Kang Salman,

Mangga tiasa dicobian ngahubungi Kang Abdi Soeherman 
[EMAIL PROTECTED] (alumni Teknik Penerbangan ITB 81). Anjeuna tos 
nganjrek di Canada  4 taunan, upami teu lepat mah di Montreal.

Upami ngahubungi kang Abdi wartoskeun info na ti abdi.

Baktosna

Rachmat Sugandi Hamdani


  

--- In [email protected], salman faridi <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> salam,
>   kaleresan sasasih kapayun abdi bakal dumuk di montreal. manawi 
aya urang sunda anu tiasa ditepangan. Abah, atanapi kang brad manawi 
gaduh inpo. hatur nuhun
>    
>    
>   salman
> 
> Roro Rohmah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>             Baraya, aya artikel sae yeuh...punten teu diSundakeun 
margi seueur pisan kecap nu sesah, sanes kunanaon bilih lepat...ke 
siga "Pasar Dadakan janten Pasar Reuwas"...heheh.
>    
>   ro2
>    
>   Sekolah   Dirancang Untuk Menghasilkan Orang-orang Gagal 
>    
>   Judul di atas terkesan   sangat provokatif, bukan? Saya sengaja 
membuka tulisan ini dengan statement yang   keras dan menggugat. 
Namun jangan salah mengerti. Saya bukan tipe orang yang   anti 
pendidikan formal. Saya sendiri adalah seorang pendidik, lebih 
tepatnya   Re-Educator, yang sangat concern dengan kondisi 
pendidikan di tanah air. Apa   yang saya tulis di bawah ini 
merupakan kristalisasi hasil belajar saya atas   pemikiran para 
pakar pendidikan seperti Paulo Freire, Ivan Illich, Drost,   Everett 
Reimer, John Holt, Alfie Kohn, Neil Postman, dan William Glasser,   
ditambah dengan perenungan dan pengalaman pribadi. 
>   
> Proses pendidikan atau   lebih tepatnya pembelajaran yang terjadi 
di sekolah selama ini sangat jauh dari   praktik pembelajaran yang 
manusiawi, yang sesuai dengan cara belajar alamiah   kita. 
Konsep "belajar" yang diterapkan telah sangat usang dan merupakan 
warisan   dari jaman agraria dan industri. 
>   
> Kembali saya ulangi, masalah utama yang ada   dalam sistem 
pendidikan kita adalah sekolah memang dirancang untuk menghasilkan   
anak gagal. Ini semua sebagai akibat dari sistem pengujian kita yang 
menggunakan   referensi norma, yang sangat mengagungkan penggunaan 
kurva distribusi normal   atau kurva lonceng (Bell Curve). Kurva 
distribusi normal ini mengharuskan ada   10% anak yang prestasinya 
rendah, 80% rata-rata, dan 10% yang berprestasi   cemerlang. 
>   
> Bulan lalu dalam dua kesempatan yang berbeda saya memberikan   
pelatihan untuk para kepala sekolah SD Negeri dan Pengawas (tingkat 
TK dan SD)   sekabupaten/kota Jawa Timur. Saat bertanya, "Bapak/Ibu, 
jika anda punya 40   orang murid dalam satu kelas, dan saat ujian 
semua dapat nilai 100, anda sukses   atau gagal?" Bak paduan suara 
yang sangat kompak, serentak mereka menjawab,   "Gagal..." "Lho, koq 
gagal?" tanya saya. "Ya Pak, kalau semua dapat 100 maka   pasti 
soalnya terlalu mudah, atau gurunya yang tidak bisa membuat soal," 
jawab   mereka kompak. 
>   
> Saya lalu mengejar dengan pertanyaan, "Bapak dan Ibu,   misalnya 
anda diminta mengajar 40 orang anak memasak nasi goreng sea-food   
spesial. Kalau semua belum bisa (saya tidak menggunakan kata "tidak 
bisa" )   memasak nasi goreng seperti yang anda inginkan, apa yang 
akan anda lakukan?"   "Ya, kita akan mengulangi lagi sampai si anak 
benar-benar bisa," jawab mereka.   "Sekarang, kalau semuanya 
berhasil memasak nasi goreng yang sangat enak, anda   berhasil atau 
gagal?" tanya saya lagi. "Wah, kalau semuanya bisa, ini berarti   
kita sangat berhasil Pak", jawab mereka. "Kalau begitu apa bedanya 
antara   mengajar anak memasak nasi goreng dengan mengajar anak 
suatu pelajaran, misalnya   matematika atau bahasa Inggris?" kejar 
saya lagi. Kali ini semuanya diam dan   tidak bisa berkomentar.
>    
>   Saya lalu menjelaskan mengenai kurva distribusi   normal yang 
sebenarnya, kalau menurut pendapat saya pribadi, tidak normal.   
Mendapat penjelasan ini para peserta akhirnya bisa memahami apa yang 
saya   sampaikan. Saat break saya menemukan satu hal yang sangat 
menarik. Para kepala   sekolah dan pengawas ini sadar bahwa apa yang 
saya sampaikan itu memang benar   dan memang seharusnya demikian 
cara kita mendidik murid. Namun mereka terikat   pada aturan main 
(baca: sistem pendidikan). Mereka merasa tak berdaya karena   bila 
mereka bersikeras untuk tidak mau mengikuti arus maka mereka akan 
mendapat   kesulitan. 
> Saya lalu menceritakan keberhasilan kawan saya, Bpk. Danang   
Prijadi saat mengajar mata kuliah Dasar Filsafat di satu universitas 
ternama di   Surabaya. Ada 3 kelas pararel, masing-masing berisi 40-
an mahasiswa, dengan   dosen yang berbeda. Saat ujian, 95% dari 
murid di kelas Pak Danang mendapatkan   nilai A, sisanya yang 5% 
dapat nilai B dan C. Hal ini sangat mengejutkan pihak   universitas 
dan dosen lainnya. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? 
Bukankah   ini menyalahi kurva distribusi normal? Dan yang lebih 
ciamik lagi, soal yang   diujikan bukan disusun oleh Bpk Danang, 
tapi disusun oleh tim tersendiri.   
>   
> Tujuan kita mengajar anak adalah agar anak bisa menguasai apa 
yang   diajarkan, tidak peduli apa cara yang digunakan. Yang penting 
ujung-ujungnya   anak bisa menguasai dengan baik apa yang diajarkan. 
Kalau cara mengajar yang   digunakan di sekolah kita terapkan untuk 
mengajar anak kita, yang masih kecil,   belajar bicara atau 
berjalan, maka pasti kita akan " shocked" karena ternyata,   dengan 
sistem penilaian yang digunakan di sekolah, anak-anak kita akan 
masuk   kategori anak yang "idiot". Mengapa masuk kategori "idiot"? 
Karena anak-anak   kita "gagal" terus. Nilai mereka selalu Do - Re - 
Mi alias 1 , 2, atau 3.   
>   
> Dalam hampir setiap kasus yang pernah saya temui, bila ada timbul 
masalah   belajar biasanya kita hanya melihat pada sisi anak. Jarang 
sekali kita melihat   dan mencari tahu peran yang dimainkan oleh 
sekolah dan sistem pendidikan kita   hingga masalah muncul. Anak 
yang dianggap bermasalah biasanya akan diterapi   melalui BK 
(bimbingan konseling) dan kalau masih tidak bisa menjadi anak 
yang   "baik" , anak ini dikeluarkan. Di sini terlihat bahwa 
sebenarnya anak tidak   "Drop Out" tapi "Pushed Out". 
>   
> Lalu, apa sih sebenarnya ujian itu? Untuk   kondisi saat ini, 
ujian adalah suatu cara untuk mengetahui kecepatan mengingat   
kembali (recall), suatu informasi yang telah dihapal sebelumnya 
(register), dan   menggunakan (apply) informasi yang telah diingat 
kembali untuk menjawab soal   ujian, bukan menjawab persoalan hidup. 
Singkatnya, ujian saat ini hanyalah   menguji kemampuan menghapal. 
Celakanya, sekolah tidak pernah mengajarkan anak   didik teknik, 
cara, metode, atau strategi menghapal yang baik dan benar, yang   
sesuai dengan cara kerja otak dan pikiran dalam menyerap informasi. 
>   
> Sistem   ujian kita menggunakan sistem closed-book atau buku 
tertutup. Praktek ini   didasari oleh asumsi bahwa kemampuan 
mengingat suatu pengetahuan jauh lebih   berharga dari pada 
kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan. Ujian closed-book   
ditambah lagi murid tidak boleh kerja sama akhirnya sangat membebani 
anak   didik.Tolong jangan salah mengerti. Saya juga tidak setuju 
bila anak nyontek.   Tapi kalau memang bisa mengapa kita tidak 
mengajarkan cara belajar kolaborasi?   Sistem closed-book mempunyai 
beberapa keburukan lainnya. Cara menguji seperti   ini memberikan 
beban ekstra bagi anak. Anak yang sangat pintar dalam hal   aplikasi 
akan mendapat nilai jelek bila ia lupa rumus atau definisi. Bila 
kita   mengacu pada hirarki kognisi seseorang, sesuai dengan 
taksonomi Bloom, maka cara   ujian seperti ini hanya mengajarkan 
anak untuk berpikir pada level yang rendah,   level menghapal saja. 
Kita tidak mengajar anak berpikir pada level yang lebih   tinggi 
yaitu analisa,
>  sintesa
> dan evaluasi.
>    
>   Jadi, bila kita berbicara   mengenai sistem pengujian, 
kebanyakan yang anak lakukan adalah suatu permainan   yang tidak 
bermutu. Anak hanya belajar menghapal dan membeo. Anak tidak   
dibenarkan untuk berpikir kreatif dan inovatif. Agar lulus dan 
selamat, anak   harus menjawab seperti yang diajarkan oleh guru dan 
harus sesuai dengan kunci   jawaban yang dimiliki guru. Para 
pendidik saat ini telah merendahkan martabat   dan kemampuan mahluk 
ciptaan Tuhan. Otak kita, yang memiliki kemampuan yang   sangat luar 
biasa, dirancang untuk berpikir namun sistem pendidikan telah   
mereduksi fungsi otak hanya sebagai mesin foto kopi. 
> Setiap kegagalan yang   dialami oleh anak di sekolah akan 
mengakibatkan konsep diri yang buruk. Padahal   kita tahu bahwa 
konsep diri merupakan pondasi untuk keberhasilan di bidang apa   
saja dalam hidup. Dari pengalaman saya memberikan konseling, saya 
menemukan   bahwa konsep diri yang buruk ini selalu berhubungan 
dengan berbagai kegagalan   yang telah atau pernah dialami saat 
sekolah. Dan satu hal yang penting yang saya   temukan adalah bahwa 
untuk bisa memperbaiki konsep diri yang sudah terlanjur   negatip 
atau buruk kita perlu mencari dan mengingat kembali berbagai   
keberhasilan yang pernah kita capai (kisah sukses). Mengutip apa 
yang Glasser   katakan, "Tidak peduli berapa banyak kegagalan yang 
pernah dilakukan oleh   seseorang di masa lalu, tidak masalah apa 
latar belakang, budaya, warna kulit,   latar belakang sosial 
ekonomi, atau apapun itu, ia tidak akan bisa berhasil   hingga ia, 
melalui suatu kesempatan, mulai mencapai keberhasilan dalam salah   
satu aspek
>  kehidupanmereka." 
>   
> Saya percaya jika seorang anak, tidak   peduli apapun latar 
belakangnya, dapat berhasil di sekolah, maka ia mempunyai   
kemungkinan besar untuk berhasil dalam hidupnya. Jika ia merasakan 
kegagalan   dalam proses pendidikannya, baik itu pada tingkat SD, 
SMP, dan SMA, atau di   PT/Universitas, maka kesempatannya untuk 
berhasil dalam hidup menurun drastis.   Kalau kita hubungkan dengan 
proses pemrograman pikiran, maka semuanya akan   tampak sangat 
gamblang. Anak yang telah terlanjur (diprogram untuk) percaya   
bahwa ia adalah seorang pecundang, bodoh, tidak bisa, dan selalu 
gagal, pasti   akan menjadi seperti yang ia yakini. It's a self-
fulfilling prophecy.
>   
> Sudah   saatnya kita mengubah sistem pendidikan kita menjadi suatu 
sistem yang   benar-benar mampu memberdayakan anak kita. Merupakan 
tanggung jawab kita bersama   untuk bisa membantu mengembangkan 
semua potensi yang dimiliki olah anak-anak   kita, melalui proses 
pendidikan yang memanusiakan anak manusia. 
>   
> Lalu   bagaimana cara kita untuk bisa membantu anak berkembang? 
Ada dua hal dasar,   menurut Glasser, yang perlu diperhatikan 
berkenaan dengan kebutuhan anak. Yang   pertama, kebutuhan akan 
cinta dan mencintai. Yang ke dua adalah kebutuhan akan   rasa diri 
berharga.
>    
>   Kebutuhan akan cinta dan mencintai ini merupakan hal   yang 
paling mendasar yang perlu didapat oleh anak, dan berlaku sebagai 
pondasi   untuk mencapai sukses. Jika seseorang mampu memberikan dan 
menerima cinta, dan   mampu melakukannya secara konsisten dalam 
hidupnya, maka sampai pada tingkat   tertentu ia bisa dikatakan 
berhasil. 
>   
> Sering kali kita berpikir bahwa   pemenuhan kebutuhan cinta dan 
mencintai ini hanya bisa dilakukan di rumah saja.   Ternyata 
keyakinan ini salah. Banyak masalah yang timbul di sekolah, baik 
itu   dalam bentuk murid yang tidak kooperatif, tidak ada motivasi 
belajar, masalah   disiplin, murid yang nakal, dan masalah lainnya, 
semua berawal dari tidak   terpenuhinya kebutuhan mendasar seorang 
anak yaitu cinta dan mencintai. Anak   membutuhkan cinta tidak hanya 
dari rumah, tetapi juga di sekolah, baik itu dari   gurunya maupun 
dari kawan-kawannya. 
>   
> Sekolah lebih banyak memperhatikan   kebutuhan dasar yang ke dua 
yaitu rasa diri berharga. Bagaimana sekolah bisa   memenuhi 
kebutuhan rasa diri berharga? Untuk bisa mencapai rasa diri 
berharga   dibutuhkan pengetahuan dan kemampuan untuk berpikir. Jika 
seorang anak masuk   sekolah dan gagal dalam upaya memperoleh 
pengetahuan, belajar cara belajar,   belajar berpikir yang benar - 
berpikir level tinggi, belajar memecahkan masalah,   maka kegagalan 
ini akan terus terbawa hingga anak menjadi manusia dewasa.   
Orangtua, lingkungan, dan masyarakat tampaknya tidak mampu 
memperbaiki kegagalan   ini. 
> Dalam proses mengembangkan rasa diri berharga, dengan memiliki   
pengetahuan, mampu berpikir benar dan memecahkan masalah yang dia 
hadapi,   seorang anak akan mempunyai rasa percaya diri yang kuat 
untuk belajar memberi   dan menerima cinta. Paling tidak seorang 
anak mempunyai peluang yang lebih besar   untuk mendapatkan cinta, 
saat ia merasa dirinya berharga, sehingga ia dapat   bertahan dalam 
menghadapi penolakkan. 
>   
> Melalui cinta seorang anak akan   mengembangkan motivasi untuk 
berhasil dan merasa diri berharga. Jika anak tidak   belajar untuk 
bisa memberikan cinta maka anak akan menjadi anak yang sering   
merasa gagal. Hal ini terlihat pada anak yang terlalu dimanja dan 
terlalu   dilindungi. 
> Cinta dan rasa diri berharga ini merupakan satu kesatuan yang   
sering kita hubungkan dengan identitas pribadi. Cinta dan rasa diri 
berharga   dapat dipandang sebagai dua jalan untuk mencapai 
identitas pribadi yang   berhasil. Bagi kebanyakan anak hanya ada 
dua tempat di mana mereka bisa   mendapatkan identitas diri sebagai 
pribadi yang sukses yaitu di rumah dan   sekolah. 
> Dalam konteks sekolah, cinta dapat diwujudkan dalam bentuk 
tanggung   jawab sosial. Bila anak tidak belajar untuk bertanggung 
jawab terhadap sesama,   peduli dengan sesama, dan membantu sesama, 
maka cinta akan menjadi konsep yang   lemah dan terbatas. 
>     
> * Adi W.   Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind 
Navigator, adalah pembicara   publik dan trainer yang telah 
berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar   negeri. Ia 
telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning   
Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa 
Ditingkatkan?,   dan Hypnosis - The Art of Subcsoncsious 
Communication.   
> 
>   
> 
>          
> 
>               
> ---------------------------------
> Want to be your own boss? Learn how on  Yahoo! Small Business.
>







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Something is new at Yahoo! Groups.  Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke