Ngahartosan conto padungdeng dihandap, sigana ngan prok prak kulit luarna wungkul. Essensina mah kirang jelas, wawanen,sumanget nasional, nasionalisme, "overpessimistic" atanapi "over optimistic" ? Tapi anu essensi na konci sapertos masalah birokratisme sareng "leadership", ngalingkup oge "managerial leadership sareng corporate governance", rada teu kasigeung. Naha kieu ? Kulantaran ieu mah nyarioskeun Pertamina anu kentel birokrasi sareng faternalisasina. Kadua, dina pausahan EXXON atanapi MNC anusanesna, dina prak damel sareng operasina mah, tiasa disebat 90% dilakonan ku bangsa urang. Anu ngadukung teh sistimna, sanes kaahlian personelna. Kaahlian personilna mah, tiasa dipeser di pasar. Cik tingali Pausahaan minyak anu digaduhan bangsa urang , maju. Naha Pertamina tetep ngarayap ? Mangga nyanggakeun kanggo diemutan anu langkung "articulate".
On 3/10/06, MRachmat Rawyani <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Dihandap ieu salah sahiji conto "padungdengan" masalah > paminyakan anu janten wacana, anu poko masalahna mah > ngabandingkeun wawanen para ahli minyak bangsa urang > jeung bangsa Malaysia. Kumargi seueur kadangwargi US > anu ancrub dina widang minyak, teu aya lepatna kanggo > eunteung urang sadaya. > > Anu langkung poko mah kumaha "model" wacana kieu teh, > tiasa janten conto padungdengan di KUSnet, anu muarana > tiasa ngahasilkeun hiji rekomendasi atawa "cecekelan" > pikeun urang sadaya, dina ningali hiji masalah. > > Baktos, > > Mrachmatrawyani > > > > Dari milis temu eropa: > > Ini sebagian diskusi di kalangan profesional migas > Indonesia: > > YS: Kalau kita hanya bicara seputar dunia minyak saja, > memang sudah jelas jawabannya ialah berikan kpd Exxon > supaya lebih efisien. Tetapi kan dunia minyak di > tanah air (khususnya Pertamina) bisa jadi begini krn > kait-berkait dng dunia lainnya. Penegakkan hukum yg > tidak pernah jelas, pengumpulan data adminsitrasi > dihampir segala bidang tdk pernah rapi, dan banyak hal > lainnya. Jadi, prescription apa yg paling baik? Saya > sendiri nggak tahu, saya hanya bisa merasakan kalau > badan saya sumeng, sakit panas dingin, ttp sang dokter > yg mengobati saya. nakh, sang dokter yg terbaik ini > siapa? > > Legowo: Yang dimaksud efisien itu apa? Kalau yang > dimaksud adalah gali secepatnya, produksi, angkut, > kilang, distribusi, dst. Yah, tentu Exxon bisa lebih > efisien. Tapi kalau pakai visi yang lain, misalnya > "Cepu dijadikan kampus lapangan profesional migas > Indonesia selama 25 tahun," ya itu bisa berarti sangat > efisien juga. > > Ibaratkan tabungan rumah tangga kita sendiri. Bisa > sangat efisien dibelikan stock yang naiknya konstan > 30-an% setahun. Tapi bisa dianggap sangat efisien juga > kalau dipakai menyekolahkan anak-anak, kan? Jadi > tergantung bagaimana kita lihat lumbung Cepu itu. > Apakah cuma komoditas yang bisa dijual cepat, atau > modal yang bisa dipakai untuk membangun bangsa? > > AB: Saya berpendapat bahwa Pertamina bukannya tidak > mampu secara teknis, tetapi management (dan staff) > Pertamina dimasa lalu selalu korupsi luar biasa > besarnya. Soal blow-out dan lain-2 problem teknis > kalau diteliti problemnya mungkin sumbernya juga > karena korupsi. Ada bekas pejabat Pertamina yang > korupsi dan kelakuannya dibikin joke oleh staff > Pertamina sendiri, tapi toh kariernya bisa nanjak > terus sampai diawal 1990'an bisa jadi Pimpinan Umum > Pertamina Unit II (Sumatra Selatan). Tentu karena dia > pinter bagi-2 "rezeki"-nya. Tidak tahu bagaimana > management Pertamina sekarang bersih tidaknya, tetapi > bagaimana meyakinkan masyarakat tentang kredibilitas > Pertamina sekarang adalah problem besar. > > Legowo: Lagu ini, "teknis mampu tapi mental nggak > siap. Kita korup," itu sudah sering kita dengar dan > sepertinya kita mengutuk diri sendiri. Banyak jalan > membereskan management suatu perusahaan. Perusahaan > dipaksa untuk melakukan transparani karena dilepas di > pasar modal, itu salah satu jalan yang efektif. Selama > Pertamina itu tertutup dari kontrol luar, tertutup > dari kontrol masyarakat pemodal, akan sukar sekali > membenahi manajemennya. > > Jalan lain adalah membentuk divisi baru atau anak > perusahaan baru. Ini seringkali dilakukan oleh > perusahaan migas yang besar. Birokrasi diperkecil, > prosedur dilancarkan, kontrol bisa ditingkatkan. Arco > ke Indonesia bikin Arco Indonesia, Arco Indonesia > menemukan Kangean, bikin unit usaha yang baru, Arco > Bali North. Di Encana perusahaan raksasa itu > diorganisasi begitu rupa sehingga menjadi sekumpulan > 'Bisnis Unit' yang mengelola dirinya sendiri. Itu satu > cara juga. > > Di RRT Pertaminanya sudah dipecah-pecah menjadi > beberapa perusahaan yang berdiri sendiri: CNPC, CNOOC, > Sinopec, dll. Antara mereka bisa bekerjasama dan bisa > terus menerus mengintip karena mereka bersaing. CNOOC > menemukan 100 juta barel itu berita besar, lalu iintip > terus apa rahasianya. Ketika CNPC menemukan cadangan > besar di Venezuela, diintip terus. Antara mereka > sendiri banyak kooperasi dan sekaligus selalu ada > kompetisi. Termasuk dalam managementnya. > > Apa Pertamina bisa melakukan itu? Bisa! > > AR: Sebagai orang awam di dunia minyak saya bilang > tergantung kemampuan dan visi Pertamina sih. Kalau > hutang seabreg tapi pimpinan bervisi bagus dan > kemampuan teknis ada, jadi operator Cepu bisa > mengurangi hutang ini. Masalahnya meyakinkan pihak > lain kalau Pertamina memang bisa dan harus dilakukan > sekarang untuk maju. Tapi jika pimpinan Pertamina > nggak pecus dan/atau kemampuan teknis tidak ada, ya > riskan untuk jadi operator Cepu. > > Legowo: Yang ngomong "punya utang" ini dengan sengaja > mau membelokkan masalah. Cepu itu bagian kecil sekali > dari seluruh operasi Pertamina. Bahwa banyak operasi > besar Pertamina yang kalang kabut, banyak utang, itu > betul. Tapi lalu kenapa? Apa kaitannya dengan Cepu? > Untuk skala Pertamina, mengembangkan lapangan Cepu itu > urusan kecil sekali, Broer! Yang bikin itu kelihatan > besar, dahsyat, muskil, luar biasa sukar, dsb itu > Public Relation-nya Exxon. > > Misalnya serahkan ke tiga orang senior proefsional > migas dalam forum kecil ini. ACS (geologist), EH > (reservoir engineer), Legowo (Geophysics), beri semua > data. Dalam 1 bulan kami bisa susun FDP (Field > Development Plan) untuk Cepu. FDP yang disesuaikan > dengan kemampuan pengelolaan Pertamina. FDP yang > memikirkan kebutuhan jangka panjang, dst. Bukan FDP > untuk nyedot migas secepat mungkin dan sebanyak > mungkin dan karena itu jadi rumit sekali dan mahal > sekali. > > Karena memang sebenarnya nggak ada masalah yang > complicated untuk mengembangkan Cepu. Apa masalahnya? > Logistik nggak ada masalah. Bandingkan dengan masalah > logistik di pedalaman Papua atau Kalimantan, atau > muara Mahakam, atau lepas pantai Serawak. > Seabrek-abrek masalah logistiknya. > > Di Cepu sudah ada jalan besar, ada jalan Kereta Api, > Rumah Sakit, lapangan terbang, pelabuhan, dst. Masalah > penambangannya sendiri (ngebor, ngetest, bangun > anjungan, jaringan pipa, dsb), nggak ada masalah yang > saya denger dari teman-teman yang pernah ikut > mengerjakan Cepu. Masalah biasa sajalah yang selalu > ditemukan dalam semua operasi pengembangan lapangan. > > ACS: Kalau baca penjelasan Legowo memang kelihatannya > simpel sekali, but believe me, ngurus lapangan itu > nggak se simpel itu, perlu management yang bagus > sekali supaya semua aspek bisa berjalan bersinerji. > Saya baru pulang dari Yaman, lihat lapangan perusahaan > saya yang besarnya cuma 1/10 Cepu, itu saja sudah > complicated luar biasa. > > Legowo: Ya, kalau akan menjalankan skenario > pengembangan lapangan seperti yang sudah dirancang > Exxon - mula-mula bgebor 20 lobang, produksi tahun > pertama 100 ribu, lalu drill lagi dan genjot terus > produksi sampai 200-an ribu bopd -- itu memang akan > jadi proyek raksasa yang complicated. Karena target > Exxon itu dalam 10 tahun Cepu harus sudah bisa disedot > habis. > > Tapi Pertamina bisa bikin alternative FDP (Field > Development Plan) atau POD (Plan of Development). Bisa > dibuat produksinya 10 ribu bopd dulu. Bisa langsung > dikilang di Cepu sendiri, keluarnya sudah jadi solar, > bensin, avtur, dst. Selama beberapa tahun latih > timnya, pahami betul sifat-sifat reservoirnya, setelah > beberapa tahun modal kerjanya sudah pasti kembali. > Cash flow mulai lancar -> baru ekpansi lagi. > "Development in stages" itu kan konsep yang umum > diterapkan. Puncak produksi Cepu mungkin bisa > dirancang 10 tahun kedepan ketika harga minyak sudah > U$200/barel. > > Bung ACS baru pertama kali kerja dengan perusahaan > yang relatif kecil. Saya sudah berulang kali mengalami > penemuan dan pengembangan lapangan dengan perusahaan > kecil. Mula-mula di Mesir dengan AP, lalu di Thailand > dengan SI, di Bangladesh dengan NK, di Yemen dengan > CVI (yang sekarang dikerjakan ACS), dan sekarang di > Serawak dengan Petronas. Memang benar setiap lapangan > itu masalahnya rumit. > > Sebagai gambaran umum, kerumitan pertama adalah > volumetriknya. Berapa persisnya jumlah cadangan itu > kita harus tahu betul untuk bisa menyusun strateginya. > Satu penemuan harus dibor 3-4 kali lagi (appraisal > drilling) untuk tahu persis berapa jumlah cadangannya. > Dengan jumlah cadangan yang sudah diverifikasi oleh > lembaga independent, kita sudah bisa pergi ke bank > untuk minjem duit. Kita bisa bikin road trip untuk > fund rising. > > Kedua, unsur politik dan keamanan. Bagaimana kemampuan > pemerintah setempat menjamin investasi itu. Ketiga, > logistik. Ketemu 100 juta barrel di pedalaman Papua > bisa tidak ekonomis karena masalah logistik yang mahal > sekali. Tapi ketemu 10 juta barrel di Purwakarta itu > seperti ketiban durian runtuh. Ketemu 2 juta barrel di > Alberta itu kita bisa jadi jutawan baru. > > Kalau jumlah cadangan cukup, keamanan terjamin, > logistik bisa diatasi, modal pasti datang. Pasti! Yang > lain itu soal teknis. Dan di Indonesia banyak sekali > yang paham betul seluk-beluk segi teknisnya. Konsultan > untuk bantu menyelesaikan soal teknis itu juga > seabrek-abrek. > > ACS: Bola Cepu ini memang bener2 panas, sampai > dilempar kemana-mana, nggak ada yang berani ambil > keputusan. Yang saya dengar, bahkan SBY aja ngak > berani ambil keputusan. > > Legowo: Banyak kepentingan politik (kekuasaan besar di > luar, pertarungan kekuatan di dalam negeri). Banyak > kepentingan ekonomi lokal (para konglomerat migas > dalam negeri). Tapi saya duga akhirnya industri migas > Indonesia yang akan dikalahkan karena elite kita nggak > punya nyali. > > Di KL saya masuk dalam team yang ditugaskan > mengembangkan 10 lapangan gas di lepas pantai Serawak. > Total recoverable reservenya sekitar 2 TCF, kira-kira > sebesar Cepu. Pesan langsung dari CEO Petronas, "We > want Carigali in the driving seat." Mereka mau jadi > sopir, bukannya jadi kenek. Pesan itu terus > diulang-ulang setiap kali pertemuan. Mereka tidak > ingin Shell yang terus menguasai industri migas di > Serawak. Proyek kami masuk ranking nomor 2 untuk > seluruh Petronas (proyek nomor 1 Petronas itu di > Turkmenistan). Proyek ini dimonitor langsung oleh > CEOnya. Setiap laporan rapat langsung dikirim ke meja > CEOnya. > > Siapa yang diberi tugas besar dan berat ini? Tulang > punggungnya adalah profesional muda Petronas umur > 30-an tahun. Memang kami, para konsultan, itu jadi > otaknya. Tapi yang jadi motornya, ya anak-anak muda > itu. Head of Facilities itu memang senior umur 60-an. > Tapi motornya itu kader muda Petronas, wanita lagi, > umurnya baru 30-an tahun. Dia yang mengkoordinir > facilities (membangun anjungan, ratusan km jaringan > pipa, underwater facilities, dst) seharga U$500 juta, > dalam waktu 2 tahun ke depan. Pada peak production > nanti facilities yang dibangun di lepas pantai itu > total harganya akan lebih dari U$1 miliar. > > Di Indonesia, lapangan Cepu yang begitu gampang > mengembangkannya malah diserahkan ke Exxon. Yang beda > itu nyali, Bung! Kader-kader migas Petronas ini merasa > mampu. Kalau kurang paham mereka bisa tanya konsultan. > Tapi mereka sendiri merasa mampu. Senior-seniornya > selalu mendorong mereka. Membesarkan hatinya. Karena > itu tidak sedikitpun ada keraguan bahwa mereka mampu. > > Setiap kali saya ikut rapat untuk menyusun FDP, setiap > kali saya jadi sakit hati pada elite migas Indonesia. > Bener-bener ngak punya nyali. Begitu banyak jalan ke > Cepu. Mereka pilih jalan yang paling gampang, jadi > kenek. > > ACS: Kenapa ente tidak mau mempertimbangkan joint > company? > > Legowo: Saya nggak tahu persis tawaran Exxon itu > seperti apa dan jawaban Pertamina seperti apa. Seperti > biasa, ini semua di bawah meja, tidak transparan. > Kepada teman-teman di Pertamina saya cuma mengusulkan > ide yang lama, Pertamina harus punya FDP (atau POD) > tandingan yang dilandasi pemikiran membangun bangsa. > Bukan mencari untung. > > Saya tidak melihat apa keuntungan joint company dengan > 45% saham dipegang Exxon. Dengan FDP tandingan kita > bisa bikin 100% dikelola Pertamina. Tidak ada hal-hal > yang bisa dilakukan Exxon dan tidak bisa dilakukan > Pertamina. Tapi kalau yang dipakai itu FDPnya Exxon, > yang bisa mengerjakan ya cuma Exxon. > > Yang sedang saya kerjakan di Petronas itu menarik > sekali. Shell sudah begitu lama menguasai industri > migas di lepas pantai Serawak dari hulu (eksplorasi & > produksi), menengah (transportasi) sampai ke hilir > (penjualan, distribusi). Petronas ingin keluar dari > cengkraman Shell itu dan mereka menyusun FDP sendiri. > > Sekarang yang blingsatan itu Shell. Mereka betul-betul > kalang kabut kalau membayangkan Petronas bisa > melakukan eksplorasi sendiri, bisa menyusun program > appraisal sendiri, lalu bisa bangun anjungan, bangun > ratusan km jaringan pipa, bangun central processing > center (CPP) di lepas pantai dengan > compresor-compresor segede lapangan basket itu dan > kemudian bisa memasokkan sendiri gas ke Bintulu. > > Yang sangat menarik itu tidak ada satupun boss > Petronas yang menyangsikan kemampuannya sendiri. > Kader-kadernya dididik, ditraining, dikritik, dibebani > tugas-tugas yang luar biasa berat sambil disupport > oleh para konsultan. "Can do spirit" itu luar biasa > menonjol. > > YS: Kalau boleh tambah sedikit. Saya pikir SBY pun > nggak bisa buat keputusan bukan karena dia nggak tahu > betul ttg minyak Cepu ini, kemungkinan besar dia juga > takut kalau ambil keputusan supaya Cepu dikelola > sendiri, nanti dia nggak bakal jadi presiden lagi di > pemilu y.a.d. > > Legowo: SBY pernah jadi Mentabem, jadi dia cukup paham > seluk beluk industri migas. Saya sendiri lebih melihat > kasus Cepu ini sebagai ketidak berdayaan para > profesional migas Indonesia. Mereka nggak percaya > diri, nggak punya nyali, dsb. > > Kalau mereka benar-benar percaya diri, bisa disusun > satu rangkaian tulisan di media massa. Dalam sektor > eksplorasi kita bisa melakukan ini, kemampuan itu > sudah terbukti di lapangan ini, ini, ini, dsb. Dalam > sektor produksi kita bisa melakukan ini, terlihat > dalam pengembangan beberapa lapangan ini. Dalam sektor > pengilangan, distribusi, dst kita pernah melakukan > disini- disitu, dsb. > > Lalu mereka bisa maju ke DPR, persentasi yang bagus, > penuh percaya diri, dst. Ajukan "compare and contrast" > antara FDPnya Exxon dengan FDPnya Pertamina. Secara > transparan, tidak pakai kasak-kusuk jalan belakang. > Yakinkan para pengambil keputusan dan juga masyarakat > luas bahwa FDPnya Pertamina itu lebih menguntungkan > bagi bangsa Indonesia. > > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > > > Komunitas Urang Sunda --> > http://www.Urang-Sunda.or.id<http://www.urang-sunda.or.id/> > > > > > SPONSORED LINKS > Corporate > culture<http://groups.yahoo.com/gads?t=ms&k=Corporate+culture&w1=Corporate+culture&w2=Business+culture+of+china&w3=Organizational+culture&w4=Organizational+culture+change&w5=Organizational+culture+assessment&w6=Jewish+culture&c=6&s=176&.sig=XebwzVpdTm8GSy8GvWnc_g> > Business > culture of > china<http://groups.yahoo.com/gads?t=ms&k=Business+culture+of+china&w1=Corporate+culture&w2=Business+culture+of+china&w3=Organizational+culture&w4=Organizational+culture+change&w5=Organizational+culture+assessment&w6=Jewish+culture&c=6&s=176&.sig=e4aS0tTbDmoOM-2OJzrJyw> > Organizational > culture<http://groups.yahoo.com/gads?t=ms&k=Organizational+culture&w1=Corporate+culture&w2=Business+culture+of+china&w3=Organizational+culture&w4=Organizational+culture+change&w5=Organizational+culture+assessment&w6=Jewish+culture&c=6&s=176&.sig=b0TqcVMvhB-a0EgixFvFsw> > Organizational > culture > change<http://groups.yahoo.com/gads?t=ms&k=Organizational+culture+change&w1=Corporate+culture&w2=Business+culture+of+china&w3=Organizational+culture&w4=Organizational+culture+change&w5=Organizational+culture+assessment&w6=Jewish+culture&c=6&s=176&.sig=Z8hBTiWD2XdK93YM2Ng0uw> > Organizational > culture > assessment<http://groups.yahoo.com/gads?t=ms&k=Organizational+culture+assessment&w1=Corporate+culture&w2=Business+culture+of+china&w3=Organizational+culture&w4=Organizational+culture+change&w5=Organizational+culture+assessment&w6=Jewish+culture&c=6&s=176&.sig=0oDQvHXUEKLGPnUe3OQ8uw> > Jewish > culture<http://groups.yahoo.com/gads?t=ms&k=Jewish+culture&w1=Corporate+culture&w2=Business+culture+of+china&w3=Organizational+culture&w4=Organizational+culture+change&w5=Organizational+culture+assessment&w6=Jewish+culture&c=6&s=176&.sig=K0DLpHFrAHyulw_DW5oA8A> > ------------------------------ > YAHOO! GROUPS LINKS > > > - Visit your group "urangsunda<http://groups.yahoo.com/group/urangsunda>" > on the web. > > - To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED]<[EMAIL PROTECTED]> > > - Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of > Service <http://docs.yahoo.com/info/terms/>. > > > ------------------------------ > [Non-text portions of this message have been removed] Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

