haturan bah willy,
teu ngartos abdi mah bah... naha erana h usep disandingkeun jeung handapeun bujal jeung saluhureun tuur?
cek abdi mah H Usep bener pisan era teh kumaha cek kayakinan urang. lamun urang ngaku jeung yakin ka Islam, nya era teh nu kumaha disebutkeun keun ku quran jeung hadist. korupsi, era, kolusi, era, nepotisme, era, ngarogahala jalma teu daya, era, katingali orat, nya era... era teu bisa di pisah-pisah.
punten ieu mah cek abdi we, nu masih nyepeng elmu meureun jeung cenah!
deha
On 4/3/06, waluya56 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ari nu disebut "era" teh nu kumaha? katempo antara handapeun bujal
jeung saluhureun tuur, atawa "era" teh jiga nu ditulis ku Usep Romli
dina PR kamari (2/4/2006)?
Tulisanana nyanggakeun, kanggo lenyepaneun .....
Habis Sudah Rasa Malu
Oleh H. USEP ROMLI H.M
ADA sebuah kisah pada zaman Alexander The Great, sekian ribu tahun
sebelum Masehi. Seorang anggota pasukan Alexander yang gagah perkasa,
merampas sebuah kendi dari tangan seorang petani tua yang akan
mereguk airnya. Hari sedang panas terik, sehingga sangat menyiksa
tubuh dan menimbulkan kehausan amat sangat. Tak ada sumur atau sungai
di dekat situ. Hanya kendi air milik petani tua tadi.
Petani tua tak berdaya. Tapi sempat bertanya.
Apakah Anda tak punya air, wahai prajurit?
Tidak. Airku sudah habis sejak dua hari yang lalu.
Tapi Anda masih punya rasa malu, bukan? tanya petani itu lagi.
Apa maksudmu? Sang prajurit keheranan, hingga tak jadi mengangkat
kendi ke bibirnya.
Rasa malu telah merebut seteguk air dari seorang petani tua yang
lemah tak berdaya. Padahal Anda masih punya kuda dan kekuatan untuk
mencari sumber air yang isinya lebih dari isi kendi ini.
Prajurit terhenyak. Meminta maaf sambil menyerahkan kembali kendi
yang cuma berisi setetes air itu kepada petani tua. Rasa malu telah
menghadangnya dari berbuat zalim. Oleh Alexander, pengalaman prajurit
itu ditorehkan dalam sebuah prasasti yang di Kota Epheseus (wilayah
Turki sekarang), berbunyi, "Memiliki rasa malu adalah bukti
keperwiraan para prajurit. Para perwira yang tak punya rasa malu,
nilai pangkatnya lebih rendah dari para prajurit".
Nabi Muhammad saw. menegaskan, malu sebagian dari iman. Al haya-u
misful iman. Tegasnya, orang yang tak malu, imannya tak utuh lagi.
Sedangkan filsuf ahli ilmu jiwa perkembangan termasyhur abad ke-9,
Ibnu Tufail, menyatakan, rasa malu menyertai kodrat manusia. Manusia
yang tak punya rasa malu kehilangan kodratnya sebagai manusia.
Tapi zaman sekarang, rasa malu sudah lenyap sama sekali. Dalam kata
lain, banyak manusia sudah kehilangan nilai keperwiraan seperti kata
Alexander The Great. Kehilangan sebagian iman, menurut rumusan
Rasulullah saw. Kehilangan kodrat manusia " sehingga turun ke taraf
binatang" sebagaimana pendapat Ibnu Tufail, penulis novel psikologi
Hayy bin Yaqzan yang amat populer di dunia Barat itu.
Contoh nyata, dalam kasus penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil
(CPNS). Banyak perbuatan tak tahu malu dan memalukan mewarnai "pesta"
harapan para pegawai honorer, tenaga kontrak, dan guru bantu.
Berbagai peristiwa yang memilukan, terjadi di mana-mana. Honorer yang
sudah bekerja belasan tahun, kalah mujur oleh orang baru masuk
sebulan dua bulan. Guru bantu yang terbungkuk-bungkuk mengajar murid-
murid, tersingkir oleh berbagai alasan yang tak dimengerti orang.
Koran Priangan terbitan Tasikmalaya, edisi No.687. Kamis-Jumat, 23-24
Maret 2006, hlm.1, memuat nama-nama orang yang lulus CPNS di luar
kewajaran. Mereka antara lain, adik Bupati Garut yang bermasa kerja 8
(delapan) bulan, anggota keluarga Sekda Kab.Garut (masa kerja 2,7
tahun), dan adik Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dengan masa
kerja 2 tahun. Itu hanya tiga orang. Masih banyak nama lainnya, yang
melibatkan sosok pejabat yang membuat mereka lulus dengan mulus.
Pengumuman yang penuh kejanggalan itu, praktis mengundang kericuhan,
protes, dan tanda tanya CPNS lain yang tak lulus. CPNS yang sudah
punya jam terbang memadai sesuai PP No.48 Tahun 2005. Kejadian
serupa, tidak hanya di Garut dan Jawa Barat. Tapi juga di daerah lain
di seluruh Indonesia. Kiranya tentang proses kelulusan atau
ketidaklulusan tak perlu diutak-atik lagi. Sudah banyak pejabat
berwenang yang konon siap bertanggung jawab. Siap melakukan koreksi
dan lain sebagainya. Padahal daripada repot-repot begitu, mengapa
sejak semula tidak melakukan pekerjaaan dengan benar, sesuai aturan
yang berlaku, menjauhi KKN dan "kongkalikong".
Kalau sejak awal, para penyelenggara tes CPNS punya rasa malu, kasus
seperti itu tak akan terjadi. Seperti prajurit anak buah Alexander,
mereka tak mungkin berani merebut setetes air yang akan diminum
petani. Mereka punya rasa malu. Setetes air itu, atau sesuap nasi,
sepetak lahan, dan macam-macam lagi, ibaratnya adalah hak milik para
sukwan, para honorer, para guru bantu, dan para tenaga kontrak yang
akan mereka masukkan ke mulut melalui tes CPNS. Tapi tiba-tiba embrio
suapan itu direnggut oleh orang lain yang tak punya hak. Orang lain
yang tak punya malu, bersama kelompok pendukungnya yang tak punya
rasa malu pula. ***
Penulis, wartawan senior.
--
~:ngadék sacékna, nilas saplasna:~
deha.wordpress.com
borondongjagong.blogspot.com
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
SPONSORED LINKS
| Corporate culture | Business culture of china | Organizational culture |
| Organizational culture change | Organizational culture assessment | Jewish culture |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "urangsunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

