Baraya sadaya,

Ti kamari kumejot hoyong ngiring ilubiung dina ngadu baqo RUU pornogarapi 
sareng paronoeksyen teh, tapi da kumaha teu ngawasaan dasar-dasar argumen pro 
kontrana. Katurug katutuh teu acan bucu-baca RUU-na.  Hanjakal ieu panangan teh 
meni nerejel hoyong ngetik ngeunaan ieu,  janten we ieu aya sakedik pamendak 
munggaran ti abdi, anggap we  tatalu heuheu...

Dugi ka ayeuna, sumanget diri mah hoyong  ngarojong RUU APP teh. Alesan 
pangageungna kumargi abdi teh  hoyong gaduh lingkungan nu sae pikeun abdi 
sareng kulawargi hirup  sadidinten. Komo deui ka nu gaduh putra-putu panginten 
ripuh upami  lingkungan di luar bebas teuing mah.Tiasa  jungkir balik 
nerangkeun  hal-hal nu teu acan waktosna ditingal/ditampi ku murangkalih tapi 
tos  sasaliweran di mana wae. 

Tapi nu nolak RUU APP oge teu kirang tarik suantenna (duka seueur henteuna 
mah). Kahartos da RUU teh  sifatna ngatur hirup urang, ngurangan kabebasan. 
Numutkeun titenan abdi  dugi ka ayeuna, aya dua tipe nu nolak teh: kahiji nolak 
sagemblengna nyaeta nganggap teu  perlu aya RUU APP. Teu satujuna golongan  ieu 
seuseueurna mah didasaran ku anggapan yen RUU teh produk politik nu  aya 
agendana. Aya oge nu nganggap nagara mah teu kudu ngurusan moral  rahayatna. 
Golongan kadua nu nolak teh nyaeta nu teu  satuju kumargi draft nu ayeuna 
kirang sae, teu acan kabayang kumaha  prak-prakna, tur sieun ngaret jeung 
digunakeun pikeun ladang KKN.  

 Abdi teu satuju ka golongan nu kahiji, sabab efek  negatip 
pornografi/pornoaksi teh tos pada aruninga, sanaos sesah  dibuktoskeun.Contona 
mah seueur ayeuna berita kasus pemerkosaan  (kalebet ku  anatapi kabudak alit) 
sabada nongton filem por*o. Langkung ti eta,  urang oge teu terang akibat 
sosiologis jangka panjang pornografi ka  sendi-sendi tatanan masyarakat urang 
sapertos kulawarga, pendidikan jst  nu langkung tebihna tiasa mangaruhan 
kualitas generasi enggal bangsa  urang. Kanggo nu muslim,  akibat awon upami 
urang nyicingkeun APP teh manjang ka tanggel waler  urang di aherat engke. 
Janten RUU APP teh numutkeun abdi mah peryogi.

Dupi golongan ka dua mah masih leuheung mung sigana peryogi badami nu langkung 
persuasif. Sigana kedah dicaketan jalmi2 ieu teh, diajak badanten sasarengan 
ngeunaan pasal-pasal  sareng teknis pelaksanaanna. Tangtos eta tugas wakil 
urang ngalobi  jalmi2 ieu sareng ngadamel RUU APP nu mutuna sae tur mucekil 
hasilna.

Kusabab  alesan-alesan di luhur, abdi mah mung tiasa umajak ka baraya didieu.  
Hayu urang masihan dukungan politis RUU APP tapi tetep kritis kana  rumusanna. 
To hariwang, da geuning saur wartos di handap, rahayat Indo  nu ngadukung RUU 
APP teh langkung  seueur tapi eleh suantenna.

Baktos 
Yudi

  Jumat, 10 Maret 2006
  Suara Mayoritas yang Diam
  Suara perempuan tiga puluhan tahun itu tinggi, seolah menuding 
Republika yang diajaknya bicara. ''Bung wartawan, Anda tahu jumlah 
penduduk Indonesia, kan? Dua ratus juta lebih. Mereka itu juga harus 
didengar, bukan hanya sebagian artis dan sekelompok aktivis LSM itu 
saja,'' kata ibu muda yang bernama Zulfiani itu.

Bersama sekelompok ibu-ibu muda lainnya, selepas shalat Zuhur, 
Zulfiani memang tengah berdiskusi kecil seputar hal paling hangat 
saat ini: RUU APP. Obrolan antarpara ibu pengajian di Masjid Al Jihad 
Padang Panjang, Sumatra Barat, itu akhirnya mengerucut pada 
demonstrasi para artis dan perempuan aktivis LSM yang menentang 
diundangkannya RUU Antipornografi dan Pornoaksi.

''Kami juga punya hak yang sama dengan para artis dan aktivis LSM 
itu. Suara kami tegas, mendukung RUU APP segera diundangkan,'' kata 
Ketua Bundo Kanduang, Hj Nurainas Abizar. Bundo Kanduang adalah 
organisasi payung berbagai perkumpulan wanita di Ranah Minang.

Nurainas  menyatakan, dia mendapat kesan kuat bahwa kehidupan para   perempuan, 
bahkan masa depan generasi muda, hendak ditentukan  para  artis dan aktivis LSM 
tersebut. ''Bila dunia mereka menyibak  penutup tubuh atas nama seni, mereka 
harus tahu bahwa dunia orang lain  tidak seperti itu,'' kata perempuan yang 
akrab dipanggil Bundo itu,  tegas.
   
Sebagaimana Zulfiani, Nurainas mengingatkan, tidak elok jika 
sekelompok kecil kalangan itu merasa memiliki hak untuk mengatur 
sebagian besar yang lain.

Bahkan, seolah tengah menantikan bayi terkasih yang proses 
persalinannya terhalang banyak kendala, Nurainas menyatakan, 
perempuan Minang siap menerima kehadiran regulasi moral itu tanpa 
reserve. ''Kalau sulit di Jakarta, berikan ke sini. Anak-anak kami 
perlu dilindungi dari ganasnya pornografi,'' kata Nuraina.

Sikap  serupa juga disampaikan Sandi Kurniawan dari Bandung. Karyawan   swasta 
itu melihat bahwa saat ini media cetak dan elektronika terlalu  gamblang 
memublikasikan gambar ataupun tayangan porno. ''Dampaknya  besar. Kini pakaian 
minimalis itu merebak dan menjadi acuan para wanita  hingga ke desa,'' kata 
Sandi. Ia melihat, hal itu gampang menular  karena saat ini televisi telah 
menjadi kebutuhan setiap rumah tangga.

Untuk itulah, kata Nenti, mahasiswa sebuah perguruan tinggi di 
Bandung, amat diperlukan sebuah aturan yang jelas dan tegas. ''Jika 
tidak diatur, saya yakin kondisinya akan makin bablas,'' kata dia. 
Dari  Jawa Timur, Ny Suprihatin mengeluarkan keprihatinan hatinya akan  kondisi 
moral masyarakat saat ini. Apalagi ketika ia mendapati kedua  anaknya yang 
masih duduk di bangku SMP, ternyata diam-diam menyimpan  cakram padat (VCD) 
porno di tas sekolah mereka. ''Ketika saya tanya,  mereka menjawab barang itu 
mereka dapat sebagai pinjaman dari teman  satu kelas. Bayangkan, bukan saling 
pinjam buku pelajaran, tapi justru  VCD porno,'' kata warga Kelurahan 
Kutoanyar, Tulungagung, yang juga  seorang guru SD itu.

Meski sempat kecewa, Suprihatin merasa beruntung. Pasalnya, 
pertengahan  tahun lalu, seorang pemuda tanggung usia SMP di kampung itu 
terbukti  mencoba menggagahi gadis tetangganya. Saat diperiksa, anak baru 
tumbuh  kumis itu mengaku terangsang setelah menonton VCD porno. ''Jujur saja,  
saat ini tumpuan saya di tengah merajalelanya pornografi saat ini,  hanya RUU 
APP,'' kata dia.

Berbekal pengalaman berpuluh tahun  mendidik siswa, Suprihatin merasa  aneh 
ketika ternyata ada pula  pihak yang menentang diundangkannya RUU tersebut. Ia 
mengaku tak habis  pikir. ''Apalagi yang menentang itu ada yang dari kelompok 
perempuan.  Bukankah RUU itu justru hendak menyelamatkan keluarga kita?'' kata 
dia,  mempertanyakan.

Dukungan serupa juga datang dari Bandar Lampung. Fitri, seorang ibu 
rumah  tangga, karyawan Biro Humas Pemprov Lampung, menyatakan RUU APP perlu  
segera diundangkan. Alasannya, kata ibu dua anak itu sederhana,  maraknya 
peredaran media berbau pornografi dan penayangan pornoaksi  jelas mengancam 
nasib bangsa ke depan. ''Orang tua hanya mampu  mengawasi saat di rumah, 
selebihnya tidak. Bila ada aturan baku soal  itu, peredaran media porno yang 
sangat mempengaruhi moral generasi muda  bisa ditekan,'' ujar Fitri.

Sedangkan dari Fatayat Nahdlatul  Ulama Lampung, yang muncul bahkan desakan 
untuk segera mengundangkan  aturan tersebut. ''Jangan tunda lagi, kami sudah 
sepakat,'' kata Wiwik,  wakil organisasi tersebut. Berlawanan dengan apa yang 
diberitakan  selama ini, generasi muda Bali juga tidak sedikit yang menyetujui 
RUU  tersebut. Berangkat dari kekhawatiran dan tanggung jawab akan nasib  
bangsa ke depan, Ketut Agung Ayu Aridewi menyatakan sepakat dengan  aturan yang 
tengah digodok itu.

''Jika dibiarkan leluasa begitu, dampak pornografi akan sangat 
buruk,'' kata Ari di Denpasar, kemarin (9/3). Pendapat Ari didukung 
Ratna  Citaresmi, rekannya sesama mahasiswa lain kampus. Ratna yakin, dengan  
adanya regulasi yang tegas akan pornografi, dampak dan keberadaan  monster 
perongrong akhlak itu bisa diminimalkan.
( rul/wot/mur/aas/mj02 )


Jumat, 10 Maret 2006

RUU APP Harus Serap Seluruh Aspirasi

Dari 167 ormas, hanya 10 persen yang menolak.

JAKARTA  -- Untuk menyerap aspirasi dari berbagai lapisan masyarakat, Panitia  
Khusus (Pansus) Rancangan Undang-Undang (RUU) Antipornografi dan  Pornoaksi 
(APP) telah mengundang 167 organisasi massa. Mereka dimintai  masukannya 
terhadap RUU APP.

Menurut Ketua Pansus RUU APP, Balkan Kaplale, saat ini merupakan 
kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk memiliki UU mengenai 
pornografi. ''RUU APP ini sudah terkatung-katung selama tujuh tahun. 
Tidak mungkin kita menunda lagi pembahasannya,'' kata Balkan di 
Jakarta, Kamis (9/3).

Pihaknya  meminta agar masyarakat tak perlu panik dengan pembahasan RUU APP.  
Hingga saat ini, ungkapnya, sudah 167 organisasi dan elemen   masyarakat 
diundang Pansus RUU APP. Dari jumlah itu, sebanyak 144  organisasi dan elemen 
mendukung pembahasan RUU APP.

''Yang tak setuju hanya 23 organisasi, itu artinya hanya 10 persen. 
Meski begitu, kita tetap menghormati mereka,'' tegas Balkan. 
Sementara kalangan yang menolak diminta menghormati mereka yang 
setuju pembahasan RUU diteruskan. Pembahasan RUU itu kini sudah 
mengarah ke tahap perumusan materi. Bahkan, telah terbentuk tim 
perumus yang akan menyusun draf kedua dari RUU APP. ''Tim perumus terdiri atas 
13 orang ditambah lima pimpinan,'' katanya.

Kemarin,  sebagai bagian dari penyerapan aspirasi, pansus menerima 52 
organisasi  massa (ormas). Mereka memberikan masukan dan menyatakan  dukungan  
perumusan RUU APP diteruskan. Mereka di antaranya adalah dari Muslimat  
Alwasliyah, Wanita Islam, Wanita Persis, Wanita Tarbiyah, Wanita Peduli  Umat, 
Salam Universitas Indonesia, PP Aisyiah, FPI, dan Hizbut Thahir.  Mereka 
menyesalkan liputan media massa yang menciptakan kesan  seolah-olah penolak RUU 
itu sangat banyak. Sedangkan yang menentang  sangat sedikit.

Presiden PKS, Tifatul Sembiring, meminta agar pihak yang pro maupun 
kontra membaca terlebih dulu materi dan aturan main dalam RUU 
tersebut. ''Jika ada pasal yang tidak setuju, bisa dibicarakan. 
Jangan belum apa-apa menolak membabi buta seakan-akan tidak bisa 
dikompromikan lagi,'' katanya.

Sementara  Pansus RUU APP juga harus lebih luas lagi mensosialisasikan 
materinya  ke masyarakat. Pansus juga diminta untuk menjelaskan secara detail  
pasal-pasal dari RUU ini. ''Jangan sampai masyarakat salah menafsirkan  tujuan 
dari RUU APP ini.'' Pakar Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada  (UGM), Faruk HT, 
mengatakan, perumusan RUU APP harus dikembalikan pada  asumsi dasar tentang 
kebebasan seseorang atau kelompok. ''Orang boleh  bebas, tapi kalau orang lain 
terganggu, maka harus dibatasi,'' katanya.

Menurut Ketua DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, UU tentang 
pornografi merupakan bagian dari upaya membangun karakter moral 
bangsa.  ''Siapa pun yang berpikir panjang terhadap keselamatan bangsa ini,  
tentunya tidak akan menolak keberadaan UU tersebut,'' katanya. Wakil  Ketua 
Umum DPP PPP, Alimarwan Hanan, meminta agar pembahasan UU itu  dapat 
mengakomodasi kepentingan semua pihak. Mereka yang pro maupun  kontra harus 
diajak dalam perumusan UU tersebut.

     ..:::..
 Regards
 
 [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]    






                
---------------------------------
Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail  makes sharing a breeze. 

[Non-text portions of this message have been removed]



Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke