baraya, ieu duka versi nu kasabara tina seratan Imah Sunda. Benten sakedik 
sareng nu dimuat di Kompas Jabar 3 maret, nu kedah 4500 character with space 
teu meunang leuwih. hanjakal teu tiasa sareng gambarna. benten sareng rubrik 
Desain Kompas Minggu. di Kompas Jabar,  rubrikna Forum, siga Opini.

----------------

Mengenal Kembali Rumah Sunda

oleh : Mang Jamal

Bentuk rumah suatu komunitas merupakan pilihan dan keputusan dari berbagai 
pertimbangan seperti geografis, iklim, material dan teknologi yang ada, seni, 
pandangan hidup dan kosmologi berdasarkan sistem kepercayaan yang dianut. 
Pilihan terhadap suatu bentuk bangunan yang bersifat tetap ini memiliki 
keunikannya sendiri hingga disebut gaya atau langgam (James C. Snyder,1991). 
Ciri-ciri umum suatu gaya dapat dikenali lewat rupa yang terlihat seperti 
bentuk atap, pemakaian material, arah orentasi, pembagian ruang serta caranya 
dihubungkan dengan tanah, ornamen dan sebagainya yang semuanya memberi 
identitas bangunan sekaligus kebudayaan dari komunitas yang menciptakannya. 
Seperti rumah gaya Sunda adalah model dengan ciri sama yang terus-menerus 
dibangun pada masanya, menjadi tradisi dan menjadi identitas rumah orang Sunda. 

Pembedaan ruang di dalam rumah Sunda telah dikenal sejak jaman baheula untuk 
fungsi dan pemakai yang berbeda. Pembedaan ruang ini ditentukan oleh nilai yang 
berlaku termasuk perbedaan peran penghuni yang secara tradisional dibedakan 
menurut gender, antara ibu (perempuan) dan laki-laki (ayah). Area depan seperti 
tepas bawah (teras) dan tepas atas (ruang tamu) adalah wilayah laki-laki sedang 
pawon (dapur) dan goah (gudang gabah) wilayah perempuan. Ruang-ruang umum 
seperti ruang-tengah bersifat netral karena merupakan ruang tempat berkumpul 
keluarga. Meskipun terjadi perubahan pada bentuk bangunan, di desa-desa kondisi 
pembagian ruang ini masih tampak, ibu-ibu tetangga cenderung bertamu ke dapur, 
tidak ke ruang tamu. Kedekatan antar-ruang diatur menurut fungsinya. Seperti 
goah berdekatan dengan dapur, kamar tidur orangtua diletakkan di belakang kamar 
anak dengan maksud agar anak-anak dapat terawasi orangtua.

Atap atau hateup adalah bagian rumah tradisional di negeri ini yang dapat 
dengan mudah dibedakan dan menjadi ciri paling menonjol. Bentuk hateup (atap) 
gaya Sunda yang paling sederhana dan banyak dipakai adalah jolopong yang hanya 
memiliki dua bidang atap berbentuk sama (model pelana). Atap parahu kumureb 
adalah atap berbentuk trapesium. Beberapa yang unik adalah atap julang ngapak, 
berdasarkan bentuknya yang mirip seekor burung julang tengah merentangkan sayap 
seperti yang terdapat di kampung Naga dan desa Papandak Paseh Garut (Haryoto 
Kunto,1985:271), Tagog anjing atau jogo anjing adalah atap bangunan yang 
dilihat dari samping tampak seperti anjing yang berbeda sedikit dengan bentuk 
badak heuay (badak menguap). Beberapa bentuk atap lainnya tampak relatif sama 
dengan di tempat lain termasuk dalam penggunaan material alam seperti ijuk atau 
alang-alang untuk bagian penutup atap. Sementara material yang dipakai 
bersumber pada ketersediaan di lingkungan yang umumnya berupa batu, kayu dan 
bambu. Semua rumah gaya Sunda ini berbentuk panggung, memiliki kolong hingga 
udara juga mengalir di bawah rumah. 

Jenis kayu yang tumbuh di Tatar Sunda seperti jeungjing, ki hujan, jati, suren 
dan bermacam bambu (bitung, awi tali, bambu hitam) masing-masing memiliki sifat 
yang berbeda dan dipakai untuk konstruksi bangunan yang berbeda sesuai dengan 
sifat material. Kayu yang paling kuat seperti jati tentulah dipakai sebagai 
bagian konstruksi utama seperti tiang yang menjejak batu tatapakan sebagai 
pondasi. Sementara untuk pintu selain jati juga menggunakan suren, dan jengjen. 
Untuk dinding menggunakan bambu bitung atau bambu tali (awi tali) yang dianyam 
menjadi bilik. 

Dengan adanya bata, bahan dinding diganti dengan bata, demikian juga bagian 
atap yang dulu oleh ijuk sekarang dengan genteng. Penggantian material banyak 
merubah kondisi hunian. Ruang yang semula cukup nyaman karena udara masuk lewat 
dinding bilik menjadi relatif lebih panas karena berdinding bata yang masif 
juga karena tidak lagi berbentuk panggung yang memungkinkan rumah berada di 
'atas angin' yang nyaman.

Pemilihan material sebagai pembentuk rumah juga sekaligus memberi citra rumah 
bergaya tertentu sangat penting karena ia paling mudah dikenali. Itulah 
sebabnya, cara paling umum sekarang untuk membuat rumah berciri tradisional 
ditandai dengan pemakaian material yang dahulu dipakai. Seperti kembali 
menggunakan ijuk untuk atap dan bilik untuk dinding. 

Diatas semua itu, tata-nilai yang dianut masyarakat Sunda dahulu kala tentulah 
menjadi landasan terwujudnya rumah antik model begini. Material dinding yang 
hanya selembar bilik yang tipis, atap dari bahan ijuk, dan bangunan bertiang 
yang menjejak batu tatapan hingga memiliki kolong, tentunya hanya dapat dibuat 
disebuah lingkungan masyarakat dengan tata-nilai yang sudah tinggi. Bangunan 
model begitu tidak mungkin dibangun di tengah masyarakat dengan peradaban yang 
masih barbar. 

Rumah dalam kebudayaan dan pandangan orang Sunda-melihat modelnya yang 
sesungguhnya sangat sederhana itu adalah tempat berlindung dari alam seperti 
hujan, angin, malam, dan binatang. Bukan dari musuh berupa manusia. Manusia 
lain sejak dahulu diperlakukan dengan penuh penghargaan dan hal ini tercermin 
dari pandangan hidup dalam menghadapi tamu, yaitu sikap hade ka semah (bersikap 
baik pada tamu). 

Perkembangan jaman telah memberi pengaruh pada perubahan rumah di masyarakat 
Sunda. Lebih-lebih pengaruh dari luar dan hadirnya teknologi yang lebih baru, 
seperti mulai dikenalnya batu bata dan genteng yang secara luar biasa telah 
merubah bentuk rumah orang Sunda. 

Pendekatan akademis terhadap hunian yang berangkat dari pendekatan fungsional 
juga sedikit banyak telah merubah pembagian ruang rumah. Kamar mandi dan dapur 
yang secara tradisional ditempatkan di belakang karena dianggap area kotor, 
dengan pendekatan modern dan hasil studi perilaku penghuni, mengalami 
perubahan. Kamar mandi dimasukkan ke rumah dan sering dekat dengan kamar tidur. 
Dengan teknologi memasak yang baru seperti kompor minyak tanah, kompor gas dan 
listrik, telah merubah pola dan tata cara di dapur. Meskipun demikian, tentu 
saja material hanyalah media pada jamannya untuk mewujudkan nilai-nilai yang 
dimiliki. Dengan demikian, meskipun rumah orang Sunda dewasa ini tidak lagi 
seperti model tradisional, selama penghuninya hidup dengan nilai-nilai 
kesundaan, rumah itu masih layak disebut rumah Sunda.


Mang Jamal

Alumni Magister Desain ITB

Dosen Desain Itenas





[Non-text portions of this message have been removed]



Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke