Pembaharuan

Kang dina seratan ieu duka saha nu lepat nyerat :
" membaca tilawah Quran di New York Times Square pada 2000 setelah runtuhnya
WTC "
WTC mah runtuhna taun 2001, rupina lepat nyerat, janten kedah na "
sebelumnya "  panginten sanes " setelah."

Wass...
Nata

----- Original Message -----
From: "mh" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "urangsunda" <[email protected]>; "kisunda"
<[email protected]>; "barayasunda" <[email protected]>
Sent: Thursday, March 09, 2006 4:57 AM
Subject: [Urang Sunda] Fwd: [jurnalisme] Pornographi dan Budaya Malu



Baraya,
Aya artikel sae ti milis sabeulah. Sugan wae aya manfaatna.
(mh)

========
Assalamu'alaikum,

Pengantar:
Ustadz Syamsi adalah seorang imam masjid di New York. Beliau
adalah WNI kelahiran Bulukamba, Sulawesi Selatan. Beliau ini juga yang
membaca tilawah Quran di New York Times Square pada 2000 setelah
runtuhnya WTC di tengah segala kemarahan dan kebencian terhadap orang yang
mengatasnamakan Islam.
H
========

Pornographi dan Budaya Malu
Oleh Syamsi Ali

Sesungguhnya, sejak awal penciptaan manusia perasaan risih dan malu
jika aurat ternampakkan. Artinya, permasalahan aurat ini bukan permasalahan
baru, tapi permasalahan yang memang sudah menjadi perhatian manusia sejak
awal kejadiannya, dan ini pula yang menjadi tabiat aslinya. Ini dikuatkan
oleh sejarah di Kitab Injil yang menyebutkan:

"Perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan
sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi
pengertian. Lalu ia menhgambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya
juga
kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.
Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu bahwa mereka telanjang,
lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat..dst.dstâ?¦" (Kejadian
3-7).

Sengaja saya meminjam sejarah yang ada di Injil ini untuk
menunjukkan kepada semua, termasuk umat Kristiani, bahwa di saat manusia
terekspos
"auratnya" pasti mereka merasa malu dan berusaha mencari penutup,
seperti Adam dan Hawa terpaksa membuat (dalam Injil Inggris disebutkan
menjahit) cawat dari daun pohon ara tersebut. Manusia yang belum dilihat
oleh
siapa-siapa itu, kecuali oleh makhluk gaib dan Penciptanya, merasa malu
di saat auratnyat terbuka.

Cerita Injil ini menunjukkan betapa bahwa di saat aurat seseorang
terekspos akan melahirkan perasaan malu dan bersalah (embarrassment and
guilt). Dan perasaan malu dan bersalah ini sendiri menggambarkan
"tabiat" manusia yang orisinal, karena prilaku Adam dan Hawa di awal
penciptaan
menggambarkan keaslian tabiat manusia. Maklumlah, Adam dan Hawa belum
terkontaminasi oleh berbagai penyelewengan sosial, termasuk propaganda
kaum feminist seperti saat ini.

Berpakaian sopan itu alami

Sebenarnya, menutup aurat dengan pakaian yang sopan (sesuai syara')
adalah tuntutan alami manusia. Dengan mengikuti tuntutan alami tatacara
berpakaian ini, sebenanarnya seseorang akan lebih merasa tenang dan
percaya diri. Inilah yang digambarkan di dalam Al Qur'an dengan istilah "dan
agar mereka menjaga kesucian dan dikenal". Artinya, dengan pakaian yang
ditetapkan oleh agama, kesucian fitrah akan terjaga, dan juga
melahirkan percaya diri karena memang dikenal dengan pakaiannya sebagai
orang-orang yang baik.

Sebagai ilustrasi terhadap fakta di atas, saya ceritakan pengalaman
ketika pertama kali balik liburan ke Indonesia setelah tiga tahun di
Islamabad. Setiba di Makasar (Ujung Pandang), saya cukup terasa "shock"
dengan perubahan kultur anak-anak remaja Muslim. Mungkin karena memang
jarang berada di luar kampus sebelum ke Pakistan, atau juga karena
memang selama di Pakistan hanya melihat kaum wanita dengan pakaian yang
cukup
modest. Salah satu hal yang mengejutkan adalah cara anak-anak remaja
wanita Muslim yang sangat minim. Hampir saja aku menilai bahwa barangkali
keadaan ekonomi semakin memburuk, sehingga mereka kekurangan uang untuk
membeli
kain yang cukup.

Suatu ketika di sore hari saya ada kesempatan jalan-jalan ke kota
dengan menaiki pete-pete (angkot). Setelah duduk beberapa saat, pete-pete
itu
kembali berhenti untuk menjemput penumpang lainnya. Tiba-tiba naiklah
seorang anak remaja, sepertinya anak SMA (SMU), dengan pakaian yang
sangat minim. Hampir-hampir saja roknya itu tidak mampu menutupi
bagian-bagian
sensitif dari tubuhnya. Bersamaan dengan naiknya remaja tadi juga
seorang pemuda dan duduk persis di hadapannya. Rupanya pemuda ini tidak mau
mubazir. Ditatapnya habis-habisan paha mungil anak remaja tersebut, sehingga
anak tersebut dengan sendirinya merasa tidak tenang mendapat sorotan mata
yang buas itu. Hampir dalam perjalanan yang memakan waktu lebih sejam itu,
remaja itu tidak bisa duduk dengan tenang. Bolak balik ke samping kiri dan
kanan, berusaha menutupi ke-(tidak)malu-annya itu.

Dari kejadian ini nampak, betapa berpakaian yang menutupi aurat itu
adalah pakaian yang sesuaiu dengan tuntutan alami. Maka penolakan
terhadap keterbukaan ke-(tidak)malu-an itu adalah penolakan alami.
Sebaliknya
mendukung pengiklanan aurat, baik untuk kepentingan ekonomi atau
sekedar untuk dianggap ekspresi kebebasan adalah penentangan yang nyata
terhadap tabiat manusia.

Pergeseran tabiat

Akan tetapi seiring dengan perjalanan zaman, tabiat (nature)
manusia itu sendiri semakin bergeser dari posisinya yang asli. Akibatnya,
penyingkapan "aurat" bukan saja menjadi biasa, melainkan dianggap sebagai
bagian
dari kemajuan peradaban manusia yang yakini sebagai manusia modern.
Konsekwensi selanjuntya, perasaan malu itu semakin minim, dan bahkan menjaga
"malu"
(al hayaa) dianggap sebagai bagain dari keterbelakangan.

Di dunia barat misalnya (walau kata barat ini relative, karena
boleh jadi Jakarta lebih kebarat-baratan), mempertontonkan Ke
(tidak)-malu-an
ini justeru dianggap bagian dari hiburan (entertainment). Di mana mata
menatap di situ juga akan nampak hal-hal yang seharusnya memalukan itu. Dari
dalam rumah, sekolah, pasar, pinggir jalan, hingga ke pertokohan-pertokohan,
semuanya menampakkannya secara bebas. Mata-mata yang menatap pun tidak
lagi merasakannya sebagai sesuatu yang seharusnya membuat malu.

Oleh karena menampakkan ke-(tidak)malu-an ini sudah dianggap
sebagai hiburan, maka  menentangnya dapat dianggap menentang kodrat hidup
itu
sendiri, atau minimal dianggap menempuh cara hidup abad pertengahan
yang terbelakang dan kurang beradab. Persepsi ini menampakkan keterbalikan
tabiat manusia dari yang sesungguhnya seperti tabiat Adam dan Hawa menjadi
tabiat "hewani" yang tidak merasa malu menampakkan kemaluan ke mana-mana.
Bahkan lebih jahat, sebaliknya dengan menampakkan kemaluan, baik secara utuh
maupun sebagian dianggap sebagai ekspresi kebebasan (freedom of expression).

Tapi betulkah itu adalah sebuah hiburan? Betulkah itu adalah
ekspresi kebebasan? Lebih tragis lagi, kaum wanita khususnya, dipertontonkan
auratnya secara tanpa malu-malu dibumbui dengan konsepsi emasipasi? Tapi
benarkah itu adalah emansipasi atau pembebasan kaum hawa?

Sebagaimana disebutkan di awal, merasa malu dengan tertampakkannya
ke-(tidak)malu-an itu adalah tabiat dasar manusia yang memang sejak
awal penciptaan manusiapun sudah ada. Maka ketika terjadi sebaliknya,
berarti manusia sudah dengan terang-terangan telah melakukan penodaan dan
penolakan kepada tabiat dasarnya sendiri. Dan jika manusia telah melakukan
penodaan dan penolakan kepada tabiat dasarnya ini, maka di kemudian hari
akan
terlahirlah darinya prilaku-prilaku yang lebih buruk dari prilaku
hewani. Prilaku homoseksual dan lesbianis barangkali adalah wujud langsung
dari
kenyataan ini.

Seekor kucing atau anjing tidak akan melakukan kontak seksual di
hadapan anjing atau kucing yang lain. Biasanya mereka melakukan kontak lawan
jenis ini di saat ada kesempatan yang sepi. Apalagi, belum kita dengar ada
anjing yang mengawini sesame jenisnya. Sebelaiknya manusia sekarang ini
justeru mengekspresikan kontak seksualnya, dalam berbagai ragam, di hadapan
publik, dan bahkan tidak jarang memang diiklankan. Bahkan ada kecenderungan
untuk melegalkan perkawinan sejenis di berbagai belahan dunia saat ini.
Sebuah pemndangan kontras yang dahsyat antara prilaku dan tabiat dasar
manusia.

Wanita dan budaya malu

Sebenarnya, malu itu adalah fondasi hidup. Jika dikaji lebih dalam,
ternyata asal kata hidup (hayah) dan malu (haya') berasal dari dasar
kata yang sama. Malu yang dalam bahasa Arab dikenal dengan "istihyaa"
(seperti innallah laa yastahyii) juga terpakai dengan bentuk yang sama untuk
menggambarkan pemberian hidup (istahya), seperti dalam kisah Fir'aun
dan Bani Israel (istahya nisaahum).

Dengan demikian, hidup manusia yang sesungguhnya adalah hidup
manusia yang masih berpegang teguh pada pada nilai-nilai budaya malu.
Semakin
minim budaya malu menandakan semakin minimnya kehidupan hakiki seseorang.
Dengan hilangnya malu (shamefulness) dalam kehidupan manusia, secara tidak
langsung juga menggambarkan bahwa manusia seseungguhnya sudah kehilangan
kehidupannya yang alami (tabi'i).

Di dalam Al qur'an, ada kisah yang agung tentang bagaimana seorang
wanita menjaga budaya malunya ini. Yang secara langsung disebutkan
dengan pengistilahan menjaga "kemaluan"nya adalah Maryam (allati ahshonat
farjaha). Seorang wanita yang dilahirkan untuk hanya mengabdi di rumah
ibadah,
dan kemudian menjadi seorang ibu dari seorang rasul yang agung. Mengandung
dengan cobaan dan menghadapi cobaan yang luar biasa, melahirkan
sendirian, menghadapi kaumnya, dan seterusnya. Tapi beliaulah seorang wanita
yang
secara khusus disebutkan sebagai wanita yang menjaga kemaluannya.

Kisah anak-anak nabi Syu'aib juga adalah contoh kongkrit bagaimana
seharusnya kaum wanita membawa diri. Bahwa profesionalisme dan berbagai
stastus sosial tidak seharusnya menjadikan wanita kehilangan jati diri
dengan hilangnya "budaya malu". Bahkan sebaliknya dengan budaya malu
itu, mereka mengusulkan kepada ayahnya untuk melakukan sesuatu yang baik
demi menjaga benteng budaya malu itu.

Ceritanya adalah ketika Musa membela salah seorang Bani Israel yang
berkelahi dengan seorang Mesir. Tiba-tiba pukulan nabi Musa itu
menjadikan orang Mesir mati. Maka Fir'aun yang sudah lama mencari alasan
untuk
membinasakan Musa, kini menemukan alasan itu. Tentunya dia akan
menjatuhkan hukuman yang berat, kemungkinan akan dihukum mati. Maka tatkala
Musa
diberitahu, beliaupun meninggalkan tanah Mesir menuju sebuah kota lain
yang disebut "Madyan". Di kota inilah hidup seorang nabi lain yang bernama
nabi Sya'aib A.S.

Ketika Musa A.S. memasuki kota tersebut, didapatinya sekelompok
orang yang akan memberikan minum kepada gembalaan mereka. Di antara
orang-orang tersebut ada dua wanita nampak malu berdiri di bagian paling
belakang.
Musa mendekati mereka dan bertanya apa gerangan yang terjadi dengan mereka.
Mereka memberitau Musa bahwa mereka wanita dan tidak mungkin mereka
dapat memberikan minuman kepada gembalaannya sebelum semua kaum lelaki itu
selesai. Sementara ayah mereka adalah seorang yang sangat tua.

Singkat cerita, Musa membantu mereka dan bahkan mendahului lelaki
yang lain. Memang Musa memiliki kemampuan fisik yang lebih. Segera wanita
itu kembali kepada ayahnya dan menceritakan semua kejadian yang dialaminya.
Lebih dari itu, salah satu dari dua gadis itu mengusulkan agar ayahnya
mempekerjakan Musa karena sebaik-sebaik yang dipekerjakan adalah yang
kuat dan terpercaya. Sang ayah lalu menyuruh anak gadis tersebut mendatangi
Musa dan meminta agar dia berkenan datang kepadanya.

