Punten teu di sundakeun, (seu eur teuing..hehehe) Langung hapus jika sudah pernah membaca sebelumnya. Terima kasih.. Wassalam, Yosep
-----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Nurzaman, Zamzam OSPM22 Sent: Sunday, March 12, 2006 3:48 PM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [omanindoprof] FW: [Geo_unpad] Re: Amien Rais ttg Freeport Meskipun kita jauh dari negeri kita, namuan rassanay deket di hati kalau sudah membaca artikel di bawah ini. Emmhh kasihan anak cucuku nanti Zammy --- In [EMAIL PROTECTED], Panji Setia Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Heboh masalah Freeport beberapa hari terakhir, maka > tak ada salahnya membaca > hasil wawancara pak Amien Rais dibawah ini. Semoga > bermanfaat !!! > > Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > From: Satrio Arismunandar > > > Amien Rais > > "Bongkar Kejahatan Freeport" > > Tak ada yang berubah dari sosok Amien Rais. > Penampilannya yang sederhana, dan keberaniannya dalam > mengeritik penguasa, masih tetap melekat pada tokoh > reformasi ini. Urusan mengeritik penguasa, Amien tak > main-main. Belakangan, lelaki kelahiran Surakarta, 26 > April 1944 ini, kembali melakukan gebrakan. Isu lawas > soal korupsi, perusakan lingkungan dan penjarahan > besar-besaran yang dilakukan PT Freeport, sebuah > perusahaan pertambangan asing, kembali ia gulirkan. > Dulu pada tahun 90-an, kritiknya soal Freeport > menyebabkan ia 'ditendang' dari Ikatan Cendekiawan > Muslim Indonesia (ICMI) oleh Suharto. Mengangkat isu > ini menurut Amien, ibarat membentur tembok tebal. > Banyak pihak yang terlibat, terutama para pejabat > bangsa ini dan kepentingan asing. Kepada wartawan > SABILI Artawijaya dan Rivai Hutapea, mantan Ketua > MPR-RI ini bicara blak-blakan soal Freeport. Berikut > wawancara lengkapnya yang berlangsung di pendopo dekat > rumahnya di Condong Catur, Yogyakarta, pada Selasa > (31/01). > > Apa yang melatarbelakangi Anda kembali berteriak > lantang soal Freeport? > > Jadi pada awal reformasi saya betul-betul tidak > bisa > menerima sebagai anak bangsa, sebagai umat, melihat > kelakuan investor asing yang mengeksploitasi kekayaan > alam kita lewat industri pertambangan secara sangat > ugal-ugalan, sangat tidak masuk akal. Malah waktu itu > saya berhasil menguak pertambangan Busang, yang > mestinya akan dibuka di Kalimantan, kemudian andaikata > penipuan Busang itu menjadi kenyataan, maka mereka > bisa menjual saham di New York dengan harga yang > aduhai. Sementara sesungguhnya Busang itu pepesan > kosong belaka. Kemudian setelah saya dengan izin > Allah, berhasil membongkar kebohongan Busang itu, saya > mengarahkan bidikan saya ke kejahatan yang dilakukan > oleh PT Freeport McMoran disekitar Timika. Saya > mendasarkan kritik saya bukan hanya kata si Fulan dan > si Fulanah, atau berdasarkan qaala wa qiila, tetapi > saya memang datang sendiri ke pertambangan Freeport > itu. Bahkan saya sempat menginap disana dan saya > relatif sudah menjelajahi selama setengah hari keadaan > pertambangan itu. Sebagai seorang anak bangsa saya > betul-betul tidak bisa menerima bahwa ada wilayah kita > yang diacak-acak oleh perusahaan Amerika secara sangat > menghina, karena sebuah gunung sudah lenyap menjadi > danau yang sangat jelek. Kemudian entah berapa luasnya > tanah sekitar pertambangan sudah rusak total. Saya > juga melihat dengan mata kepala ada pipa besar yang > dipasang dari pusat pertambangan di Grasberg disekitar > Tembaga Pura itu turun kebawah sepanjang seratus > kilometer sampai ke tepi laut Arafura. Kemudian > ternyata pipa itu untuk menggotong concentrate atau > biji tambang emas, perak dan tembaga yang kita tidak > pernah tahu volume atau jumlahnya. Apalagi saya diberi > tahu bahwa jelas kali Freeport itu menggelapkan > pembayaran pajaknya. Begitu saya mengungkpa kenyataan > ini sebagai sebuah kenyataan yang bertentangan dengan > UUD 45, maka dua minggu kemudian (tahun 1993, red) > saya ditendang dari ICMI oleh pak Harto. Setelah itu > nampaknya Freeport sebentar melakukan konsolidasi, > tidak begitu mencolok mata, bahkan lantas satu persen > dari keuntungannya, katanya diberikan kepada > masyarakat sekitar. Tapi yang dikerjakan Freepor makin > gila, yaitu ada pelipatan wilayah yang dieksploitasi > dengan izin pemerintah. Kemudian juga jumlah biji > tambang yang diangkut ke luar lebih banyak lagi. > Selama saya jadi Ketua MPR hal ini tidak pernah saya > pantau. Saya pernah dibujuk oleh James Moffett pada > musim panas tahun 1997 waktu saya ada di Washington. > Dia terbang ke New Orleans, dan mengiming-imingi saya. > Kata dia, kalau mau saya akan diantar naik helikopter > untuk tour ke daerah pertambangan Freeport, dan saya > akan diberi keterangan bahwa Freeport tidak merusak > ekologi atau lingkungan kita. Kemudian pada saat > bersamaan saya di New York ketemu dengan Henry > Kissinger. Ternyata dia salah satu Komisaris, dan dia > dengan diplomasinya mengatakan, "Kalau Anda melihat > penyelewengan hukum, maka beri tahu saya. Saya akan > mengambil langkah koreksi." Tetapi semua itu tentu > saja hanya > sandiwara, karena yang terjadi penjarahan Freeport > makin gila menjarah kekayaan kita. Karena itu dengan > bismillah, nawaitu yang ikhlas, bukan niat oposisi > pada pemerintah, mari kita bersama-sama membongkar > kejahatan di Freeport ini. > > Telah terjadi korupsi yang maha dahsyat di dunia > pertambangan? > > Korupsi itu diartikan sebagai tindakan yang > merugikan negara lewat penyalahgunaan kekuasaan atau > wewenang. Jadi korupsi yang dimengerti oleh KPK dan > kita semua sudah betul, yaitu penyalahgunaan wewenang > untuk kepentingan pribadi dan merugikan negara. Yang > terjadi di Freeport itu memenuhi kriteria itu secara > sangat telak. Negara dirugikan dalam jumlah ratusan > atau saya yakin ribuan triliun sejak akhir tahun > 60-an. Anda bayangkan, sebuah gunung lenyap, kemudian > sudah dihitung bahwa volume ampas pertambangan, > tailing, tanah, batu kerikil yang terbuang itu sama > dengan dua kali kerukan terusan Panama, sekitar 6 > miliar ton. Ini sebuah penghinaan nasional. Saya yakin > sekali, kalau Freeport sebagai perusahaan pertambangan > babon bisa kita benahi, maka yang kecil-kecil seperti > Newmont Minahasa, Newmont NTB, perusahaan Gas Tangguh, > dan lain-lain akan lebih bisa diperbaiki karena si > babon itu telah lebih dahulu dibenahi. Kalo yang babon > ini tetap dibiarkan mengacak-acak kekayaan alam kita, > bahkan melakukan penghinaan nasional, maka saya > khawatir orang asing akan mencibir kita bahwa > pemerintah kita masih seperti dulu, masih bermental > inlander, tidak berani mengangkat kepala terhadap > asing. Ini tentu meyedihkan sekali. Jadi korupsi maha > dahsyat ini harus kita lawan. > > Korupsi dahsyat ini tertutup dengan gencarnya > pemerintah mengusut korupsi kelas ecek-ecek? > > Jadi ramenya pemerintah memberantas korupsi > kecil-kecil, yang ratusan juta, yang puluhan juta, > sesungguhnya untuk menyembunyikan yang besar-besar. > Jadi rakyat kita ini dibodohi oleh pemerintah kita > sendiri. Dan memang rakyat kita sudah terkecoh, > seolah-olah pemerintah sudah hebat dalam memberantas > korupsi. Setelah 15 bulan berkuasa, menurut Political > and Economic Risk Consultancy (PERC) lagi-lagi kita > tetap nomor satu dalam korupsi di kawasan Asia ini. > Artinya, korupsi sejati masih tetap berlangsung. > Sekarang yang dikejar-kejar hanya korupsi > kecil-kecilan, sehingga media massa juga terkecoh, > seolah-olah telah terjadi penanganan korupsi secara > massif dan sungguh-sungguh. Padahal yang terjadi > kucing-kucingan. > > Anda pernah mengatakan korupsi di Freeport ini G to > G (Goverment to Goverment). Bisa dijelaskan? > > Memang ada pembiaran dari pemerintah kita terhadap > bisnis yang juga melibatkan pemerintah asing, yang > jelas-jelas merusak. Seperti diungkapkan oleh The New > York Times, kemudian dimuat secara utuh di The > International Herald Tribun tanggal 28-29 Desember > 2005. Memang yang mengamankan penjarahan kekayaan > bangsa itu adalah aparat keamanan dan pertahanan kita. > Saya tidak mau menyebut nama, tetapi hitam diatas > putih dikatakan ada seorang mayor jenderal yang > mendapatkan 150.000 US dollar dan ada seorang perwira > tinggi kepolisian dapat sekian ratus ribu dollar. > Kemudian ada kolonel, mayor, kapten dan prajurit lain > dapat amplop dari Freeport untuk mengamankan supaya > orang tidak bisa masuk dan mengetahui hakikat > kejahatan Freeport itu. Malah ada bukti otentik, sejak > tahun 1996 sampai tahun 2004, Freeport mengeluarkan > biaya pengamanan 20 juta US dollar yang dibagi ke > lembaga. Ini dibayarkan kepada aparat keamanan kita > untuk melindungi Freeport yang zalim itu untuk > mengeruk kekayaan kita. > Ini yang saya heran kenapa kok dibiarkan. > > Pemerintah terkesan tunduk pada kepentingan asing? > > > > Ya, memang ada kepentingan asing yang sangat > menghina di Freeport ini. Ada dua jenis negara > berkembang dalam menghadapi korporatokrasi yang > cenderung maling atau klepto. Saya setuju dengan Jhon > Perkins bahwa korporatokrasi itu ada tiga pilar, > yaitu: Big coorporation, Goverment dan International > Bank. Tiga elemen ini berpacu untuk melakukan > pengurasan kekayaan dunia ketiga. Nah, disini ada > negeri-negeri yang berani mengangkat kepala dan berani > mengatakan No! Terhadap korporatokrasi itu, seperti > Thailand, India, RRC, Malaysia. Kita termasuk negeri > yang walaupun tidak mengatakan Yes! Tapi tidak pernah > mengatakan No! Sehingga begitu enaknya pihak asing > menjamah kekayaan negeri kita. Saya pernah ceramah di > Melbourne, saya bertanya kepada perusahaan penambangan > Australia, apakah salah saya sebagai orang Indonesia > itu mematok bahwa dalam kontrak karya itu royalti yang > kita terima itu bukan 15 persen, tapi 50 persen. > Mereka mengatakan tidak ada yang salah dengan pendapat > itu karena semau > tergantung dengan perjanjian. Tapi mengapa kita diam > saja diberi 15 persen, itupun saya yakin sekali > pembukuannya sudah tidak betul, karena kita tidak tahu > apa yang terjadi disana. > > Apakah SDM kita sudah mampu mengelola pertambangan, > jika kita harus lepas dari Freeport? > > Ada wartawan yang mengatakan, pak Amien, bukankah > kita sudah diuntungkan, karena mereka punya keahlian, > mereka bawa mesin, mereka bawa uang, kemudian kekayaan > kita dikeruk, kita dapat 15 persen, ini kan sudah > lumayan. Saya katakan, kalau begitu apa bedanya dengan > zaman penjajahan. Penjajah itu datang bawa mesin, bawa > keahlian, bawa modal, kemudian kekayaan kita digotong, > yang disisakan hanya untuk pantes-pantesan saja. > Sekarang kita sudah 60 tahun merdeka, sehingga Insya > Allah sudah punya keahlian. Banyak lulusan dari ITB, > UGM dan lain-lain yang mengatakan bahwa Freeport itu > adalah pertambangan terbuka, tidak usah menggali perut > bumi, tetapi hanya memecah batu-batuan, lantas digerus > dijadikan biji tambang, kemudian jadi concentrate, > kemudian menjadi batangan emas. Ini sangat mudah. Kata > mereka, otak Indonesia itu lebih mampu, mengapa > diberikan kepada Freeport. > > Pemerintah kita tidak pernah mempersoalkan aspek > pelanggaran yang dilakukan oleh Freeport, terutama > soal dampak lingkungan? > > Saya kembali pada teori hukum yang elementer. Dalam > dunia moral dan hukum itu ada dua macam dosa dan > kejahatan: Pertama, sin of crime of commission > (Melakukan perbuatan dosa atau jahat). Kedua, sin of > crime of ommision (Dosa membiarkan kejahatan). Jadi > kalau pemerintah kita di depan matanya berlangsung > kejahatan yang dilakukan oleh pihak asing, tetapi diam > saja, malah memberikan peluang untuk berlangsungnya > kejahatan itu, maka pemerintah kita telah melakukan > kejahatan atau dosa membiarkan sebuah kejahatan > berlangsung terus menerus. Jadi kalau saya melihat > seorang perampok melakukan perampokan lalu saya diam > saja, maka saya termasuk melakukan kejahatan ommisi, > karena nggak berbuat apa-apa. Saya khawatir pemerintah > kita dari masa ke masa kalau terus menjadi pemerintah > komprador, yang meladeni kepentingan asing yang > merugikan bangsa, maka pemerintah itu telah melakukan > kejahatan. Disadari atau tidak. > > Kalau begitu, membongkar Freeport sama dengan > mengembalikan martabat bangsa? > > Betul! Ini masalah bangsa Indonesia. Jadi saya > menggelindingkan masalah besar ini dalam rangka save > the nation, menyelamatkan bangsa dan masa depan > bangsa. Saya tidak ada kepikiran isu ini menjadi > gerakan politik yang remeh temeh, apalagi ada dagag > sapi. Itu selain lucu, terhina. Ini adalah proyek > besar menyelamatkan bangsa. > > Seberapa parah imprealisme yang terjadi dalam kasus > Freeport dan lainnya saat ini? > > Saya kira cukup parah. Karena imprealisme itu > berujung pada sebuah bangsa kehilangan kedaulatan dan > kebebasannya untuk membangun dirinya sendiri tanpa > bantuan asing. Sekarang ini kita mengetahui bahwa kita > kehilangan kedaulatan kita. Untuk memecahkan masalah > ekonomi nasional, kita pernah mendatangkan 'dukun' > IMF. Sekarangpun utang kita sudah menjerat kita. > Sekarang pun di kabinet itu sesungguhnya kembali di > zaman IMF. Karena menteri keuangannya, menteri > perdagangan dan Meno Ekuinnya itu orang-orang yang > berorientasi pada IMF. Kemudian juga lihatlah, kita > ini tidak berani mengangkat kepala menuruti kemauan > WTO (World Trade Organization, red). Orang Jepang, > orang Perancis, Kanada, Amerika, itu petaninya > dilindungi. Tapi disini petani kita begitu tengkurap > menghadapi WTO, sehingga apapun kata WTO kita > kerjakan. Kita ini jadi bangsa terjajah. Gula kita > impor, disuruh impor paha ayam kita lakukan, impor > beras, naikan BBM dan lain-lain. Jadi sudah tidak ada > kedaulatan lagi. Sehingga > kalau dibandingkan dengan pimpinan negara lain seperti > Ahmadinejad yang melawan Barat, Mahathir yang berani > menegakan kepala terhadap Barat, atau pemerintah Korea > Utara yang juga demikian, India, Cina, atau > negara-negara Amerika Latinnya. Saat ini dibandingkan > negara-negara tersebut, Indonesia menjadi tontonan > yang tidak lucu. Negara yang sudah merdeka 60 tahun, > tapi mentalitasnya masih seperti inlander. Jadi mari > kita kembali menjadi bangsa yang berdaulat, tanpa > tekanan pihak manapun. > > Apakah ada kepentingan politik pribadi dibalik isu > ini, misalnya modal Anda di 2009 nanti? > > Pertanyaan Anda sudah banyak ditanyakan. Bahkan ada > yang menyatakan, "Pak Amien, Anda membedah soal > Freeport ini secara sungguh-sungguh ini, hanya karena > menginginkan dana kampanye pilpres 2009 dari pak > Ginandjar Kartasasmita?" Saya gembira dengan komentar > yang aneh-aneh ini. Tetapi kita diajarkan oleh > al-Qur'an, Faidza 'azamta fatawakkal 'alallah, kalau > sudah bertekad tinggal bertawakkal pada Allah. Kalau > diperjalan ada pro-kontra, ada fitnah, itu sesuatu > yang sangat biasa sekali. Nabi yang sempurna saja itu > dikatakan majnun, apalagi orang seperti Amien Rais. > Al-Qur'an juga menyuruh kita untuk terus melakukan > nahyi munkar. Kalau kita dikritik lantas surut, maka > yang keenakan ya yang korupsi itu. Menurut saya, era > Amien Rais itu sudah berlalu. Belakangan saya banyak > mengambil i'tibar (pelajaran, red) bahwa pemimpin itu > harus istiqamah, jangan sampai terjangkit penyakit > nifaq (munafik, red). > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam > protection around > http://mail.yahoo.com > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > Moderators: Budhi Setiawan '91 <[EMAIL PROTECTED]> Edi Suwandi Utoro '92 <[EMAIL PROTECTED]> Sandiaji '94 <[EMAIL PROTECTED]> Wanasherpa '97 <[EMAIL PROTECTED]> Satya '2000 <[EMAIL PROTECTED]> Yahoo! Groups Links --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda menerima pesan ini karena Anda tergabung pada grup Grup Google "omanindoprof" grup. To post to this group, send email to [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Untuk pilihan lainnya, lihat grup ini pada http://groups.google.com/group/omanindoprof -~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

