Leres, sae pisan novel ieu teh. Kuring nembe tamat kamari. Macana kedah di bumi, bilih di luar mah ujug-ujug ceurik, bakat ku sedih. Aya rerencangan nu seep tisu sadus, salami maca novel ieu.
Baktos,
ika
waluya56 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
waluya56 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Afghanistan, keur urang geus teu bireuk deui, kulantaran diserebu Uni
Soviet, geus kitu ayeuna ku Amerika. Nagara ieu, cenah mah baheula
aranna teh Gandara, tempat asal Sangkuni jeung Dewi Gandari istrina
Destrata nu nurunkeun kaum Korawa musuhna Pandawa. Ieu Aya novel
meunang urang Amerika katurunan Afghnaistan nu dijudulan "The Kite
Runner" (geus disadur kana Basa Indonesia). EUsina cenah mah sae,
sapertos disebatkeun dina resensina dina Tempo :
Menjadi Pengecut itu Manusiawi
Novel Khaled Hosseini ini merekonstruksi secara terperinci bangsa
Afganistan kini. Bangsa yang masai akibat pertikaian tak kunjung
henti.
***-
BISAKAH sebuah layang-layang membelokkan jalan hidup seorang manusia
secara drastis? Khaled Hosseini, penulis Amerika Serikat berdarah
Afganistan, punya cerita yang menjawab pertanyaan itu secara
afirmatif. The Kite Runner, novelnya, berkisah tentang dua bocah
sahabat yang hidupnya direkatkan, juga dirontokkan, sebuah permainan:
layang-layang.
Keduanya "mati" secara bersamaan--pada hari mereka menang festival
layang-layang di kota itu. Amir roboh secara psikologis setelah
menyadari dirinya tak lebih dari seorang pengecut yang menjijikkan.
Hassan luruh secara eksistensial, seraya membiarkan dirinya bak
potongan karpet yang rela diinjak setiap orang. Semua terjadi saat
umur mereka belum lagi 13 tahun.
Tapi inilah The Kite Runner yang banyak dipuji itu. Dan Hosseini tak
sedang berkisah tentang persahabatan remaja yang retak menjelang akil
balik. Ia merekonstruksi sebuah bangsa yang masai oleh pertikaian tak
kunjung henti di dalam tubuhnya sendiri. Rekonstruksi yang berawal
dari perbedaan keduanya.
Amir penganut Islam Sunni, berdarah Pashtun, kelompok paling dominan
di Afganistan. Ia membaca apa saja: dari Rumi, Hafiz, Saadi, Victor
Hugo, Mark Twain, sampai Ian Fleming. Ayahnya seorang saudagar
berpengaruh dan pemilik Mustang hitam yang dipakai aktor Steve
McQueen dalam film Bullit. Selain membaca, film adalah oasis lain
hidupnya. Ia bisa menonton The Magnificent Seven sampai 13 kali.
Belum lagi Rio Bravo yang dibintangi John Wayne.
Hassan berdarah Hazara, penganut Islam Syiah, pariah dalam strata
sosial masyarakat Afgan. Hassan ringkih, buta huruf, sumbing, dan
hanya tahu kisah epik abad ke-10 tentang pahlawan-pahlawan Persia
Kuno, Shahnamah. Puncak dari semua kontradiksi itu adalah fakta bahwa
Hassan adalah budak Amir, meski sebagai kanak-kanak mereka dengan
suka cita menoreh batang-batang pohon di ibu kota dengan tulisan
bombastis: Amir dan Hassan, Sultan-sultan Kabul. Satu-satunya
persamaan: keduanya tak pernah mengalami sentuhan kasih ibu kandung
sejak pertama melihat dunia.
Dengan cantelan naratif (narrative hook) yang terpasang kuat sejak
halaman-halaman awal, The Kite Runner bergerak cepat. Membawa pembaca
menelusuri eksotisme Afganistan, juga derita yang nyaris-abadi di
tanah itu. Dari konflik horizontal antarsuku dan sekte, hingga invasi
Uni Soviet dan penguasaan Taliban yang melakukan hukuman mati di
tengah jeda pertandingan sepak bola. Hosseini seperti ingin menjerit:
Pashtun ataupun Hazara, mereka anak-anak piatu akibat tiadanya
belaian sayang ibu pertiwi.
Hosseini kemudian "membebaskan" Amir, menerbangkannya ke San
Francisco bersama ayahnya--bagian cerita yang merupakan bayangan
kehidupan sang novelis sendiri yang kini berpraktek sebagai dokter
spesialis penyakit dalam di San Jose, California. Sebab, saat Kabul
jatuh dalam cengkeraman Moskow, ayah Hosseini sedang menjadi diplomat
di Paris. Keluarga mereka tak bisa kembali ke Afganistan dan harus
mengajukan suaka politik kepada pemerintah Amerika Serikat. Namun
dengan lincah, menjelang sepertiga akhir novel, Hosseini memasang
cliffhanger yang kembali membawa pembaca ke dalam situasi berbahaya
di Afghanistan. Tak ada opsi lain yang bisa diambil Amir selain masuk
ke negeri itu untuk menuntaskan utang masa lalunya.
The Kite Runner menjadi penting tak semata karena inilah novel
Afganistan pertama yang ditulis dalam bahasa Inggris. Hosseini amat
teliti menyuguhkan elemen-elemen drama kemanusiaan, penebusan dosa,
dan pencarian martabat dalam sebuah panggung sosial politik yang
terus berubah cepat. Ia tak berpretensi menjadikan sang tokoh sebagai
protagonis murni yang berani menghadapi segala tantangan. Hosseini
dengan sadar mengungkapkan sisi gelap manusia: pada saat-saat
tertentu menjadi pengecut, atau menghindari tanggung jawab.
Persoalannya, manusiawi jugakah jika sikap itu terus dirawat sampai
ke liang lahat. Lewat The Kite Runner Hosseini jelas berkata, "Tidak!"
Akmal Nasery Basral
(Sumber: Tempo, 1 Mei 2006)
THE KITE RUNNER
Penulis: Khaled Hosseini
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Pangestuningsih
Penerbit: Qanita, Bandung, Maret 2006
Tebal: 616 halaman + xiv
Yahoo! Mail goes everywhere you do. Get it on your phone.
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
SPONSORED LINKS
| Corporate culture | Business culture of china | Organizational culture |
| Organizational culture change | Organizational culture assessment | Jewish culture |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "urangsunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