Poin yang ingin saya sebutkan di sini adalah pernyataan Al Qur'an:
"Maka salah satu diantara mereka mendatangi Musa dengan berjalan penuh
malu".
Sebuah ungkapan yang menggambarkan kepribdian wanita yang berani tapi
tidak kehilangan "modesty" (budaya malu). Anak Syu'aib ini adalah seorang
yang professional, yang pada zamannya hanya dilakukan oleh kebanyakan kaum
pria. Yaitu mengembalai ternak yang secara sosial saat itu hanya dapat
dilakukan oleh kaum pria yang pemberani dan tekun. Tapi kenyataannya dua di
antara anak-anak nabi Syu'aib melakukan tugas ayah mereka. Ternyata,
profesionalisme tidak menjadikanya kehilangan jati diri sebagai wanita
yang memiliki budaya malu itu.

Sekarang ini, terkadang atas nama profesionalitas, seorang wanita
bangga menggadaikan budaya malunya. Demi persepsi manusia lain yang
menganggapnya wanita professional dengan cirri-ciri, salah satunya, dengan
berpakaian
yang minim, diapun menggadaikan budaya malu ini. Maka akibatnya, ilusi
mereka sendiri menjadi perangkap terjatuhnya mereka kembali ke dalam
kungkungan "perbudakan" yang berhiaskan modernisme. Wanita modern saat ini,
disadari atau tidak, telah terjatuh ke dalam sebuah perbudakan. Mereka telah
dijadikan korban-korban kosumerisme dan hedonisme kehiduoan manusia.
Barangkali contoh terdekat adalah iklan-iklan yang ada, dari iklan
gula-gula hingga iklan barang-barang mewah, wanita-wanita cantiklah menjadi
alat
penggoda dan penggairah.

Perintah hijab

Oleh karena tabiat dasar manusia memang malu jika "auratnya"
terekspos, Islam memberikan aturan untuk menjaga kemurnian tabiat manusia
ini.
Selain memerintahkan manusia untuk menjaga pandangan (ghaddul Bashar), juga
diperintahkan agar menjaga agar pandangan tidak terpancing untuk
menjadi liar. Maka turunlah perintah untuk berjilbab bagi kaum wanita, dan
perintah kepada kaum pria untuk berpakaian sopan. Masing-masing keduanya
memiliki aturan sesuai kodrat alami masing-masing.

Saat ini, jilbab adalah satu hal yang seringkali dipertanyakan oleh
banyak kalangan, baik di kalangan kaum Muslim sendiri, lebih-lebih lagi
oleh kalangan non Muslim. Pertanyaan non Muslim tentunya logis, karena
memang tidak mengimani ajaran agama ini. Sehingga jika mereka bertanya tentu
dengan senang akan direspon. Tapi yang aneh, di saat umat ini sendiri yang
kemudian mempertanyakan "urgensi" ajaran menutup aurat ini.

Jilbab sesungguhnya bukan sebuah hal baru dalam ajaran agama.
Sejarah agama mengajarkan bahwa sejak zaman dulupun, wanita-wanita selalu
menampakkan kesalehannya dengan simbol kerudung ini. Wanita-wanita Bani
Israel memakai krudung dengan rok panjang. Hingga hari ini,
wanita-wanita Yahudi di compound Yahudi di Brooklyn New York masih
berpakaian seperti
itu.

Dalam ajaran Kristiani, khususnya umat Katolik, kita lihat dengan
mata kepala wanita-wanita terhormat mereka memakai kerudung. Para biarawati
(nuns) memakai kerudung, seorang wanita suci pertama dalam sejarah
Katolik (Saint) yang bernama Mother Theresa juga memakai kerudung. Bahkan
yang
lebih penting adalah wanita tersuci, dan bahkan kesuciannya melebihi
kesucian
manusia biasa juga memakai kerudung. Wanita ini bernama Maryam (Mary).
Di mana-mana kita lihat (what so called) gambar Mary dengan kerudung yang
rapi.

Tapi sejujurnya, pernahkan orang-orang Yahudi mempertanyakan ini
kepada para ulama (Rabbis)   mereka? Atau pernahkan mempertanyakan
kalau-kalau
wanita itu berpenyakit "inferiority complex" karena memakai kerudung?
Pernahkah pula orang-orang Kristen mempertanyakan hal yang sama ke para
Pastor atau pendeta mereka? Pernahkan mereka membanyangkan bahwa Mother
Theresa, apalagi Mary itu berpenyakit "inferiority complex" karena
memakai kerudung?

Jika tidak, lalu kenapa selalu mempertanyakan wanita-wanita
Muslimah yang berkerudung? Bagi saya pribadi, ini menunjukkan bahwa Islam
itu
memang selalu menjadi daya tarik untuk dipertanyakan oleh banyak orang. Tapi
jangan heran, jika pada akhirnya mereka yang selalu mempertanyakan atau
bertanya tentang Islam itu, masuk ke dalam agama ini.

Yang disayangkan memang, jika pemakaian kerudung ini
dipermasalahkan oleh orang-orang Islam sendiri. Mempertanyakan masalah ini
hanya
menandakan dua hal. Mungkin memang tidak tahu atau boleh jadi memang ada
masalah
dengan keimanan itu sendiri. Maka, jangan heran jika mereka yang
mempertanyakan jilbab ini adalah mereka yang kemudian tidak pernah serius
mengambil
agamanya, kecuali untuk dijadikan alat argumentasi sebatas lisan.
Banyak yang pintar bicara atau menulis, tapi kemudian di saat dituntut
menjalankan agama ini, mereka mencari berbagai justifikasi untuk
menghindarinya.

Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, justeru kaum
wanita dinilai tidak pantas untuk tampil ke public jika berjilbab.
Seorang wanita di Turkey terpilih menjadi anggota parlemen dengan suara
mutlak,
gagal menduduki kursinya karena tidak diterima ketika akan diambil
sumpahnya.

Di negara tercinta, Indonesia, negara Muslim terbesar di dunia,
masih ada orang yang merasa tidak sesuai dengan penampilan wanita
berkerudung. Saya terkejut melihat berita seorang presenter TV Metro yang
tidak lagi
diperkenankan untuk tampil di depan kamera karena memilih untuk memakai
kerudung. Sangat menyedihkan, tapi barangkali memang begitulah logikah
otak dan hati pengambil kebijakan TV tersebut.

Sebaliknya, di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas non
Muslims, justeru wanita diberikan kebebasan untuk memakai kerudung jika
memang
dirasa pantas dan merupakan kewajiban agamanya. Polwan NYPD (Kepolisian New
York) yang beragama Muslim, semuanya memakai kerudung. Jika anda jalan-jalan
ke City Hall atau Kantor Walikota, anda akan melihat dengan jelas beberapa
wanita yang lalu lalang.

Murid saya bernama Sonia, sejak masuk Islam setahun lalu berazam
untuk memakai kerudung ke kantornya. Pada awalnya memang bossnya
mengingatkan, jangan-jangan tugasnya sebagai Public Relations Menager di
salah satu
perusahaan telekomunikasi itu akan terganggu. Kenyataannya, hingga saat
ini justeru semakin percaya diri dalam menjalankan tugas-tugas, dan telah
mendapatkan promosi dengan kedudukan yang lebih tinggi.

Lalu, kira-kira logikanya di mana, jika ada orang-orang Indonesia
yang nota benenya Muslim, risih dengan jilbab tapi justeru mendukung cara
berpakaian yang "you can see?" Apakah tidak seharusnya orang-orang
seperti ini kembali mempertanyakan jati dirinya sebagai orang Indonesia yang
memiliki budaya malu yang tinggi dan beragama (dari Hindu, Budha, Islam
dan Kristen berakar dalam sejarah bangsa ini)? Atau barangkali memang
"tabiat dasar" kemanusiannya sudah terbalik?

Ah masa' iya! Relahkah mereka jika isterinya dipotret dengan hanya
memakai "cawat" persis seperti yang dipakai Hawa (dalam bahasa Injil)
lalu dipajang di pinggir-pinggir jalan Jakarta? Saya yakin, fitrah mereka
masih ada dan sudah pasti akan menolak. Sayang fitrah itu kini terjangkiti
berbagai kotoran sehingga mengalami gangguan (sakit). Akibatnya, dalam
melihat realita di hadapan matanya terjadi pembolak balikan. Yang baik
menjadi buruk, dan yang buruk justeru dipandang baik. Wa'iyaazu billah!

New York, 6 Maret 2006

--
"Karena hidup sudah pasti mati, hidup harus berarti"


=====
Situs: http://www.urang-sunda.or.id/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]

---------------------------------
 Yahoo! Mail
 Use Photomail to share photos without annoying attachments.

[Non-text portions of this message have been removed]



Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id

Yahoo! Groups Links











Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke