portions of this message have been removed]



Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke