Baraya, kuring teu ngahaja bet manggihan tulisan ieu waktu
"lalayaran" di dunya maya. Nu nulisna Jay, Tamatan Arsitektur ITB
Bandung (angkatan 1998), jadi budak ngora. Kang Jay ceuk dina
situs pribadina didamel di Bandung.

Kang Jay dina tulisan ieu, nyoba nulis perkawis kunaon
jalan-jalan di Bandung dinamian : Panatayuda, SIngaperbangsa,
Geusan Ulun jrrd. Nyanggakeun artikelna sareng hapunten upami
kang Jay oge member di Kusnet/Kisunda/ Baraya_sunda, sim kuring
wawantunan mostingkeun tulisan anjeunna.


Sundapura: Tarumanagara, Sunda, Galuh, Pajajaran

Jumat, 23 September 2005M
18 Syaban 1426H

Dirgahayu Bandung!
Sebentar lagi Bandung berulang tahun, tanggal 25 September yang
ke-195. Bandung identik dengan etnik Sunda, Priangan atau
Parahyangan. Bagaimana ceritanya? Panjang!
Tadinya saya hanya mencari-cari asal-usul nama jalan di seputaran
Dago, yaitu jalan Purnawarman, Sawunggaling, Mundinglaya,
Ciungwanara, Ranggagading, Ranggamalela, Ranggagempol,
Hariangbanga, Geusan Ulun, Adipati Kertabumi, Dipati Ukur,
Suryakancana, Wira Angunangun, Ariajipang, Prabu Dimuntur,
Bahureksa, Wastukancana, Gajah Lumantung, Sulanjana, Badaksinga,
Bagusrangin, Panatayuda, dan Singaperbangsa. Tidak banyak yang
saya dapat dari pencarian Google, juga tidak punya buku referensi
untuk saya dongengkan kembali. Jadi hanya saya tulis asal-usul
Sunda saja, mungkin nanti saya temukan juga dongeng atau pun
sejarah tentang nama-nama jalan di atas.
Disadur, diringkas, dipotong dan didongengkan kembali oleh saya
dari situs catatan sejarah kota Bogor. Silakan baca langsung
sumbernya jika anda berminat membaca lebih detil.

Nama Sunda mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman dalam tahun
397M untuk menyebut ibukota kerajaan yang didirikannya,
Tarumanagara. Tarusbawa, penguasa Tarumanagara yang ke-13 ingin
mengembalikan keharuman Tarumanagara yang semakin menurun di
purasaba (ibukota) Sundapura. Pada tahun 670M ia mengganti nama
Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (selanjutnya punya nama lain
yang menunjukkan wilayah/pemerintahan yang sama seperti Galuh,
Kawali, Pakuan atau Pajajaran).

Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk
memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah
dan ingin menghindarkan perang saudara, Maharaja Tarusbawa
menerima tuntutan Raja Galuh. Akhirnya kawasan Tarumanagara
dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan
Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batas (Cianjur ke Barat
wilayah Sunda, Bandung ke Timur wilayah Galuh).

Menurut sejarah kota Ciamis pembagian wilayah Sunda-Galuh adalah
sebagai berikut:
•       Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan
•       Galuh Pakuan beribukota di Kawali
•       Galuh Sindula yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili
•       Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang
Pangramesan
•       Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan
•       Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan
•       Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar
Pataruman
•       Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan
•       Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo
•       Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan

Tarusbawa bersahabat baik dengan raja Galuh Bratasenawa atau
Sena. Purbasora –yang termasuk cucu pendiri Galuh– melancarkan
perebutan tahta Galuh di tahun 716M karena merasa lebih berhak
naik tahta daripada Sena. Sena melarikan diri ke Kalingga (istri
Sena; Sanaha, adalah cucu Maharani Sima ratu Kalingga).

Sanjaya, anak Sena, ingin menuntut balas kepada Purbasora.
Sanjaya mendapat mandat memimpin Kerajaan Sunda karena ia adalah
menantu Tarusbawa. Galuh yang dipimpin Purbasora diserang
habis-habisan hingga yang selamat hanya satu senapati kerajaan,
yaitu Balangantrang.

Sanjaya yang hanya berniat balas dendam terpaksa harus naik tahta
juga sebagai Raja Galuh, sebagai Raja Sunda ia pun harus berada
di Sundapura. Sunda-Galuh disatukan kembali hingga akhirnya Galuh
diserahkan kepada tangan kanannya yaitu Premana Dikusuma yang
beristri Naganingrum yang mempunyai anak bernama Surotama alias
Manarah.

Premana Dikusuma adalah cucu Purbasora, harus tunduk kepada
Sanjaya yang membunuh kakeknya, tapi juga hormat karena Sanjaya
disegani, bahkan disebut rajaresi karena nilai keagamaannya yang
kuat dan memiliki sifat seperti Purnawarman. Premana menikah
dengan Dewi Pangreyep –keluarga kerajaan Sunda– sebagai ikatan
politik.

Di tahun 732M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Medang dari orang
tuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur
pembagian kekuasaan antara puteranya, Tamperan dan Resiguru
Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan
Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resiguru
Demunawan.

Premana akhirnya lebih sering bertapa dan urusan kerajaan
dipegang oleh Tamperan yang merupakan ‘mata dan telinga’ bagi
Sanjaya. Tamperan terlibat skandal dengan Pangreyep hingga
lahirlah Banga (dalam cerita rakyat disebut Hariangbanga).
Tamperan menyuruh pembunuh bayaran membunuh Premana yang bertapa
yang akhirnya pembunuh itu dibunuh juga, tapi semuanya tercium
oleh Balangantrang.

Balangantrang dengan Manarah merencanakan balas dendam. Dalam
cerita rakyat Manarah dikenal sebagai Ciung Wanara. Bersama
pasukan Geger Sunten yang dibangun di wilayah Kuningan Manarah
menyerang Galuh dalam semalam, semua ditawan kecuali Banga
dibebaskan. Namun kemudian Banga membebaskan kedua orang tuanya
hingga terjadi pertempuran yang mengakibatkan Tamperan dan
Pangreyep tewas serta Banga kalah menyerah.

Perang saudara tersebut terdengar oleh Sanjaya yang memimpin
Medang atas titah ayahnya. Sanjaya kemudian menyerang Manarah
tapi Manarah sudah bersiap-siap, perang terjadi lagi namun
dilerai oleh Demunawan, dan akhirnya disepakati Galuh diserahkan
kepada Manarah dan Sunda kepada Banga.

Konflik terus terjadi, kehadiran orang Galuh sebagai Raja Sunda
di Pakuan waktu itu belum dapat diterima secara umum, sama halnya
dengan kehadiran Sanjaya dan Tamperan sebagai orang Sunda di
Galuh. Karena konflik tersebut, tiap Raja Sunda yang baru selalu
memperhitungkan tempat kedudukan yang akan dipilihnya menjadi
pusat pemerintahan. Dengan demikian, pusat pemerintahan itu
berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya. Antara tahun
895M sampai tahun 1311M kawasan Jawa Barat diramaikan
sewaktu-waktu oleh iring-iringan rombongan raja baru yang pindah
tempat.
Dari segi budaya orang Sunda dikenal sebagai orang gunung karena
banyak menetap di kaki gunung dan orang Galuh sebagai orang air.
Dari faktor inilah secara turun temurun dongeng Sakadang Monyet
jeung Sakadang Kuya disampaikan.

Hingga pemerintahan Ragasuci (1297M–1303M) gejala ibukota mulai
bergeser ke arah timur ke Saunggalah hingga sering disebut Kawali
(kuali tempat air). Ragasuci sebenarnya bukan putra mahkota. Raja
sebelumnya, yaitu Jayadarma, beristrikan Dyah Singamurti dari
Jawa Timur dan mempunyai putra mahkota Sanggramawijaya, lebih
dikenal sebagai Raden Wijaya, lahir di Pakuan. Jayadarma kemudian
wafat tapi istrinya dan Raden Wijaya tidak ingin tinggal di
Pakuan, kembali ke Jawa Timur.

Kelak Raden Wijaya mendirikan Majapahit yang besar, hingga jaman
Hayam Wuruk dan Gajah Mada mempersatukan seluruh nusantara,
kecuali kerajaan Sunda yang saat itu dipimpin Linggabuana, yang
gugur bersama anak gadisnya Dyah Pitaloka Citraresmi pada perang
Bubat tahun 1357M. Sejak peristiwa Bubat, kerabat keraton Kawali
ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit.

Menurut Kidung Sundayana, inti kisah Perang Bubat adalah sebagai
berikut (dikutip dari JawaPalace):
Tersebut negara Majapahit dengan raja Hayam Wuruk, putra perkasa
kesayangan seluruh rakyat, konon ceritanya penjelmaan dewa Kama,
berbudi luhur, arif bijaksana, tetapi juga bagaikan singa dalam
peperangan. Inilah raja terbesar di seluruh Jawa bergelar
Rajasanagara. Daerah taklukannya sampai Papua dan menjadi
sanjungan empu Prapanca dalam Negarakertagama. Makmur negaranya,
kondang kemana-mana. Namun sang raja belum kawin rupanya. Mengapa
demikian ? Ternyata belum dijumpai seorang permaisuri. Konon
ceritanya, ia menginginkan isteri yang bisa dihormati dan
dicintai rakyat dan kebanggaan raja Majapahit. Dalam pencarian
seorang calon permaisuri inilah terdengar khabar putri Sunda nan
cantik jelita yang mengawali dari Kidung Sundayana.

Apakah arti kehormatan dan keharuman sang raja yang bertumpuk
dipundaknya, seluruh Nusantara sujud di hadapannya. Tetapi engkau
satu, jiwanya yang senantiasa menjerit meminta pada yang kuasa
akan kehadiran jodohnya. Terdengarlah khabar bahwa ada raja Sunda
(Kerajaan Kahuripan) yang memiliki putri nan cantik rupawan
dengan nama Diah Pitaloka Citrasemi.

Setelah selesai musyawarah sang raja Hayam Wuruk mengutus untuk
meminang putri Sunda tersebut melalui perantara yang bernama tuan
Anepaken, utusan sang raja tiba di kerajaan Sunda. Setelah
lamaran diterima, direstuilah putrinya untuk di pinang sang prabu
Hayam Wuruk. Ratusan rakyat menghantar sang putri beserta raja
dan punggawa menuju pantai, tapi tiba-tiba dilihatnya laut
berwarna merah bagaikan darah. Ini diartikan tanda-tanda buruk
bahwa diperkirakan putri raja ini tidak akan kembali lagi ke
tanah airnya. Tanda ini tidak dihiraukan, dengan tetap
berprasangka baik kepada raja tanah Jawa yang akan menjadi
menantunya.

Sepuluh hari telah berlalu sampailah di desa Bubat, yaitu tempat
penyambutan dari kerajaan Majapahit bertemu. Semuanya bergembira
kecuali Gajahmada, yang berkeberatan menyambut putri raja
Kahuripan tersebut, dimana ia menganggap putri tersebut akan
“dihadiahkan” kepada sang raja. Sedangkan dari pihak kerajaan
Sunda, putri tersebut akan “di pinang” oleh sang raja. Dalam
dialog antara utusan dari kerajaan Sunda dengan patih Gajahmada,
terjadi saling ketersinggungan dan berakibat terjadinya sesuatu
peperangan besar antara keduanya sampai terbunuhnya raja Sunda
dan putri Diah Pitaloka oleh karena bunuh diri. Setelah selesai
pertempuran, datanglah sang Hayam Wuruk yang mendapati calon
pinangannya telah meninggal, sehingga sang raja tak dapat
menanggung kepedihan hatinya, yang tak lama kemudian akhirnya
mangkat. Demikian inti Kidung.

Sunda-Galuh kemudian dipimpin oleh Niskala Wastukancana, turun
temurun hingga beberapa puluh tahun kemudian Kerajaan Sunda
mengalami keemasan pada masa Sri Baduga Maharaja, Sunda-Galuh
dalam prasasti disebut sebagai Pajajaran dan Sri Baduga disebut
oleh rakyat sebagai Siliwangi, dan kembali ibukota pindah ke
barat.
Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki
kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah
sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki 6 buah Jung
(kapal laut model China) untuk perdagangan antar-pulaunya (saat
itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun).
Selain tahun 1511 Portugis menguasai Malaka, VOC masuk Sunda
Kalapa, Kerajaan Islam Banten, Cirebon dan Demak semakin tumbuh
membuat kerajaan besar Sunda-Galuh Pajajaran semakin terpuruk
hingga perlahan-lahan pudar, ditambah dengan hubungan dagang
Pajajaran-Portugis dicurigai kerajaan di sekeliling Pajajaran.
Stop.
Lanjut!

Setelah Kerajaan Sunda-Galuh-Pajajaran memudar kerajaan-kerajaan
kecil di bawah kekuasaan Pajajaran mulai bangkit dan
berdiri-sendiri, salah satunya adalah Kerajaan Sumedang Larang
(ibukotanya kini menjadi Kota Sumedang). Kerajaan Sumedang Larang
didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Adji Putih atas perintah Prabu
Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan kembali ke Pakuan
Pajajaran, Bogor.

Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan
yang pesat di bidang sosial, budaya, agama (terutama penyebaran
Islam), militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada
tahun 1608, puteranya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata/Rangga
Gempol I atau yang dikenal dengan Raden Aria Suradiwangsa naik
tahta. Namun, pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada
tahun 1620M Sumedang Larang dijadikan wilayah kekuasaan Kerajaan
Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai ‘kerajaan’
diubah menjadi ‘kabupaten’.

Sultan Agung memberi perintah kepada Rangga Gempol I beserta
pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang, Madura.
Sedangkan pemerintahan sementara diserahkan kepada adiknya,
Dipati Rangga Gede. Hingga suatu ketika, pasukan Kerajan Banten
datang menyerbu dan karena setengah kekuatan militer kabupaten
Sumedang Larang diberangkatkan ke Madura atas titah Sultan Agung,
Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten dan
akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung
sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan
selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur. Sekali lagi, Dipati
Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan
Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia
(Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan
Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung,
diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggungjawabannya dan
akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas informasi
mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.

Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan
kekuasaan kembali untuk memerintah di Sumedang, sedangkan wilayah
Priangan di luar Sumedang dan Galuh (Ciamis) dibagi kepada tiga
bagian; Pertama, Kabupaten Bandung, yang dipimpin oleh Tumenggung
Wiraangunangun, kedua, Kabupaten Parakanmuncang oleh Tanubaya dan
ketiga, kabupaten Sukapura yang dipimpin oleh Tumenggung
Wiradegdaha atau R. Wirawangsa atau dikenal dengan “Dalem
Sawidak” karena mempunyai anak yang sangat banyak.

Selanjutnya Sultan Agung mengutus Penembahan Galuh bernama R.A.A.
Wirasuta yang bergelar Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi
III (anak Prabu Dimuntur, keturunan Geusan Ulun) untuk menduduki
Rangkas Sumedang (Sebelah Timur Citarum). Selain itu juga
mendirikan benteng pertahanan di Tanjungpura, Adiarsa,
Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah mendirikan benteng
tersebut Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke Galuh dan
wafat. Nama Rangkas Sumedang itu sendiri berubah menjadi Karawang
karena kondisi daerahnya berawa-rawa, karawaan.

Sultan Agung Mataram kemudian mengangkat putera Adipati Kertabumi
III, yakni Adipati Kertabumi IV menjadi Dalem (Bupati) di
Karawang, pada Tahun 1656M. Adipati Kertabumi IV ini juga dikenal
sebagai Panembahan Singaperbangsa atau Eyang Manggung, dengan ibu
kota di Udug-udug. Pada masa pemerintahan R. Anom Wirasuta putera
Panembahan Singaperbangsa yang bergelar R.A.A. Panatayuda I
antara Tahun 1679M dan 1721M ibu kota Karawang dari Udug-udug
pindah ke Karawang. Stop.

Jadi nama jalan Sawunggaling, Mundinglaya, Ranggagading,
Ranggamalela, Suryakancana, Ariajipang, Bahureksa, Gajah
Lumantung, Sulanjana, Badaksinga dan Bagusrangin belum saya
temukan dongeng atau sejarahnya, sebagian –kalau tidak salah
ingat– adalah tokoh-tokoh dalam cerita rakyat Lutung Kasarung.



Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke