Baraya,
Naha enya nyieun BABASAN jeung PARIBASA teh hese?
(mh)

----------
Kompas. Jawa Barat. Sabtu, 06 Mei 2006
Bahasa Sunda Kehilangan Sumber Idiom
Seperti bahasa-bahasa lainnya di dunia, bahasa Sunda memiliki idiom-idiom yang terwujud dalam istilah babasan. Idiom (bahasa Inggris), yang berarti babasan (bahasa Sunda), semakna dengan ungkapan (bahasa Indonesia). Babasan rata-rata terdiri dari dua kata yang sudah menjadi ucapan tetap, digunakan sebagai kata pinjaman (Kamus Umum Basa Sunda LBSS, 1976).
Sementara paribasa (bahasa Indonesia: peribahasa) menurut Kamus Umum BS LBSS adalah ucapan yang sudah tetap, sedikit namun lengkap, merupakan simbol perilaku hidup yang mengandung petuah, petunjuk, dan sebagainya. Kalimat paribasa lebih panjang daripada babasan. Kata-kata dan kalimat babasan serta paribasa sebagian besar mengandung unsur-unsur lingkungan alam, baik makhluk hidup (binatang, tumbuhan) maupun benda mati (nama barang, nama tempat).
Berhubung babasan dan paribasa tersebut merupakan warisan budaya masa lampau dan secara turun-temurun berkembang tanpa perubahan, tak sedikit yang tidak lagi dikenal kaitan sumbernya. Ini terutama akibat perubahan ekologis dan sikap hidup orang Sunda sendiri, yang semula berada dalam lingkungan tradisi agraris sederhana, menjadi lingkungan masyarakat industri yang penuh kemewahan dan kemegahan.
Sementara kekayaan idiom-idiom baru-babasan dan paribasa-yang bersumber pada tata kehidupan baru, tak pernah terlahirkan. Akibatnya, mayoritas orang Sunda terputus dari kekayaan bahasa dan budayanya. Mereka tak mengenal lagi sosok budaya masa lampau, sekaligus tak sempat menciptakan budaya masa kini dan masa depan yang mengacu pada unsur-unsur kesundaan. Larut Budaya Sunda ikut terlarutkan dalam budaya pop yang serba gampang. Jauh dari kesan linuhung, penuh kedalaman penghayatan serta kearifan menghadapi tantangan zaman.
Meminjam istilah beberapa tokoh budaya Sunda kontemporer, antara lain Uu Rukmana, orang Sunda cuma mampu ngigelan jaman (mengikuti kehendak zaman), tidak berani ngigelkeun jaman (mengatur arah zaman). Kondisi yang kiranya tidak hanya dialami orang Sunda saja. Akibat lainnya, banyak babasan dan paribasa tak punya lagi konteks aktual dalam ingatan orang Sunda. Banyak kata atau kalimat yang menjadi dasar babasan dan paribasa tidak dikenal lagi keberadaannya, terutama yang bersangkut paut dengan istilah-istilah lingkungan alam.
Pada waktu babasan dan paribasa itu tercipta dari mata air kebijakan para bujangga Sunda masa lampau, kondisi ekologis Tatar Sunda memang sangat ideal. Hutan, gunung, air, sungai, sawah, ladang, perkampungan, tumbuhan liar, dan tanaman peliharaan mengandung jalinan harmonis satu sama lain. Melambangkan struktur kehidupan yang serba terkendali, serba mendukung satu sama lain sehingga yang tampak di permukaan adalah sikap dan sifat keakraban, keramahan, solider, gotong royong, dan sebagainya yang serba ideal. Misalnya, dalam peribahasa "ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salebak" yang menggambarkan sikap dan sifat ideal itu.
Anak-anak muda Sunda masa kini mungkin akan bertanya-tanya, apa itu leuwi? Apa itu lebak? Leuwi berarti lubuk, bagian terdalam dari aliran sungai. Hingga tahun 1960-an setiap sungai, terutama yang pertengahan dan besar-besar, di Tatar Sunda, seperti Citarum, Citanduy, Cimanuk, Ciliwung, dan Cisadane, memiliki ratusan, mungkin ribuan leuwi. Beberapa leuwi mengandung nilai-nilai magis dan legenda tersendiri di lingkungan masyarakat penggunanya. Bahkan ada yang sangat terkenal karena sering disebut dalam kisah-kisah pantun dari zaman kerajaan Pajajaran, seperti Leuwi Sipatahunan. Di leuwi itulah penduduk sekitar sungai melakukan aktivitas menangkap ikan bersama-sama pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada puncak musim kemarau.
Sejak awal kemarau penduduk satu kampung atau desa bersama-sama menutup permukaan leuwi menggunakan ranting- ranting bambu dan kayu semacam rumpon. Untuk sementara kegiatan penangkapan ikan secara perorangan, baik memancing maupun lintar (menangkap ikan dengan jala), dihentikan. Kira-kira tiga sampai empat bulan sejak pemasangan rumpon dan air sudah agak menyurut, dimulailah acara penangkapan ikan secara massal. Rumpon diangkat. Penduduk kampung atau desa, mulai dari anak-anak hingga orang tua, laki-perempuan, dipersilakan turun ke leuwi menggunakan alat semampunya. Ada yang menggunakan kecrik (jala kecil), ayakan, lambit, susug, dan berbagai alat penangkap ikan sederhana lainnya.
Ada juga yang hanya menggunakan tangan kosong untuk menjelajahi setiap lubang di dalam air yang dikira tempat persembunyian ikan yang dinamakan ngagogo. Lenyap Kegiatan semacam itu hingga akhir tahun 1980-an masih sering berlangsung di kawasan Sungai Cimanuk di Desa Jemah, Kecamatan Cadasngampar, Kabupaten Sumedang.
Namun, sejak ribut-ribut pembangunan Waduk Jatigede, kegiatan seperti itu tak ada lagi. Selain sebagian penduduk di sana berangkat transmigrasi, leuwi andalan mereka pun sudah lenyap karena pendangkalan hebat. Seperti leuwi-leuwidi sungai-sungai lain yang merana akibat berbagai hal, terutama erosi dan abrasi, leuwi yang dulu dalamnya salaput hulu (setinggi badan orang dewasa), tempat menyenangkan bagi berkembang biaknya ikan-ikan liar khas sungai, seperti kancra, bebeong, senggal, arelot, balar, beureummata, genggehek, soro, cingok, nanahaon, kini sirna. Tinggal genangan air dangkal, keruh, dan gersang. Tumbuhan-tumbuhan perimbun khas pinggir leuwi, seperti kopo, geredog, harendong, dan warudoyong habis ditebangi.
Habitat leuwi beserta penghuninya yang kaya raya benar-benar rusak secara menyeluruh dan merata. Maka, wajarlah jika banyak generasi muda Sunda bertanya, apa itu leuwi. Dan, apa perannya dalam peribahasa "ka cai jadi saleuwi" yang berarti gotong royong, rukun, serta harmonis karena media leuwi untuk menerapkan prinsip kebersamaan itu sekarang sudah lenyap ditelan keserakahan manusia. Begitu pula lebak, sebuah tempat yang berada di bagian bawah perkampungan atau pedesaan.
Sekarang hampir semua lebak telah tersulap menjadi lokasi vila, rumah-rumah mewah, dan sejenisnya yang tak mungkin kagiridig (terlewati) oleh sembarang orang. Alhasil, ikon-ikon kekayaan alam Sunda mungkin hanya terabadikan dalam babasan dan paribasa. Generasi muda Sunda kehilangan konteks untuk menemukan sosok contoh pada setiap idiom yang digunakan di situ sehingga terasa asing dan mengada-ada.
H USEP ROMLI HM
Sastrawan dan Budayawan Sunda, Tinggal di Pedesaan Garut
 



=====
Situs: http://www.urang-sunda.or.id/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]


Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




SPONSORED LINKS
Corporate culture Business culture of china Organizational culture
Organizational culture change Organizational culture assessment Jewish culture


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke