Gorbachev pernah bilang bahwa "komunisme tidak pernah dikalahkan. Suatu saat nanti perang peradaban yang akan terjadi adalah antara Islam dengan komunisme" Kenapa? karena kapitalisme tidak punya pilar ideologis, pilar kapitalisme adalah hawa nafsu.
Punten crossposting (sareng henteu di-Sundakeun)....
Halaman Depan > Ekonomi Internasional Selasa, 28/03/2006 16:37 WIB
http://www.bisnis.com/
Menanti runtuhnya imperium AS
oleh : Djony Edward
JAKARTA (Bisnis): Pada tahun 1992 Ayatullah Ali Khomeini, anak kandung Ayatullah Khomeini, berceramah di Masjid Wali Songo, Kwitang. Dalam pidatonya dia memprediksi, setelah kejatuhan Uni Soviet, maka kejatuhan AS tinggal menunggu waktu.
Ali Khomeini mengilustrasikan Uni Soviet dan AS ibarat dua tiang yang menyangga peradaban dunia, dimana magnitude pergerakan politik, pertahanan, keamanan, ekonomi dan budaya dunia. Ketika hubungan kedua adidaya itu memanas, maka memanaslah dunia. Ketika hubungan keduanya membaik, mereda, maka tenanglah dunia. Maka pada saat satu tiangnya runtuh (Uni Soviet), maka tiang yang lainnya (AS) kini telah memperlihatkan gejala kejatuhan itu.
Tapi kita tahu, sejak 1992 Uni Soviet terpecah belah menjadi Rusia, Khazakstan, Uzbekistan, Turkmenistan dan belahan lainnya. Kini AS yang praktis menjadi penyangga tunggal peradaban dunia ini sudah mulai sarat beban, sehingga AS sering tampil
terhuyung-huyung, baik dalam wajah demokrasi, hak asasi manusia, bahkan sampai ekonominya pun porak poranda. "AS tengah mencapai titik nadir terendah dalam demokrasi", demikian politiscien Amien Rais memaknai.
Kejatuhan AS memang semakin tak terelakkan, dalam hal penegakkan hukum AS paling bobrok. Bagaimana mungkin bisa menciptakan camp tawanan Guantanamo (Cuba) dan Abu Ghuraib (Irak), dimana mereka yang dianggap sebagai seteru atau didaulat sebagai teroris dimasukkan ke camp tawanan itu tanpa perlindungan hukum apapun.
Di bidang politik keamanan, AS bisa seenaknya melakukan aneksasi Afghanistan, Irak, dan mungkin kalau masih ada likuiditasnya, Iran dan Korut akan diserang. Namun diujung serangan itulah justru AS kehabisan energi karena dilanda defisit yang maha besar abad ini.
Menurut laporan chairman Federal Reserve Ben Bernanke, defisit transaksi berjalan AS akhir 2005 telah menembus US$804,9 miliar atau naik 6,4% dari produk
domestik bruto negeri Paman Sam itu.
Ben Bernanke berpendapat kendati defisit transaksi berjalan naik namun ekonomi AS tetap akan tegak. Ke depan kemungkinan akan terjadi koreksi atas defisit transaksi perdagangan dan hal itu akan menurunkan defisit transaksi berjalan melalui sejumlah kebijakan.
"Jalan terbaik adalah melindungi ekonomi AS dari sejumlah kejadian dengan melanjutkan disain kebijakan stabilisasi dan fleksibilitas sistem keuangan", demikian Bernanke.
Kondisi ini bertolak belakang dengan China yang justru sedang memupuk cadangan devisa yang akhir 2005 menembus level US$800 miliar. Bahkan China menargetkan cadangan devisa akhir 2006 bisa menembus level US$1 triliun. Para analis memprediksikan tak sampai lima tahun ke depan, adidaya ekonomi akan pindah dari AS ke China.
Dolar anjlok
Asian Development Bank (Bank Pembangunan Asia--ADB) menilai tingginya defisit yang melanda AS dan telah
mencapai rekor tertinggi, berbarengan dengan peningkatan suku bunga global, bisa memicu tekanan signifikan atas dolar AS. Prediksi ini sejalan dengan prediksi analis di AS, bahwa dalam waktu tidak terlalu lama dolar AS akan terperosok dalam kejatuhan yang serius.
Itu sebabnya ADB mengingatkan agar perekonomian Asia Timur mempersiapkan kemungkinan anjloknya dolar AS.
"Sejumlah guncangan yang menghantam perekonomian AS atau pasar global dapat mengubah persepsi investor atas ketidakseimbangan neraca berjalan global yang ada", demikian Masahiro Kawai, kepala penyatuan ekonomi kawasan ADB dalam laporannya.
"Saran kami kepada negara-negara Asia adalah, jangan menganggap pendanaan yang terus menerus ini atas defisit neraca berjalan AS sebagai apa adanya. Jika sesuatu terjadi maka perekonomian Asia Timur harus dipersiapkan", katanya.
Ini bisa difahami, mengingat sifat alami saling ketergantungan yang tinggi antara
ekonomi Asia Timur, jika negara-negara itu bekerja sama untuk menciptakan mata uang mereka secara kolektif terapresiasi atas dolar yang sedang ambruk, maka biaya penyesuaian dapat disebar.
"Kemungkinan dolar AS anjlok atau turun tajam barangkali kecil dalam masalah ini namun hal itu akan menggerakkan kekacauan yang sangat signifikan sehingga perekonomian Asia Timur... harus bersiap untuk itu", demikian Kawai menambahkan.
ADB yang berkantor pusat di Manila itu sedang mengkaji sejumlah indeks mata uang Asia yang dapat membantu dalam memantau gerakan nilai tukar dalam kasus penurunan dolar yang tajam, meski tujuan utamanya adalah untuk membantu mengembangkan pasar obligasi kawasan.
Namun, ADB masih sedang mencoba untuk memutuskan mata uang yang mana yang dimasukkan dalam Asian Currency Unit (ACU) di tengah sensitifitas politik mengenai tercantumnya dolar Taiwan karena klaim China atas pulau tersebut.
ADB sendiri
tengah merancang ACU-- mata uang tunggal Asia--sebelum pertemuan tahunan bank tersebut pada Mei namun Kawai mengatakan ini tidak akan mungkin.
Ia mengatakan belum ada tanggal peluncuran yang spesifik namun diharapkan itu akan diungkapkan `dalam beberapa bulan ke depan.` Namun Kawai mengecilkan saran bahwa ACU dapat memberi pertanda terbentuknya mata uang tunggal Asia seperti Mata Uang Tunggal Eropa (ECU), yang ada selama dua dekade sebelum pembentukan euro pada 1999.
"ECU memiliki status resmi namun ACU tidak memiliki status resmi itu. Kami tidak dalam posisi untuk memutuskan apakah ini harus menjadi mata uang yang realistis atau tidak", katanya.
Lepas dari pergolakan keinginan negara Asia Timur, yang jelas fakta-fakta makin merosotnya ekonomi AS, anjloknya popularitas AS di bawah George Walker Bush (Jr), seiring meningkatnya pelanggaran HAM dan demokrasi, semakin menyiratkan bahwa negeri adidaya itu tengah menggali kuburannya
sendiri. Dan Kuburan itu telah menganga menanti terjerembabnya AS dalam kubangan nafsu angkara muraknya sendiri.
"Jika demikian benarlah Engkau Rosulullah?", demikian pernyataan yang sering disampaikan Abu Bakar Shiddiq kepada Muhammad SAW. Paling tidak pernyataan bahwa musuh besar manusia adalah hawa nafsunya, dan AS telah dikalahkan oleh hawa nafsunya sendiri. Dalam waktu tak berapa lama, kita akan menyaksikan kejatuhan AS!!!
New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC for low, low rates.
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "urangsunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

