Otista memang tragis. Jalma anu hebat tapi jasadna wae teu katimu. Ieu di handap aya resensi tina buku karya Nina H. Lubis. Mudah-mudah aya manfaatna.
=======
Revolusi Tak Mengenal Terimakasih
Yayat R. Cipasang
Direktur Institut Kajian Media Massa dan Budaya di Bogor, Jawa Barat
Direktur Institut Kajian Media Massa dan Budaya di Bogor, Jawa Barat
Judul : Si Jalak Harupat: Biografi R. Oto Iskandar di Nata ( 1897-1945)
Penulis : Dr. Nina H. Lubis
Pengantar : Prof. Dr. Taufik Abdullah
Penerbit : Gramedia
Cetakan : Pertama, 2003
Tebal : (xxx + 298) halaman
Penulis : Dr. Nina H. Lubis
Pengantar : Prof. Dr. Taufik Abdullah
Penerbit : Gramedia
Cetakan : Pertama, 2003
Tebal : (xxx + 298) halaman
SELAMA ini ada kesan bahkan mungkin menjurus ke stereotip bahwa tokoh-tokoh Jawa Barat yang berkiprah di kancah politik nasional dikenal lembek dan bila sudah berada di lingkaran
kekuasaan lupa akan asal dan akarnya. Bila kesan itu memang benar atau mungkin malah sebaliknya, di sinilah kiranya saat yang tepat untuk melongok sosok Pahlawan Nasional R. Oto Iskandar di Nata yang dikenal dengan sebutan Si Jalak Harupat.
Sebutan itu lahir saat Oto Iskandar aktif sebagai wakil Pagoejoeban Pasoendan di Volksraad (Dewan Rakyat). Dalam setiap pertemuan Dewan Rakyat itu Oto Iskandar dikenal selalu berbicara keras dan lantang serta kritikannya terhadap Hindia Belanda kerap membuat panas kuping pejabat pemerintah kolonial. Jalak Harupat adalah ayam jago yang kuat, tajam kalau menghantam lawan, kencang bila berkokok, dan selalu menang bila diadu. (hal. 86)
Komitmen kebangsaan dan kontribusi Oto Iskadar dalam perjuangan kemerdekaan tak diragukan lagi. Basis organisasi yang kuat di Pagoejoeban Pasoendan (1929-1942), kelak mengantarkan Oto Iskandar tampil cemerlang di tingkat pusat ketika menjadi anggota Dewan Rakyat di Batavia, inisiator di Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), hingga menjadi Menteri Negara yang mengurus keamanan.
Banyak kiprah dan kerja nyata yang digagas atau dikembangkan Oto Iskandar selama menjabat Ketua Umum Pagoejoeban Pasoendan. Bidang yang sangat maju pesat di antaranya dalam pendidikan. Hingga tahun 1933 sudah 29 buah sekolah didirikan di pelosok Jawa Barat. Menyusul kemudian berdiri Centrale Bank Pasoendan dan sejumlah koperasi. Untuk menaungi semua unit usaha itu kemudian berdiri perusahaan induk yang dinamai Bale Ekonomi Pasoendan. (hal. 64)
Sebutan itu lahir saat Oto Iskandar aktif sebagai wakil Pagoejoeban Pasoendan di Volksraad (Dewan Rakyat). Dalam setiap pertemuan Dewan Rakyat itu Oto Iskandar dikenal selalu berbicara keras dan lantang serta kritikannya terhadap Hindia Belanda kerap membuat panas kuping pejabat pemerintah kolonial. Jalak Harupat adalah ayam jago yang kuat, tajam kalau menghantam lawan, kencang bila berkokok, dan selalu menang bila diadu. (hal. 86)
Komitmen kebangsaan dan kontribusi Oto Iskadar dalam perjuangan kemerdekaan tak diragukan lagi. Basis organisasi yang kuat di Pagoejoeban Pasoendan (1929-1942), kelak mengantarkan Oto Iskandar tampil cemerlang di tingkat pusat ketika menjadi anggota Dewan Rakyat di Batavia, inisiator di Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), hingga menjadi Menteri Negara yang mengurus keamanan.
Banyak kiprah dan kerja nyata yang digagas atau dikembangkan Oto Iskandar selama menjabat Ketua Umum Pagoejoeban Pasoendan. Bidang yang sangat maju pesat di antaranya dalam pendidikan. Hingga tahun 1933 sudah 29 buah sekolah didirikan di pelosok Jawa Barat. Menyusul kemudian berdiri Centrale Bank Pasoendan dan sejumlah koperasi. Untuk menaungi semua unit usaha itu kemudian berdiri perusahaan induk yang dinamai Bale Ekonomi Pasoendan. (hal. 64)
Dalam bidang sosial dan kemasyarakatan, Pagoejoeban Pasoendan juga mendirikan lembaga bantuan hukum yang dikenal dengan Adviesbureaul. Lembaga ini memberikan bantuan cuma-cuma kepada masyarakat. Dasarnya, saat itu rakyat jelata kerap menjadi sapi perahan atau menjadi
ladang penipuan para cerdik pandai yang berdalih di atas legalitas hukum. Tidak hanya itu, Oto Iskandar juga mendirikan Reclasseering Vereeniging (Perhimpunan Pemasyarakatan Kembali). Lembaga ini mengurus dan memperbaiki nasib orang-orang yang baru dibebaskan dari bui, termasuk mencarikan pekerjaan yang tepat buat mereka.(hal.56-59)
Uniknya, Oto Iskandar mengawali karir perjuangan organisasinya bukan di Tanah Sunda melainkan di Purworejo, Jawa Tengah. Ia memulai karir organisasinya dengan aktif sebagai anggota Boedi Oetomo sejak masih sekolah di Hoogere Kweekschool. Oto Iskandar keluar dari Boedi Oetomo dan lebih memilih pindah ke Pagoejoeban Pasoendan Cabang Batavia (Juli 1928). Saat itu Oto Iskandar yang menjadi Guru di Hollandsch Inland School (HIS) Pekalongan dipaksa pindah oleh pemerinah kolonial ke Batavia. Oto Iskandar yang saat itu sudah menikah dengan seorang ningrat Jawa, R.A Soekirah, dinilai berbahaya karena
keberaniannya menentang pemerintahan feodal di Pekalongan. Sikap keras Oto Iskandar tercermin ketika mewanti-wanti istrinya jangan sampai gengsor, jalan sambil duduk, saat menghadap Bupati Pekalongan. (hal. 47)
Selama masa kepemimpinan Oto Iskandar, Pagoejoeban Pasoendan juga menerbitkan surat kabar Sipatahoenan. Surat kabar ini kelak menjadi alat perjuangan Oto Iskandar. Surat kabar ini mulanya milik cabang Tasikmalaya (1923) dan terbit mingguan. Baru pada 1931 surat kabar ini diambil alih Pagoejoeban Pasoendan pusat dan terbit harian. Karena sering mengkritik pemerintah kolonial, surat kabar ini beberapa kali terjerat Persbreidel Ordonanntie. Sipatahoenan dilarang terbit dan pengasuhnya beberapa kali harus berhadapan dengan polisi rahasia kolonial bahkan beberapa kali kasusnya sampai ke pengadilan. Saat Jepang menguasai Indonesia Sipatahoenan dipaksa tutup (1942). Gantinya Jepang meminta Oto Iskandar menerbitkan koran Tjahaja yang
propemerintah. Kesan yang timbul kemudian Oto Iskandar bersifat kooperatif terhadap Jepang. Namun yang terjadi sebenarnya di balik itu, ada agenda besar yang diperjuangkan Oto Iskandar, yaitu mencuri ilmu dari pemerintahan Jepang sebagai bekal untuk memerdekakan Indonesia.(hal. 111)
Kelak sifat kooperatif ini sering menyebabkan kesalahpahaman di kalangan para pejuang Indonesia. Kecurigaan ini berlanjut hingga masa perjuangan revolusi--saat Belanda kembali menjajah Indonesia dengan mendompleng Sekutu--yang berbuntut pada penculikan dan pembunuhan Oto Iskandar di Pantai Mauk, Tangerang, 20 Desember 1945. Dugaan yang berkembang, pembunuhan itu dilatarbelakangi kecurigaan, persaingan jabatan, hingga kepada hal-hal yang berbau primordial, seperti tarik menarik pengaruh antara kekuataan Sunda dan Jawa. Namun hingga kini alasan pembunuhan yang sebenarnya masih gelap bersamaan dengan jasad Oto Iskandar yang tak ditemukan.]
Oto Iskandar meninggal sebelum banyak mengecap kemerdekaan yang diperjuangkannya. Dia tewas sebagai martir revolusi. Benar kata Bung Karno, seperti ditulis kembali Prof. Dr. Taufik Abdullah dalam pengantar buku ini bahwa revolusi itu mempunyai logikanya sendiri, bahkan juga mempunyai sopan santun sendiri. Revolusi tidak mengenal terimakasih. Ia tidak saja "memakan anak-anaknya" tetapi juga mendurhakai ibunya sendiri. (hal xxii)
Tewas menjadi tumbal revolusi mungkin tak akan pernah disesali Oto Iskandar. Ini karena selagi masih hidup Oto Iskandar pernah menulis dalam koran Tjahaja yang dikelolanya bahwa: "Kalau Indonesia Merdeka boleh diteboes dengan djiwa seorang anak Indonesia, saja telah memadjoekan diri sebagai kandidat jang pertama oentoek pengorbanan ini." (Kalau Indonesia Merdeka boleh ditebus dengan jiwa seorang anak Indonesia, saya telah mengajukan diri sebagai kandidat yang pertama untuk pengorbanan itu). (hal.
110)
Biografi yang ditulis Nina H. Lubis yang juga perempuan pertama bergelar doktor sejarah di Jawa Barat ini memberikan gambaran seorang pejuang Oto Iskandar yang kompleks hingga kematiannya yang misterius. Sehingga membaca biografi ini seperti membaca novel hybrid, suatu ramuan sastra yang menggabungkan antara fakta dan fiksi.
Biografi adalah karya subjektif. Bahkan Peter Ackroyd secara ekstrim pernah mengemukakan bahwa biografi adalah seni menyembunyikan. Dalam biografi ini juga disinggung tentang penyebab kematian Oto Iskandar yang berbau Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) yang bersifat spekulatif. Namun demikian, dugaan yang bersifat SARA ini saya kira tidak membahayakan dan bukan maksud penulis buku ini untuk mengorek luka atau permusuhan. Bagi saya bagian itu adalah point penting dari buku ini. Siapa tahu dengan ditulisnya bagian yang berbau SARA ini secara tersurat, akan melahirkan
biografi baru atau buku baru yang membeberkan, meluruskan, atau menemukan bukti mutakhir.[]
=======
oman abdurahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
oman abdurahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Baraya,Kamari, poe Juma'ah, sabalikna ti Panaruban ba'da peutingna ngobrol jeung Abah Olot (Kang Rachmat Satjamanggala) + Apih (Kanduruan Kartakusuma, teu make "daeng" kanduruan anu ieu mah da asli US) + Kang Wawan Sungkawa, memeh pengkolan ka Boscha dina lebah tetengger makom R. Otto Iskandardinata, jajalaneun pinuh ku mobil anu diparkir. Pon kitu deui, ti mimiti di jalan nepi ka pajaratan "Si Jalak Harupat", kitu kasohorna jujuluk Gan Otto Iskandardinata alm, pinuh ka jalmi anu nuju tafakur sareng ngado'a bangun hidmat kacida. Nalika rurar-reret neangan jawaban kapanasaran, breh kapireungeuh aya spanduk kalawan tulisan : "Mieling Lahirna Pahlawan Otto Iskandardinata, Si Jalak Harupat...jst". Horeng poe Juma'ah kamari, tanggal 31 Maret 2006, eta poean dilahirkeunana pahlawan Nasional, Si Jalak Harupat. Teungteuingeun ieu diri, teu wanoh kana weweton pahlawan Nasional ti wewengkonna sorangan, pangapunten.Pahlawan Nasional ti TS, Si Jalak Harupat. Memang loba ti antara urang anu masih poekeun kana sajarah anjeunna. Utamana, mangsa-mangsa akhir kahirupanana tug nalika anjeunna dipundut ku anu Maha Kawasa, mulih ka jati, mulang ka asal. Iraha, dimana, jeung kumaha Si Jalak Harupat tilar dunya masih "misteri" nepi ka ayeuna. Eta cenah aya makom sisi jalan memeh anjog ka Lembang ti Bandung, anu saha? "Eta anu dikurebkeun di dinya mah ukur getih anjeunna tilas ditandasa di wewengkon Puncak, Bogor, keur pangeling-ngeling ka anjeunna. Anapon mayitna mah teu aya anu uninga dimana dikuburna", saur Apih waktu si kuring tatanya. Sakolebat kaingetan deui pangajaran sajarah baheula keur smp, yen tetela geuningan Si Jalak Harupat teh kaasup pahlawan anu kuburanana sapuratina teu jelas, hawatos teuing.Saterusna, derekdek Apih ngadongeng waktu kuring neruskeun tatanya. Ringkes carita Apih teh kl kieu: "Otto Iskandardinata teh pinter pisan jeung kacida kapakena ku rahayat, lain wae di Tatar Sunda, malah sa-Nusantara mangsa harita. Kuring boga kayakina, lamun Pa Otto panjang yuswana, kana anjeunna anu baris kapilih jadi presiden, ngelehkeun BK (ras emut kasauran Apih tadi peuting waktu ngobrol: "barina oge Presiden Indonesia anu mimiti teh satemenna lain BK, balikta Syafrudin Prawiranegara. Ari Syafrudi tea....tingal atuh nami pengkerna, apan tunggal US anu ti leuleutik nepi ka sawawa dikukut jeung digedekeun ku hiji kulawarga di wewengkon Padang, Sumatera Barat). Tah, aya sagolongan jelema anu iri dengki kana kapinunjulan Si Jalak Harupat. Nya der wae ieu golongan teh nyieun rencana durja, ngiwat nepi ka mateni anjeunna. Di daerah Puncak ditandasa jeung di patenina mah".Duh...karunya teuing.Balik ti Panaruban anjog ka kantor terus mariksaan posting-posting di milist. Breh aya postingan ti Bah Wily ngeunaan pahlawan Dipati Ukur....bati ngalimba deui wae. Karek oge raat cimata panineungan ka Si Jalak, geus aya deui wae sajarah "tragis" US anu jadi pahlawan. Aya naon ieu teh? Hate gegerot. Ngan anu jadi pengeling teh cariosan Apih tadi peuting: "Urang Sunda anu sajati, jembarna manusa sadayana anu tos nyangking kasadaran, hirupna moal sakaba-kaba, sok sanajan keur kawasa tara kalunta-lunta; moal daek licik nepi ka iraha oge, sabab tuhu kana uga. Tapi, lain hartina urang teu kudu bajoang. Bajoang tetep diperlukeun, eta proses. Ngan hasil mah geus aya anu ngatur. Sing yakin wae, hiji waktu bebeneran baris ngarongheap jugala ngelehkeun kajahatan".Cag.baktos,manAR
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2ยข/min or less.
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
SPONSORED LINKS
| Corporate culture | Business culture of china | Organizational culture |
| Organizational culture change | Jewish culture |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "urangsunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

