ahh...naa...mingkin.. manjang wae ieu ngadu bako bagiong teh, Kang Emod?? bagong mah mending dibedilan. tiap Perbakin ngayakeun perburuan bagong abdi sok pipilueun moro, jadi anak bawang biasa...jedor jedor! indung peutingaeh,..tengah peuting ditarembakan ku bedil AK 747 jeung kaliber.308.... tepi ka meunang saratus bagong leuweung alias babi hutan di Jambi teh harita. da lobaan nu nu miluan moro teh nepi ka 50 urang na. Jeung loba urang Sunda nu miluan....lolobana urang Serang-Banten harita teh... ku matak waas,..nineung ka pasukan Siliwangi nu jarago nembak...ambuing..ambuing...kuring ngingiring pa Budi Hasan Suhanda, urang Bandung jelas...moro oge anjeuna...enjingna, eta puluhan bagong teh dibesetan, ditimbang daginga, dijual ka urang pasar,...aya oge nu dibawa ka jakarta ku pemburu nu non muslim mah, cenah daging babi hutan mah leuwih enak tibaan babi ternak...sakitu ah,..jadi jijay....

baktos,
iwa
KujangPutraAnom

Emod Morales <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Lamun bagong sok baranghakan anu pikageuleuheun, ari lauk dibalong
anu aya pacilingan, pan dikampung mah lauk teh diparabannana tina
pacilingan, kumaha tah..?

Ceuk saha daging babi diharamkeun ? Geuning pa Haji mungkus huluna..!
 
MENAPAKI JEJAK PARA PEMBURU DI JAMBI
Rute Jakarta - Jambi bukan lagi kendala bagi para pemburu ini. Mereka harus menyeberangi lautan yang memisahkan Merak-Bakauheni. Dengan berkendaraan tembak dan kendaraan pendukung lainnya yang dirancang khusus untuk berburu seperti mobil Jeep, dan Land Cruiser, perjalanan menuju lokasi buru selama dua hari dua malam akhirnya sampai jua, tanpa hambatan yang berarti.
Tapi para pemburu sepertinya tak kenal lelah. Setiba di basecamp yang ada di sebuah areal perkebunan sawit Batang Gading di Kabupaten Muara Tebo, Provinsi Jambi, para peserta langsung menyiapkan segala perlengkapan buru, terutama senjata yang akan mereka pakai.
Malam itu di basecamp tampak Elko, salah seorang pemburu sedang membersihkan selongsong senapannya. “Yang ini senapan AK 747,” jawab Elko singkat sembari terus membersihkan senapan saat disapa TRIGGER. Elko, 25 tahun, boleh dibilang pemburu termuda di antara peserta lainnya. Dia adalah putra dari Selamet Ridwan, yang juga turut serta dan jadi Ketua Kelompok untuk lokasi buru Muara Tebo dalam Safari Buru Perbakin DKI Jaya itu. Selamet pula lah yang mengurus segala perizinan sebelum berburu dilakukan.
“Agak ribet memang dalam mengurus perizinan ini.Tapi untungnya kita sudah dua kali ke Jambi, perizinannya dipermudahlah. Yang penting kita tetap menjaga citra Perbakin DKI agar bisa ke sini lagi nantinya kalau mau berburu,” kata Selamet menuturkan pengalamannya tadi siang sebelum menuju lokasi buru.
Lepas tengah malam, 25 Maret 2006, perburuan dimulai. Kendaraan para pemburu lantas menuju areal perkebunan sawit milik sebuah perusahaan swasta itu. Dengan dipandu seorang penunjuk, para pemburu mulai menyusuri areal perkebunan. Adrenalin mereka malah makin terpicu, menghilangkan raasa lelah mengusir rasa kantuk. Apalagi di malam perburuan ini mata harus lebih dipertajam untuk mengincar target buruan.
Mereka menuju perkebunan dengan berkendaraan tembak. Lampu blour disorotkan, seekor babi sedang mencari makanan. Sejenak mesin mobil pun dimatikan. Sunyi senyap..dan.. doorr..!! Satu tembakan dilepaskan Elgo dikegelapan malam dan sasaran kena di bagian kepala. Saat didekati para pengangut buruan, tubuh babi utan itu masih bergerak menggelepar meregang nyawa. Elgo dan ayahnya, Slamet, juga pamanya Drg. Gianto Chandra dalam menembak hewan buruan seperti babi memang berprinsip, tembak di kepala atau tidak. “Sebab kasihan juga, kalau tidak kena kepala dan kena bagian lain kecuali jantung, dia masih bisa lari,” ujar Gianto, yang sudah puluhan tahun berpengalaman berburu.
Fajar mulai merekan di ufuk timur, pagi menjelang. Para pemburu kembali ke basecamp dengan membawa babi hasil buruan semalam. Yah, untuk malam pertama seorang pemburu mungkin hanya dicukupkan dulu dapat dua atau tiga ekor babi. Hitung itung pemanasan. Biasanya berlanjut pada hari-hari kemudian karena 10 hari di lokasi, bisa beroleh puluhan babi. Hari-hari selanjutnya biasa seorang pemburu bisa mendapat 5,  atau bahkan lebih dari 10 ekor babi. “Kalau sampai hari terakhir atau hari kesepuluh, dari satu lokasi buru di Jambi ini totalnya bisa dapat lebih dari 100 ekor babi,” kata Selamet.
Keesokan harinya, babi-babi itu kemudian dikumpulkan, dikuliti, ditebas kepalanya dan dagingnya ditimbang untuk dijual ke orang pasar. Nah, uangnya dimasukkan ke kas Perbakin Jambi. Kalau tidak, sebagian daging babi itu dibawa pulang nantinya ke rumah pemburu yang non muslim untuk dimakan. Konon kata para pemburu, daging babi hutan rasanya lebih enak ketimbang babi ternak. Itu makanya salah satu perlengkapan berburu yang dibawa adalah beberapa kotak atau boks yang berisikan es batu.
Bukan Sekadar Berburu
Sehari sebelumnya, Jumat 24 Maret, seluruh peserta buru bakti ini mengikuti upacara pelepasan di Lapangan Tembak Raden Mataher, Kotabaru Jambi. Pelepasan ini wajib diikuti para peserta karena Perbakin tidak memperkenankan melaksanakan aktifitas berburu sebelum upacara pelepasan. Bahkan lebih dari itu, peserta diwajibkan menaati Sapta Etika Perbakin dan Akte Berburu selama perburuan dilakukan.
Ada sekira 44 kendaraan tembak dan kendaraan pendukung diparkir di lapangan tembak itu. Peserta sendiri yang semuanya 55 orang sudah berkumpul di lokasi. Mereka berbekal 75 pucuk senjata api. Kegiatan berburu yang diberi tema Safari Buru Bakti Sosial Jambi Perbakin DKI Jaya ini berlangsung dari 24 Maret sampai 4 April 2006.
Afrizal, Ketua Pengda Perbakin Jambi menyambut langsung kedatangan para pemburu dari Pengda DKI Jaya ini. “Atas nama seluruh jajaran Pengda Perbakin Jambi, saya ucapkan selamat datang dan terima kasih atas pilihan Bapak-bapak untuk menyalurkan hobi menembaknya di Provinsi Jambi ini,”sambut Afrizal membuka acara. Dia didampingi Suherry, Ketua Bidang Berburu Pengda Jambi dan Kabid Target M. Daud.  
Pada kesempatan itu Afrizal juga mengajak para peserta untuk melihat-lihat kondisi Lapangan Tembak Raden Mataher. Dikisahkannya lapangan tembak itu merupakan hadiah Gubernur Jambi atas keberhasilan para atlet tembak Jambi yang meraih emas dalam dua kali PON yang lalu.
Keakraban yang makin menghangatkan suasana seketika terjalin di antara mereka. Dalam sambutannya Afrizal tak lupa menyampaikan terima kasih atas kontribusi Pengda DKI dan GP Farmasi yang menyampaikan sumbangan berupa obat-obatan. Sumbangan itu nantinya akan dibagikan ke lokasi buru yakni Kabupaten Muara Bungo dan Muara Tebo.
Eko Budi Santoso, Ketua Pelaksana Harian Pengda Perbakin DKI Jaya mengatakan merupakan yang kedua kalinya. Pertama kali pada September 2005 di mana tim dari Bidang Berburu Pengda DKI mendapat kepercayaan dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI untuk melakukan pengendalian hama babi alias bagong di kawasan transmigran di Jambi dan Sumatera Selatan.
Menurut Eko, banyak manfaat yang bisa dipetik dari kegiatan safari berburu ini. “Di samping kita membantu dalam mengendalikan hama babi di lokasi buru, kita juga bisa mempekerjakan orang-orang yang ada di lokasi dan bisa memberi kontibusi ekonomi secara langsung kepada masyarakat setempat,” ujarnya kepada TRIGGER.
Karena itu, lanjut Eko, Pengda DKI memang punya agenda rutin untuk bersafari buru dalam rangka bakti sosial. “Setahun rencananya minimal empat kali di daerah yang berbeda-beda. Kali ini di Jambi, nanti Mei atau Juni di Bengkulu, September 2006 kami akan coba di Kalimantan,” kata dia.
Sementara itu Ketua Pelaksana Safari Buru, Budi Hasin Suhanda mengatakan, kegiatan ini bukanlah bertujuan untuk membasmi babi hutan yang ada. Paling tidak, menurut Budi, istilahnya bisa disebut penyarangan babi hutan. Biar pun babi hutan ini disebut sebagai hama bagi penduduk, keseimbangan ekosistem harus tetap dijaga. “Misalnya, kalau babi hutan ini dibasmi habis, nanti harimau makan apa? Jangan sampai makan orang,” papar Budi. Karena itu babi hutan yang masih kecil-kecil tidak dijadikan sasaran untuk ditembak.
Begitulah. Di lokasi berburu para peserta bukan sekadar ber-fun hunting menyalurkan hobi nembaknya. Lebih dari itu juga dalam rangka bakti sosial, menggalang rasa kebersamaan atau bersosialisasi, sambil tetap menjaga keseimbangan ekosistem flora dan fauna. iwa


Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1¢/min.

Komunitas Urang Sunda -->
http://www.Urang-Sunda.or.id




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke