(http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0607/06/Sosok/2777781.htm)

Dalam pertemuan pakar statistik di Taejon, Korea Selatan, tahun 1999,
Prof Dr Maman A Djauhari merasa gelisah. President Moslem
Statisticians and Mathematicians Society in South East Asia itu
menyadari bahwa statistik di Indonesia belum sepenuhnya dimanfaatkan
secara benar.

Berbagai lembaga moneter internasional yang turut hadir, seperti IMF,
Bank Dunia, dan IDB, saat itu memberikan catatan bahwa masih banyak
negara yang mempraktikkan statistik karet (rubber statistic). Aplikasi
statistik di berbagai negara terbukti belum menerapkan data yang
konsisten. Data hanya disajikan tergantung keperluan.

"Saya pun terkejut. Apa itu maksudnya? Jadi, kalau yang datang itu
lembaga-lembaga donor, maka disajikan data yang menarik bagi calon
pemberi donor," kata Maman.

Begitu pula jika ada pihak yang meminta donasi atau investor, data
yang diberikan akan berlainan. Hal yang membuat prihatin:
ketidakkonsekuenan tersebut sudah menjadi catatan institusi besar
dunia.

"Saya bisa mengatakan, kita di Indonesia masih mempraktikkan statistik
karet," ungkap Prof Maman.

Data statistik itu, lanjut Maman, mencerminkan perilaku dan budaya
bangsa Indonesia. "Ini diamati dunia. Jadi, tolong semuanya jangan
main-main. Kita perlu membangun bangsa ini tidak hanya di bidang
ekonomi, tapi juga kultur dan peradaban," ujarnya.

Dalam suatu kesempatan silaturahmi dengan kalangan MPR, Maman mendapat
kabar bahwa korban gempa di Yogyakarta menghancurkan rumahnya sendiri
agar mendapatkan bantuan Rp 30 juta. Contoh lain, warga langsung
mengaku miskin begitu melihat tetangganya mendapatkan bantuan langsung
tunai (BLT). Pengisian data sengaja tidak diisi secara benar
semata-mata hanya untuk mendapatkan uang.

"Saya khawatir itu mencerminkan perilaku kita. Jangan sampai kita
dikatakan under civilized, salah satunya karena ketidakdisiplinan
itu," ujarnya.

Satu-satunya

Kerisauan yang sama dirasakan Maman terhadap kondisi daya saing pakar
Indonesia dalam menghasilkan teknologi. Jika Indonesia mau bertarung
dalam hard technologies seperti mobil, pesawat terbang, komputer, dan
sebagainya, banyak negara lain yang lebih unggul.

Kesempatan bangsa Indonesia sebenarnya dalam soft technologies seperti
teknologi kualitas dan teknologi pendidikan. Termasuk soft
technologies, yaitu statistik. Teknologi macam itu bisa dijual dengan
harga sangat mahal. Rumus-rumus kloning domba dari Inggris, misalnya,
dijual ke sebuah perusahaan Amerika Serikat dengan harga 2 miliar
dollar AS.

"Saya sangat yakin, bangsa kita sebenarnya mampu. Syaratnya, harus
bekerja keras," ungkapnya.

Sebagai wujud atas keyakinan dan tekadnya, Maman pun menulis berbagai
rumus yang diterbitkan dalam berbagai jurnal internasional. Tahun
2005, misalnya, tulisannya berjudul Improved Monitoring of
Multivariate Process Variability dimuat dalam Journal of Quality
Technology.

Dalam Journal of International Association of Traffic Safety Sciences
(IATSS Research) tahun 2002, terdapat tulisan lainnya berjudul
Stochastic Pattern of Traffic Accidents in Bandung City.

Kekonsistenan Maman dalam bidang statistik serta berbagai tulisan
dalam jurnal-jurnal internasional itu membuahkan penghargaan medali
emas dari Islamic Country Society of Statistical Scientist di Lahore,
Pakistan. Penghargaan tersebut diserahkan Menteri Urusan Khusus
Pakistan akhir tahun 2005. Mereka yang menerima penghargaan dinilai
telah memberikan kontribusi luar biasa untuk statistik.

Sebelumnya, Maman juga pernah menerima penghargaan dari Badan
Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan
Kebudayaan (Unesco) bersama Kelompok Pakar Kajian Industri Australia
(AEGIS), September 2005. Penghargaan diterima atas karyanya dalam ilmu
pengetahuan ilmiah untuk wilayah Asia Pasifik.

Selain itu, dia juga menerima penghargaan dari Experten-Netzwerk
Moderne Qualitatsmethoden (M-QM), Jerman, untuk artikelnya dalam
Jurnal of Quality Technology, Oktober 2005.

Maman memutuskan untuk konsisten di bidang statistik karena berpikir,
ilmu tersebut merupakan pengembangan yang dilakukan para ahli di luar
negeri. "Kita hanya akan menjadi konsumen ilmu bangsa lain, dan tak
menjadi bangsa pencipta ilmu. Kita harus menjadi produsen statistik,"
katanya.

Seusai menamatkan sekolah lanjutan tingkat atas di Kabupaten Garut
tahun 1968, Maman melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi
Bandung. "Waktu memilih jurusan, pilihan pertama, kedua, dan ketiga
saya tulis semuanya matematika. Itu sekadar untuk menunjukkan
keseriusan saya," ujar pria kelahiran Garut, Jawa Barat, 8 Desember
1948, ini.

Sejak tahun 1997, dia semakin intens menggeluti bidang statistic
industrial dan bergabung dengan American Society for Quality. Kelompok
ini adalah perkumpulan terbesar dalam bidang kajian kualitas.

Dalam sejumlah kunjungannya ke luar negeri, para pakar statistik asing
yang ditemui Maman mengaku heran sebab pakar statistik dari Indonesia
yang sering mereka lihat hanya Maman. Kenyataannya, menjadi the one
and the only alias satu-satunya itu tidak membuatnya bangga.

"Saya justru merasa prihatin karena itu menunjukkan, sumber daya
manusia Indonesia di bidang statistik memang belum dikenal di mata
dunia," tutur Maman.

-- 
sikandar
kumincir.blogspot.com
kumincir.multiply.com
blog.boleh.com/kumincir
www.urang-sunda.or.id
su.wikipedia.org


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke