jigana ja-im heula kang, isuk pageto lamun geus répéh, ngabongohan kunu gambar bubulucun ....geus apal sarerea oge....
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]On Behalf Of Eko Ruska Nugraha
Sent: Friday, April 07, 2006 2:02 PM
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Subject: Re: [Urang Sunda] Re: [Baraya_Sunda] Re: Horee ...Playboy medal!

Dikantor aya nu meser majalah playboy naha geuning eusina mah bissa wae siga majalah budak ngora maksad teh teu aya nu bubulucun heu heu.....


 
On 4/7/06, Waluya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kang Rahman nyerat :
> Kang WLy,
>
> Kabagean teu? he he he... Nya teu kitu kumaha... iklan na mani maceuh,
> gratis deuih!

Nyaeta Kang teu kabagean ..hehehehe, rugi cenah ceuk nu maleser oge teu
aya gambar bulucunna. Upami eusina mah aya nu ngulas di millis sabeulah,
kieu cenah :

From: radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]>

Playboy yang "sopan" akhirnya terbit juga

Kutipan Erwin Arnada untuk Editorial Playboy Indonesia edisi April 2006:

"The power of visual will shakes our mind. But, words will make you live"
- Allen Ginsberg (prosais, filsuf psikadelik) -

Sekadar ingin berbagi cerita dengan Anda. Pagi ini, sambil menyeruput
kopi pahit, saya sempatkan membuka halaman demi halaman Playboy
Indonesia edisi perdana - premiere issue. Andara Early yang presenter
tv tampil di sampul muka: "Always Happy Early". Ia berdandan prima layaknya
selebrita yang fashionista, samar-samar di kemerahan, pegang bolam entah apa
maknanya, tak telanjang bulat, tak pamer aurat, dan nampak sopan.

Andai tanpa label "Playboy: Entertainment for Men", sekilas tampilannya
malah mirip majalah gaya hidup wanita yang sudah lama eksis di negeri
ini. Sungguh beda dengan para pendahulunya seperti FHM, Maxim, dan Popular
yang dari sampulnya saja sudah cukup "mendebarkan".

Bagaimana "dalemannya"? Andara jelas tampil manis, sexy, sensual, tapi tanpa
pamer vagina sebagaimana layaknya Playboy edisi Amerika. Begitu pula Kartika
Oktavini Gunawan yang jadi playmate - Miss April - "tampil sopan" dimana
tubuh moleknya masih terbalut rajutan benang apa adanya. Jadi, lupakan
saja
ribut-ribut  bak cacing tersiram kuah panas yang pernah mengemuka di
Republik ini. Pasalnya tak ada pamer pantat, pamer vagina
dan pamer kesemrawutan bulu-bulu kemaluan pada majalah Playboy di
negeri nan agamis ini. Buat penggemar onani sambil ditemani gambar-gambar
panas, lupakan saja Playboy Indonesia, Anda akan susah "naik".

M. Ponti Carolus dari Velvet Silver Media membuktikan janjinya dulu bahwa
Playboy akan menampilkan artikel-artikel berbobot. Ada wawancara dengan
PAT (Pramoedya Ananta Toer) yang benci militer, ada beragam esai karya
Agus Sopian dan Linda Christanty dari Yayasan Pantau. Ada cerpen Sepotong
Kue Kuning karya Dewi Lestari Simangunsong.  Eit, ada juga bung
Poltak Hotradero yang saya kenal namanya di milis apakabar (kok disebut
pria Batak ya.....?). Ia menulis artikel tentang bisnis perminyakan di
Playboy Forum.

Yang menarik, saat mewawancarai PAT, 'ditongolkan' sosok Happy Salma  yang
bawa sebotol wine. PAT memang rutin menenggak satu dua sloki anggur demi
kesehatan jantungnya. Sayangnya, tak dibawakan pula bawang putih yang dia
percaya dapat mengurangi dampak negatif dari penyakit gula yang diidapnya.

Saya kutipkan secuil wawancara dengan PAT tentang PRD: "Itu Budiman
Sudjatmiko - ketua PRD - lari, masuk ke PDIP. Dia mesti mimpin partainya,
ini malah sekolah ke Inggris. Sekolah itu kan jalan untuk pegawai. Untuk
mimpin partai nggak perlu sekolah. Bangkit, jatuh, bangun, berkembang
bersama partainya. Yang benar itu."    (sisanya, silakan baca sendiri di
majalah PB)

Iklan? Hmm, cukup padat. Ada LG, Nokia N Series, Star Mild, Oakley,
Police sunglasses, Catania, Christian Angel, The Executive, So Fresh,
Metrox, Madonna, Lacoste, Archos, Renault, Warner Music Indonesia,
Wrangler, Velvet Films, Sony Ericsson, Behind the Screen, Samsung,
Zirh skin nutrition, A Mild, Nissan Teana, dan tak ketinggalan kondom
Fiesta.

Apa kekurangannya? Beberapa foto nampak kurang cemerlang, gelap,
entah kesalahan fotografernya atau pada pra cetak (sebagai contoh fotonya
PAT yang tak menarik). Pilihan warna hitam dan warna-warna gelap sebagai
dasar cetak di beberapa halaman juga mengganggu mata, pasalnya pilihan
font teks yang kecil-kecil jadi susah dibaca. Apa karena mata saya sudah
"terlalu tua" untuk baca Playboy ya?

Salam,

Radityo Djadjoeri





Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




SPONSORED LINKS
Corporate culture Business culture of china Organizational culture
Organizational culture change Organizational culture assessment Jewish culture


YAHOO! GROUPS LINKS






--
Distributor Bandrek, Bajigur Hanjuang
http://daria.web.id
 

This message (including any attachments) is only for the use of the person(s) for whom it is intended. It may contain Mattel confidential, proprietary and/or trade secret information. If you are not the intended recipient, you should not copy, distribute or use this information for any purpose, and you should delete this message and inform the sender immediately.


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke